Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Semua Tentang Saya

Prolog:

Setelah gw mati nanti, mungkin di situlah gw akan merasakan benar benar arti kehidupan.

~Kiara, semua tentang saya.

Semua tentang saya

“Gw pengen banget kyak orang orang yang selalu dapat perhatian,” ucap gadis itu sambil melamun di taman.

“Kapan ya gw ngerasain hidup yang benar benar dimanusiaka,” ia masih terus terusan melamun.

Kriingg... kringgg... Nada Telpon yang terus terusan berbunyi dari saku rok gadis itu.

“siapasih,” ujarnya hanya dengan gerakan bibir.

“Ouhh papa,” Mengangkat telfon.

“Ouhh bagus, bagus udah jam berapa ini kiara, udah berani ya pulang sore hebat,” bentak lelaki yang berada di sebrang telfon.

“Ia pa ini mau puang, tadi Kiara lagi nenangin diri aja pa,” Jelas nya.

“Udah deh ga usah banyak alesan kamu, pulangg sekarang,” Mematikan telfon.

“Pa,” Ia ingin menyalim namun tangan nya di tangkis oleh ang papa mentah mentah.

“Ga usah nyalim, saya malas megang tangan kamu.”

“Aduhh, ada keributan apalagi si ini,” ujar wanita yang keluar yaitu adalah ibu Kiara.”

“Pa, kenapa lagi pa? Ga usah ribut ribut dong, anak kita tu lagi tidur Wilon ntar bangun lo pa, kasihan.”

Kiara hanya menunduk.

“Akkghh sudahlah,” mereka berdua masuk kedalam meninggalkan Kiara.

Ia masuk dengan wajah yang sedih, berlari kekamar nya.

“Sebenarnya tuhan baik ga ya, atau gw bunuh diri aja kali, setelah itu gw akan benar benar ngerasakan kehidupan,” Kira menangis tersedu sedu di kamar nya.

Medan 22 Maret

“Kiiaaraaa,” suara teriakan yang melengking di telinga, teriakan itu dari sang ibu.

“Ia ma ada apa?” tanya Kiara menunduk.

“Kiara kamu itu gimanasih kamu buta apa? Kau ga liat baju mama ribuk ha! Kamu taukan besok mama itu mau bertemu clain penting di kantor, dasara anak tak beguna,” melemparkan baju yang ribuk tadi ke hadapan kiara.

“M... ma!”

Kiara tak bisa berkata apa apa lagi ia hanyamengambil baju itu dan mulai menyetrikanya.

“Ehh ngomong ngomong Kiara mana ya? Hmm gwe samperin ajalah.”

Nisa berjalan kekamar Kiara,

Kree.. Nisa membuka pintu dengan pelan, ia melihat adek nya itu yang tertidur di lantai, ia juga melihat setrikaan, dan baju sang ibu di atas tempat gosokan, akal busuk Nisa mulai keluar.

Nisa masuk kedalam kamar mengendap ngendap melewati Kiara dengan sangat hati hati.

“Oke saat nya gwe beraksi,” Smirk.

Nisa mengidupkan kembali cok sambung, ia kembali mearuh setrikaan keatas baju yang sudah selesai di setrika Kiara, Nisa membiarkan baju itu di atas setrika yang menyala.

“Rasain lo,” meninggalkan ke luar kamar.

Kiara masih tertidur pulas, ia tak menyadari setrikaan yang menyala di atas baju sang ibunya.

Setrikaan yang panasnya Full perlahan membuat kain baju itu menjadi sedikit demi sedikit terbakar, namun Kiara masih ter tidur pulasa karena kecapean.

“Kyak nya ini udahbisa deh gwe laporin ke mama, haha rasain lo kiara,” tertawa cengengesan.

Nisa segera pergi ke kamar orang tuanya

"Ma, mah liat deh kerjaan si Kiara," mengecak pinggang.

"Apa lagi sih? Emang kenapa lagi tu anak?" Menanyakan kembali.

"Mending mama lihat sendiri deh," smirk.

“Nis Nis kamu ini memang ya selalalu aja buat mama penasaran,” akhirnya dengan terpaksa ia bangkin mengikuti Nisa.

“Pokoknya ini gawat. Mama harus tau,” lanjutnya lagi.

“Yaudah deh, yaudah,” ia mempercepat jalan nya.

Sesampainya di kama Kiara si ibu melihat Kiara yang terbaring di lanti, dengan setrikaan menyala di atas bajunya.

Wanita itu hanya tercengang melototkan matnya, ia terkejut dengan baju yang ingin di pakainya miting besok.

“Kiara bajiingaannnn...,” teriak wanita itu sehingga membuat kiara terkejut bangun.

Dengan cepat kiara bangkit dari tidurnya, ia meng kucek kucek mata yang begitu sangat mengantuk.

“Ia ma,” jawabnya dengan polos.

“Emangg kamu ya anak ga berguna,” mendekati Kiara.

“Ma... kenapa?” tanya Kiara degan tidak tau.

“Kiara mata kamu buta ya? Noh lihat kerjaan lo itu goblok,” menunjuk ke setrikaan.

Melihat baju yang terbakar karena setrikaan Kiara terkejut, ia segera bangkit mencabut colokan.

“Ma, ma demi allah buka aku yang buat ma,” cutas Kiara.

“Ga usah banyak omong deh Kiara,” mendekati sang ibu.

“Kiara, Kiara jelas jelas lu yang buat baju mama yang di pakai nya besok terbakar ga beres lo ya kiara,” Nisa memanas manasi suasana.

“Kiara apa maksud kamu?” menatap Kiara dengan tatapan tajam.

“Tapi ma, emang bukan ku yang buat nya,” meng gigit giginya.

“Kiara sekali lagi saya tanya apa maksud kamu?”

“Ma...,” ucapan nya di potong Nisah.

“Udah deh ga usah ngeles lagi Kiara, ngaku aja lo. Apa apa mau nyarik alasan apa? Jelas jelas lu yang buat ga guna lu di rumah ini,” sambung Nisah.

“Maah, kak bukan aku yang buat nya,” tegas kiara.

“Trus siapa yang buat? Anak tetangga? Datang kemari? Bego lu Kir, jelas jelas yg nyetrika baju mama elu tolol,” geram Nisah kepada kiara.

“Dasar! Plaakkk...,” sebuah tamparan mendarat ke pipi Kiara, tampa banyak cakap mamanya kiara mengambil baju yang terbakar oleh setrikaan itu, ia membuangnya ke wajah Kiara.

“Nisah ayok keluar dari sini.”

Kiara hanya duduk sujud memengang baju itu sambil menangis.

“Kiara gaada gunanya kamu mama besarkan, kenapa kamu harus terlahir di dunia ini,” ujar nya membalikkan badan.

“mama...,” ia masih menangis.

Si ibu delun keluar, sedangkan Nisah masih berdiri di depan pintu.

“Jadi gimana rasanya di marahin sama mama,” senyum sinis.

“Kak nis,” kiara bangkit mendatangi Nisah di depan pintu.

“Inipasti kerjaan kakak kan,” menghapus air matanya.

“Heh kiara lu kurang ajar ya nuduh nuduh gw. Jelas jelas lu yang salah,” bentaknya.

“Ga mungkin setrika yang udah gw cabut colokan nya, trus tiba tiba ke colok sendiri, sedangkan bajunya udah gw setrika, keterlaluan lu kak Nis, gw akan ngelaporin lu ke mama,” ancam Kiara.

Ia meninggalkan Nisah.

“Mampus gw, gw harus nyari alasan apa, mati kalau gw yang ke tahuan gw yang bakal di marahin mama,” Nisa ke bingungan sambil berjalan ia mengikuti langkah Kiara.

“Ehh Kiara kenapa lo?” Ujar Manda yang merupakan sepupu Kiara, sebenarnya Manda bukan siapa siapa Kiara hanya orang yang menumpang hidup bersama Hiren, karena dahulu kakek nya Kiara pernah hampir tewas ke jurang untung saja kakek Mand menyelamatkan nyawa Kakek Kiara tersebut, maka dari itulah Manda bisa tinggal dengan Kiara, dan Nisah. Selain itu Manda juga di sekolahkan oleh ke dua orang tua Kiara di karenkan orang tua Manda di desa sangat susah, makanpun kekurangan.

Kiara tak menggubris Manda, ia mengabaikannya.

“Kiara lu ihh sumpah ya lu.”

Kemudian di susullah oleh Nisah yang berjalan begitu cepat.

“Ehh tunggu,” memegang tangan Nisah.

“Apalagi sih manda? Ini tu gawat,” ketakutan.

“Kenapasih lu pada?”

“Jadi begini, udah deh mampus gw mampus, ehh Manda mending lu bantuin gw,” menggoyang tubuh manda.

“Jangan goyang goyangi tubuh gw,” mendungakkan kepala.

“Manda pokoknya lu harus bantuin gw, gwbisa mati di marahin mama Mandaaaa,” cetusnya.

“Aggghhh udah, udah apaan dulu nih?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel