Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

04. Langkah Pertama Rin

"Jangan membohongi ibumu sendiri, anak manis. Ibu selalu tahu kapan tepatnya kamu sedang mencoba berbohong karena nada suaramu pasti akan selalu berubah menjadi sedikit gemetar," ujar Rin sembari memberikan sebuah senyuman lembut yang penuh arti kepada putranya.

"Aku... uh..." Dimas tampak semakin salah tingkah dan tidak tahu harus memberikan jawaban apa untuk merespons ucapan ibunya tersebut.

"Sayang, sama sekali tidak apa-apa jika kamu merasa gugup atau canggung karena harus berada sangat dekat dengan seorang wanita seperti ini. Tetapi mulai sekarang kamu tidak perlu merasa khawatir lagi mengenai hal itu, Ibu berjanji. Ibu akan memastikan bahwa kamu akan segera bisa merasa jauh lebih percaya diri dan merasa nyaman saat berada di sekitar Ibu maupun wanita-wanita lain di luar sana nanti."

Dimas perlahan mengangkat kepalanya dari atas bantal empuk yang ia tiduri lalu menatap langsung ke arah ibunya dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa kebingungan. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.

"Huh? Aku... aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan Ibu."

Namun, Rin sama sekali tidak memberikan jawaban apa pun untuk merespons pertanyaan dari putranya tersebut. Alih-alih menjawab, wanita itu justru langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang di antara kedua pria itu, lalu dengan gerakan cepat menarik kepala Dimas ke arah dadanya, memaksa kepala pemuda itu untuk bersandar tepat di atas area dadanya yang berukuran besar.

"A-Apa yang sedang Ibu lakukan sekarang?" tanya Dimas dengan nada suara yang tertahan.

"Sudahlah, tenang saja dan biarkan dirimu menjadi lebih rileks sekarang. Biarkan ibumu yang akan mengurus dan merawatmu malam ini. Semua tindakan ini adalah murni demi kebaikan dirimu sendiri, Sayang. Percayalah kepada Ibu."

Dimas seketika langsung merasa sangat panik. Ia berusaha keras untuk menarik kepalanya menjauh dari cengkeraman tangan ibunya, namun Rin justru menahan posisi kepala putranya dengan sangat kuat tanpa berniat melepaskannya.

Di tengah usahanya untuk memberontak, Dimas bisa merasakan kedua belah pipinya menjadi semakin terasa panas dan merona merah padam, terutama karena ia sangat menyadari bahwa sang ayah saat ini sedang duduk memperhatikan seluruh adegan tersebut secara langsung, sementara indra penciumannya kini mulai dipenuhi oleh aroma tubuh Rin yang teramat wangi dan sensual.

Ia sangat tahu di dalam lubuk hatinya bahwa merasa terangsang atau menikmati situasi seperti ini bersama ibunya sendiri adalah sebuah tindakan yang salah, namun di saat yang bersamaan, ada sesuatu yang terasa jauh di dalam dirinya yang justru sangat mendambakan kelembutan dari lekuk tubuh ibunya yang menawan tersebut.

Sentuhan dari dada ibunya yang menekan lembut ke arah wajahnya, berpadu dengan aroma wewangian tubuh yang menghipnotis serta untaian kata-kata manis yang diucapkan oleh Rin, secara perlahan mulai menenangkan pikiran dan tubuhnya yang semula tegang, membantunya untuk menjadi jauh lebih rileks dari sebelumnya.

Begitu melihat putranya sudah mulai menjadi jauh lebih tenang, Rin mulai mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut rambut hitam Dimas yang tampak sedikit berantakan, sembari terus membisikkan kata-kata penuh kasih sayang yang sangat menenangkan jiwanya.

"Nah, begitu. Ini baru anak pintar kesayangan Ibu. Kamu adalah sosok yang sangat berharga dan berarti bagi Ibu, Sayang. Kamu pasti sudah mengetahui hal itu dengan sangat baik, bukan?"

"Mmhm..." Dimas akhirnya memilih untuk semakin memasukkan kepalanya masuk ke dalam kehangatan tubuh ibunya, menikmati setiap sentuhan kulit hangat yang terasa begitu nyata bersentuhan dengan wajahnya.

