Foto Mengejutkan dari Karl
“Silakan duduk,” titah Elena, suaranya terdengar datar namun berusaha tetap sopan.
Karl menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan postur santai. Ia menyilangkan kakinya dengan elegan, lalu menatap Gio dan Elena yang duduk berdampingan. Pandangannya terfokus pada tangan Gio yang melingkar di pinggang Elena.
“Kau sangat mencintai istrimu, ya?” tanya Karl dengan nada dingin yang hampir seperti ejekan. “Sampai-sampai kau tidak ingin melepaskan tanganmu di pinggangnya?”
Gio menaikkan alis, jelas merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Namun, ia menjaga nadanya tetap tenang. “Tentu saja,” jawabnya pendek, berusaha tidak terpancing.
“Oh!” Karl menyunggingkan senyum kecil yang tampak lebih seperti provokasi. “Kedatanganku ke sini hanya untuk satu hal. Mengantarkan kontrak kerja sama dengan restoran Elena.”
Gio mengerutkan keningnya, terkejut. “What? Tunggu dulu. Perusahaan sebesar milikmu—The Blue Company—benarkah ingin bekerja sama dengan restoran kecil seperti milik Elena?”
Karl mendongakkan kepala sedikit, ekspresinya tetap datar. “Kau menghina perusahaan istrimu sendiri, ya?” tanyanya dengan nada penuh sindiran, menatap Gio dengan intens.
Elena menoleh ke arah Gio, matanya memancarkan kekecewaan mendalam. Ucapan suaminya tadi seolah meremehkan segala usahanya selama ini.
“Maksudku…” Gio tergagap, menyadari kesalahannya. “Maksudku adalah, perusahaanmu selalu bekerja sama dengan bisnis besar. Kau tidak membutuhkan keuntungan kecil seperti ini. Bukankah itu tidak masuk akal?”
Karl menghela napas panjang, seolah bersabar menghadapi kebodohan Gio. “Kau rupanya tidak tahu moto di perusahaanku, Gio. Perusahaan mana pun akan kuberi jalan, jika mereka mau tumbuh bersamaku. Elena datang kepadaku, meminta bantuan. Aku memberinya jalan. Sesederhana itu.”
Nada Karl terdengar santai, namun setiap katanya bagaikan tombak yang menusuk ego Gio.
Gio mengepalkan tangannya di atas paha, berusaha menahan emosi. Ucapan Karl jelas memancing amarahnya, seolah-olah dirinya tidak mampu membantu Elena keluar dari keterpurukan.
“Batalkan kontrak kerja sama itu!” suara Gio memecah keheningan, dingin dan penuh otoritas, namun juga mengandung kemarahan yang terpendam.
Elena sontak menoleh, matanya membelalak penuh keterkejutan. “Gio! Apa maksudmu? Kau memang ingin membuatku bangkrut, huh?” ucapnya, suaranya bergetar antara kecewa dan tak percaya.
Gio melangkah maju, wajahnya tegang. “Tentu saja tidak, Elena! Karl hanya ingin memanfaatkanmu. Dia akan mengambil restoranmu begitu kau lengah!” tuduhnya tanpa pertimbangan, matanya menyiratkan keyakinan akan setiap katanya.
“Kau pikir aku sebodoh itu?” balas Elena, suaranya kini lebih tegas. “Kalau begitu, apa kau bisa membantuku? Perusahaanmu sendiri sedang goyah, Gio! Apa yang bisa kau lakukan untukku?”
Tantangan Elena membuat Gio terdiam sesaat, rahangnya mengeras. Namun, sebelum ia bisa membalas, Elena melanjutkan, nadanya penuh keteguhan.
“Aku sangat membutuhkan dana dari Karl. Jadi, jangan coba-coba menghalangiku untuk bekerja sama dengannya, Gio.”
Ucapan itu membuat darah Gio mendidih. Napasnya memburu, tangan mengepal erat di sisi tubuhnya. Andai saja Karl tidak ada di sana, mungkin ia sudah melampiaskan amarahnya, entah dengan kata-kata atau tindakan yang lebih buruk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Gio bangkit dari duduknya. Langkahnya cepat dan penuh amarah saat ia meninggalkan ruangan, membanting pintu di belakangnya.
Keheningan yang tersisa terasa mencekam. Karl, yang menyaksikan adegan itu, hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia melangkah mendekat ke arah Elena yang masih berdiri di tempatnya, mencoba menenangkan diri dari pertengkaran tadi.
“Keputusanmu sudah benar, Elena,” ucap Karl dengan nada rendah, tatapannya lekat mengunci wajah wanita itu.
Elena mendongak menatap Karl, bingung dengan ucapannya. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan, suara yang semula tegas kini melemah.
Karl mendekat sedikit lagi, jaraknya hanya beberapa langkah dari Elena. Tatapannya berubah lebih intens, sementara senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi dingin.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Elena,” desis Karl, suaranya tajam namun terdengar lembut seperti racun yang menyusup perlahan.
Elena menelan ludah, rasa tidak nyaman merambat ke tubuhnya. “Jawaban apa, Karl?” ulangnya, meski dalam hati ia sudah bisa menebak arahnya.
Karl tersenyum miring, seperti seseorang yang tahu dirinya memegang kendali penuh. “Menjadi teman tidurku dan ceraikan pria gila itu,” ucapnya langsung tanpa basa-basi, tatapannya masih menusuk ke arah Elena.
“Apa kau akan menuntut hal itu terus-menerus padaku, Karl?” tanya Elena dengan suara bergetar, meski matanya tetap mencoba menentang sorot mata tajam pria di depannya.
Karl tetap duduk di sampingnya, wajahnya tak menunjukkan belas kasih. “Dan kau sudah tahu jawabannya. Kenapa masih bertanya seolah aku akan melupakan apa yang sudah kita lewati, hm?”
Nada suaranya rendah, namun setiap kata yang terucap bagaikan belati dingin yang menggores sisi rapuh hati Elena.
Seolah tak puas dengan hanya kata-kata, Karl mengangkat tangan, jemarinya yang kokoh menggenggam dagu Elena dengan tegas namun penuh kendali.
Mata mereka bertemu—mata hitam Karl seperti jurang tak berdasar yang menelan segala logika. “Jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu begitu saja,” bisiknya pelan, nyaris seperti janji gelap yang bergetar di udara.
Ketika tangan Karl akhirnya melepaskan dagunya, Elena merasakan jantungnya berdegup tak beraturan, seakan baru lepas dari cengkeraman sesuatu yang menakutkan dan menggetarkan sekaligus.
“Pukul tujuh malam aku mengundangmu makan malam. Jika tidak datang, aku tidak akan segan-segan membeberkan semuanya pada Gio,” ancam Karl tanpa ragu. Suaranya bergaung di ruangan seperti peringatan yang tak bisa diabaikan.
Elena bangkit dari duduknya, berusaha menguasai diri meski tubuhnya terasa berat seolah dipasung bayangan ancaman Karl. Karl berdiri di dekat pintu, satu tangannya di gagang pintu kayu yang dingin.
“Apa kau tidak takut ada orang yang melihat, Karl? Bagaimana jika ada seseorang yang mengenalmu dan ini menjadi bahan gosip?” Elena mencoba bersuara lantang, meski batinnya gemetar seperti ranting kecil yang diguncang badai.
Karl hanya menyunggingkan senyum tipis yang tak menyentuh matanya. “I don’t care. Kau akan menjadi milikku setelah proses ceraimu selesai.” Ucapannya meluncur dingin, penuh keyakinan yang tak terbantahkan sebelum ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Pintu menutup dengan bunyi yang seolah menghantam dada Elena. Udara terasa lebih berat, napas yang semula tertahan akhirnya pecah dalam hela panjang yang sarat emosi. Tangannya meremas dada, mencoba meredam debaran jantung yang tak terkendali.
“Apa yang kau inginkan dariku, Karl?” bisiknya lirih. Jemarinya perlahan menyapu wajah yang memanas, berharap bisa menghapus jejak kekacauan yang ditinggalkan percakapan barusan.
“Kau benar-benar sulit ditebak,” gumamnya nyaris tanpa suara, sebelum tubuhnya jatuh bersandar lemah di sofa.
Namun meski ia memejamkan mata, bayangan Karl tetap bertahan di benaknya—menyentuh setiap sudut pikirannya dengan daya tarik yang tak terjelaskan, sekaligus membangkitkan ketakutan yang enggan ia akui.
Tak lama kemudian, suara notifikasi pesan masuk memecah keheningan. Cahaya redup dari layar ponsel menyoroti wajah Elena yang memucat begitu matanya menangkap pesan dari Karl.
Sebuah foto yang tak seharusnya ada terpampang jelas—momen terlarang ketika bibirnya bertemu dengan Karl di dalam kamar, terabadikan dalam bayangan dosa yang tak mungkin terhapus.
“Apa yang sudah aku lakukan?” bisiknya tercekik. Tangannya gemetar saat buru-buru menghapus gambar itu, seolah dengan satu sentuhan layar semua ingatan kelabu akan lenyap. Namun pesan berikutnya membuat napasnya kembali tertahan.
Karl: Ketakutanmu bahwa Gio akan tahu semuanya sudah di depan mata, Elena. Seseorang telah menangkap sebuah foto saat kau menyeretku masuk ke dalam kamar dan menciumku di depan pintu.
Mata Elena melebar, tubuhnya seakan kehilangan keseimbangan. “Bagaimana ini bisa terjadi?” gumamnya dengan suara parau. Dalam kepanikan, ia memejamkan mata, berharap gelap yang melingkupi mampu meredam gejolak hatinya.
“Kau memang sangat bodoh, Elena!” gerutunya memarahi dirinya sendiri, penuh amarah bercampur penyesalan yang menyesakkan dada. Jemarinya menekan pelipis, mencoba mengusir bayangan Karl yang terus hadir di benaknya seperti ancaman yang menari di tepi kesadaran.
Bayangan tragedi semalam merajam pikirannya—kesalahan yang seolah menyematkan rantai tak terlihat antara dirinya dan Karl.
Perusahaannya kini telah menjalin kerja sama dengan pria itu, namun hubungan profesional yang semula dingin kini terasa seperti bara api yang membakar kendali dirinya.
Karl seolah ingin lebih dari sekadar kemitraan bisnis; tatapan tajam dan senyumnya yang berbahaya menyiratkan keinginan yang tak kunjung padam. Keinginan yang membuat Elena semakin terjebak dalam labirin tak berujung.
“Argh! Karl pasti akan menjadikan ini kunci untuk terus menggangguku,” helanya dalam lelah yang melarutkan ketegaran dirinya. Seolah gravitasi emosinya kini hanya berputar di orbit Karl.
Pikirannya melayang pada cara untuk lepas dari dominasi Karl. Mungkin jika pria itu memiliki wanita lain yang mampu mengalihkan perhatiannya, Elena bisa meraih kembali kebebasannya.
Tapi ide itu terasa hampa. “Sepertinya mencarikan wanita lain untuknya itu ide yang bagus,” bisiknya dengan nada getir, meski ada kekosongan di setiap kata yang diucapkannya. “Tapi siapa kandidat wanita yang cocok untuk pria itu?”
