Pustaka
Bahasa Indonesia

Switched Lives

187.0K · Tamat
Romansa Universe
150
Bab
7.0K
View
7.0
Rating

Ringkasan

Balas dendam seorang gadis yang tak dapat berjalan sesuai dengan rencana, karena ia mengalami kecelakaan dan membuat roh nya terangkat dari tubuhnya dan membuat gadis itu bertukar jasad dengan seorang Putri yang kabur dari kerajaan. Apakah gadis itu mampu kembali ke tubuh asalnya?

FantasiPerselingkuhanPengkhianatanSupernaturalMenyedihkan

Bab 1 Prolog

Bab 1 Prolog

"Aubrey, ayo pulang," ajak Xander berteriak di seberang sungai sana. Lelaki itu berdiri menghadap ke arah barat, tempat mentari tenggelam.

"Iya, tunggu sebentar," sahut Aubrey sambil mengambil keranjang berisi buah yang ia petik sore ini. Gadis desa bermata biru keabu-abuan itu sehari-harinya bekerja memetik buah untuk ia jual pagi harinya di pasar Kerajaan Elyora, Pasar Arumee.

Langkah kakinya tergesa-gesa meniti air sungai jernih nan dangkal. Sungai itu bernama Safi. Sesuai namanya, memang jernih hingga menampakkan ikan warna-warni menari gembira ketika kaki Aubrey menginjak bebatuan sungai.

Batu-batu tersusun selang-seling, sengaja ditata oleh penduduk sekitar untuk memudahkan saat menyeberanginya.Kalau air besar karena hujan lebat, maka mereka tidak bisa menyeberang. Belum ada jembatan untuk menghubungkan dua kebun buah-buahan itu. Namun, karena adanya sungai tersebut, membuat kedua kebun tersebut menjadi subur, menghasikan buah-buahan yang disukai pihak kerajaan.

"Aubrey, hati-hati!" teriak Xander segera berlari mengejar Aubrey begitu ia melihat batu yang Aubrey pijak bergeser, sepertinya tidak kuat letaknya. Xander terlambat, Aubrey jatuh terlebih dahulu ke dalam air sungai. Semua buah-buahan dalam keranjangnya berserakan dan hanyut.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Xander pada Aubrey sambil membantu berdiri. Dibetulkannya posisi rambut Aubrey yang menutupi sebagian wajah cantik gadis itu.Pipi Aubrey pun merona.Pipi yang sedikit berisi itu membuat Xander tergoda untuk meyentuh dan membelainya lembut.

"Aku tidak apa-apa.Hanya buah-buahanku …," ujar Aubrey sedih saat melihat buah-buahannya telah hanyut dibawa arus sungai.

"Sudahlah, buah-buahanku ada.Kita berjualan bersama besok," ucap Xander menenangkan. Tentunya disertai dengan senyum mengembang indah, membuat hati Aubrey tenang. Senyum sejuk nan menenangkan.

Aubrey dan Xander pulang ke kediaman mereka masing-masing. Meski begitu, Xander tidak akan membiarkan kekasihnya pulang sendirian ke rumah. Ia akan mengantar Aubrey ke rumah gadis itu terlebih dahulu.

Mereka tidak berjalan kaki.Ada kuda putih Xander yang menunggu di bawah pohon beringin, berada tidak jauh dari sungai Safi.

Begitu Xander tiba, kuda itu langsung berbunyi. Mengeluarkan suara sebagai bentuk sapaan pada Tuannya.

Aubrey sudah dekat dengan kuda putih kesayangan Xander tersebut. Makanya, ketika Aubrey datang, kuda itu pun meloncat girang. Kuda putih nan gagah itu bernama White.

"Halo White," sapa Aubrey sambil mendekatkan kepalanya ke kepala White. Tangan mungil lembut milik Aubrey menyentuh kepala hingga ke leher White, membuat White senang menerima perlakuan dari kekasih Tuannya.

"Aubrey, jangan seperti itu pada White. Aku cemburu," ujar Xander sambil menatap tajam pada White. White yang tadinya senang, langsung mundur karena dilihat oleh Tuannya seperti itu.

Aubrey terkekeh mendengar penuturan Xander. "Oke, kau mau begitu juga?" tanya Aubrey beralih mendekati Xander. Tangan gadis itu menyentuh pipi Xander yang memiliki jambang tipis karena baru ia cukur tadi pagi.

"Sudah mau malam, sepertinya akan hujan.Kita harus kembali," ucap Xander menggendong Aubery naik ke atas White.

"Oke!"

Setelah Aubrey naik, Xander pun duduk di belakang gadis itu. White tidak dikendalikan dengan tali, melainkan hanya mendengar perintah yang Xander ucapkan.

"Jalan White! Sekarang harus lebih cepat karena aku tidak mau Aubrey sampai sakit. Dia sedang basah kuyup," ucap Xander memerintahkan pada White supaya berlari kencang menuju rumah Aubrey.

Karena White berlari cepat, Aubrey merasa sangat senang.Angin senja berembus sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangnya yang sedikit basah karena jatuh ke sungai tadi.

Xander memajukan kepalanya ke depan, tepatnya di sebelah kanan kepala Aubrey. Pemuda itu menyempatkan diri untuk menatap Aubrey dari samping.

"Kau senang?" tanya Xander berbisik ke telinga Aubrey.

"Ya," jawab Aubrey tersenyum malu-malu.

***

Tidak butuh waktu lama, Aubrey dan Xander pun tiba di rumah yang memiliki pekarangan cukup luas dengan rumput hijau sebagai alas yang menghampar di sekelilingnya. Bangunan besar itu menunjukkan kalau Aubrey sebenarnya bukan dari kalangan rakyat yang terlalu susah, melainkan rakyat yang sedikit berada. Orang tua Aubrey bekerja pada kerajaan sebagai pelayan yang mempunyai kedudukan penting juga.

"Ayah, Ibu," panggil Aubrey karena hari ini kedua orang tuanya berencana untuk pulang. Namun, ternyata suatu kejadian yang di luar rencana terjadi.

"Ayah, Ibu!" teriak Aubrey begitu mendapati kedua orang tuanya tergeletak di lantai ruang tamu. Adik-adiknya pun begitu. Aubrey mencium aroma dari mulut kedua orang tuanya. Lalu, bergantian pada kedua adiknya yang masih berusia 10 tahun dan 12 tahun. Aubery merasa ada yang aneh.

Berpindah ia melihat makanan yang ada di meja makan. Makanan yang biasa dibawa oleh orang tuanya kalau balik dari kerajaan.

"Apa makanan ini yang menyebabkan mereka semua jadi begini?" tanya Aubrey menduga-duga. Segera ia berbalik memastikan kondisi orang tua dan adik-adiknya.

"Xander!" teriak Aubrey bergegas keluar memanggil kekasihnya.

"Ada apa?" tanya Xander yang sudah naik kembali ke atas kuda. Lelaki itu hendak pulang ke rumahnya.

"Aku harus pergi ke perbatasan kerajaan!"

"Untuk apa?"

"Aku harus menghentikan Ratu dan Pangeran!"

"Aubrey, ada apa?" tanya Xander turun dari atas punggung White.

"Ayah, Ibu, semua keluargaku meninggal …." Aubrey mengucapkannya dengan perasaan yang sangat hancur. Kebahagiaan yang selalu ia nanti setiap kepulangan ayah dan ibu, sekarang berganti menjadi kemalangan. Bukan rasa senang, tetapi sedih dan bingung tentunya.

"Apa?"Xander sangat terkejut.Pemuda itu pun masuk ke dalam untuk memastikan.

"Aubrey, kau kemana?" teriak Xander begitu ia keluar dari rumah Aubrey.

Sayang, Aubrey sudah pergi dengan White menghilang secepat angin.

"Aku harus menyusulnya. Karena hujan akan turun dan tampaknya ada badai petir malam ini," gumam Xander bergegas menemui tetangga sebelah, memberitahukan tentang kondisi keluarga Aubrey dan meminjam kuda untuk menyusul sang kekasih.

***

"Tidak!Aku tidak mau bertemu dengan Ratu dan Pangeran licik itu!" bentak seorang putri yang memiliki rupa hampir mendekati kata sempurna. Ia diberkahi oleh Tuhan dengan paras yang cantik, kecerdasan yang luar biasa dan juga kemampuan istimewa.

"Lady, kita tidak bisa melawan perintah Raja," terang Bibi Camia, pengasuh Putri Chiara sejak kecil.

"Bi, kau tidak tahu tentang mereka.Aku sangat tahu karena aku berteman baik dengan salah satu pangeran dari kerajaan itu. Aku tidak mau dinikahkan dengan pangeran mana pun dari Kerajaan Elyora! Tidak hanya itu, mereka hanya memanfaatkan kerajaan kita.Kondisi keuangan mereka sedang terancam saat ini.Jangan hentikan aku pergi!"

Putri Chiara langsung bergegas menuju tempat kudanya berada. Kuda hitam yang selalu mendampingi ia berjalan-jalan keliling kerajaan dan bahkan pergi ke hutan untuk melihat pemandangan yang menyegarkan mata. Sungguh, berada di dalam istana tidaklah seperti bayangan para rakyat. Hidup dalam kemewahan dan kesenangan hanyalah pikiran mereka yang tidak pernah masuk ke dalam dunia kerajaan. Bagi mereka yang berada di dalam dunia penuh sandiwara dan kepalsuan itu, tempat seperti ini adalah sebuah siksaan yang harus mereka jalankan dengan lapang dada. Tempat ini diisi oleh orang-orang tamak, ambisius dan penuh taktik licik untuk bisa meraih pangkat tinggi serta disegani oleh bangsawan lainnya.

"Lady!" Bibi Camia berlari menyusul, tetapi sang putri sudah keburu berangkat dengan kuda kesayangannya.

"Clovis, kita harus cepat menuju perbatasan.Aku akan bersembunyi di Kerajaan Elyora karena di sana menjadi tempat yang aman saat orang-orang mengira aku ke hutan," ujar Putri Chiara pada Clovis si kuda hitam.

Kuda itu mempercepat langkah kakinya dengan jalan yang tidak menghentak keras dan tidak menimbulkan bunyi yang mencurigakan.Clovis adalah kuda terlatih, memang dikhususkan untuk putri sebelum lahirnya anak dari Raja Domenico tersebut.

Hujan membuat putri kesusahan untuk melanjutkan perjalanan.Angin kencang menggoyangkan pohon-pohon sepanjang jalan, daun-daun berterbangan, berputar membentuk pusaran bergerak tidak tentu arah.

"Clov, bisakah kau percepat?" tanya Putri Chiara pada kuda hitamnya itu.

Clovis sepertinya kesusahan untuk berlari lebih cepat dalam keadaan hujan badai ini.Petir mulai memecah langit dengan cahaya kilat dan bunyi dentuman yang memekakkan telinga. Seolah semesta sedang mengamuk.

"Awas Clov!" teriak Putri Chiara begitu ia melihat ada lawan dari arah yang berbeda menunggangi kuda juga.

"Aaaaa!" teriak Putri Chiara terlempar dari Clovis.Kepala Putri Chiara terantuk pada sebuah batu hingga menyebabkannya langsung memejam mata seketika itu juga.

Kuda hitam milik Chiara terjatuh tidak jauh.Segera kuda itu bangkit, meski kaki belakang sebelah kanannya tidak bisa dibuat berdiri tegap. Namun, kuda itu tetap mencoba bangkit melihat majikannya.

Penunggang kuda yang bertabrakan dengan Putri Chiara juga terpental.Ia adalah Aubrey, si gadis desa yang baru saja kehilangan keluarganya akibat ulah ratu dan pangeran dari kerajaan Elyora. Perbatasan yang menghubungkan dua kerajaan besar itu, membuat bencana untuk kedua gadis yang usianya sama tersebut.

Putri Chiara tersadar. Ia melihat tubuhnya tergeletak di dekat batu di mana kepalanya terantuk dan pingsan.

"Kenapa aku bisa melihat tubuhku sendiri? Apakah aku mati?" tanya Putri Chiara mencoba meraba tubuhnya yang terbaring tidak berdaya. Kuda kesayangannya Clovis pun terlihat berusaha membangunkan dengan mencium tangan Putri Chiara agar sadar.

Putri Chiara tidak menyangka. Kalau kabur yang ia lakukan malah membuat rohnya terpisah dari tubuh. Ia tidak ingin mati! Ia masih punya keinginan untuk membuat pemerintahan kerajaannya semakin maju dan menjadi kerajaan yang dihargai dunia. Ia tidak mau kalau kerajaannya nanti dimanfaatkan oleh Kerajaan Elyora.

Tidak jauh dari sana, Putri Chiara melihat roh dari gadis yang bertabrakan dengannya keluar dari dalam tubuh.

"Apa semudah itu manusia kehilangan rohnya?" pikir Putri Chiara. Padahal rohnya saat ini juga berada di luar tubuhnya, masih bisa menilai roh orang lain.

"Chia, apa yang kau pikirkan! Kau harus bisa masuk ke sana untuk menyelamatkan diri. Ya, itu adalah satu-satunya cara supaya aku bisa kabur dari istana," gumam Putri Chiara dan segera bergerak menuju tubuh gadis berambut cokelat gelap dengan pakaian khas rakyat desa. Ia membaringkan diri di atas tubuh itu hingga rohnya menyatu.

***

Bersambung