"Jika begitu, sekarang dengarkan dengan baik apa yang ibumu katakan dan jadilah anak yang penurut untuk Ibu. Jangan terlalu banyak berpikir secara berlebihan, dan jangan ajukan pertanyaan apa pun malam ini. Kamu hanya perlu mengikuti setiap instruksi yang Ibu berikan, dan semuanya pasti akan baik-baik saja. Apakah kamu bisa melakukan hal itu untuk Ibu, Dimas?"

Setelah terdiam selama beberapa saat, Dimas akhirnya memberikan sebuah anggukan pelan pada kepalanya, memberikan isyarat bahwa ia memahami perkataan ibunya tersebut.

"Baguslah. Ibu sangat senang mendengarnya. Sekarang, tolong palingkan kepalamu ke arah samping dan ambillah napas dalam-dalam."

Dimas sempat merasa ragu selama beberapa saat. Ia sebenarnya merasa sangat takut untuk membuka kedua matanya karena khawatir akan melihat ekspresi wajah tidak setuju atau pandangan kecewa dari ayahnya yang berada di seberang ranjang.

Namun, rasa penasaran akhirnya membuat dirinya tetap memberanikan diri untuk membuka mata dan menatap ke arah Beni. Di luar dugaannya, ia justru hanya melihat sang ayah sedang menatap balik ke arahnya sembari memberikan sebuah senyuman penuh dukungan yang sangat hangat pada wajahnya.

"Tunggu apa lagi, Nak? Lakukan saja apa yang diperintahkan oleh ibumu. Kamu berada dalam kondisi yang sangat aman dan terlindungi di sini bersama kedua orang tuamu, yang tentu saja sangat menyayangimu."

"Y-Ya, Ayah."

Dimas kembali memejamkan kedua matanya, perlahan memiringkan posisi kepalanya ke arah lekukan leher ibunya, lalu menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, membiarkan aroma wewangian tubuh Rin yang luar biasa langsung memenuhi seluruh rongga paru-parunya.

Itu adalah sebuah aroma tubuh yang terasa sangat hangat dan manis, sebuah wewangian khas yang langsung mengingatkan dirinya pada suasana hari di musim semi yang indah, sekaligus membawa sebuah aroma unik lain yang tidak bisa ia jelaskan secara pasti namun sangat ia sukai.

"Mhmmm..." Rin spontan melepaskan sebuah desahan lembut yang samar dari sela bibirnya saat merasakan hembusan napas hangat putranya menerpa permukaan kulit lehernya secara langsung.

Rasanya benar-benar sangat menyenangkan bisa berada dalam jarak yang teramat dekat seperti ini dengan putranya, membuat hatinya seketika berdebar penuh dengan rasa senang dan kebahagiaan.

Hembusan napas Dimas perlahan menjadi semakin berat saat ia terus menghirup wewangian tubuh ibunya dalam-dalam, memenuhi hidungnya dengan aroma yang terasa begitu memikat indra penciumannya.

"Bagaimana aromanya, Dimas? Apakah kamu menyukai wangi tubuh Ibu ini?" bisik Rin dengan suara yang teramat lembut tepat di depan telinga putranya.

"Y-Ya, Ibu..."

"Bagus sekali. Sekarang, letakkan tanganmu di atas perut Ibu."

Tanpa menunjukkan keraguan lagi seperti sebelumnya, Dimas perlahan meletakkan telapak tangan kirinya di atas permukaan perut Rin yang terasa kencang, namun tetap mempertahankan posisi wajahnya yang menempel rapat di leher sang ibu demi menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sudah memerah akibat rasa malu.

"Jangan menahan dirimu sendiri. Nikmati saja momen ini, anakku sayang."

Rin kemudian merangkul telapak tangan kirinya di atas tangan Dimas, lalu mulai menggerakkan tangan putranya itu naik dan turun secara perlahan di atas permukaan perutnya yang rata, membiarkan pemuda itu merasakan setiap jengkal kelembutan dari kulit tubuhnya yang halus.

Sembari terus menuntun pergerakan tangan putranya menjelajahi bagian tubuhnya, tangan Rin yang sebelah lagi tetap memegangi kepala Dimas dengan lembut, menjaganya agar tetap berada dekat dengan lehernya dan memastikan agar anak itu tidak bergerak menjauh sedikit pun dari dekapannya.

Tak lama kemudian, tuntunan tangan Rin perlahan mulai mengendur, memberikan kebebasan bagi jari-jemari Dimas untuk mulai bergerak menjelajahi tubuh ibunya secara mandiri, menyentuh, meraba, dan menikmati kelembutan kulit dari wanita paling cantik dan paling wangi yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.

"Ibu..."

"Mhm, ini baru anak manis kesayangan Ibu. Jangan berhenti," bisik Rin dengan nada manja sembari memejamkan mata, menikmati setiap detik dari sentuhan tangan Dimas di tubuhnya. "Sentuhanmu terasa sangat bagus, Dimas. Teruskan saja seperti itu."

Merasa dirinya sudah menjadi jauh lebih rileks dan mulai menemukan rasa percaya diri, Dimas mulai memberanikan diri untuk menggerakkan ujung jari-jemarinya ke arah area bawah dada ibunya, mengusap lembut kulit halus di sana yang seketika kembali memicu sebuah desahan penuh rasa senang dari mulut Rin.

"Ya. Tidak perlu merasa malu atau canggung lagi, anak manis. Usaplah bagian tubuh Ibu yang lembut ini. Remaslah dengan sedikit lebih kuat," bisik Rin tepat di telinga putranya.

Mendengar instruksi langsung tersebut, jari-jemari Dimas perlahan mulai berpindah ke arah dada bagian kanan ibunya yang berukuran besar, lalu mulai meremas tekstur kulit yang lembut di sana persis seperti apa yang diperintahkan kepadanya.

Pada awalnya, ia melakukan gerakan remasan tersebut dengan sangat perlahan dan lembut, namun lama-kelamaan ia mulai memberikan tekanan yang sedikit lebih kuat hingga bentuk dada ibunya tampak sedikit menonjol di sela-sela jarinya.

"Ummmmmh... kamu benar-benar anak yang sangat pintar."

Sensasi dari kelembutan tubuh ibunya benar-benar sukses membuat pikiran Dimas menjadi campur aduk tak karuan, hingga muncul sebuah keinginan kuat di dalam dirinya untuk mengangkat kepala dan melihat langsung bagaimana ekspresi wajah ibunya saat ini.

Namun, ia segera menahan diri dan berusaha menekan keinginan tersebut karena ia merasa tidak akan sanggup jika harus saling bertatapan mata secara langsung dalam situasi seperti ini.

Meskipun demikian, gerakan kecil dari kepalanya yang sempat bergeser ternyata langsung menarik perhatian Rin.

Wanita itu seketika membuka mata lalu tersenyum tipis, langsung menyadari apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh putranya saat ini.

Rin kemudian sedikit mendorong wajah putranya menjauh agar ia bisa melihat ekspresi wajah Dimas yang saat itu sudah memerah hebat bahkan jauh lebih merah daripada sebuah tomat, sebuah pemandangan yang seketika membuat Rin terkekeh geli.

Setelah itu, pandangan mata Rin beralih menatap ke arah Beni yang berada di sisi lain ranjang, lalu memberikan sebuah kedipan mata penuh arti, memberikan isyarat jelas kepada suaminya bahwa ia kini akan segera beralih menuju ke fase kedua dari rencana awal yang sudah mereka sepakati bersama.

Beni memberikan sebuah anggukan kepala kecil sebagai balasan, memberikan tanda bahwa ia menyetujui keputusan istrinya tersebut.

Ketika Rin kembali mengalihkan seluruh perhatiannya kepada sang putra, ia menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata Dimas sembari melemparkan sebuah senyuman manis.

Pada detik berikutnya, dengan gerakan yang tidak terduga, Rin langsung mencengkeram bagian belakang kepala putranya dan dengan cepat menarik wajah pemuda itu hingga kedua belah bibir mereka saling bertumpu satu sama lain.

Dimas seketika terkesiap dalam rasa terkejut yang luar biasa, berpikir bahwa ibunya mungkin saja sudah kehilangan akal sehatnya ketika wanita itu tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman langsung di bibirnya.

Hal ini benar-benar menjadi sebuah rangkaian kejadian yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya, membuat seluruh otot di tubuhnya seketika berubah menjadi kaku dan tegang layaknya sebuah papan di atas tubuh ibunya.

Tepat ketika kesadarannya mulai bisa memproses apa yang sebenarnya sedang terjadi dan ia berniat untuk segera menarik dirinya menjauh dari Rin, kelembutan dan rasa hangat dari ciuman tersebut justru perlahan menahan dirinya untuk tidak bergerak.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel