Bab 6 Jatuh Cinta
Eva duduk di kursi tepat di depan bartender yang sedang merapikan botol-botol minuman. Ia menghisap rokoknya lalu meminum minuman berbuih yang ada di hadapannya.
Sudah dua tahun lebih ia bekerja pada mami Ceila. Nama Wati sudah benar-benar terganti dengan Eva seiring transformasi dirinya. Tampilannya jauh berubah, ia bukan lagi gadis polos seperti saat pertama kali datang. Kini ia acap kali memakai baju yang ketat dan seksi saat harus melayani pelanggan.
Eva memilin rambut sebahunya yang dibuat bergelombang. Kuku-kukunya panjang berwarna merah dan terawat. Wajahnya makin cantik dengan make up natural.
"Ngelamunin apa sih, Va?" tanya sang bartender.
"Kangen sama emak. Udah 6 bulan gak pulang."
"Minta ijin pulang aja sama mami."
"Musim rame gini, mana diizinin?"
"Iya juga sih, telpon kalo gitu."
"Udah aku telpon, Bang. Tadi pagi."
Eva kembali menghisap rokoknya. Ingatannya terus bersama sang ibu. Ibu dan adiknya kini hidup berkecukupan. Rumah mereka sudah diperbaiki, emak kini tidak perlu berjualan semua kebutuhan dipenuhi Eva. Tiap bulan ia selalu mentransfer dana yang lebih dari cukup, dan tentu saja ibunya tidak tahu apa pekerjaan Eva sebenarnya.
Rumah bordil mami Ceila mulai dibuka malam hari. Para pekerja seks komersial telah siap dengan pakaian yang mengundang syahwat begitu juga Eva. Gaun hitam selutut yang ketat dengan punggung terbuka dipakainya. Selain menjajakan diri di rumah bordil itu, Eva dan PSK lainnya juga menerima panggilan.
"Eva, tugas kamu di room 203." ucap Mami Ceila. Eva sudah paham apa yang harus dilakukan.
Eva masuk ke dalam ruang 203, seorang pria telah duduk di sana. Ia menatap Eva, tatapannya berbeda dari pada pria-pria yang pernah Eva layani. Ia terlihat seperti pria baik-baik. Biasanya pria yang akan ia layani menatapnya dengan penuh nafsu dan langsung menerkamnya begitu saja.
Eva berjalan mendekati pria itu. Ia melemparkan senyum yang dibalas senyuman.
"Hai, saya Eva." Eva menjulurkan tangannya dan pria itu menyambutnya.
"Adnan." jawab pria itu datar.
Eva duduk di sampingnya lalu menuangkan minuman dari botol yang tersedia di atas meja, "Minum?" tawar Eva.
Adnan mengambil gelas yang disodorkan Eva lalu meneguknya. Eva memulai pelayanannya, ia mengusap paha Adnan tetapi reaksi Adnan berbeda dengan lelaki lain. Ia mengangkat tangan Eva dari pahanya dan menjauhkannya. Eva mencoba lagi, namun reaksi pria tersebut sama seperti sebelumnya.
"Saya kurang menarik ya?" tanya Eva.
"Yang saya butuhkan malam ini adalah teman bicara,"
Eva mengangguk. "Kalau begitu saya akan menjadi teman bicaramu malam ini."
Adnan menatap Eva lalu tersenyum. Ia mulai bercerita tentang masalah yang dialaminya siang tadi. Eva mendengarkan dengan seksama dan sesekali memberi tanggapan.
Malam itu keduanya hanya bicara seperti sahabat. Tidak ada hubungan seksual seperti pada pelanggan lainnya. Di akhir obrolan mereka Adnan meminta nomer ponsel Eva.
Hubungan Eva dan Adnan berlanjut via chat di ponsel mereka. Seminggu berikutnya Adnan datang dan mereka kembali berbincang akrab.
Hubungan yang makin dekat membuat Eva sering kali merindukan Adnan jika sehari saja mereka tidak bicara.
[Lagi apa, Mas?]
Eva mengirim pesan di suatu pagi.
[Siap-siap mau ke proyek. Kamu lagi apa?]
[Baru habis mandi]
[Pantes wangi]
[Mas bisa aja]
[Va, jalan-jalan yuk?]
[Kemana?]
[Kemana aja, aku libur besok. Gimana?]
[Boleh, tapi sore harus udah balik]
[Duh kayak ngajak jalan perawan aja ada jamnya]
[Kalo udah malem kan bertarif]
[Hahaha, nanti kalo kemaleman aku bayar deh]
[Becanda, Mas. Sekali-kali pengen juga aku bolos kerja.]
[Aku jemput jam 10 pagi]
[Siyap Bosqu]
Keesokan harinya tepat jam 10 pagi Eva telah bersiap. Ia menggunakan celana jeans dan kaos berwarna putih dan jaket berbahan denim. Rambut sebahunya ia kuncir ekor kuda. Make up tipis dan natural menghiasi wajahnya.
Adnan datang dengan pakaian yang hampir sama dengannya.
"Kita couple-an ya?" ucap Eva sambil tersenyum saat melihat Adnan turun dari mobilnya.
"Padahal gak janjian loh."
"Sehati berarti."
Keduanya menikmati hari itu dengan berjalan-jalan ke pantai. Melihat indahnya ombak dan segarnya angin pantai.
Keduanya duduk bersisian di pantai berpasir. Tangan Adnan menggenggam tangan Eva.
"Va, saya suka kamu. Em ... bahkan sepertinya jatuh cinta."
"Saya juga merasakan hal yang sama, Mas."
Adnan yang awalnya menatap ke arah pantai merubah posisi tubuhnya begitu juga Eva, keduanya saling menatap dan entah siapa yang memulai bibir mereka bertemu dan berlanjut pada sentuhan fisik yang memabukkan, matahari terbenam menjadi saksi kemesraan mereka.
Pernyataan suka di pantai berlanjut pada aksi keduanya di hotel tak jauh dari pantai. Malam itu keduanya menyatu atas nama cinta.
