Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

GENGSI

Sagara bangun tidur. Dia memandang Ratu yang masih terlelap. Lelaki itu pun segera menarik selimut Ratu sehingga membuat wanita itu tampak lebih nyaman. Sebenarnya Sagara juga ingin menghadiahkan kecupan ke dahinya. Meski Ratu tak sekali pun tersenyum padanya, tapi entah mengapa Sagara sangat menikmati hari pertama menjadi suami Ratu. Dia merasa hari-hari dengan Ratu sungguh berbeda dengan hari-hari yang pernah ia alami. Hanya saja dia masih berharap, suatu saat nanti, Ratu benar-benar akan mencintainya.

Yah meski Ratu adalah wanita paling keras kepala yang dia temui, hanya saja Sagara merasa betah ada di sampingnya. Pernikahan mereka mungkin memang buah dari perjodohan dan Sagara juga belum sepenuhnya mencintai Ratu. Hatinya masih terperangkap di masa lalu, bersama seorang perempuan sederhana yang dia kenal di sebuah pantai. Selain karena Ratu tidak mau disentuh Sagara, Sagara sendiri juga tak mau menyentuh Ratu sebelum dirinya benar-benar mencintai wanita itu. Dia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika berani menyentuh Ratu sebelum mencintainya.

Setelah menyelesaikan rutinitas paginya, Sagara pun pergi ke dapur. Dia terhenti kala melihat memo di pintu kulkas. Di sana tertulis bahwa ayah dan ibu pergi beberapa hari ke luar negeri. Kepergian mereka juga agar Sagara dan Ratu bisa berduaan di rumah. Pak Danaswara juga berpesan bahwa seluruh pembantu dan sopir, sudah disuruhnya cuti.

Sagara tersenyum. Mertua dan istrinya sama-sama menakjubkannya. Sagara pun menempelkan memo itu kembali ke pintu kulkas. Ia lalu mengambil beberapa bahan masakan dan mulai mengolahnya. Hari ini dia ingin memasak sesuatu yang istimewa. Sebelum menikah dengan Ratu, Sagara sudah mempelajari seluruh hal tentangnya. Walaupun data itu belum membuahkan perasaan suka pada Ratu, tapi paling tidak, dia bisa membangunnya mulai hari ini. Sagara percaya bahwa cinta bisa datang dengan sendirinya. Maka untuk hari ini, Sagara mencoba mengingat semua makanan kesukaan Ratu dan mulai menyusun rencana menu pagi yang lezat.

Di sisi lain, Ratu akhirnya terbangun. Badannya terasa kurang enak. Setelah menggeliat dan menyanggul rambutnya ke belakang, dia pun baru sadar kalau sekarang dia tidak sendirian di kamar. Segera saja dia mengecek bajunya. Setelah menyadari bahwa piyamanya masih, Ratu pun merasa lega. Ternyata Sagara memang tak menyentuhnya. Untuk ini, Ratu percaya kalau Sagara memang orang baik.

Ratu pun bangkit. Dia menuju kamar mandi, mencuci muka lalu melakukan aktivitas paginya. Ratu sedang datang bulan. Emosinya yang meledak-ledak dari kemarin ternyata karena ada perasaan aneh di perutnya.

"Selamat pagi, Ratu," sapa Sagara dengan lembut.

Ratu tak membalas. Walaupun perasaannya pagi ini jauh lebih baik daripada semalam, hal itu sama sekali tak mengubah pandangannya terhadap Sagara. Ratu meneruskan langkahnya. Dia mengambil air minum lantas duduk di meja makan.

Ratu menyapu pandang. Wanita itu baru menyadari ada yang tak beres dengan rumahnya ini. Tidak ada pembantu yang lewat seperti biasa. Ayah dan ibunya juga tak terlihat. Bahkan rumah ini terlalu hening. Padahal kalau pagi selalu saja sibuk. Hari ini juga bukan hari Minggu jadi seharusnya ayahnya bersiap untuk bekerja, sementara ibunya biasanya ada di dapur atau sedang olahraga. Namun mereka tak ada.

Sagara menyajikan sandwich yang baru matang. Dia lalu mendekati Ratu dan meletakkan sandwich lengkap bersama susu di sebelah wanita itu.

“Kalau kamu nyari ayah sama ibu, mereka lagi berlibur ke luar negeri,” katanya sembari mendekatkan memo yang ditinggalkan oleh mertunya ke samping Ratu.

Ratu hanya meliriknya sebentar, alih-alih hendak mengecek, fokusnya justru teralihkan ke sandwich isi daging kesukannya. Ratu menelan ludah. Perutnya segera saja berbunyi. Bahkan air liurnya mulai memenuhi mulut. Apalagi melihat sandwich itu masih mengeluarkan asap, pasti masih hangat dan enak untuk dimakan. Namun lagi-lagi harga diri Ratu menghalanginya untuk segera melahap masakan Sagara. Ratu justru membuang mukanya kembali dan meminum air putihnya lagi.

“Hadiahmu karena telah mengalahkanku, hilang, dong!” cetusnya.

Sagara yang kini duduk di depan Ratu pun tertawa kecil. “Kita kan hidup di zaman modern, Rat. Kita masih bisa menunjukan kemesraan dengan menghubungi orang tuamu, kan?”” cetus Sagara.

“Ya sudah hubungi, bilang kita lagi sarapan bareng!” usul Ratu. Inilah satu-satunya alasan dia bisa segera makan masakan Sagara.

Sagara menggeleng. “Nanti saja. Kita kan tidak tahu mereka pergi ke mana. Siapa tahu di negara itu masih malam.”

Mendengar itu, Ratu hampir saja tersedak. Dia menatap Sagara dengan sinis. Rencananya gagal. Ratu menenangkan diri. Perutnya keroncongan dan bau sandwich yang disajikan Sagara benar-benar menggugah selera makannya. Hanya saja, Ratu terlalu gengsi untuk makan langsung. Dia tidak mau benar-benar terlihat ingin memakan masakan Sagara.

Sebuah ide pun tercetus di otaknya. Dia lalu meletakkan gelas air putihnya dan mengambil handphonenya. Tanpa disuruh oleh siapa pun, dia pun langsung memencet nomor ayahnya dan menghubungi dengan video call.

“Kita tak tahu kalau tidak mencobanya,” ujarnya kemudian.

Sembari menunggu terangkat, Ratu pun hendak mengambil sandwich. Tak lupa Ratu mengambilnya dengan raut wajah malas dan tangan yang amat pelan. Sekali lagi, Ratu sama sekali tak mau terlihat benar-benar ingin memakan sandwich buatan Sagara. Belum juga sempat mengambil, video call itu tak terjawab.

“Tuh, kan! Sepertinya mereka memang masih di pesawat atau lagi di wilayah yang jarang sinyalnya. Online saja tidak,” tukas Sagara.

Ratu pun berdecak sebal. Video callnya gagal, begitu juga dengan kesempatannya mengambil sandwich. Ratu tak menyerah. Ia kembali menghubungi ibunya. Lagi-lagi gagal.

“Kalau ayah ndak bisa dihubungi, apalagi ibu. Kan, mereka lagi di tempat yang sama,” celetuk Sagara.

Ratu mendesis kesal. Dia mau protes tapi dia tahu kalau Sagara benar. Akhirnya dia pun mencoba menghubungi orang tuanya dengan telepon seluler. Sayangnya mau ditunggu sampai sandwichnya dingin pun, telepon itu tak terhubung.

“Udah, kalau mau makan, makan saja. Jangan cari alasan buat sarapan,” papar Sagara lembut. Tangannya pun mengambil hp Ratu lalu meletakkannya di meja.

“Siapa juga yang cari alasan! Aku juga nggak laper, kok. Ini bukan jam sarapanku,” tolak Ratu.

Baru juga dia berkata seperti itu, perutnya berbunyi kencang. Karena kondisi rumah yang sunyi, Sagara pun dengan jelas dapat mendengarnya. Dengan senyum selembut sinar mentari pagi, Sagara kembali mendekatkan sandwich ke istrinya.

Dengan wajah yang memendam malu, Ratu pun mengambil sandwich bagiannya. Nyatanya dia memang sangat lapar. Selain karena tadi malam tidak makan, dia yang kelelahan akibat bertarung dengan Sagara juga menjadi alasan kenapa pagi ini perutnya keroncongan. Dan ketika Ratu menggigit sandwich buatan Sagara, seluruh badannya merinding. Sandwich buatan Sagara benar-benar lezat.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sagara.

“Enak,” kata Ratu jujur. Hanya saja dia mengatakan itu sedatar yang dia bisa. Meski rasanya Ratu ingin makan dengan cepat karena sandwich di tangannya begitu lezat, namun dia tahan sekuat tenaga. Makanan Sagara selezat apa pun, harus dimakan sebiasa mungkin. Ini juga salah satu agar Sagara mau menggugat cerai dirinya.

“Makasih pujiannya!” balas Sagara. Dia kembali tersenyum ke Ratu. Dan Ratu pun terdiam melihatnya. Baru kali ini dia melihat ada senyum yang lebih indah daripada senyum ayahnya sendiri.

Ratu menutup mata. Demi mengalihkan pandangan dan pikirannya, dia pun mengambil susu lantas meminumnya. Tidak baik baginya untuk menatap ketampanan Sagara secara terus-menerus. Ini baru hari kedua mereka bersama. Ratu tak mau sampai ada benih suka apalagi cinta yang tertanam dalam hatinya.

“Kalau boleh tahu, kenapa kamu mau menikah denganku?” tanya Ratu. Tangannya masih memegang gelas susu. Dia masih belum mau menurunkan gelas itu dari bibirnya kendati sudah tak meminumnya. Ratu tak mau tersihir dengan ketampanan Sagara.

Ditanya seperti itu, Sagara pun menundukkan pandangannya. Dia mengambil jeda dengan minum susu, sama seperti Ratu. Tak mungkin baginya untuk mengutarakan bahwa satu-satunya wanita yang pernah dia cintai sudah menikah dengan orang lain.

Setelah minum, Sagara pun berdeham. “Mungkin alasannya sangat klise. Tapi sejak aku kehilangan orang tua, aku sama sekali tak memiliki keluarga. Dan hanya ayahmulah yang dengan hangat menyambutku sebagai keluarganya.”

Sagara diam sejenak. Dia tidak bohong dengan alasan yang baru saja dia kemukakan. Di umurnya yang sudah menginjak 33 tahun, dia merasa sangat kesepian. Dan ketika dia ditinggal menikah oleh wanita yang dia cintai, dia sadar kalau hatinya butuh waktu lama untuk sembuh. Satu-satunya yang bisa menyembuhkannya dengan cepat hanyalah membina keluarga baru.

Ratu yang mendengar jawaban Sagara pun lagi-lagi terdiam. Dia bahkan berhenti mengunyah sandwichnya untuk beberapa saat. Hatinya sedikit bergetar. Apalagi melihat Sagara yang terisak dan pergi ke belakang tanpa mengatakan apa pun. Jujur ada sedikit rasa simpati yang mulai tumbuh dalam diri Ratu. Walaupun dia sudah membaca seluruh berkas mengenai Sagara, tetapi berhadapan langsung dengan orang yang mengalami kisah setragis itu, sangat berbeda.

Tak berapa lama, Sagara kembali. Di tangannya juga terdapat teko yang berisikan susu. Wajahnya basah oleh air.

“Jangan sok kuat kalau jadi cowok!” cela Ratu ketika Sagara duduk kembali dan mengisi ulang gelas susu miliknya.

Sagara tertawa kecil. “Siapa yang sok kuat. Kan aku kuat beneran, nyatanya tadi malam aku menang!” sahutnya sembari menawari Ratu susu dalam tekonya.

Tangan Ratu terangkat, dia menolak. “Enak aja. Next week, aku pasti akan menang!”

“Liat saja besok!”

Mungkin Ratu tak menyadarinya. Namun bibirnya kali ini tersenyum, senyum yang benar-benar tulus dari hatinya. Dan Sagara terkesima melihatnya.

“He’em,” deham Sagara kemudian. “Mau ikut aku?”

“Ke mana?”

“Tempat yang seharusnya dikunjungi oleh sepasang suami istri baru seperti kita.”

“Hah?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel