Bersedia Melakukan apa pun
"Ah! Aku memang bodoh. Aku sangat ceroboh!" keluh Elena sembari mengikat rambutnya yang berantakan.
"Mengapa aku harus bertemu dengannya?" gumam Elena pada dirinya sendiri, suaranya pelan namun penuh penyesalan. "Sudah lima tahun berlalu, bahkan aku telah menikah."
Langkahnya membawa dia ke depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, mencakar awan seperti simbol dari ambisi dan kekuasaan. Gedung itu adalah tujuan pertemuannya hari ini, tempat ia harus bertemu dengan seorang klien penting.
Setelah memilih sebuah gaun hitam sederhana yang elegan, Elena menggantinya di ruang ganti dengan tergesa. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, memperbaiki riasan seadanya, dan menyisir rambutnya yang sempat berantakan.
Ketika pintu lift terbuka, Elena berjalan cepat menuju ruang rapat. Napasnya sedikit memburu saat ia mendorong pintu dan masuk. "Selamat pagi. Maaf, karena saya datang terlambat—"
“Selamat datang, Nona Elena.”
Senyum tersungging di wajah Karl—senyum yang tidak hanya sekadar ramah, tetapi penuh arti, seperti rahasia yang disembunyikan di baliknya.
Sorot matanya yang tajam menelisik Elena dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat wanita itu menelan ludah dengan berat.
Elena berdiri di ambang pintu, mencoba menjaga postur tubuhnya agar tetap terlihat tenang, meski perasaan di dalam dirinya berkecamuk hebat. "Kenapa dunia sempit sekali," gumamnya pelan, tapi cukup jelas untuk Karl mendengarnya.
“Aku membiarkanmu pergi karena asistenku memberitahu bahwa kau akan datang menemuiku,” jelasnya memberitahu Elena yang tampak terkejut melihat keberadaannya di sana.
"Dunia selalu sempit untuk mereka yang memiliki urusan yang belum selesai," lanjutnya kemudian, suaranya rendah namun sarat dengan makna.
Dengan langkah hati-hati, Elena berjalan ke arah meja besar di tengah ruangan dan duduk di hadapan Karl. Ia meletakkan tasnya di pangkuan, tangannya meremas-remas tali tas itu, berusaha menenangkan diri.
"Aku rasa urusan kita semalam sudah selesai, Karl. Jangan membahasnya lagi," pinta Elena dengan nada memohon.
"Tapi, aku tidak bisa melupakannya. Kau sendiri yang menggodaku, Elena. Lalu, kini kau meminta melupakannya?" Senyum miring tersungging di bibir Karl. "Aku tidak akan melakukannya, Elena!"
Hening. Elena tidak bisa mengatakan apa pun selain hanya menatap Karl yang kini sedang mengambil proposal yang sudah diletakkan di mejanya. Di sampul proposal itu tertulis nama restoran milik Elena: Elena’s F&B.
Karl membukanya perlahan, matanya menyisir setiap halaman dengan cermat. Waktu seolah melambat di ruangan itu, suara detik jam menjadi satu-satunya hal yang terdengar selain napas Elena yang mulai memburu.
"Kau sangat membutuhkan dana dariku, hm?" tanya Karl akhirnya, suaranya tenang tetapi menusuk.
Elena terdiam sejenak. Pandangannya jatuh pada proposal itu, lalu beralih ke mata Karl yang tajam seperti mata elang, penuh dengan intimidasi yang tidak terucapkan.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku sangat membutuhkan dana darimu,” sambungnya seraya menatap wajah Karl yang tengah menatapnya dengan mata hazelnya itu.
“Baiklah. Bukankah setelah bekerja sama denganmu, itu artinya kita bisa bertemu setiap saat? For information, aku senang membuatmu menggila seperti semalam."
Tangan Elena berkeringat mendengar ucapan Karl tadi. "Apakah kau tidak bisa melupakan kejadian itu, Karl? Kenapa kau selalu membahasnya terus menerus?" tanyanya.
"Never, Elena. Kau sendiri yang memintaku untuk tidak melupakannya. Kau ingin disentuh lagi dan lagi."
Elena menelan ludah. Jujur saja dia tidak ingat apa saja yang dia katakan saat bercinta dengan Karl semalam. Dia mabuk parah sampai membuatnya lupa segalanya.
Elena berharap Karl mau melupakan kejadian itu. Namun, nyatanya tidak semudah itu, Karl tidak mau melupakannya.
“Baiklah, terserah padamu saja. Tapi, apa pun itu, sebaiknya segera beri aku penjelasan. Kau menerima proposal dariku?”
Karl tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak memiliki kehangatan sama sekali. "Ya," jawabnya singkat, sebelum menghela napas panjang. Ia bersandar di kursinya, lalu berkata tanpa ragu, “Dengan syarat yang harus kau terima tentunya."
Mata Karl kembali menatap Elena. "Uang yang kau minta tidak sedikit, Elena. Tidak mungkin aku memberimu secara cuma-cuma, bukan?"
“Apa itu?” tanyanya dengan nada penasaran yang melingkup di dalam hatinya.
Tatapan datar Karl membuat Elena semakin penasaran. Lantas, pria itu dengan cepat mengatakan, "Ceraikan suami gilamu itu dan jadilah patner-ku di atas ranjang. Aku bisa memuaskanmu setiap hari, seperti yang kau inginkan, Elena!"
"Apa kau gila?" ucapnya, nadanya meninggi, penuh dengan emosi yang terpendam.
