BAB 9
Status berubah begitu cepat hanya karena ucapan seorang pria. Intan masih tak percaya jika Zaki benar-benar datang ke rumahnya.
Pria itu bahkan tak tanggung-tanggung, ia langsung membawa orang tuanya menemui bunda dan kakak Intan.
Sekarang mereka sedang berada diruang tamu. Intan bisa melihat Zaki yang terlihat gugup saat berbicara dengan kakaknya, membuat gadis itu terkekeh geli. Tapi saat mereka semua menatap intan kesal, membuat gadis itu mengerti jika dirinya telah mengganggu pembicaraan mereka.
“Jadi maksud dan tujuan kami kesini untuk meminang putri ibu mayang untuk anak saya, Zaki.” Ayah Zaki berbicara dengan berwibawa, mengatakan dengan tegas dengan tujuan mereka datang.
“Meminang Intan?” tanya bunda mayang yang terlihat tak percaya.
“Iya, Bu.” Zaki menimpali terlebih dahulu, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Intan.
Sebenarnya dari tadi Intan sudah ingin mencekik pria yang tersenyum didepanya ini. Bagaimana dirinya tak marah, Zaki datang bersama orang tuanya tanpa memberi tahu Intan terlebih dahulu. Dan sekarang keluarganya terlihat sangat memalukan karena tak bisa menyambut tamu dengan baik.
Bima menatap adiknya yang masih menatap tajam Zaki, Lalu Bima tersenyum geli melihat interaksi keduanya.
“Kami serahkan semua keputusan pada Intan sendiri, karena ini tentang hidupnya, kami akan selalu mendukung keputusan yang adikku ambil.” Bima tersenyum lembut pada kedua orang tau Zaki.
“Aku yakin adikmu pasti mau... Karena Zaki bilang gadis inilah yang memintanya terlebih dahulu.”
Intan menganga tak percaya, begitu juga dengan Bima yang terkejut. Intan menunduk malu, “Zaki cerita sama tante?”
“Ya ... Bagaimana apa kamu masih mau sama anak tante?” tanya ibu Zaki tersenyum lembut.
Ingin sekali intan melempar wajah Pria didepanya dengan gelas. Tak tahukah dia, akibat dari mulut ember pria ini ia menjadi malu. Ingin sekali intan bersembunyi saat ini juga, apalagi melihat tatapan kakaknya yang seperti ingin mengulitinya.
Intan berdeham pelan, ia akan menjelaskan kesalahpahaman ini, “Tante, sebenarnya saat itu ...,” belum sempat intan memberi alasan, Zaki kembali menimpali ucapannya.
“Ayah, umi. Jangan tanyakan seperti itu, dia pasti merasa malu pada kita.” Zaki berusaha tersenyum untuk meyakinkan orang tuanya.
“Tidak! Aku akan menjelaskannya ... Saat itu ...,”
Dengan cepat Zaki Lagi-lagi memotong ucapan Intan, “saat itu dia sangat sedih, melihat sang mantan kekasihnya menikah. Karena itu Intan bilang tak ingin berpacaran lagi, dia hanya ingin langsung menikah saja. Dan aku menyetujui nya.”
Intan mengeram kesal, ia berdiri meninggalkan ruang tamu. Zaki benar-benar menjebak dirinya, bagaimana bisa pria aneh itu bisa mempermalukan dirinya seperti ini.
Terdengar suara bundanya yang memanggil untuk kembali, tapi Intan tak peduli, ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
******
Intan mematut wajahnya didepan cermin. Ia baru saja selesai mandi untuk bersiap berangkat kerja. Menghabiskan waktu semalaman untuk tidur sepertinya belum cukup bagi intan, buktinya sekarang ia masih merasa kantuk.
Semalam, setelah pergi dengan marah dari ruang tamu dirinya langsung tertidur. Ia tidak peduli dengan pendapat mami Zaki padanya, toh ia juga tak ingin menikah dengan pria aneh itu.
“Menyesal aku menggoda dia, yang pada akhirnya malah aku yang kena karma.” Gumam Intan yang masih sibuk didepan cermin.
Intan tak habis pikir, bagaimana dia bisa menikah dengan Zaki jika mereka saja bertemu Cuma tiga kali. Baginya ini benar-benar gila, akal sehat intan serasa putus memikirkan ini semua.
Intan melangkah menuju dapur untuk sarapan, ia yakin bunda dan kakaknya sudah menunggu di sana.
“Pagi, Bunda.” Sapa Intan sambil duduk disampingdi samping kakaknya.
“Pagi juga, calon pengantin.” Hampir saja intan menyemburkan air dari mulutnya.
“Bunda apaan sih, siapa yang mau jadi pengantin?” tanyanya sedikit sewot.
“Ya kamu lah! Yang udah nembak cowok duluan!” Bima langsung berucap sinis.
“Abang apaan sih? Siapa yang nembak duluan?”
Intan membalas tatapan Bima tak kalah sinis. Intan tak habis pikir kenapa Zaki bisa tahu alamat rumahnya, sehingga kekacauan ini terjadi.
“Udah, Gak usah bertengkar.” Bunda mayang menengahi pertikaian mereka berdua. “Intan... Banda sudah menyetujui kalau pernikahan kalian akan dilakukan awal bulan depan, karena ini permintaan langsung dari calon suamimu.”
Intan menatap bundanya seakan bertanya apa maksud ibunya.
“Bun ... Apa aku benar-benar akan menikah?”
“Apa maksud mu, nak. Tentu saja iya. Bukankah kamu sendiri yang menginginkan ini?” Bunda mayang melihat ada keraguan dalam hati anaknya, membuat wanita paruh baya itu khawatir.
“Sebenarnya bukan seperti itu Bu ... Tapi,”
“Sudahlah, kamu tak perlu menjelaskan nya, nak. Calon suamimu sudah menceritakan semuanya pada kami, dia juga bahkan cerita bagaimana awal kalian bertemu.”
Intan semakin tak senang, sepertinya pria aneh itu berhasil meracuni otak keluarganya. Lihatlah kakaknya, tak ada sedikitpun proses dari Bima, apa pria ini begitu saja setuju?
“Bunda, aku harus berangkat kerja. Nanti baru kita bahas masalah ini,” ucap Intan. Ia mengambil tangan ibunya untuk dicium setelah itu hal yang sama juga ia lakukan pada kakaknya. Intan pergi dengan cepat tak memedulikan lagi sarapan pagi yang belum selesai ia habiskan.
*****
Sungguh melelahkan hari ini. Pekerjaan yang semakin menumpuk mengharuskan dirinya pulang lebih telat dari biasanya. Sudah hampir jam tujuh malam, dan sekarang Intan baru saja keluar dari kantor.
Intan tak tahu harus bagaimana cara ia pulang sekarang. Ingin menelepon Bang Bima atau memesan ojek onlen tak bisa, karena ponselnya kehabisan daya. Ingin cari ojek biasa tak mungkin, karena kawan kantor tempat ia bekerja ini dilarang tukang ojek mengkal, sepertinya ia harus berjalan seratus meter dulu mencari taksi atau ojek yang lewat.
Saat melewati pos satpam, intan mengernyit heran melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di atas motor, pria itu mendekatinya dengan cepat.
“Loh, kamu kok bisa disini?”
Zaki tersenyum melihat orang yang ditunggunya muncul juga.
“Tadi aku ke rumahmu, tapi bunda bilang kamu belum pulang. Dia minta aku agar susul kamu, khawatir katanya anak gadis pulang malam.”
Intan mengangguk mengerti. Bundanya pasti sangat khawatir dirinya pulang telat, mana gak bisa dihubungi lagi, intan tahu bunda mayang itu tak akan bisa tenang kalau anak-anaknya belum pulang saat malam datang.
“Jadi kamu jemput aku?” tanya intan masih tak percaya.
Zaki mengangguk, “ayo pulang,”
Intan menggigit bibirnya. Entah kenapa sekarang ia merasa seperti seorang istri yang dijemput oleh suami. Mana bahasa Zaki mengajaknya pulang begitu indah lagi, lembut dan menyejukkan hati Intan yang kelelahan membuat ia menjadi mabuk kepayang memikirkan nya.
“Kenapa masih berdiri disana? Ayo pulang,”
Intan tersentak dari Lamunannya, “iya.” Jawabnya berusaha menyembunyikan wajah yang merona.
Zaki tersenyum geli melihat gadis didepanya yang malu-malu. Dia tahu pasti intan sedang melamun lagi, bikin dirinya gemas aja.
