Pustaka
Bahasa Indonesia

Suami Brondong

90.0K · Tamat
Romansa Universe
86
Bab
11.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Almira adalah seorang dosen ekonomi yang terkenal killer. Sementara ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal.Almera diminta untuk meneruskan usaha restoran martabak kari milik ayahnya, yang sudah memiliki tujuh cabang di beberapa kota. Namun, Almera tak hendak, karena passionnya memang mengajar.Suatu ketika, ayahnya yang sedang berkeliling pasar terserang stroke ringan. Beruntung, seorang tukang galon menolongnya.Singkat cerita, ayah Almera jatuh hati pada tukang galon, yang ternyata bernama Samson ini. Selain karena sangat perhatian, hangat, Samson suka berpantun-pantun garing, yang membuat ayahnya terhibur.Ayah Almera yang terkesan meminta Almera menerima Samson menjadi suami. Tak peduli, jika Samson hanya lulusan SMA dan berkulit seperti pantat panci yang hitam dengan gigi putih yang bersinar ketika malam dan mata yang sedikit belo, serta berbibir setebal cingur sapi.Bahkan, demi hal itu, dia bahkan berpura-pura sakit keras, sehingga seolah-olah permintaan itu adalah permintaan terakhirnya. Almera tak menyangka, ayahnya menjodohkannya dengan tukang galon. Pada awalnya, ia gengsi, tapi menerima juga perjodohan itu.

RomansaDosenDewasaRevengePernikahan

Bab 1 Perawan Tua

Bab 1 Perawan Tua

Dia Perawan Tua. Demikian orang-orang yang kesal padanya menggunjingkan dirinya.

Untungnya, tidak disambung dengan buruk rupa, sehingga bergelar Perawan Tua Buruk Rupa. Semua mengakui akan kecantikan paripurna yang dimiliki Almera

Langkahnya terdengar angkuh, dengan dagu terangkat, membuat dirinya di segani. Semua orang menundukan kepalanya saat ia lewat di depan mereka.

"Apa kalian sudah tak waras, hah! Cepat masuk ruang kuliah, sebentar lagi ujian!" katanya berteriak.

Sementara yang ia teriaki langsung saja berhamburan menjauhinya dengan gerutuan. “Kita bukan anak SMA kali, diusir-usir begitu. Sok perhatian!”

"Dasar Dosen killer!" gumam seseorang yang untungnya masih didengar sang peneriak.

"Apa kamu bilang!" katanya marah. Ia hanya menegakan keadilan untuk para dosen yang bekerja sepertinya, kebaikannya ini ternyata di salah artikan.

"Maaf, Bu." Mereka meninggalkan Almera - dosen ekonomi yang sudah terkenal akan cara mengajarnya yang killer. Tidak ada yang pernah lolos dari kemarahannya.

"Nama kamu saya tandai!" pekik Almera kesal. Sungguh tak ada sopan santunnya para mahasiswa itu.

Wanita cantik itu mendengus mendengar kata-kata mahasiswanya. Ia terus melanjutkan perjalanannya menuju salah satu kelas untuk mengajar.

"Dosen killer, semoga jadi perawan tua!"

Almira melotot. Siapa yang sangat berani meneriaki dirinya seperti itu. Dirinya membalikan badannya, menelisik siapa yang meneriaki itu.

"Mana orang itu!" geram Almera. Ia mengepalkan tangan kanannya. Umurnya yang sudah kepala tiga, membuat dirinya sering di sebut perawan tua.

Apa salahnya dengan umur itu? Ia adalah seorang dosen, dan ini adalah kehidupannya. Tak ada yang boleh mengatur hidupnya itu, prinsip Almera.

Almera membalikan badannya, menghiraukan siapa yang meneriakinya tadi. Wajah tanpa senyuman ia tunjukan.

Senyumnya itu sangatlah mahal. Tak ada yang bisa membuat Almera tersenyum.

Ketukan high heels senada dengan kakinya yang anggun. Melanjutkan perjalanan, Almera menyipitkan matanya, menatap segerombolan mahasiswa di persimpangan lorong.

Almera menatap gerombolan orang yang tengah nongkrong ria di depan lorong ruang-ruang kuliah membuat dirinya marah seketika. Ini sudah mau ujian, bagaimana jika anak bangsa ini mendapat E dari dosen-dosen mereka?

Bukan urusannya, sebenarnya. Naluri kepedulian Almera bangkit, karena dia juga mengabdi pada unit pengembangan mahasiswa di Universitasnya.

Almera sangat tidak suka melihat orang-orang yang masih bisa bersantai ria di tengah padatnya jadwal kuliah, apalagi saat ujian mid begini. Ia sungguh tak habis pikir dengan mereka semua.

"Apa kalian sungguh tak mempunyai pekerjaan lain, hah!" kata Almera marah. Ia menatap tajam para mahasiswa itu.

"Em ... em, kamu bicara, dong!" kata salah satu dari mereka setengah berbisik pada temannya. Menyenggol lengan teman di sampingnya dengan pelan.

"Apa kalian melihat siapa yang meneriaki saya?" tanya Almera ketus. Ia menatap lurus kedepan, tanpa mau menatap maupun melirik sekumpulan mahasiswa di sebelahnya.

"Memangnya teriakan seperti apa, Bu?" tanyanya.

Almera langsung menoleh dengan tajam. Nada yang ia dengar, seperti nada ledekan dan itu membuat dirinya kesal.

"Eh, maksud saya, saya ngak tau, Bu," katanya meringis. Ia mengusap tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ditatap Almera seperti itu, membuat dirinya bergidik takut.

"Baiklah," kata Almera tak peduli. Ia meloloskan semua mahasiswa yang sedang bersantai ria itu dengan tenang.

"Untung, tuh dos--"

"Satu lagi. Kalian cepat pergi dari sini, atau saya akan tandai kalian di mata kuliah saya!"

Almera sedang dalam mood yang turun, ia tak mau berteriak-teriak lagi. Malas mendera dirinya, ia harusnya tak memikirkan kata-kata tadi, yang meneriakinya. Tapi, Almera memikirkan itu semua.

Almera menghembuskan nafas panjangnya, membenarkan letak tas yang ia tenteng di tangan kirinya dengan anggun.

Baru beberapa langkah ia tenang, sebelum seseorang meneriaki dirinya lagi. Ini membuat Almera langsung membalikan badanya.

Seorang pemuda paling tampan di antara mereka mengatai Almera. "Dosen killer, semoga jadi perawan tua," kata Lucky dengan suara yang dibuat-buat.

Ia melangkah, menampakan dirinya paling depan, menatap Almera dengan remeh. Tersenyum sinis.

Lucky sendiri adalah seorang mahasiswa berusia dua puluh lima tahun, yang nyaris menjadi mahasiswa abadi, karena skripsinya dipersulit Almera. Begitu menurut Lucky.

Padahal, bukan dipersulit, sebenarnya, tapi Almera tak mau anak ini membuat kajian skripsi seenak jidat. Almera sudah sampaikan, jika dosen pembimbing utama tak mau, tapi Lucky berkeras Almera yang dipercaya sebagai dosen pembimbing kedua sebagai penyebabnya.

Belum lagi dengan Lucky yang masih harus mengulang banyak mata kuliah, yang bernilai E. Semakin abadilah mahasiswa ini.

"Seru, nih, kayaknya."

Adik-adik kelas, yang sekarang jadi teman-teman Lucky selalu saja mengolok-ngolok, karena dirinya belum juga meninggalkan kampus ini. Lucky dengan lantang membalas, ia seperti ini semua karena Almera yang mempersulit skripsinya.

"Jadi, kamu, ya!" kata Almera kesal. Ia menatap kebelakang Lucky, menatap satu persatu temannya yang turut andil dalam kebohongan tadi.

"Kenapa? Ibu suka sama saya?" kata Lucky menaikan sebelah alisnya. Ia melipat kedua lengannya, menatap Almera santai.

"Kamu sungguh percaya diri sekali, Lucky!"

Almera menatap garang Lucky, kenapa Lucky ini sangatlah percaya diri. Apa tingkahnya membuat Lucky seperti ini? Sungguh menyebalkan.

"Ky, kamu jadian aja sama Bu Mera, siapa tau nanti cepet lulusnya," kata teman Lucky terkikik geli.

Almera semakin menatap tajam keduanya, apa mereka menganggap semua ini lelucon, Almera kesal dibuatnya.

"Bener, tuh. Jadian, aja, Ky!"

"Kalian! Say--

"Boleh di coba," tukas Lucky berani. Dia tersenyum manis pada Almera.

Dan sebagai perempuan, segalak-galaknya ia, Almera gentar juga. Tangannya mengepal.

Lucky yang melihatnya tak enak hati. “Maaf, Bu. Saya lagi badmood. Sekali lagi, maaf. Kami bubar ya, Bu. Hayoook! Bubar, geng!”

Lucky dan teman-temannya meninggalkan Almera. Dan Perempuan ini merunduk sebentar.

Jantungnya hampir copot. Gara-gara mahasiswa abadi, yang terpaut lima tahun saja darinya menggertaknya.

“Kamu benar-benar jadi mahasiswa abadi ya?” desis Almera pada dirinya sendiri. Lihatlah! Kutandai kamu dan para cecunguk itu.

***

Seorang lelaki tengah berjalan–jalan di area street food. Ia mengelilingi area itu dengan tangan yang terus saja mendial seseorang dengan vidio call.

Ia menatap sekeliling, suasanya yang ramai membuat dirinya sesak. Ia mencoba mem-vidio call putrinya, tapi ia belum juga mengangkat panggilan nya.

"Akhirnya," kata Arya-- ayah Almera dengan helaan nafas lega, melihat sosok putrinya di sebrang sana.

"Ada apa, Ayah?" tanya Almera pelan, memberikan senyum hormat. Lalu melambai penuh sayang.

Arya bisa melihat Almera sedang berkutat dengan laptop yang menyala, mata sipitnya di lapisi kacamata baca yang sangat pas di hidungnya. Cantiknya putriku, batin Arya. Kapan kau punya pangeran berkuda putih, Nak?

"Lihatlah, Ayah sedang berada di street food, indahkan?" kata Arya. Ia memperlihatkan suasana ramai yang tercipta di sekeliling dirinya kepada Almera.

Para penjual dan pembeli sangatlah banyak, membuat Arya merasakan rasa bahagia, bisa berada di tempat seperti ini.

Nun tak jauh dari tempat Almera berada, seorang lelaki mengawasi. Lucky, lelaki yang hari itu tampan sekali dengan kemeja flanel abu-abu, sontak mengukir senyum.

“Anak papa rupanya,” ringis Lucky. “setidaknya Dosen Killer itu anak yang baik dan berbakti.”

Deg! Lucky merasakan jantungnya berdebar.