Bab 3 Menikah Begitu Saja
Di aula utama rumah keluarga Su.
Tuan besar Su secara pribadi menuangkan teh untuk Ye Fan.
Lin Yue juga membawa kue yang ia buat sendiri dan mempersilakan Ye Fan mencicipinya.
Melihat sikap keluarga Su yang memperlakukannya seperti keluarga sendiri, Ye Fan mulai ragu apakah ia masih ingin membatalkan pertunangan.
Saat itu dua sosok masuk satu demi satu. Mereka adalah Su Qilin dan Su Ruoxue.
“Cepat lihat siapa yang datang,” panggil Tuan besar Su.
Ye Fan juga mengangkat kepalanya.
“Kamu!?”
Ye Fan dan Su Ruoxue hampir berbicara bersamaan.
Su Qilin mengerutkan kening. Ketika melihat wajah Ye Fan dengan jelas, ia langsung menyadarinya.
Bukankah ini pria yang ada di foto itu?
Ye Fan merasa takdir benar-benar aneh.
Tidak disangka, wanita yang tidur bersamanya semalam ternyata adalah calon istrinya sendiri, orang yang diperintahkan gurunya untuk ia lindungi.
Wajah Su Ruoxue menjadi dingin seperti es. Ia mengira Ye Fan datang untuk terus mengganggunya.
Belum sempat ia berbicara, Su Qilin yang marah besar langsung berteriak, “Bajingan! Aku belum sempat mencarimu, tapi kamu malah datang sendiri. Hari ini kamu jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”
Su Qilin melangkah maju hendak menyerang.
Su Qingzong melihatnya dan langsung menepuk meja teh dengan keras.
“Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan? Dia adalah menantu baru keluarga Su kita, juga penyelamat ibumu!”
Su Qilin, “....?”
Su Ruoxue, “....?”
“Ayah, dia murid orang hebat yang ayah maksud itu?”
Tuan besar Su mengangguk. “Benar. Hari ini berkat dia ibumu selamat.”
Su Qilin tidak percaya. Namun segera ia berpikir— jika memang begitu, berarti tadi malam Su Ruoxue bersama tunangannya sendiri.
Dengan begitu, nama baik keluarga Su masih terjaga.
Ye Fan tersenyum lalu berjalan mendekati Su Ruoxue. “Kebetulan sekali, cantik. Kita bertemu lagi.”
“Tidak kusangka kamu ternyata tunanganku. Sepertinya kita memang pasangan yang ditakdirkan bersama. Benar begitu?”
Sambil berkata begitu, Ye Fan mengangkat alisnya. Kata pasangan yang ditakdirkan ia tekankan dengan sengaja.
Wajah Su Ruoxue langsung memerah. “Diam!”
Selain Su Qilin, anggota keluarga Su lainnya kebingungan.
Tuan besar Su penasaran. “Xiao Fan, kamu sudah kenal Ruoxue?”
Ye Fan tersenyum. “Kenal? Lebih dari sekadar kenal. Kami bahkan sudah melakukan ‘pertukaran yang cukup mendalam’.”
Tuan beaar Su, “....?”
Anggota Keluarga Su, “....?”
Su Qilin, “....!!”
Apa maksudnya pertukaran mendalam? Apakah seperti yang mereka pikirkan?
Ye Fan tidak peduli bagaimana mereka menafsirkannya. Ia menarik tangan Su Ruoxue. “Tuan besar Su, menurut Anda kapan waktu yang tepat bagi saya dan Ruoxue untuk menikah?”
Su Ruoxue langsung melepaskan tangannya dan berkata dingin, “Aku pernah bilang mau menikah denganmu?”
Ye Fan menatapnya dengan gaya santai. “Memangnya itu keputusanmu?”
Su Ruoxue, “....!!”
“Kakek, Ayah, Ibu, aku tidak setuju!” protesnya.
Namun Tuan besar Su seolah tidak mendengarnya. “Cucu menantu, kamu merasa kapan cocok ya kapan saja. Kamu sudah menjadi menantu keluarga Su yang kuakui.”
Lin Yue tersenyum melihat putrinya. “Xiao Fan, nanti kamu tidak boleh menindas Ruoxue ya. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu.”
Su Qilin masih marah, tetapi karena nasi sudah menjadi bubur dan demi nama baik keluarga Su, ia hanya berkata dingin, “Kalian pergi dulu urus surat nikah. Soal pernikahan nanti kita bicarakan lagi.”
Su Ruoxue, “....?”
Kenapa tidak ada yang mendengarkannya?
Dan bagaimana bisa ada orang setebal muka ini… dan orang itu malah suaminya sendiri?
Awalnya ia berpikir dengan kehamilan ini ia bisa membatalkan pertunangan. Siapa sangka justru malah berbalik menjadi begini.
Melihat keadaan sudah tidak bisa diubah, Su Ruoxue menahan amarahnya.
“Ye Fan, ayo kita keluar. Aku ingin bicara denganmu secara pribadi.”
Ye Fan tersenyum. “Apa? Mau membicarakan detail pernikahan? Tenang saja, aku pasti membuatnya megah.”
Sikapnya yang seolah tidak kekurangan uang hampir membuat Su Ruoxue tertawa karena kesal.
Setelah keduanya pergi, Su Qilin menceritakan soal foto itu kepada Tuan besar Su.
Barulah Tuan besar Su mengerti.
“Jadi ‘pertukaran mendalam’ maksudnya itu…”
Ia kemudian berkata dengan sedikit ketakutan. “Untung saja… hampir saja keluarga Su kehilangan menantu sehebat ini.”
“Ayah, orang itu benar-benar sehebat itu?” tanya Su Qilin ragu.
“Dia bahkan lebih hebat dari yang kukatakan.” Mata Tuan besar Su dipenuhi kekaguman.
Su Qilin sedikit mengerutkan kening. Dalam pandangannya, Ye Fan terlihat agak sembrono. Meski gurunya kuat, ia merasa Ye Fan belum tentu pantas untuk putrinya.
Su Ruoxue membawa Ye Fan pergi dengan mobil, menjauh dari vila keluarga Su dan berhenti di tempat yang sepi.
Setelah mobil berhenti, Su Ruoxue mengeluarkan sebuah map dan melemparkannya kepada Ye Fan.
“Lihat.”
Ye Fan bingung, tidak tahu apa maksudnya. Ketika membukanya, tiga kata besar langsung terlihat: “Perjanjian Pra-Nikah.”
Ye Fan berpikir karena mereka belum saling mengenal, wajar jika ada sedikit perlindungan.
Namun setelah membaca isinya, wajahnya langsung berubah jelek.
Tanpa izin pihak A, tidak boleh memaksa melakukan hubungan.
Tanpa izin pihak A, tidak boleh memasuki ruang pribadi pihak A.
Tanpa izin pihak A, tidak boleh memiliki kontak intim dengan lawan jenis lain…
Begitu banyak pasal.
Intinya cuma satu kalimat: Tanpa izin pihak A, kamu tidak boleh melakukan apa pun.
Ini sama saja hidup seperti duda padahal sudah menikah.
Ye Fan langsung melempar dokumen itu. “Aku tidak setuju.”
Su Ruoxue berkata dingin, “Aku tidak sedang berdiskusi denganmu. Aku hanya memberitahumu.”
Ye Fan tersenyum. “Kalau aku menunjukkan perjanjian ini kepada Tuan besar Su, menurutmu apa yang akan terjadi?”
Su Ruoxue, “....!!!”
Ye Fan tersenyum lagi lalu mengambil dokumen itu. “Begini saja. Kalau kamu ingin aku setuju, ada satu pasal yang harus diubah.”
“Yang mana?”
“Pasal pertama. Aku pria normal, punya kebutuhan. Jadi aku minta sekali sehari.”
“Tidak mungkin!” tolak Su Ruoxue.
“Kalau begitu tiga hari sekali?”
“Tidak!”
Ye Fan mengangkat tangan. “Kalau begitu kamu yang tentukan.”
Su Ruoxue berpikir sebentar lalu berkata serius, “Sebulan sekali… tidak, setahun sekali.”
Ye Fan menatap wajah seriusnya lalu tertawa. “Istriku, saat kamu serius kamu terlihat sangat lucu.”
Wajah Su Ruoxue memerah. “Jadi? Kamu setuju atau tidak?”
Ye Fan tahu hal seperti ini tidak bisa dipaksakan sekarang, jadi akhirnya mengangguk. “Baiklah, setahun sekali.”
Namun dalam hatinya ia berpikir: Sekali tidak berarti harus sebentar…
Setelah menandatangani, Su Ruoxue menyimpan dokumen itu dengan hati-hati.
Ye Fan lalu tersenyum nakal. “Aku mengajukan permohonan untuk menggunakan jatah tahun ini sekarang.”
Su Ruoxue tersenyum puas. “Jatah tahun ini sudah dipakai kemarin. Jadi tunggu tahun depan saja.”
Ye Fan, “....?”
Ternyata dia ditipu.
Su Ruoxue menekan gas dan mobil BMW merah melaju pergi.
“Mau ke mana?” tanya Ye Fan.
“Kantor catatan sipil.”
“Untuk apa?”
“Mengurus surat nikah.”
Ye Fan, “....?”
Ketika keluar dari kantor catatan sipil, Ye Fan memandangi buku merah di tangannya dengan bingung.
Begitu saja selesai?
Sekarang ia resmi menjadi pria yang “dipenjara oleh pernikahan”?
Su Ruoxue menyimpan buku merahnya lalu berkata, “Ingat perjanjian yang kamu tanda tangani. Jangan macam-macam.”
Setelah berkata begitu, ia langsung masuk mobil dan pergi.
Ye Fan hanya berdiri tertiup angin.
Setelah sadar ia langsung berteriak, “Tunggu! Aku belum naik mobil!”
Namun BMW itu sudah tidak terlihat.
Ye Fan yang tidak berdaya hendak memanggil taksi.
Tiba-tiba BMW merah itu kembali berhenti di depannya.
“Masuk.”
“Istriku, aku curiga kamu sedang mempermainkanku, dan aku punya bukti.”
“Apa maksudmu? Aku hanya berputar balik,” kata Su Ruoxue dengan wajah polos.
Sebenarnya tadi ia memang sempat ingin meninggalkan Ye Fan. Namun karena Ye Fan menyelamatkan neneknya, ia akhirnya kembali.
“Aku tahu istriku tidak mungkin tega meninggalkan suami tampan sepertiku.”
Su Ruoxue dalam hati berpikir: Masih sempatkah aku menendangnya keluar dari mobil sekarang?
Mobil kembali melaju menuju vila.
Ye Fan sedang memikirkan cara menaklukkan Su Ruoxue.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ia mendongak dan wajahnya langsung berubah.
“Berhenti!”
Su Ruoxue terkejut dan refleks menginjak rem. Ban bergesekan keras dengan jalan.
Di belakang mereka terdengar suara tabrakan. Persimpangan itu langsung menjadi kacau.
Su Ruoxue yang sudah sadar langsung memarahi Ye Fan, “Apa yang kamu lakukan? Kenapa tiba-tiba begitu?”
Namun Ye Fan menatap ke arah persimpangan di depan. Di atas lebih dari sepuluh mobil di sana, ia melihat aura kematian yang pekat.
Itu pertanda bencana besar.
Belum sempat ia menjelaskan, tiba-tiba terdengar teriakan dari pinggir jalan.
Di salah satu sisi persimpangan, papan reklame besar di atap sebuah bangunan— bersama sebagian dinding— tiba-tiba runtuh.
Dalam sekejap, lebih dari sepuluh mobil tertimpa dan tertimbun.
