Bab 3
"Winarsih?" Ia memanggilku, sepertinya ia terkejut melihatku datang.
"Tumben kamu datang kesini, Win? Ada apa?" tanya Mbak Hanik menyelidik, padahal kami baru juga keluar dari mobil. Mbak Hanyk seperti tidak suka dengan kedatanganku.
"Mau ketemu Mas Joko, Mbak. Masnya ada?" tanyaku tanpa basa basi.
"Ada tuh di belakang. Bentar Mbak panggil dulu." ujarnya seraya berlalu tanpa mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Begitulah, kakak iparku itu memang sedikit cuek. Bahkan, terkadang aku merasa Mbak Hanyk tidak menyukaiku.
"Ehh … Win, kenapa disitu? Ayok masuk!" pinta Mas Joko tidak lama setelah Mbak Hanyk pergi ke belakang. Lalu kami pun masuk, setelah Mas Joko mempersilahkan kami masuk.
"Silahkan duduk, Mas, Mbak!" Setelah masuk, kami dipersilahkan duduk oleh Mas Joko. Sementara Mbak Hanyk tidak terlihat lagi batang hidungnya.
"Ada apa, Win? Tumben kesini, udah ada kabar dari Robby?" tanya Mas Joko setelah kami duduk. Pertanyaannya membuatku merasa sedikit sungkan menanyakan soal suamiku yang tak kunjung pulang.
"Belum ada, Mas! Itulah maksud kedatanganku kesini, Mas." Aku menghela nafas sesaat, membuang sedikit sesak di dada. Sebenarnya aku tidak yakin, keluarga dari suamiku ini bisa menolongku. Apalagi setelah melihat sikap Mbak Hanyk tadi, semakin membuatku ragu. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus tetap mencoba, karena merekalah keluarga Mas Robby satu-satunya.
Aku bingung bagaimana cara menyampaikan maksudku pada Mas Joko. Bagaimana cara memulainya? Hatiku kembali ciut.
"Kenapa, Win? Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Mas Joko seakan tidak sabar.
"Hmm … gimana ya, Mas, aku–"
"Gini, Mas, inikan si Winar bentar lagi mau lahiran, sementara si Roby nggak tau kemana rimbanya. Jadi, bagusnya kan keluarganya yang harus turut tanggung jawab." potong Mbak Tri, mungkin dia tau kebingunganku.
"Maaf, Mas! Bukan bermaksud ikut campur. Saya cuma kasihan sama Winar." Sambungnya lagi.
"Maksudnya tanggung jawab gimana ya?" Tiba-tiba Mbak Hanyk nongol dari balik pintu penghubung ruang tamu dengan ruang keluarga. Kami saling pandang, bergantian.
"Bertanggung jawab sama Winar lah, Mbak! Paling nggak sampe suaminya pulang. Atau pas Win melahirkan, Kalian kasih solusi gitu, Win harus gimana. Emang Mbak nggak kasihan lihat si Winar?" Mbak Tri sedikit sewot.
"Mbak ini siapanya Winar ya? Kok kayaknya ikut campur banget urusan si Winar?" Mbak Hanyk bicara dengan pongah, ia tidak kalah emosi.
"Saya tetangganya Winar. Saya bukan siapa-siapanya, tapi saya kasihan sama Winar makanya saya mau bantu antar kesini. Mbak kan keluarga suaminya, harusnya Mbak ngerti dong!" ujar Mbak Tri, masih dengan nada sedikit tinggi. Sementara Mas Joko dan Mas Edi hanya diam dan aku hanya bisa menunduk, merasa tidak enak hati.
"Maaf, Mas, Mbak! Sampai sekarang kan, Mas Robby belum ada kabar, dan belum tau juga kapan pulangnya. Kalau seandainya Mas dan Mbak tidak keberatan, bisa nggak saya tinggal disini. Paling nggak, sampai nanti saya sudah bisa kerja." akhirnya aku beranikan untuk mengutarakan niatku. Aku tidak ingin Mbak Tri dan Mbak Hanyk ributnya semakin tidak jelas.
"Hmm–"
"Maaf ya, Win, bukannya kami nggak mau bantu kamu. Tapi kamu sendiri kan tau kebutuhan kami ini banyak. Mbak cuma nggak mau nanti karena bantu kamu, keluarga kami malah kekurangan!" Mbak Hanyk menyela ucapan Mas Joko yang hendak bicara. Akhirnya Mas Joko diam kembali.
