Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Posesif

Bab 10 Posesif

Semenjak pacaran dengan Ara, Devan menjadi laki-laki posesif, dia tidak mau Ara diantar-jemput oleh Raka walaupun status mereka hanya sahabat, tetapi namanya laki-laki pasti ada udang di balik batu, dan terpenting setiap hari harus ada kabar.

Ara juga sudah tahu Devan tinggal dengan seorang gadis di apartemen, awalnya Ara tidak setuju karena biar bagaimana pun Ratu adalah gadis remaja yang sudah pubertas. Namun, setelah dijelaskan barulah Ara setuju, walau sebenarnya dia masih takut, tetapi hal itu itu berusaha ia tepis.

Karyawan di kantor juga sudah tahu perihal hubungan mereka, dan secara terang-terangan Devan berani menjemput Ara di divisinya.

"Ra, mau makan di mana?" tanya Devan setelah mereka di dalam mobil.

Mobil itu melesat keluar dari area gedung itu.

"Terserah." Ternyata Ara sama saja dengan perempuan lain yang kalau ditanya tempat makan jawabannya terserah.

Devan menghela napas. "Kok terserah?"

"Terserah kamu aja."

"Oke."

Devan pun pun langsung menghentikan mobilnya di depan restoran seafood. Membuat Ara langsung mengernyitkan keningnya, dan enggak mau turun dari mobil.

"Kenapa enggak turun, Ra?"

"Aku enggak mau makan seafood."

Devan semakin pusing dengan makhluk yang bernama perempuan, bilangnya terserah mau makan dimana saja, tetapi giliran si laki-laki yang memilih, bilangnya enggak mau.

Devan jadi serba salah. "Oke, kamu tentuin di mana maunya?"

"Terserah."

Devan menghela napas. "Sayang, oke ganti pertanyaan. Mau makan atau pulang?"

"Pulang." Ara memanyunkan bibirnya. "Kamu aja yang enggak peka, dari tadi aku udah nguap-nguap, bukannya diantar pulang malah ajak makan."

Padahal Devan lapar makanya minta Ara buat temani, tatapi karena Ara enggak mau, ia langsung antar pulang.

Malam ini setelah mengantar Ara, Devan begegas langsung ke toko kue, ia ingin mengambil kue pesannnya untuk Ratu, karena tepat hari ini usianya 15 tahun.

Setelah selesai, ia langsung pulang ke aparteman, dan mendapati gadis itu yang sudah tertidur pulas.

"Ratu, wake up ...." Devan menggoyangkan tubuhnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih setia memegang kue.

Tak lama kemudian, Ratu mengubah posisinya menjadi duduk, lalu ia membuka secara perlahan, ia terkejut dengan kehadiran Devan membawakannya sebuah kue dengan lilin angka 15 di atasnya, dan tertulis Ratu's Day di atas kue itu.

"Happy birthday, Ratu Azalea. Make a wish dulu, habis itu tiup lilinnya."

Ratu langsung menutup matanya untuk memanjatkan sebuah tangan, setelah itu meniup lilinnya.

"Makasih, Kak Dev."

Devan meletakkan kue itu, daj duduk di sebelah Ratu. "Sama-sama. Tadi doanya apa?"

"Tadi aku doa semoga keluarga aku bisa kumpul lagi, dan semoga setiap ulang tahunku bisa dirayain bareng Kak Dev terus."

Devan mengangguk. "Kamu udah makan belum?"

"Belum."

"Ya udah, kita makan di luar ya, tapi kamu yang traktir kan lagi ulang tahun."

Ratu mencoba mengingat uangnya di dompet, hanya tersisa tiga ratus ribu, dan gajiannya masih dua minggu lagi.

Devan yang mengerti ke mana arah pikiran Ratu, langsung berkata, "Kita makannya di warung tenda pinggir jalan aja, Ratu."

"Oke."

Ratu pun langsung beranjak dari tempatnya, sementara Devan menunggu di ruang tamu.

***

Devan menghentikan mobilnya, setelah melihat ada warung nasi goreng di pinggir jalan. Keduanya pun turun dan langsung ke warung itu.

"Dua nasi goreng dan dua teh tawar, ya," ujar Devan ke penjual, setelah itu dia menempati bangku panjang depan Ratu.

"Kak Dev, aku mau cerita."

"Apa?"

"Aku kan coba daftar beasiswa ke SMAN 5 Jakarta, dan alhamdulillah keterima."

Devan ikut senang mendengarnya. Dari Ratu dia banyak belajar, bahwa apa pun masalah hidup, harus tetap semangat dan berpikir positif. Walaupun dia tumbuh di antara keluarga yang broken home, itu tak menjadikan Ratu perempuan nakal, dia justru menjadi orang yang rajin dan pintar.

"Kapan mulai masa orientasi?"

"Minggu depan. Duh, enak enggak jadi anak SMA, Kak?"

Devan mengangguk. "Enak, nanti ketemu senior yang cakep, dan lebih berkesan masa putih abu-abu daripada masa putih biru, tapi nanti kamu pacaran kalau udah 17 tahun aja."

"Enggak, aku belum kepikiran ke arah sana, mau fokus ke tujuan aku aja, sekolah yang pintar biar bisa jadi orang hebat."

Sekarang Devan semakin percaya, kedewasaan seseorang tidak diukur dari usia seseorang, pola pikir yang dewasa terkadang terbentuk karena adanya lika-liku kehidupan yang dilalui.

Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang, dan mereka menikmati makanan itu.

Di sela-sela itu, seorang laki-laki yang tak asing menghampiri Devan.

"Eh, Pak Devan. Lagi apa, Pak?" Raka memperhatikan Ratu. "Selingkuh kok sama anak kecil. Nanti saya bilangin Ara."

Devan meletakkan sendoknya. "Silakan, yang jelas Ratu bukan selingkuhan saya, yang kedua Ara udah kenal Ratu."

***

Seorang laki-laki menampar wanita di hadapannya itu berkali-kali. Sang suami sangat marah karena wanita itu tidak menuruti kemauan untuk bekerja di bar sebagai wanita panggilan, dengan begitu uang mereka akan terus bertambah, bukan seperti ini selalu kekurangan uang.

Uang seratus juta yang diberikan oleh Devan pun tidak cukup, karena uang itu Bram, sang suami, untuk judi dan dipakai Laras untuk berfoya-foya.

"Aku enggak mau jadi pelacur!" ujar Laras dengan air mata yang menggenang di pipinya yang membiru.

Bram membuang napas kasar. "Oke, seret Ratu kembali ke sini, biarin dia yang menjadi pelacur, lagian dia enggak jelek-jelak amat."

Laras balik menampar pipi suaminya itu. "Hah? Sampai kapan pun aku enggak akan sudi dia bekerja di tempat haram itu!"

"Sok suci, kayak peduli aja sama anak kamu itu."

Laras menatap suaminya kesal. "Dia baru 15 tahun, aku enggak mau jerumusin anak aku sendiri, dia itu anak kandungku!"

Bram tertawa sinis. "Kamu masih menganggap dia sebagai anak kandung, di saat kamu acu sama dia? Palingan dia juga enggak sudi akuin kamu. Ingat sekarang yang kamu punya cuma aku." Bram kembali bertanya, "Kamu atau Ratu yang jadi pelacur?"

"Aku mau cerai!"

Bram tertawa. "Silakan gugat aku kalau kamu mau, tapi setelah itu akau akan menyeret Ratu untuk menjadikan pemuas nafsuku, juga untuk menjadi sumber uangku."

"Brengsek!"

Laras masuk ke dalam lobang yang ia gali sendiri, seharusnya ia tidak termakan rayun Bram, pasti hidupnya tidak akan sepelik ini.

Dulu mulut Bram terlalu manis, hibgga dengan bodohnya Laras terbuai akan kalimat-kalimat palsu itu.

Sekarang Laras sudah kehilangan anak-anaknya. Mungkin Ratu tidak mau mengakui dirinya sebagai ibu lagi.

"Pikirkan baik-baik, Laras. Aku serius dengan ucapanku!"

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel