Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Kesepakatan

Bab 7 Kesepakatan

Kaylila sudah tidak berselera lagi untuk menikmati sarapan pagi itu. Bukan karena menunya tidak menarik hatinya. Tapi lebih dikarenakan suasana hatinya menjadi tidak karuan.

Nosa membuat Kaylila meleleh dengan tekadnya yang kuat. Kaylila tersanjung? Tentu saja. Wanita mana yang tidak akan tersanjung dengan sikap pria itu.

Dengan pembawaan cuek dan sedikit menyebalkan itu ternyata mampu merontokkan pertahanan diri Kaylila. Pria yang baru dikenalnya dua hari telah mempermainkan hatinya.

Pria yang semula menyebalkan di mata Kaylila ternyata malah bertindak seperti seorang laki-laki dewasa. Tidak seperti Genta.

Kaylila kembali memikirkan tawaran yang diberikan Nosa. Sebenarnya Kaylila ingin mengiyakan tawaran itu.

Namun, Genta-lah yang membuat Kaylila bingung. Lagipula, sehabis masa perjanjian itu, Kaylila akan memegang predikat ‘Janda’. Kaylila menggelengkan kepalanya. Kaylila mengamati Nosa yang sedang menikmati makan paginya dengan santai.

"Dia tampan sekali. Pemikirannyapun berbeda dengan Genta. Ataukah karena dia lebih matang dari segi usia? Atau karena dia terbiasa mandiri? Yaa Allah Gusti, apa yang harus kulakukan? Aku bimbang Yaa Allah. Disatu sisi, mama dan papa tentu harap-harap cemas karena usiaku kian bertambah, yang bukan usia remaja lagi. Disatu sisi, masih ada Genta, orang yang selalu da di hatiku. Orang selalu mengisi hari-hariku. Aku tak sanggup hidup tanpanya." kata batin Kaylila.

Kaylila merasakan sakit di bagian kepalanya mengingat Genta. Entah mengapa, sejak mengenal sosok Nosa bayangan Genta tak lagi berseliweran mengisi pikirannya.

Mungkinkah dikarenakan sosok Nosa memiliki pesona seorang pria dewasa yang tidak dimiliki oleh Genta? Kaylila tidak mampu menjawabnya. Yang jelas saat ini Nosa lebih sering berseliweran di pikiran Kaylila.

"Kamu sudah kenyang?" Tanya Nosa membuyarkan lamunan Kaylila. "Ehh tidak, Mas. Hanya saja, sepertinya saya sedang tidak berselera." Jawab Kaylila dengan suara pelan dan mata memelas, menunjukkan rasa bersalahnya.

"Bagian yang mana sehingga membuatmu sedemikian merasakan kekecewaan? Bukankah saya telah menunjukkan keseriusan saya? Saya tidak pernah main-main dengan omongan saya. Jadi, apakah itu sudah cukup bagi kamu untuk meyakinkan diri?" Nosa mencoba meyakinkan Kaylila.

"Bukan begitu. Saya hanya merasa ada sesuatu yang bukan pada tempatnya saja. Ah, entahlah. Kamu membuat saya pusing, Mas. Tidak tahu saya harus mulai darimana. Tidak tahu apakah jalan yang kita pilih ini benar adanya." Kaylila menjelaskan gundah hatinya.

"Yang pertama kita lakukan adalah, segera habiskan makan dan minumnya. Kita harus segera pergi dari sini." Ucap Nosa tegas.

"Pergi? Pergi kemana?" Tanya Kaylila.

"Kamu tidak mau pulang? Mau tetap disini?" Nosa bertanya balik.

"Kalau boleh jujur, saya tidak mau pulang, Mas. Antarkan saya kerumah Mbak Della saja, rekan saya sekantor. Saya ingin menenangkan diri disana." Jawab Kaylila.

"Yang mau mengantarkanmu pulang kerumahmu siapa? Kamu mau bertemu dengan Genta lagi? Asal kamu tahu saja sedari tadi Genta berseliweran di depan rumahmu, dan baru saja berlalu dari rumah Della." Jawab Nosa santai, namun membuat Kaylila terperanjat. Bagaimana mungkin Nosa bisa mengetahui hal tersebut.

"Apa, Mas? Genta berseliweran di depan rumah saya? Bagaimana mungkin Mas Nosa bisa tahu?" Tanya Kaylila bingung.

Nosa tidak menggubris ucapan Kaylila. Nosa segera berdiri, dan berjalan menuju kasir. Kaylila yang masih bingung ikut berdiri dan mengekori langkah Nosa dengan terburu-buru. Lagi-lagi Nosa berhenti mendadak, dan Kaylila menabrak punggung Nosa lagi. Kaylila segera mundur, dengan wajah tertunduk malu.

"Sepertinya kamu memang hobby sekali dalam hal tabrak menabrak." Ucap Nosa kemudian melanjutkan langkahnya menuju kasir.

Setelah selesai pembayaran, Nosa langsung menuju ke pintu keluar tanpa mengajak Kaylila. Sadar bahwa dirinya ditinggalkan, Kaylila segera menyusul tak ingin ditinggalkan sendiri.

Kaylila menyesalkan kebodohannya mengapa sampai tidak membawa dompet ataupun ponselnya.

Sampai di depan pintu keluar, Nosa melambaikan tangan kearah seberang. Tampak seorang bapak-bapak paruh baya sedang berdiri di mobil hitam milik Nosa. N 1777 VA.

Kaylila mengingat nomor plat kendaraan tersebut milik Nosa. Bapak paruh baya itu kemudian mengemudikan mobil kearah kami berdiri. Nosa membukakan pintu penumpang, menyuruh Kaylila masuk dengan isyarat kepala.

Setelah Kaylila masuk, Nosa pun ikut masuk kedalam mobil melalui pintu penumpang di sisi lainnya.

"Kita mau kemana, Mas?" Tanya pak sopir yang diketahui bernama Pah Budi, yang merupakan sopir pribadi Nosa. "Kita pulang kerumah saja, Pak." Jawab Nosa singkat.

"Siap, Mas." Jawab Pak Budi lagi.

Mendengar percakapan singkat antara Nosa dan Pak Budi membuat Kaylila kebingungan. Artinya bahwa dia harus mengikuti Nosa pulang kerumahnya juga.

"Mas, saya mau diantar kemana?" Tanya Kaylila. "Untuk sementara kamu ikut saya pulang kerumah dahulu. Setelah itu baru kita pikirkan lagi." Jawab Nosa singkat.

"Tapi, bukankah lebih baik saya diantar kerumah Della saja?" Tanya Kaylila lagi.

Nosa yang sedang sibuk dengan dawai ditangannya menghentikan kegiatannya lalu memiringkan kepalanya menghadap Kaylila.

"Kamu sudah siap untuk bertemu dengan Genta?" Tanya Nosa dengan tiba-tiba.

Tanpa menjawab pertanyaan Nosa, Kaylila kemudian memalingkan wajahnya kearah jendela, mengamati keramaian diluar sana. Kaylila tahu, bahwa dia tidak perlu memberikan jawaban atas pertanyaan Nosa. Kaylila belum siap bertemu Genta.

Mobil melaju kearah komplek perumahan dimana Kaylila tinggal. Hanya saja kemudian mobil menuju arah yang berlawanan.

Tak lama, mobil berbelok ke blok perumahan elit. Bangunan perumahan elit ini bergaya eropa dengan ciri khas berjendela kaca berukuran besar dan tinggi.

Pohon pucuk merah berjajar rapi di sepanjang jalan perumahan. Rumput-rumput tumbuh menghijau, menyejukkan pandangan mata.

Pada belokan selanjutnya, mobil berbelok kesebuah rumah besar bercat putih abu-abu bergaya Eropa. Mobil berhenti di depan pintu gerbang. Tak lama, pintu gerbang terbuka, mobilpun masuk kedalam pekarangan rumah itu.

Tanaman bonsai berjajar rapi di taman depan rumah. Rumput hijau memenuhi sebagian pekarangan rumah. Mobil segera berhenti didepan rumah. Nosa membuka pintu mobil.

"Kita sudah sampai." Kata Nosa memecah keheningan diantara mereka.

Nosa segera menuruni mobil, begitu pula Kaylila. Kaylila memandang rumah itu dengan takjub.

Setelah Kaylila turun, Nosa segera berjalan menuju pintu masuk rumah. Seorang ibu paruh baya tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.

"Mas Nosa sudah pulang? Lho ada tamu?" Tanya ibu itu yang tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Iya, Mbok. Tolong antarkan Mbak Kaylila ke kamar tamu. Sekalian persiapkan keperluannya. Saya mau keatas, kalau ada apa-apa segera beritahu saya." Jawab Nosa sambil berjalan masuk kedalam rumah.

"Baik, Mas. Mbok mengerti. Mari Mbak Kaylila, Mbok anter kedalam kamarnya." Ibu yang dipanggil Mbok oleh Nosa membarengi Kaylila masuk kedalam rumah, menuju kamar besar disebelah ruang tamu.

Setibanya di kamar, si Mbok menyiapkan handuk bersih dan keperluan mandi untuk Kaylila.

"Silakan, Mbak Kaylila. Kamar mandinya di sebelah sini."

Si mbok memberikan perlengkapan mandi tersebut kepada Kaylila sambil menunjukkan kamar mandi yang berada di sisi sebelah kiri dimana sebuah tempat tidur besar berada.

Kaylila masih tiada henti berdecak kagum mengamati rumah beserta isi didalamnya. Tidak sebanding dengan keadaan rumah tempat Kaylila tinggal saat ini.

***

Sementara itu, Genta masih memarkir mobilnya didepan rumah Kaylila. Genta masih menunggu hingga Kaylila tiba. Berkali-kali Genta meninju dashboard, meluapkan kekesalannya. Berkali-kali pula Genta mengumpat.

"Siapa pria itu, Kaylila? Siapa dia? Ada hubungan apa antara kamu dan dia? Apakah selama ini kamu berhubungan dengan dia tanpa sepengetahuanku?" ucap Genta sambil menggemeretakkan gigi-giginya.

Genta mengusap wajahnya, gusar. Ada perasaan takut yang Genta rasakan saat ini. Genta takut kehilangan Kaylila. Genta tidak akan sanggup menjalani hidupnya tanpa Kaylila.

Genta turun dari mobilnya, berjalan menuju pagar rumah Kaylila yang terkunci. Genta berkali –kali menendang pagar dengan kakinya. Genta tak mampu menahan kekesalannya.

"Aku akan pastikan kamu pulang dengan mata kepalaku sendiri, Kaylila!" teriak Genta.

Tetangga Kaylila yang tinggal di sayap kiri rumah Kaylila segera keluar rumah, mendengar suara gaduh dirumah Kaylila.

"Mas, jangan bikin keributan dong. Mengganggu sekali." Seru tetangga Kaylila kepada Genta.

Genta pun menghentikan tindakannya yang telah membuat tetangga Kaylila terganggu. Genta kemudian kembali masuk kedalam mobilnya. Genta mencoba menghubungi ponsel Kaylila untuk ke sekian kalinya.

Genta tidak tahu bahwa Ponsel Kaylila sebenarnya tertinggal dirumah Kaylila. Genta menekan nomor Della di ponselnya. Nada sambung terdengar, kemudian Della mengucapkan salam.

"Ada apa, Genta? Tumben pagi-pagi sudah menghubungi mbak?" Tanya mbak Della.

"Mbak, Kaylila sekarang ada dirumah mbak Della atau tidak?" Tanya Genta langsung.

"Tidak ada tuh. Kaylila juga ga ada menghubungi mbak dari kemarin. Memangnya kenapa? Ponsel Kaylila tidak bisa dihubungi ya? Langsung datang kerumahnya saja, Genta." Ucap mbak Della dengan nada bingung.

"Ya sudah mbak, terima kasih. Assalamualaikum." Ucap Genta segera mematikan ponselnya.

Lagi-lagi Genta memukul dashboar mobilnya meluapkan kekesasalan. Genta tahu bahwa Kaylila memang tidak ada dirumah Della.

Genta sudah dua kali melewati rumah Mbak Della, mengira bahwa Kaylila ada dirumah Mbak Della. Ternyata benar, Kaylila tidak ada disana.

"Cepat pulang, Kaylila. Cepatlah pulang. Apa yang kamu lakukan dengan bajingan itu?" ucap Genta lagi.

Muka Genta memerah menahan amarah. Genta kembali mencoba menghubungi Kaylila di ponselnya, dan lagi-lagi nihil. Tidak ada jawaban.

Tanpa Genta sadari, sedari tadi ada seseorang yang sedang mengamatinya dari kejauhan.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel