Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 - Mama Aska

Nala tertunduk di kursi belakang mobil mewah Raffi sementara Raffi dan Aska tampak berdebat di depan. Nala tak bisa menangkap dengan jelas apa yang mereka debatkan karena keduanya berbicara setengah berbisik seolah sepakat bahwa pembicaraan mereka jangan sampai terdengar Nala. Tapi posisi mereka yang terbilang dekat membuat Nala masih bisa mencuri dengar beberapa kata dan menyimpulkannya.

Aska berniat membawa Nala ke suatu tempat namun Raffi tak setuju.

Sejujurnya Nala tak terlalu peduli. Dia tidak berniat mengikuti kemauan Aska. Setelah ini dia akan pergi sejauh mungkin. Lepas dari jangkauan Aska.

Otak Nala berputar hingga kini dia benar-benar mengabaikan kedua lelaki di depan. Nala tengah berpikir keras, merancang rencana masa depannya untuk menjauh dari Aska.

"Kau tidak mau turun?"

Nala tersentak mendengar nada kesal Aska. Dia buru-buru mendongak. Seketika pipinya bersemu merah menyadari Aska sudah keluar dari mobil dan kini berdiri menunggu sambil membukakan pintu untuk Nala.

Tanpa kata Nala meraih tasnya lalu keluar dari mobil. Tatapannya langsung tertuju pada rumah mewah di depannya. Gerbangnya sangat tinggi dengan halaman bak taman kerajaan. Membuat Nala ternganga takjub karena belum pernah melihat rumah seindah dan sebesar ini dalam jarak yang sangat dekat.

"Ayo!"

DEG.

Nala terpaku. Pandangannya turun ke arah jemari Aska yang menggenggam jemarinya. Mau tak mau, memori masa lalu kembali membajir. Masa-masa indah saat Aska kerap kali menggenggam tangannya. Atau saat Nala menggelayut manja memeluk lengan Aska.

"Kau mau berdiri di sini terus?" geram Aska kesal.

Sepertinya Nala memang sengaja terus-menerus memancing amarahnya. Sedari tadi dia bersikap layaknya robot yang hanya bisa bergerak jika diperintah. Pasti Nala berharap dirinya lekas mati dengan membuatnya marah sepanjang waktu.

Bukannya menanggapi ucapan Aska, Nala malah menggeliatkan jemarinya untuk lepas dari genggaman Aska. Perbuatan Nala itu memancing senyum sinis Aska.

"Oh, jadi kau lebih suka bertingkah seperti bocah yang merajuk hingga menolak disentuh? Apa aku harus menggendongmu untuk menghibur?"

Seketika Nala berhenti meronta. Dia sadar tidak ada gunanya melawan Aska. Berusaha menghadapi lelaki itu secara langsung hanya akan membuat dirinya semakin jatuh dan terinjak.

Kau hanya perlu mengabaikannya dan berusaha mencari cara lepas darinya.

Nala menasihati diri sendiri. Meski mungkin dengan menyerah dan membiarkan dirinya berada dalam genggaman Aska akan membuatnya semakin terluka, tapi untuk saat ini itu adalah pilihan terbaik daripada mengkonfrontasi makhluk berdarah panas ini.

Nala membiarkan dirinya diseret melewati pintu kecil di sisi gerbang tinggi. Ada pos satpam di sana. Kedua satpam yang tengah berjaga langsung menyapa dengan hangat menandakan Aska bukanlah tamu yang sekedar mampir.

Berbeda dengan perlakuannya pada Nala, Aska tersenyum tipis dan membalas sapaan kedua satpam. Lalu dia menarik Nala masuk menuju beranda dengan undakan tinggi penuh tanaman hijau yang tertata cantik.

Tiba di depan pintu kembar yang membatasi bagian dalam rumah, Aska berhenti. Sejenak dia menghela napas, berharap rasa gugup di hatinya sirna.

Apa yang dirinya lakukan sekarang merupakan tindakan impulsif yang ditentang keras oleh Raffi beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak? Kini dia membawa Nala ke rumah Mamanya. Membawa jejak masa lalu yang menyakitkan ke hadapan sang Mama.

Sama seperti dirinya, Mama Aska juga membenci keluarga itu. Bahkan mungkin lebih. Kalau sang Mama tahu siapa Nala sebenarnya, Aska sendiri tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya. Tapi hanya ini tempat yang dipikirkan Aska tadi saat menimbang-nimbang hendak membawa Nala ke mana. Lokasinya lebih dekat daripada membawa Nala ke rumahnya sendiri. Dan sejujurnya, foto yang disimpan Nala di bawah bantal juga mempengaruhi keputusannya.

Oke, katakan dirinya labil.

Ya, memang!

Harusnya dia sanggup menginjak-injak Nala hingga remuk. Tapi melihat wanita itu makan nasi sisa saja hati Aska serasa diremas kuat. Ditambah mengetahui Nala masih menyimpan—dan mungkin—menatap dengan penuh kerinduan foto pernikahan mereka saja berhasil membuatnya bertindak semakin tak masuk akal.

Lalu apa? Apa dirinya akan—

Klek.

Mendadak pintu kembar di depan Nala dan Aska terbuka dan langsung menampakkan si pemilik rumah yang tersenyum lebar. Refleks Aska melangkah mundur hingga menubruk tubuh Nala di belakangnya.

Nala meringis. Tanpa kata dia juga melangkah mundur untuk menciptkan jarak antara mereka.

"Bikin kaget saja," gerutu Aska pelan.

Wanita dengan rambut digelung di hadapan mereka mengabaikan gerutuan Aska. Senyumnya kian merekah sambil berusaha melihat Nala dari balik tubuh Aska.

"Wah, akhirnya doa Mama terkabul. Sekarang kamu pulang bawa calon menantu." Lalu wanita itu terkikik geli seperti remaja.

Nala tersentak dan langsung mendongak tiba-tiba. Pandangannya tertuju pada wanita paruh baya itu. Kecantikannya seolah tak luntur meski Nala yakin usianya tak lagi muda. Dan dengan mudah Nala juga bisa menemukan kemiripan di antara wanita itu dan Aska.

Aku tidak tahu siapa orang tuaku. Aku tumbuh besar di panti asuhan.

Pengakuan Aska yang diucapkan tanpa keraguan terngiang dalam benak Nala. Perlahan pandangannya yang semula tertuju pada wanita itu beralih pada Aska. Kemarahan sekaligus pedih muncul dalam dada Nala, membuat matanya mulai terasa panas. Apakah Aska sudah membohonginya sejak mereka masih menjadi kenalan?

"Jangan sembunyi di situ, Sayang. Mama gak gigit kok." Wanita itu kembali terkikik geli. "Atau kalau kamu belum nyaman sama panggilan Mama, bisa panggil Tante Greya saja."

Nala menelan gumpalan kesedihan yang terasa menyumbat kerongkongannya. Lalu dia mengerjap-ngerjapkan mata menghalau rasa panas yang pasti akan menciptakan air mata.

Aska mengerti pasti hal ini mengejutkan Nala. selama ini dia berbohong mengenai orang tuanya. Ah, tidak hanya orang tuanya. Masih ada banyak hal yang Aska tutupi dari Nala. Bahkan tanpa Nala sadari, pertemuan awal mereka pun adalah sebuah kebohongan.

Refleks Aska mengeratkan genggamannya di tangan Nala. Seolah khawatir fakta ini akan membuat Nala melarikan diri darinya. Lalu dia memusatkan perhatian pada sang Mama yang mulai mengerutkan kening bingung.

"Ma, sebenarnya—"

"Cewek kamu hamil?"

Aska meringis. "Bukan, Ma."

"Terus—kenapa?" Greya menatap khawatir ke arah Nala lalu berbisik pada Aska yang masih bisa Nala dengar. "Dia takut sama Mama, ya?"

Aska sedikit melirik Nala yang jelas-jelas menjadikan Aska sebagai tameng. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Namun Aska tidak yakin alasannya adalah rasa takut.

"Sebenarnya kami sudah menikah."

Mendadak kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Aska, membuat dua wanita itu tersentak kaget.

Mendadak suasana berubah hening. Greya masih ternganga tak percaya. Aska membeku menunggu reaksi Mamanya sambil menggigit bibir. Sementara Nala menatap Aska tak mengerti dengan jalan pikiran Aska. Apa lagi yang sekarang direncanakan lelaki itu?

"Ka—kamu... apa?" tanya Greya terbata dengan satu tangan menutup bibirnya yang dipoles cantik.

Aska angkat bahu sebagai tanggapan seraya tersenyum ragu. Melihat raut wajah Mamanya, tampaknya ini tidak akan berakhir baik.

Sesuai dugaan Aska, perlahan wajah Mamanya memerah. Lalu bagai banteng yang baru dikeluarkan dari kandang, Greya menyerbu ke arah Aska dengan tangan terkepal yang langsung ia gunakan untuk memukuli Aska.

"Dasar anak kurang ajar! Kamu anggap Mama apa?! Berani sekali menikah tanpa Mama!"

Greya berteriak sambil memukuli Aska yang meringis dan berusaha menghindar. Refleks cengkeramannya di tangan Nala terlepas. Kedua tangannya ia gunakan untuk menamengi diri.

"Apa kamu tahu betapa inginnya Mama menikahkan kamu! Sudah Mama rancang semuanya! Sudah Mama bayangkan betapa mewahnya! Sudah Mama perkirakan berapa tamu yang akan diundang! Lalu berani-beraninya kamu merusak semua impian Mama! Dasar anak bandel!"

"Ma! Aduh! Oke, aku salah!" Aska terus menghindar namun Greya tetap memburu dan memukulinya. Sementara Nala berdiri mematung dengan raut bingung menatap keduanya.

"Memangnya ini akan selesai dengan kamu mengaku salah?! Memangnya kamu bisa balik perjaka lagi?"

Aska berhasil menangkap pergelangan tangan Mamanya dengan bibir berkedut menahan senyum geli. "Ma, aku memang sudah tidak perjaka bahkan sebelum menikah."

Mendengar itu wajah Greya semakin memerah sementara Nala refleks mengerucut kesal. Rasanya dia ingin membantu Mama Aska menghajar lelaki itu.

Greya berhasil menyentak lengannya lepas dari cekalan Aska lalu menunduk mengambil sandal yang dikenakannya. "Belum pernah makan sandal, ya? Harusnya saat bayi Mama suapi kamu pakai sandal biar mulut kamu bisa lebih diatur."

Bukannya merasa bersalah, kali ini Aska malah terbahak. Dan lagi-lagi dia berhasil menghentikan aksi sang Mama yang tampak sangat bernafsu memukulinya.

"Ma, gak malu sama menantu? Mamaku yang biasanya selalu tampil cantik dan sempurna jadi berantakan begini," rayu Aska.

Greya terdiam memikirkan ucapan Aska. Lalu melirik ke arah Nala yang masih mematung menatap mereka berdua.

Tiba-tiba Greya berdehem pelan seraya menjatuhkan sandalnya lalu sedikit merapikan penampilan. Setelahnya dia menghampiri Nala dengan senyum merekah dan tanpa permisi meraih kedua tangan Nala.

"Sayang, maaf ya. Mama hanya sedikit memberi Aska pelajaran. Kamu juga jangan diam saja kalau dia berbuat keterlaluan. Oh ya, nama kamu siapa?" Mendadak Greya menepuk keningnya seraya melirik Aska dengan tatapan membunuh. "Bahkan Mama tidak tahu siapa nama menantu Mama."

Nala masih mematung dengan tatapan mengarah pada Greya. Dia tidak bisa membiarkan situasi ini. Tidak peduli masa lalu dirinya dan Aska, faktanya pernikahan mereka sudah berakhir dua tahun lalu.

"Jadi, siapa nama kamu?" desak Greya karena Nala masih diam.

Buru-buru Nala menggeleng seraya berkata, "Kami tidak—"

"Nala tidak bisa bicara."

Ucapan Aska yang tiba-tiba berhasil menarik perhatian Greya. Dia menoleh ke arah Aska penuh tanya. Begitu mendapat anggukan dari Aska, dia kembali menatap Nala dengan bibir terbuka.

"Oh, maaf. Mama tidak tahu." Senyum Greya yang sempat hilang karena kaget kembali merekah lalu dia menarik Nala ke dalam pelukan. "Jangan merasa minder dan takut. Dari sekian banyak wanita yang mengerubunginya seperti semut, kamu yang dia pilih sebagai istri. Berarti kamu istimewa."

DEG.

Ucapan Greya mengusik hati Nala. Menohok jiwa terdalamnya. Membuatnya mau tak mau membandingkan wanita asing yang memeluknya ini dengan wanita yang telah melahirkannya.

Kamu sama sekali tidak berguna. Beban! Kenapa tidak mati saja sekalian?

Tanpa bisa dicegah, air mata Nala menitik. Lalu entah mengapa pandangannya malah beradu dengan tatapan tajam Aska. Buru-buru Nala memalingkan wajah, tak ingin Aska melihat betapa lemah hatinya.

Perlahan Greya melepas pelukan. Matanya melebar melihat air mata Nala. "Sayang, tidak perlu menangis." Greya menghapus air mata Nala lalu menarik lembut wanita itu agar mengikutinya. "Ayo, kamu pasti lelah. Biar Mama antar ke kamar."

Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Nala menurut saja mengikuti ke mana Greya membawanya.

-------------------------

♥ Aya Emily ♥

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel