Bab 2. Datang ke Ruanganku
Kiara duduk di salah satu kursi bar tinggi sambil menghadap jendela besar. Dari sana, dia bisa melihat langit yang tampak mendung, awan kelabu menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi.
Pemandangan yang biasanya menenangkan kini justru membuat hatinya terasa semakin berat.
Tangannya terangkat lalu menutup wajahnya yang dingin dan basah oleh air mata.
Dia lalu menarik napas dalam-dalam, tapi suara isaknya tetap lolos pelan. “Kenapa aku begitu bodoh,” gumamnya lirih.
Pikirannya semakin kacau. Setiap bayangan kejadian tadi menari-nari di kepalanya dan mempermalukannya berulang kali.
Suara tumpahan kopi, tatapan kaget para staf, dan suara dingin Julian yang menyuruhnya keluar—semuanya seperti pisau yang mengiris hatinya perlahan.
Tapi lebih dari rasa malu, yang paling menakutkan adalah konsekuensi dari semua itu.
Pekerjaan ini adalah satu-satunya hal yang menahannya dari kehancuran. Tanpa gaji, tanpa pekerjaan, dia tidak akan bisa membayar rumah sakit.
Dan jika ibunya dipulangkan, Kiara tidak sanggup memikirkan kemungkinan itu.
Dengan tangan bergetar, dia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Setelah menatap layar beberapa detik, dia mengetik nama yang sudah lama tak dia sentuh di daftar kontaknya: Rhea.
Rhea adalah teman kuliah sekaligus sahabat dekatnya dulu. Mereka pernah tinggal di kamar kos yang sama, makan mie instan bersama, dan saling berbagi mimpi di malam hari.
Tapi kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda. Rhea kini menjadi istri seorang konglomerat—hidupnya glamor, berkilau, dan penuh kemewahan.
Sementara Kiara, hanya gadis biasa yang berjuang agar ibunya tetap hidup.
Ia menggigit bibirnya sebelum menekan tombol panggil. Butuh keberanian besar untuk menghubungi seseorang setelah bertahun-tahun tak berbicara.
Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya suara lembut menyapa dari seberang.
“Kiara? Ya Tuhan, ini benar kau?” suara itu terdengar hangat, tapi ada jarak di dalamnya.
“Hai, Rhea,” ucap Kiara pelan, berusaha terdengar biasa walau suaranya serak karena menangis. “Maaf ya, aku tiba-tiba menelepon. Apa kau sedang sibuk?”
“Oh, tidak, tidak. Aku baru pulang dari salon. Ada apa? Suaramu, terdengar tidak baik.”
Kiara menundukkan kepalanya. Tenggorokannya tercekat. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya ia berkata, “Rhea, aku minta maaf kalau ini terdengar memalukan. Aku … aku butuh bantuan.”
Hening sejenak. Dari seberang, terdengar napas Rhea yang berubah pelan seolah tengah berwaspada. “Bantuan? Maksudmu?”
“Ibuku sedang dirawat di rumah sakit. Tagihannya sangat besar, dan aku belum bisa membayarnya. Aku … aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku ingin meminjam uang padamu. Aku janji akan mengembalikannya. Aku hanya butuh pinjaman sementara. Lima puluh juta saja.”
Suaranya pecah di akhir kalimat. Ia mengusap air mata yang mulai jatuh di pipinya.
Di seberang, terdengar suara helaan napas panjang. “Kiara, aku … aku sebenarnya ingin bantu, tapi, kau tahu, semua keuangan diatur suamiku sekarang. Aku tidak bisa asal mengeluarkan uang. Lagipula, lima puluh juta bukan jumlah kecil.”
Kiara langsung terdiam. Hatinya perih mendengar nada suara itu. Bukan karena Rhea menolak, tapi karena cara bicaranya berubah, seolah ada ada batas yang kini memisahkan mereka.
Dulu, Rhea selalu berkata bahwa mereka adalah sahabat sejati. Tapi kini, kata “sahabat” itu terasa asing.
“Aku mengerti,” jawab Kiara akhirnya dengan suara pelan. “Maaf sudah merepotkan. Aku tidak seharusnya menelepon.”
“Kiara, jangan salah paham, aku hanya tidak punya akses langsung. Mungkin kau bisa ajukan pinjaman ke bank, atau ke atasanmu? Bukankah kau magang di perusahaan besar?”
Kiara terdiam lagi. Rhea tidak tahu bahwa atasan yang dimaksud baru saja mengusir Kiara dari ruang rapat karena secangkir kopi.
“Ya, aku akan coba cari cara lain,” ucap Kiara singkat sembari menekan perasaannya yang mulai retak.
“Oke, jaga dirimu ya, Kiara. Aku harap ibumu cepat sembuh.”
Sambungan pun terputus.
Hening kembali menyelimuti ruangan. Kiara menatap ponsel di tangannya lama sekali.
Dalam pantulan layar yang gelap, dia melihat wajahnya sendiri—pucat, lelah, dan penuh keputusasaan. Air mata kembali mengalir pelan tanpa suara.
Satu per satu harapan terasa seperti menghilang. Tidak ada lagi tempat untuk bergantung. Tidak ada lagi orang yang bisa dimintai tolong.
Dia menunduk, menutupi wajahnya, dan bahunya bergetar hebat saat isakan kecil lolos dari bibirnya.
“Kenapa harus begini?” suaranya hampir tak terdengar. “Aku hanya ingin Ibu sembuh.”
Dia tidak sadar bahwa seseorang telah berdiri di ambang pintu pantry.
Siluet tinggi dengan jas gelap dan sorot mata tajam itu menatapnya diam-diam beberapa saat sebelum akhirnya melangkah masuk perlahan.
“Kenapa kau menangis di sini?”
Suara berat itu membuat Kiara tersentak keras. Ia buru-buru menoleh dan darahnya seolah berhenti mengalir saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Julian Romanov.
Pria itu berdiri tegak di dekat mesin kopi, satu tangannya menyelip di saku celana, sementara wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Namun, sorot matanya tertuju langsung pada Kiara yang masih duduk dengan mata sembab dan air mata di pipi.
“T-Tuan Julian ….” Kiara berdiri terburu-buru lalu menunduk karenapanik.
Tangannya gemetar, dan dia segera menghapus air mata dengan punggung tangan.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggu waktu Anda. Aku hanya—”
“Menangis setelah membuat kesalahan di ruang rapat?” potong Julian datar.
Nada suaranya tidak keras, tapi entah kenapa justru membuat Kiara semakin gemetar.
“Aku … aku benar-benar menyesal, Tuan,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Aku tidak sengaja. Aku akan menerima apa pun konsekuensi yang Anda berikan asalkan jangan pecat aku, Tuan. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk pengobatan ibuku.”
Julian menatapnya lama, nyaris tanpa berkedip.
Sementara Kiara berharap Julian mau memberikan rasa iba meski hanya sedikit padanya.
Julian akhirnya melangkah mendekat lalu berhenti tepat di hadapan Kiara. Gadis itu menunduk dalam sambil menggenggam tangannya sendiri untuk menahan gemetar.
“Datang ke ruang kerjaku jam delapan malam nanti,” katanya singkat.
Kiara mendongak pelan dan matanya membulat kaget. “T-Tuan?”
“Jangan terlambat.”