Kalau secara materi sebenarnya keluarga Mas Joko, bisa di bilang berlebih. Ia memiliki sepuluh hektar kebun sawit yang telah menghasilkan, empat buah mobil truk yang disewakan pada orang lain. Sementara mereka hanya memiliki satu orang anak laki-laki.
"Lagi pula ya, mungkin kamu yang salah, makanya sampai Roby pergi nggak ada kabar. Bisa aja kamu bohongi kami, kan?" Mbak Hanyk mulai memojokkanku. "Atau jangan-jangan kamu selingkuh ya? Bisa aja kan, anak yang kamu kandung itu, bukan anak Roby!" tuduh Mbak Hanyk tanpa alasan. Kami semua terperanjat dengan ucapan Mbak Hanyk. Terutama aku. Bagaimana bisa Mbak Hanyk menuduhku seperti itu? Aku sungguh tidak menduga Mbak Hanyk akan mengeluarkan tuduhan yang tidak berdasar.
"Ya, Allah … kok tega sih Mbak nuduh aku kayak gitu! Nggak mungkin aku seperti itu, Mbak!" Netraku mulai berkaca-kaca. Tidak pernah aku menghianati Mas Robby, dalam benak pun tidak. Bahkan saat Mas Robby tidak di rumah pun, aku tidak pergi kemana-mana kecuali untuk belanja.
"Siapa yang bisa jamin kamu nggak seperti itu, Win! Bisa aja kamu bermain bersama laki-laki lain saat Roby kerja, kan? Lalu ketahuan sama Roby, makanya Roby ninggalin kamu?" Tuduhannya semakin menjadi. Kalau saja aku tahu diperlakukan seperti ini, tidak akan pernah aku kesini untuk meminta bantuan. Air mataku kini luruh, tidak bisa lagi kutahan. Bendungan yang sejak tadi kubangun, kini jebol sudah.
"Cukup, Mbak!" teriakku. "kalau Mbak nggak mau bantu, katakan aja, Mbak! Nggak usah nuduh yang nggak-nggak!" Suaraku meninggi, seiring dengan semakin derasnya cairan bening dari netraku yang masih berusaha kutahan.
"Lalu kenapa Roby sampai pergi dan nggak ngasih kabar? Kalau kamu memang nggak salah, nggak mungkin Roby seperti ini." Mbak Hanyk menatapku sinis. Ada kebencian yang terpancar dari matanya yang ditujukan padaku. Entah kenapa, tatapan itu sudah sedari dulu ia simpan untukku. Aku tidak tahu, apa salahku padanya.
"Terserah, Mbak! Yang jelas aku bukan perempuan seperti yang Mbak katakan. Aku datang kesini bukan untuk dihina." enak saja menuduhku yang tidak-tidak, pengen rasanya ku sumpal mulut Mbak Hanyk.
"Jangan bicara seperti itu, Ma! Mungkin Roby punya alasan lain yang membuatnya seperti ini." ujar Mas Joko, tapi ia tidak melihat ke arah Mbak Hanyk, ia menatap meja di depannya. Ia seperti takut menghadapi istrinya. Dari ucapannya, ia seperti membelaku.
"Papa jangan belain dia, Pa! Roby itu orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia nggak mungkin meninggalkan istrinya yang sedang hamil, kalau istrinya ini perempuan baik-baik." Mbak Hanyk melirik ke arahku. Iya, Mas Robby memang orang yang baik dan bertanggung jawab, tapi itu sebelum dia menghilang.
"Tapi bukan berarti Mama bisa menuduh Winar seperti itu, Ma!" Suara Mas Joko pelan. Masih terdengar suara perdebatan sepasang suami istri itu.
"Papa kenapa sih, kok malah belain dia! Atau jangan-jangan Papa suka sama Winar, ya? Kok dari tadi Papa belain dia terus!" hardik Mbak Hanyk setengah berteriak, terlihat netra Mas Joko melebar ke arah istrinya itu. Mungkin ia tidak percaya Mbak Hanyk malah menuduhnya.
"Kok Mama pikirannya makin aneh, sih! Papa malah dituduh yang nggak-nggak!" ucap Mas Joko masih dengan suara yang pelan.
"Habisnya Papa kok malah belain dia, adik kamu itu Roby, Mas, bukan dia! Jadi nggak usah belain dia. Aku nggak percaya kalau Roby yang salah." Lagi-lagi Mbak Hanyk masih ingin memojokkanku.
"Ini kakak iparmu kurang segaris ya, Win?" ucap Mbak Tri membuat Mbak Hanyk melotot. Aku hampir saja tertawa dengan ucapan Mbak Tri, namun rasa sakit dengan tuduhan Mbak Hanyk barusan masih lebih kuat, yang membuatku tidak mampu untuk tertawa.
"Heh … kamu bukan siapa-siapa ya disini, jadi lebih baik diam saja! Jangan ikut campur! Pake bilang aku kurang segaris, dasar kurang *jar!" umpat Mbak Hanyk, menunjuk Mbak Tri.
"Lah … trus apa na–"
"Dek! Sudah diam!" Mas Edi menarik tangan Mbak Tri yang duduk di sampingnya. "Biar Winar menyelesaikan masalahnya dengan keluarganya, Dek!" ucap Mas Edi, yang di balas Mbak Tri dengan memonyongkan bibirnya.
"Sudah, Mbak, Mas Edi benar. Biar aku selesaikan masalahku sendiri. Aku nggak apa, kok!" ucapku pada Mbak Tri. Aku tidak ingin melibatkan mereka terlalu jauh.
"Tuh, denger suaminya ngomong. Jangan kebanyakan bacot!" ujar Mbak Hanyk sinis. Sesaat suasana hening. Tidak ada yang bicara.
"Maaf, Mbak! Jika kedatangan saya kesini tidak berkenan sama Mbak. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang memang harus ku lakukan, sebelum aku mengambil jalan lain. Aku pun bukannya ingin melimpahkan sepenuhnya tanggung jawab Mas Robby pada kalian. Aku hanya mencari tempat berlindung di saat aku akan melahirkan nanti. Tapi jika kalian tidak berkenan, aku juga tidak memaksa." ucapku akhirnya memecah keheningan, lalu aku diam sesaat, menahan gejolak di dada yang seperti ingin meledak. "dalam agama pun, sebenarnya kalianlah yang bertanggung jawab atas anak ini, jika bapaknya tidak ada." lanjutku lagi, membuat mata Mbak Hanyk membesar ke arahku. Mungkin ia tidak menyangka aku akan mengatakan itu.
"Hahh …." Terdengar Mas Joko menghela nafas.
"Saya juga bingung, mau gimana, Win–"
"Nggak usah bingung-bingung, Mas! Ngapain Mas capek-capek mikirin dia. Winarsih itu bukan tanggung jawab kita. Sudah! Terserah dia aja, aku nggak mau direpotin!" Lagi-lagi Mbak Hanyk bersuara lantang. "Heh! Kamu nggak usah sok sok bawa agama, ya. Aku nggak peduli apa kata agama. Yang jelas, aku nggak mau rugi dan tidak mau capek. Jelas! Jadi, jangan ajarin aku soal agama. Kamu pikir, aku bodoh! Mau diperalat dengan alasan agama, hah!?" bibir Mbak Hanyk dimiringkan sebelah.
Sungguh, berani sekali dia berkata seperti itu. Tidakkah ia takut jika Tuhan bisa menghukumnya hanya dengan tiupan kecil? Aku saja merinding mendengar ocehannya. 'Ya Tuhan, ampunilah dia, bukakan pintu tobat untuknya'. Ku sempatkan melantunkan doa di dalam hati untuk kakak iparku itu.
"Kamu yang hamil, kok mau ngerepotin orang lain! Kalau kamu nggak sanggup ngurus anakmu, ngapain kamu hamil?" Lanjut Mbak Hanyk tanpa menjaga perasaanku sedikit pun. Suaranya kini sedikit merendah. Andai aku bisa meminta, aku juga tidak ingin dalam keadaan seperti ini, siapapun tidak ada yang ingin bernasib sama denganku.
"Sudah, Ma! Kasihan Winar, jangan di tambah dengan ucapan mama yang nggak berperasaan itu." ujar lelaki berkulit gelap itu.
"Apa? Nggak berperasaan kata Papa? Jadi kamu punya perasaan sama dia, Pa? Hah!" bentak Mbak Hanyk, emosinya kini naik lagi.
"Sudahlah, Win! Kita pulang saja. Sepertinya nggak ada gunanya kita kesini." Ujar Mbak Tri. Aku pun berdiri hendak beranjak.
"Tunggu, Win!" pinta Mbak Hanyk ketika aku telah berdiri, aku pun mengurungkan langkahku.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku melihat Mbak Hanyk seperti sedang berpikir. Aku sebenarnya sudah enggan untuk bicara padanya.
"Gini …." Mbak Hanyk terlihat ragu, ia menatap kami satu per satu. Kami semua menatap Mbak Hanyk, menanti apa yang akan dikatakannya.
