Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Cuilan II

Pijakan kakinya melandas di puncak anak tangga terakhir. Ben berjalan dan mengatur napas tenangnya menuju kamar Nn. Winterdust yang berada di dekat jam besar klasik dengan bingkai bermotif taburan-taburan permata berkilauan.

Tidaklah heran kenapa pintu kamar Nn. Winterdust terbuka. Karena sewaktu di dalam perjalanan, Ben mengontak asisten urusan rumah bernama Emma. Dia beralasan bahwa Nn. Winterdust sangat kelelahan dan payah untuk naik tangga. Beruntung pula dirinya mendapati isi rumah besar di tengah malam itu sedang sepi dan kemungkinan Emma pun sudah terlelap. Chris juga tidak ada dan bisa jadi sedang menemani Tn. Goodfellow dengan hobi bersenang-senangnya di tempat hiburan malam.

Ben tekun menggendong perempuan desa dari Wanlockhead yang telah resmi bermain peran sebagai Nn. Winterdust dan hal itu tidak boleh diketahui oleh siapa pun.

Tangan Ben turun pelan-pelan dan meletakkan perempuan pingsan itu di atas ranjang empuk berukuran king size. Dia tak lupa menyelimutinya dan tidak payah berlama-lama lagi untuk segera keluar dari kamar mewah yang berkoleksikan benda-benda mahal itu.

“Hallo, Kawan?” Ben berbicara melalui ponselnya sesudah menutup pelan pintu kamar. “Maaf, ya. Aku ganggu tidurmu malam-malam begini.” Dia sedikit berbasa-basi dan sungkan.

Keadaan hening sejenak dan sinaran air muka Ben berseri-seri sembari tersenyum simpul mendengarkan timbal balik yang tak mempermasalahkan dirinya menelepon di pertengahan malam.

“Jadi, aku mau pesan sebuah ruangan pembeku. Apa di pabrikmu masih tersedia? Kau masih bekerja di pabrik elektronik itu, ‘kan?” ungkap Ben sembari memastikan.

“Oh. Ok, ok, ok. Aku tunggu.” Ben lalu memutus komunikasi setelah temannya itu mengonfirmasi untuk mengecek ketersediaan barang secepatnya, lalu melanjutkan pergerakan menuju ke bawah dan mengambil gaun berhiaskan berlian untuk diletakkan kembali ke manekin di kamar Nn. Winterdust.

***

Matanya tersipit-sipit sambil mengeluarkan lenguhan halus. Dia membuka kelopak matanya yang masih terasa tak bertenaga ke arah langit-langit berbentuk kerucut dan dihiasi ornamen perhiasan seperti jamrud, berlian sebesar kepalan tangan, dan di tengah-tengahnya terdapat lampu gantung dikerumuni permata-permata mungil nan indah. Sang pemeran Nn. Winterdust sangat tidak sadar telah menjalankan perannya semenjak saat itu. Lalu, dia membuka selimut tebal berwarna putih dari batas perutnya.

Kaki perempuan berperut ramping itu menjuntai dan duduk di tepi ranjang. Berulang-ulang kali dia memegangi kepala yang terasa berat, seakan-akan baru saja terlepas dari sebuah belenggu. Dia mencoba mengingat-ingat mengapa dirinya bisa terbaring di ranjang. Tapi, semakin dia mencoba mengoreknya, semakin lowong alam pikirannya.

Telapak kaki menapak di karpet hangat berwarna abu-abu rokok yang menutupi seluruh lantai kamar. Nn. Winterdust kemudian berjalan ke arah gorden, tapi langkahnya mati mendadak ketika melirik foto yang mirip dengannya bersama seorang pria berkulit putih sedikit kecokelatan, berbrewok tipis, dan hidungnya mancung dengan latar bukit bersalju. Keduanya saling tatap memamerkan gigi mereka masing-masing.

Tangan kanan tampak reflek langusng memegang batok kepala sambil mendaratkan bokongnya di sopa yang tidak jauh dari gorden yang belum sempat disingkap. Perempuan berwajah persegi itu mengerjap-ngerjap dan menatap jarum jam menunjuk ke angka lima. Dia pun tidak tahu persis apakah di luar sedang jam lima sore atau lima pagi.

Seseorang membuka pintu dan dihempaskan kencang.

Pria tinggi itu tampak sangat bernafsu melepaskan rompi dan dalaman kemeja putih berlengan panjangnya.

“Oh, Anne,” kata pria itu dengan langsung menatap kilat ke wanita yang sudah menyadari keberadaannya.

Aura lugu paras wanita di sofa itu seperti memancarkan ribuan pertanyaan dalam kebingungan.

Dia langsung menderap maju dan mencengkeram kedua lengan atas Anne sambil menatapnya dekat-dekat. Pandangan matanya seperti terasuki nafsu liar.

“S-siapa ka ….” Pertanyaan Anne terputus, karena pria berbulu dada lebat itu langsung menimba engsel lututnya. Anne lalu dihempaskan ke ranjang sehingga tubuhnya sedikit termembal.

“I’m sorry. I love you, Anne Winterdust. Lupakan keributan kita siang kemarin. I love you, Anne.” Bibir pria berwajah oval itu menyapu-nyapu rahang Anne.

Sontak Anne menggeliat-geliat, merintih, dan merasa tersiksa. Bahkan, nama Anne Winterdust rasa-rasanya baru dia ketahui di dalam relung batinnya. Namun, dia juga tidak tahu bagaimana harus komplain dan berdalih. “Lepas … lepas.”

Napas yang berbau bir tajam menderu-deru, dan tiba-tiba tercekat ketika pria berlengan kuat itu merobek belahan ‘V’ di sekitaran dada.

Anne pun terus menggeliang-geliut tak wajar. Sedangkan pria yang menaungi rebahan tubuhnya itu tampak terajut-rajut alisnya sewaktu menjeli ke payudara montok, berisi, dan ukurannya seakan begitu pas jika diremas menggunakan tangan.

“Bulan kemarin aku terakhir bersenang-senang denganmu, Anne. Woaaah, dadamu semakin padat saja. Arrggh.” Pria itu cergas menenggelamkan wajahnya ke dada Anne Winterdust palsu dengan lidah terjulur-julur menikmati gundukan yang menggiurkan itu.

Anne semakin meringis ketakutan dan cuma bisa menatap langit-langit bernuansa putih sebagai saksi keberingasan pria yang melorotkan celana panjangnya dan melemparkan sepatunya sembarangan. “Apa yang mau dia buat?” batin Anne merongrong ketika melihat celana dalam pria itu tampak setengah mengeras di sekitaran tengah-tengah selangkangannya.

Pria yang mirip di dalam foto itu hendak menguasainya lagi, tapi kaki Anne lebih cepat menonjok tonjolannya.

Refleks membungkuk dan wajahnya merenyuk sambil kedua tangan pria itu menangkup di wilayah sensitifnya.

Anne membangkitkan setengah tubuhnya, mengangkat pantatnya, dan mulai berlari meninggalkan pria berahang tegas itu di tengah-tengah kesempatan sempitnya.

“Kau tidak bisa lari dari Henry Goodfellow.” Dia menggertak sambil menyambar pergelangan tangan Anne, meski agak dibumbui perlawanan yang sengit. Namun, pada akhirnya Henry berhasil menangkap tubuh Anne lagi dan mencampaknya untuk ke sekian kali di atas ranjang.

Semakin meluap-luap hormon testosteron sang Henry Goodfellow.

“I really love you, Anne Winterdust.” Bibirnya kini menjamah leher Anne dan menggigitnya hingga merah. Dia punya ide untuk membuka seutuhnya bra milik Anne, tapi urung dilakukannya. “Minggu depan pernikahan kita. Di waktu itu aku akan memreteli semua lekuk-lekkuk tubuh indahmu ini,” kata Henry sambil menggeretakkan giginya. Giliran bagian ketiak dirobeknya puas. Tapi, matanya sekejap berubah tegang dan tak suka.

“Kenapa kau tidak membersihkan bulu ketiakmu?” geram Henry. “Kau sengaja? Kau sengaja menghancurkan nafsu gagahku? Hah?” Jarinya menjepit kedua ujung mulut Anne sehingga tampak monyong seperti ikan tembakang.

“Kau bersihkan dirimu. Servis aku lebih baik dari ini!!” Henry melepaskan jeratan jemarinya dari mulut wanita setengah telanjang itu dengan kasar.

Anne terpatung. Matanya giat tak berkedip mengarah ke langit-langit. Tangannya tampak mengambang di atas dada dan tremor.

“Bersiap-siaplah untuk nanti siang ada jadwal perilisan kalung berlian terbaru dari GF,” ujar Henry datar setelah berpakaian kembali. Dia lalu keluar sambil membanting keras pintu kamar.

***

“Ya, Kawan. Aku butuh besok pagi. Nanti aku kirimkan alamatnya,” ujar Ben melalui telepon setelah temannya menyetujui transaksi pembelian ruangan pembeku. “Ok. Thank you.”

Ben kemudian meletakkan ponselnya di sebelah wastafel. Dia mulai mengolesi krim cukur di brewoknya sambil memandangi kaca.

“Now. Mari kita ubah penampilan,” desis Ben dengan nada penuh misteri sambil menatap hiasan gaun Nn. Winterdust yang sempat disimpan di kantungnya, tapi kini tengah tersangkut di pucuk bagian atas kaca. Dia masih belum mendapatkan petunjuk pasti mau digunakan untuk apa berlian seratus lima puluhan karat berbentuk hati itu. Pikir hematnya, kemungkinan akan dijadikan pernak-pernik di dalam kamar mandi saja untuk sementara waktu.

Mesin pencukur mendengkur. Ben kemudian mulai menggerakkan tangannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel