Bab 4. Brian Pradana
4. Brian Pradana
Sehari sebelum acara pernikahan, di apartemen Brian.
"Si*l, kenapa si Mona bisa hamil sih!" ucap Brian gusar sebari meremas kasar rambutnya.
"Aku belum siap jadi ayah, kenapa juga aku harus menikahi dia?" imbuhnya lagi.
"Sayang!" seru Mariska begitu membuka pintu kamar apartemen Brian, namun Brian tak melihat ke arah Mariska sama sekali.
"Kamu kenapa? Kok gelisah gitu?" tanya Mariska melihat kekasih sahabatnya nampak gusar.
Ya, Mariska adalah sahabat Mona. Sedangkan Brian adalah kekasih Mona, dan mereka sedang bermain api di belakang Mona. Mariska menggoda Brian dengan bujuk rayu, agar mau bersamanya. Juga agar kebutuhan finansialnya terpenuhi, jadi Brian adalah ladang uang bagi Mariska, walau dia harus menjatuhkan harga dirinya di depan lelaki yang kurang kasih sayang itu.
"Mona hamil Ris, dan aku di minta untuk bertanggung jawab. Tapi aku belum siap jadi orang tua! Mengurus diri sendiri saja masih ribet, apalagi ngurus anak!" terang Brian.
"HAMIL! Kok Mona nggak cerita ke aku ya? Padahal sempat aku curiga saat badannya sedikit berisi, tapi saat ku tanya dia bilang karena nafsu makannya yang akhir-akhir ini meningkat!" ucap Mariska terkejut.
"Mana aku tahu, tiba-tiba dia bawa alat tes kehamilan dengan dua garis merah padaku pada hati itu.
"Apa kamu yakin, jika bayi yang dikandung Mona adalah anak kamu? Lantas sekarang, apa yang akan kamu lakukan Brian?" tanya Riska.
"Aku nggak tahu, aku bingung. Apa jadinya nanti kalau Oma tahu aku menghamili anak orang," imbuh Brian gusar.
"Jangan sampai Oma kamu tahu lah Brian!" sahut Mariska.
Yang dimiliki Brian di dunia ini hanyalah Oma nya, dan dia takut akan mengecewakan neneknya itu. Brian Pradana adalah cucu pemilik pusat perbelanjaan terbesar di kota X, dia dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua. Sebab kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan hanya Omanya lah keluarga satu-satunya yang di milikinya. Dan karenanya, dia sangat di manjakan dengan segala fasilitas yang di miliki Omanya itu.
Jadilah pribadi Brian yang seenaknya, kasar, sombong, dan menggampangkan semua hal karena dia punya banyak uang. Tak jarang orang berteman dengannya karena uang, karena Brian tak segan memberi uang berapapun dengan sedikit sanjungan kepadanya.
Tak terkecuali Mariska, Brian bagaikan ATM berjalan baginya untuk memenuhi segala kebutuhannya. Meskipun dia tahu Brian kekasih Mona, sahabatnya.
"Bisakah aku seperti itu?" ucap Brian.
"Harus bisa, daripada nanti Oma kamu marah. Dan kamu jangan datang ke pernikahan kalian, tinggalkan saja Mona!" tukas Mariska kemudian.
Brian hanya diam dan tidak menjawab, namun keesokan harinya. Dia benar-benar tidak datang ke acara pernikahannya dengan Mona, dia memutuskan untuk meninggalkan wanita yang mengandung buah hatinya itu.
**
Sementara itu rutinitas pagi di kediaman Permana, sehari setelah acara akad nikah itu berlangsung.
Pagi-pagi Ahmad sudah rapi dengan setelan kemeja abu dan jas hitam, sementara Mona masih ada di kamar mandi karena hari ini dia ingin mengecek pabrik tekstil tempat dia memproduksi baju hasil desainnya.
"Mona ...! Ahmad ...!"
***
