Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

02. Satu Kamar, Satu Kasur

Setelah penerbangan panjang dan perjalanan dengan taksi, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Hal pertama yang disadari Dimas adalah betapa hangatnya cuaca di sana dibandingkan dengan kampung halamannya.

Ia sudah bisa merasakan kelembapan yang menempel di kulitnya, membuatnya ingin segera melompat ke dalam air laut.

Ketika taksi berhenti di depan lobi utama resor, Beni dan Rin turun lebih dulu, sementara Dimas tetap di dalam, menunggu mereka melakukan check-in. Ia menatap ke luar jendela, mengagumi keindahan hotel tepi pantai tempat mereka akan menginap selama seminggu ke depan.

Sebagian dari dirinya merasa senang karena memiliki kesempatan untuk menikmati tempat seindah ini bersama kedua orang tuanya. Ia sangat tahu bahwa mereka begitu menyayanginya.

Mereka selalu ada untuknya kapan pun ia membutuhkan sesuatu. Hanya merekalah yang cukup peduli untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang konstan kepadanya.

Meski kasih sayang mereka yang berlebihan sering kali membuatnya merasa tertekan, ia tidak ingin membuat ayah dan ibunya sedih dengan bersikap tidak tahu terima kasih.

Lamunan Dimas buyar saat kedua orang tuanya kembali ke taksi.

"Kita sudah selesai *check-in*, Sayang. Ayo ikuti kami!"

"Oke."

Tak lama kemudian, mereka berjalan menuju salah satu lift hotel dan menekan tombol menuju lantai sepuluh. Begitu pintu lift kembali terbuka, keluarga itu melangkah keluar dan menyusuri lorong hingga tiba di depan kamar mereka.

Namun pada saat itu, Dimas menyadari sesuatu.

Mereka hanya memesan satu kamar... dengan satu tempat tidur.

"Ayah, jangan bilang kalau kita semua akan tidur di satu ranjang yang sama?!" tanyanya, menatap sang ayah dengan terkejut.

Namun, sebelum Beni sempat menjawab, Rin langsung menyela.

"Yah, Ibu membuat sedikit kesalahan saat memesan. Sangat sulit mencari kamar kosong untuk satu minggu penuh di musim liburan seperti ini. Tapi kita pasti bisa menyesuaikannya. Lagipula, kita kan keluarga. Benar begitu, Beni?"

"Tentu saja, Rin. Tidak masalah sama sekali. Ranjangnya juga cukup besar untuk tiga orang dewasa. Lagipula, ini cuma untuk satu minggu, jadi semuanya akan baik-baik saja, Nak," Beni ikut menimpali sembari mengacak-acak rambut hitam putranya.

"I-Ibu... Ayah..."

Menyadari betapa tidak nyamannya Dimas dengan ide tersebut, Rin merangkul sebelah lengannya ke bahu putranya.

"Ayolah, Dimas. Tidak akan seburuk itu. Kita hanya tidur di satu ranjang yang sama, kan? Ibu juga dulu sering tidur satu ranjang dengan kakek dan nenekmu sewaktu Ibu masih kecil. Ini tidak ada bedanya. Sekarang, berhentilah khawatir dan cobalah untuk menikmati waktu kita bersama. Oke?" bujuknya lembut.

Setelah terdiam sejenak, Dimas akhirnya menyerah dan menganggukkan kepalanya.

"Anak pintar," puji Rin dengan nada manja, lalu mencondongkan tubuhnya untuk kembali mengecup pipi putranya.

"Ibu, tolong jangan membuat situasi ini menjadi canggung."

"Apa? Memangnya Ibu sudah tidak boleh lagi mencium putra Ibu sendiri?"

"A-Aku tidak pernah bilang begitu."

Segera setelah mereka meletakkan semua barang bawaan di dalam kamar, mereka langsung pergi ke luar untuk menjelajahi pantai indah yang berada tepat di depan hotel. Dimas berjalan lebih dulu, merasa terlalu malu jika terlihat berjalan berdampingan dengan kedua orang tuanya.

Ia sangat tidak suka ketika mereka menunjukkan kasih sayang yang berlebihan kepadanya di tempat umum. Hal itu membuatnya semakin merasa seperti anak kecil yang harus selalu digandeng setiap saat.

Belum lagi dengan pakaian renang ibunya yang sangat terbuka...

Wanita itu mengenakan bikini tali berwarna hitam yang sangat menonjolkan area dadanya yang berisi dari balik bra berbentuk segitiga kecil tersebut. Lekuk tubuh bagian belakangnya yang padat juga terekspos dengan jelas dalam balutan celana bawahannya yang teramat minim.

Tepat ketika Rin meminta Beni untuk mengambil fotonya, Dimas berhenti dan menolehkan kepala. Ia melihat ibunya sedang berpose dengan gaya yang menggoda, mengangkat kedua tangannya ke atas kepala sambil menoleh ke belakang melewati bahu untuk menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sengaja.

Dimas hanya bisa menatap pemandangan itu dengan wajah yang memerah hebat. Jantungnya berdebar jauh lebih kencang dari sebelumnya saat ia terus memperhatikan setiap pergerakan ibunya.

"Dimas, bisa ke sini sebentar dan bergabung dengan Ibu? Ibu ingin berfoto dengan putra kesayangan Ibu," panggil Rin sambil melambaikan tangan ke arahnya.

"Ibu, a-aku merasa tidak nyaman... Semua orang sedang menatap ke arah kita."

"Oh, ayolah! Jangan berlebihan. Kamu akan menyesal suatu hari nanti jika kamu tidak memiliki foto apa pun untuk dikenang dari liburan ini."

"Tapi..."

"Tolonglah! Ibu mohon..."

"Baiklah."

Dimas menghampiri ibunya, merasa sangat sadar diri dengan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Ia menghindari kontak mata dengan siapa pun yang berada di dekat mereka saat berdiri di samping ibunya, berharap sesi foto ini tidak akan memakan waktu lama.

Rin kemudian memeluk putranya, membuat area dadanya yang penuh menekan tubuh pemuda itu. "Sekarang pegang pinggang Ibu dan tersenyumlah ke arah kamera," instruksinya sambil merangkul sebelah tangannya di bahu Dimas, menahan tubuh putranya agar menempel rapat dengannya.

Dimas memaksakan sebuah senyum canggung saat ia meletakkan tangannya yang gemetar di pinggul Rin. Ia berusaha keras untuk tidak berfokus pada betapa lembut dan hangatnya tubuh sang ibu yang bersentuhan dengannya, atau pada aroma tubuh ibunya yang terasa menghipnotis.

Di sisi lain, Rin menyadari betapa tegangnya sang putra. Ia bisa mengetahuinya dari cara tangan Dimas yang gemetar saat menyentuh tubuhnya.

'Jadi dia merasa gugup karena kontak fisik dengan seorang wanita?' batin Rin sementara Beni sibuk mengambil beberapa jepretan foto. 'Dia memang terlalu sensitif.'

"Terima kasih sudah mau menuruti Ibu, Sayang. Kamu boleh pergi sekarang dan jelajahi pantainya kalau kamu mau."

Begitu mendengar kata-kata itu, Dimas langsung berlari menuju air secepat yang ia bisa, meninggalkan kedua orang tuanya di belakang. Sesampainya di air, ia mulai berenang menjauh tanpa sedikit pun menoleh.

Ada banyak wanita cantik di pantai itu, masing-masing mengenakan bikini yang minim persis seperti ibunya. Mereka berlarian dan bermain di atas pasir, memperlihatkan lekuk dada dan ayunan tubuh mereka secara bebas.

Namun, Dimas tidak ingin membiarkan pandangannya berkeliaran. Ia takut orang-orang akan menganggapnya sebagai pria mesum.

Ia berenang sendirian tanpa terlalu memperhatikan hal lain di sekitarnya, membiarkan ombak yang sejuk menyapu bersih semua kekhawatirannya.

Sementara itu, Beni bertanya kepada Rin apakah mereka harus menyusul putra mereka, tetapi sang istri menjawab bahwa lebih baik membiarkan anak mereka sendirian untuk saat ini.

Jadi, Beni hanya berbaring santai menikmati hangatnya sinar matahari sementara istri cantiknya beristirahat di sebelahnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel