Bab 2 Bergairah
Ia pun berlari, mengikuti sang adik yang berjalan ke sebuah lorong, sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat pintu-pintu kamar khusus untuk menikmati malam panas maupun berpesta untuk melepas penat. Tepat ketika adiknya menurunkan seorang gadis dalam gendongan, ditepuklah bahu sang adik sebanyak dua kali.
“Anak siapa yang kali ini masuk perangkapmu, Vin?!” teriak Devan menatap penuh amarah pada Devin.
“Gak perlu tahu! Gadis ini milikku, Van.”
Direngkuhlah Allura, mengambil paksa dari rangkulan sang adik yang terkenal berengsek di kalangan wanita kelab malam. “Dia pacar atau korban barumu?!”
“Berhenti ikut campur urusanku, Van!”
“Pikir dulu pekerjaanmu, dan jangan cuma bermain di sini! Aku bisa memecatmu kapan saja!”
“Besok! Aku mulai bekerja lagi besok, Devan. Sekarang biarin aku berserang-senang bersamanya! Berikan gadis itu padaku!”
“Aku yakin, dia bukan pacar barumu, tapi korban barumu.”
“KEMBALIKAN DIA, DEVAN! DIA MILIKKU!”
Tidak sudi menuruti perintah adiknya, Devan lantas mengirim tinju yang kencang ke pipi. Pukulan keras itu jatuh tepat di pipi sebelah kiri Devin. “Aku muak mengurus semua perbuatanmu! Kasusmu bolak-balik aku yang urus!” Ditendanglah perut Devin tanpa rasa kasihan dan dengan sangat kencang. Lalu digendognya Allura.
Ketika Devan berbalik, sahabat yang menjelma sebagai tangan kanannya datang. Pria itu dengan cepat mencegah serangan dari Devin yang hendak memukul dari belakang.
“Lepas, Ben! Gadis itu milikku! Kembalikan, Devan!” teriak Devin murka. Ia yang sangat tidak terima dengan aksi sang kakak itu menatap punggung Devan dengan penuh rasa benci. Dia sungguh tak suka bila Devan ikut mencampuri urusannya.
Sedangkan Devan yang tengah fokus menggendong Allura, dikejutkan dengan panggilan seorang bartender. Sang bartender lantas menghampiri Devan dan berucap, “Ini tas pacarmu, Tuan.”
Devan berdeham kala kata ‘pacarmu’ ditujukan untuknya. “Kalungkan ke leherku.”
Devan kembali melanjutkan langkah kaki. Keluar dari kelab malam, dan menghampiri mobilnya. Begitu masuk, ia lekas memasangkan sabuk pengaman untuk Allura dan melajukan mobil itu ke tempat tinggalnya.
Tibalah mereka di rumah pribadi Devan. Rumah mewah berwarna putih juga kelabu itu menjadi tempat ternyaman setelah dirinya memilih keluar dari rumah sang ibu.
“Sepertinya wajahnya enggak asing ...,” lirih Devan saat hendak mengangkat Allura. Tidak lupa Devan mengalungkan tas hitam Allura ke lehernya lagi sebelum menekan enam angka di daun pintu rumah. Detik berikutnya pintu rumah di hadapannya terbuka.
Devan memilih untuk membaringkan Allura ke ranjang yang ada di kamar lantai satu, bukan kamar pribadinya. Dibaringkanlah Allura ke ranjang empuk dengan sangat lembut, takut membangunkan.
Devan juga melepaskan sepatu hak tinggi yang membalut kedua kaki mulus Allura pelan-pelan. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang membuatnya merinding ketika memberi selimut untuk tubuh Allura.
"Emh ... panas. Tolong aku ... uh,” lirih Allura berada tepat di depan wajah Devan.
Rasa kaget sekaligus gugup Devan tidak berhenti di sana, karena Allura tiba-tiba menarik tengkuknya begitu cepat. Menempelkan bibirnya ke bibir Devan, Allura mulai melumat pelan-pelan. Mencium Devan sebisanya sampai sang lelaki yang kaget masih terpaku. Sedangkan Allura justru makin mendambakan yang lebih dari sekadar ciuman.
“Panas! Tolong aku!”
Devan yang tersadar, sebisa mungkin menahan hasrat. Melihat perempuan yang teramat seksi dan terlalu cantik di depan mata, jelas dia terkesima dan sempat membayangkan hal lebih dari ciuman tadi. Namun, ia harus waras, karena dirinya bukan Devin.
“Adikku pasti mencampurkan sesuatu di dalam minumanmu. Sadarlah!"
Allura tidak mendengarkan, karena ia mabuk dan kepanasan. Tubuh perempuan itu terus begerak liar. Bahkan bagian inti sudah digesek-gesekkan ke paha Devan demi mencari kenikmatan.
Devan yang lama-kelamaan ikut merasa kepanasan, mengetatkan rahang dan kedua tangan sudah mengepal. Bibirnya tidak bisa diam lagi. Dia pun membalas ciuman dan lumatan dari bibir Allura.
Devan juga mencari kenikmatan dengan menggerakkan lidahnya. Menggali kepuasan dan terpancing kala Allura juga membalas ciumannya tak kalah liar. Milik Devan kini sudah tegak sempurna akibat gesekan dari benda privasi Allura yang masih tertutup kain berbentuk segitiga.
“Devin! Sialan Devin!” teriak Devan sebelum menciumi leher Allura dengan perasaan frustrasi.
Tangannya mulai menyentuh bongkahan daging di balik gaun pink milik perempuan cantik nan seksi yang bergerak liar dan bebas di bawahnya. Meremas kasar daging empuk nan kenyal itu, netra Devan yang penuh gairah, menyorot mata Allura yang sudah hilang fokus sejak berada di kelab malam. “Jangan salahkan aku kalau setelah bangun nanti kamu menyesalinya.”
Gadis itu sungguh meminta dipuaskan sampai dia sendiri tidak bisa fokus saat diajak bicara. Tubuhnya benar-benar minta disentuh, dan hilang kontrol.
Sebagai pria normal, Devan tentu saja tidak mampu menahan diri. Pergerakan Allura yang liar dan seksi di matanya, mampu membangkitkan hasrat terpendamnya. Dengan tidak sabaran, dibukalah gaun merah muda Allura.
“Ah!” pekik Allura sembari memegangi tangan Devan yang membelai lalu menggesek di area paling terlarang. “Nikmat sekali, lebih cepat .... ”
Semakin cepat pergerakan jari Devan yang menggesek miliknya, Allura makin meracau dan mengeluarkan suara merdu berulang-ulang. Tubuhnya terus menuntut, meminta sesuatu yang lebih dahsyat dari itu.
Sementara milik Devan yang sudah mengencang, saat ini makin berdiri seperti tiang yang tegak. Diarahkan senjata siap tempurnya ke objek milik Allura yang sudah siap menerima peluru. Begitu mendorong tubuh, suara erangan dari gadis itu pun memenuhi seisi kamar.
Semakin masuk senjatanya ke dalam tubuh Allura, Devan menggeram tertahan. Nikmat dan sesak dirasakan, hingga tubuhn kian memanas. Bulir keringat menetes dari kening, bersamaan dengan sesuatu yang mengalir dari ruang keluarnya bayi milik Allura.
Merasa milik Allura sangat-sangat sempit, Devan menyadari sesuatu dan menelan ludah. Raut wajahnya menjadi cemas, terlebih saat Allura mengeluh sakit. Punggungnya yang dicakar berkali-kali juga menjadi bukti bahwa gadis itu sangat kesakitan ketika miliknya memaksa masuk.
“Ta-tahan sebentar.”
Dorongan demi dorongan diberikan. Allura mengeluh sakit, tapi meminta dipuaskan di saat yang bersamaan. Hal itu membuat Devan bingung sekaligus berkeringat dingin. Menarik senjatanya hati-hati dan jantung yang berdegup kencang, Devan menyudahi aksinya.
Devan menunduk pelan-pelan untuk memastikan. “Astaga! D-darah?!” Beberapa detik terdiam karena kaget, Devan menatap kembali darah yang ada di senjatanya. “Kamu ternyata benar masih perawan?!”
Devan kini makin sadar bahwa gadis itu sudah kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, dan pelakunya adalah dirinya sendiri, bukan sang adik yang selalu menjebak para perempuan di kelab malam. Dirinyalah yang justru menghancurkan masa depan seorang gadis yang tidak dikenal.
Tampak raut kaget sekaligus menyesal menyelimuti wajah Devan. Ia benar-benar tidak menduga bahwa perempuan yang menjadi mangsa Devin adalah seorang gadis perawan.
