Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ancaman

#SKDY

Part 7 Ancaman

"Mama mau apa kesini?" tanyaku langsung agar kami tak lama-lama menjadi pusat perhatian. Selain itu, aku juga penasaran apa tujuan mama datang kemari? Jika hanya sekedar memintaku mengurus surat-surat yang hilang, ku rasa itu hanya dalihnya saja.

Netra mama melihat ke sekeliling. Sementara itu abi dan umi -panggilan untuk pak Santoso dan bu Nila selaku mertuaku- meninggalkan posisi duduknya.

"Maaf, kami tinggal sebentar karena ada tamu dari jauh yang baru datang, " kata ibu mertuaku sebelum beliau beranjak dari duduknya.

"Iya, " balas singkat mama yang tak mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

Abi dan umi berjalan kearah sepasang suami istri yang baru saja datang. Entah siapa itu. Yang jelas mereka terlihat sangat akrab.

Umi bersalaman dilanjutkan bercipika cipiki dengan wanita tersebut, lalu memeluknya sejenak. Begitu dengan abi yang tak kalah hangat menyambut pria paruh baya tersebut.

"Siapa Mas? " tanyaku selepas abi dan umi pergi.

Karena sebenarnya aku penasaran dengan tamu yang baru saja datang tersebut. Bagaimana tidak, aku melihat mereka dengan gaya busana seperti orang penting. Tak hanya itu, bahkan hanya dengan melihat tas jinjing yang dipakai oleh wanita itu aku tahu merknya. Dimana merk tersebut terbilang cukup mahal. Siapa pun mereka, mereka terlihat sangat berkelas sekali.

Mata mas Umair melihat kearah kedua orang tuanya. "Oh, teman kerja abi, " balasnya.

Kembali ku alihkan mataku kearah mama. Kali ini terlihat serius dari mimik wajahnya. Biasanya kalau seperti ini benar-benar ada sesuatu yang harus segera ia utarakan. Seperti meminta pembagian hasil bulanan dari butik untuk kepentingannya.

"Mama mau ngomong sama kamu, " ujar mama melihat kearahku yang duduk berseberangan meja dengannya. "Mama mau setelah kamu selesai mengurus surat-surat itu, saudara-saudaramu juga harus dapat bagian, " katanya dengan wajah serius.

"Saudara? Maksud mama mbak Sinta dan Santi? " tanyaku.

"Siapa lagi. Bagaimana pun mereka juga anggota keluargamu. Bertahun-tahun mereka hidup bersamamu juga ayahmu. Membantu merawat ayahmu. Lagipula mereka juga sudah anggap ayahmu seperti ayah kandungnya, " jelas mama yang membuatku tak habis pikir. Bahkan membuat mata

"Tapi dalam agama mereka tidak ada hak, Ma, " kataku.

"Gak usah bawa-bawa agama kamu, " sahut mbak Sinta. "Lagian, kamu jangan egois jadi anak. Jangan serakah. Kamu ingat sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kami semua menghabiskan waktu dan tenaga untuk selalu berada sama kamu dan ayahmu. Apalagi saat ayahmu masih menjalani pengobatan, apa mama atau aku meninggalkan begitu saja? Ingat itu Saudah, " ujar mbak Sinta panjang lebar. Ia tampak mengebu-gebu mengutarakan ucapannya.

Memang benar yang mbak Sinta katakan. Selama ini mereka selalu ada untuk ayah, apalagi disaat-saat akhir hidup ayah. Mama juga sangat peduli dengan ayah, bahkan saat ayah benar-benar membutuhkan sosok istri yang setia menemaninya, mama tetap ada untuk ayah.

Tapi dalam aturan agama saudara tiri tidak ada hak untuk menerima warisan. Jadi tidak mungkin aku akan membagikannya untuk mereka.

Lagipula sesuai amanah dari ayah sebelum beliau meninggal, beliau memintaku untuk memberikan hak hanya untuk mama. Haknya sebagai istri. Tidak untuk kedua anak tirinya.