Karl mengangkat bahunya dengan santai, lalu mengarahkan matanya kembali pada Elena, tatapannya datar dan tanpa kompromi. "Suamimu yang gila, Elena. Bukan aku," jawabnya singkat, seolah pernyataannya adalah fakta yang tidak perlu diperdebatkan.
Elena menarik napas panjang, mencoba menenangkan amarah yang mulai memuncak. "Ya, anggap saja begitu. Suamiku memang gila," katanya akhirnya, suaranya melemah saat rasa lelah meresap ke dalam dirinya.
“Tapi, sebagai teman tidurmu … aku rasa kau yang gila, Karl!” ucap Elena dengan raut wajah kesalnya pada pria arogan di hadapannya ini.
"Seperti yang kau katakan semalam." Karl mendekat menatap wajah Elena yang tampak tegang. "Kau sangat lihai di atas ranjang, Elena," bisiknya mengingatkan Elena tentang ucapannya semalam.
"Dan aku mengakui itu. Selama ini aku tidak pernah menemukan wanita seliar dirimu. Dan aku rasa, kau sangat cocok menjadi teman tidurku."
Elena mendesah kasar mendengar ucapan Karl yang cukup membuat emosi. Dia benar-benar terjebak dan menganggap dirinya sedang berada di atas jurang saat ini.
“Keputusan ada di tanganmu. Jika ingin menyelamatkan restoranmu yang akan bangkrut itu, maka turuti apa yang aku minta tadi,” ucapnya dengan nada intimidasi, memberikan pilihan yang sangat kejam dan sulit untuk Elena.
Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, Karl," ucapnya pelan, nadanya hampir seperti bisikan.
Karl menyeringai kecil, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja. "Tidak ada yang perlu kau takutkan, Elena. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau mendapatkan apa yang layak kau dapatkan," katanya, suaranya terdengar samar-samar menggoda.
"Termasuk memberimu kenyamanan dalam urusan ranjang," bisik Karl—lagi-lagi membahas kejadian semalam.
Elena tidak menjawab. Ia hanya duduk diam, terpaku di tempatnya, pikirannya berkecamuk di antara kebingungan, ketakutan, dan harapan.
“Tapi, apa hubungannya dengan urusan pribadiku dan dana yang ingin kau berikan, Karl? Ini sangat tidak masuk akal, kau tahu?” Elena berkata dengan nada kesal, mencoba menahan diri untuk tidak meledak di hadapan pria yang tampak terlalu tenang.
Karl mengangkat bahunya dengan sikap santai, seolah pertanyaan itu tidak memengaruhinya sama sekali. "Banyak," jawabnya, nadanya begitu percaya diri hingga membuat Elena ingin mendengus kesal. "Keduanya akan menguntungkanmu."
Elena menghela napas panjang. Ia menyunggingkan senyum kecut, pandangannya menyipit menatap Karl. "Tapi tidak dengan menjadi teman tidurmu. Itu sama sekali tidak menguntungkanku!" ucapnya dengan nada datar, tetapi sorot matanya penuh dengan kelelahan dan kekesalan.
Karl tidak terintimidasi sedikit pun. Sebaliknya, ia malah tersenyum tipis, senyum yang tampak seperti seorang pemain catur yang baru saja memikirkan langkah berikutnya.
"Well, Elena," katanya, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Elena. "Apa kau masih ingin mempertahankan rumah tanggamu dengannya, setelah apa yang dia lakukan padamu?"
Kata-kata Karl membuat tubuh Elena menegang. Ia mencoba membaca maksud tersembunyi di balik ucapan itu, tetapi hanya menemukan kebingungan dan rasa cemas yang semakin dalam.
"Ya, aku tahu. Tapi, kenapa kau ingin ikut campur dalam urusan rumah tanggaku?" tanyanya, meski ia tahu pertanyaan itu mungkin tidak akan membawa jawaban yang diinginkannya.
Alih-alih menjawab, Karl beranjak dari kursinya. Ia melangkah mendekati Elena dengan gerakan yang lambat namun pasti, seperti seekor predator yang mendekati mangsanya. Sorot matanya tajam, menusuk, membuat Elena merasa seperti tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Tubuh Elena mendadak kaku saat jarak mereka semakin dekat. Ia bisa merasakan udara di sekitarnya berubah menjadi lebih berat, penuh dengan ketegangan yang sulit dijelaskan.
Karl berdiri di hadapannya, sedikit membungkuk untuk menyesuaikan tinggi mereka. "Aku… memiliki peran penting di perusahaan suamimu," bisiknya dengan suara rendah, hampir seperti rahasia yang hanya mereka berdua boleh tahu. Matanya menatap lekat wajah Elena, tidak memberinya ruang untuk menghindar.
Elena mengerjapkan matanya, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Karl. "Apa yang kau maksud?" tanyanya lagi, suaranya hampir seperti bisikan.
Karl tersenyum samar, senyum yang penuh misteri. "Aku punya akses yang bisa menghancurkannya, Elena," ucapnya perlahan, setiap kata seperti dipilih dengan hati-hati untuk menekankan maksudnya.
Elena merasa seluruh dunianya berputar. Napasnya terasa berat, pikirannya dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang mengerikan. Namun, meski di tengah kebingungannya, ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya untuk bertanya lebih lanjut.
"Lantas, apa yang akan kau lakukan untukku?" tanyanya akhirnya, meski ia tidak yakin ia benar-benar ingin tahu jawabannya.
Karl tersenyum lagi, senyum itu lebih lebar kali ini, tetapi tetap penuh dengan misteri. "Pertanyaan yang bagus, Elena. Kita akan membalaskan sakit hatimu, bersama-sama. Tinggalkan suamimu dan ikut bersamaku."