Ku lihat wajah suamiku. Ia hanya diam saja. Tapi aku tahu, ia diam karena ia sedang memikirkan solusinya. Tapi kenapa lama sekali, padahal pendidikan mas Umair jauh lebih tinggi dari aku. Apalagi ia lulusan dimana pembelajaran agama lebih diutamakan. Apa dia ingin terus-terusan melihat istrinya yang dikeroyok hanya gara-gara soal harta.

"Mama gak mau tahu dan mama gak peduli. Kamu harus bagi rata warisan dari ayahmu dengan Sinta dan Santi. Kalau tidak .... " Mama mengambangkan ucapannya, membuatku menautkan kedua alisku.

"Kalau tidak mama akan ambil paksa dan kamu tidak akan kebagian satu persen pun!" acam mama.

Aku tersenyum dengan menarik sudut bibir kananku. " Maaf Ma, aturan agama aku tidak bisa melanggarnya, " kataku menegaskan yang membuat wajah mama merah padam menahan kesal seketika.

Aku harus berani melawan mama. Lagi pula surat-surat itu sudah berada ditanganku dan sudah diurus oleh notaris tanpa sepengetahuan mama. Jadi aku rasa ancaman mama itu hanya gertakannya saja. Tidak mungkin ia akan mengambil paksa semua aset peninggalan ayah jika atas nama hukum akulah yang sebenarnya memiliki hak.

Sementara mama terlihat sangat geram dengan sikapku. Tapi dilain sisi aku merasa bahwa mama juga sedang memikirkan sesuatu.

"Maaf Ma, tapi yang dikatakan Saudah itu benar. Dalam agama anak tiri tidaklah termasuk hak waris, " akhirnya suamiku membuka suaranya.

"Jangan ikut campur kamu! Orang desa yang tak berpendidikan sepertimu itu tahu apa! " cerca mama.

"Tahunya bajak sawah doang dia, Ma, hahaha! " sahut mas Bima dengan tawa merendahkan. Sementara mas Umair hanya membalasa dengan senyuman yang membuat mas Bima terlihat jengkel.

"Saudah ... Jika kamu bersikukuh tidak ingin membagi warisan itu, jangan salahkan mama jika suatu saat terjadi sesuatu padamu atau keluargamu, " kata mama mengancamku lagi.

"Lebih baik sayangi nyawamu. Jangan sampai hal buruk menimpamu seperti apa yang ibu kandungmu rasakan dulu, "katanya lagi dengan pelan namun penuh penegasan.

Mataku sekejap membulat besar mendengar perkataan mama. Apa yang ia maksudkan?

"Mama ... " ucapku lirih menatap lurus kearah mata ibu sambungku itu.

Mama tersenyum menyeringai kearahku. "Ya. Aku ... " kata mama menggantungkan perkataannya membuat jantungku berdegup lebih kecang.

"Jangan main-main dengan kami, " timpal mbak Sinta lalu beranjak dari duduknya, diikuti dengan mama, Santi dan mas Bima.

"Kalian juga jangan main-main dengan kami. Karena apa pun yang terjadi, kami tetap akan membagi warisan tersebut sesuai syariat islam, " kata mas Umair seraya berdiri dari duduknya.

Sementara aku masih terpatung dengan posisi dudukku. Aku masih mencoba mencerna dari setiap perkataan mama barusan. Apa kecelakaan ibuku sepuluh tahun yang lalu ada sangkut pautnya dengan mama?

"Orang desa mau nantangin kita Ma, " ujar mas Bima seraya melayangkan pandangan meremehkan pada suamiku.

"Orang desa seperti kamu itu bisa apa? Jangan ikuti urusan keluargaku. Lebih baik kamu belajar mendidik Saudah yang bener biar gak jadi anak durhaka yang suka ngebantah perintah orang tuanya, " kata mama panjang lebar. Lagi pula, apa maksudnya aku suka ngebantah? Yang ada semua sikapku ini karena keserakahan dia dan anak-anaknya. Aku 'kan hanya mempertahankan apa yang jadi hakku.

Sementara ku lihat mas Umair hanya diam ketika mama berkata demikian. Ah, selalu begitu. Setiap kali mama memakinya, suamiku itu tak banyak omong. Padahal aku sendiri sudah geregetan.

Kalau bukan karena status mama Ros sebagai istri ayahku, sudah rasanya ingin ku buang jauh ke lautan mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel