Pustaka
Bahasa Indonesia

REINKARNASI DI DUNIA LAIN DENGAN SISTEM MILITER

152.0K · Tamat
Atomic_Tempest
147
Bab
2.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Vincent Strider adalah seorang pembunuh bayaran yang membunuh siapa pun yang diinginkan oleh kliennya. Namun dalam sebuah misi, dia tewas dalam baku tembak yang sengit. Akan tetapi kematian itu bukanlah akhir baginya. Vincent mendapati dirinya bereinkarnasi di dunia lain, dihadapannya terdapat layar sistem yang mengambang dan berkedap-kedip [Sinkronisasi Pemain!][Inisialisasi Sistem Militer]. Sistem yang diterima Vincent memungkinkan dirinya untuk mensummon tentara, tank, pesapesawat terbang, kapal perang dan seluruh perangkat keras dan perangkat lunak militer!

FantasiZaman KunoactionmiliterKekuatan SuperIblis

Bab 1 Reinkarnasi? Tapi Kenapa Aku?...

Hujan turun perlahan di sore itu, membasahi jalanan kota yang mulai lengang. Tetesannya jatuh satu per satu, seperti kenangan yang enggan pergi dari benak seorang pria bernama Raka. Ia berdiri di bawah halte tua yang catnya mulai mengelupas, menatap kosong ke arah jalan yang dulu sering ia lalui bersama seseorang yang kini hanya tinggal bayangan.

Sudah tujuh tahun berlalu sejak hari itu. Hari ketika semuanya berubah tanpa peringatan. Hari ketika tawa berubah menjadi tangis, dan harapan berubah menjadi penyesalan.

Raka masih ingat dengan jelas bagaimana semuanya bermula.

Kala itu, ia hanyalah seorang mahasiswa biasa, hidup sederhana dengan mimpi yang tidak terlalu tinggi. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang gadis bernama Aira, yang datang seperti hujan pertama setelah musim kemarau panjang. Kehadirannya menenangkan, hangat, dan perlahan mengisi ruang kosong dalam hidup Raka.

Aira bukanlah gadis biasa. Ia memiliki cara bicara yang lembut, senyum yang tulus, dan mata yang seolah mampu memahami perasaan orang lain tanpa perlu kata-kata. Mereka bertemu secara tidak sengaja di perpustakaan kampus, ketika Raka menjatuhkan bukunya dan Aira membantu memungutnya.

“Sepertinya kamu sering melamun ya?” tanya Aira sambil tersenyum ringan.

Raka hanya tertawa canggung. “Mungkin… atau mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.”

Sejak saat itu, pertemuan demi pertemuan terjadi seolah tanpa disengaja. Mereka mulai sering bertemu di kantin, di taman kampus, bahkan di halte bus yang sama. Percakapan mereka sederhana, namun selalu terasa berarti.

Hari demi hari, perasaan Raka tumbuh tanpa ia sadari. Ia mulai menunggu kehadiran Aira setiap pagi, merasa gelisah ketika tidak melihatnya, dan merasa dunia menjadi lebih ringan ketika gadis itu berada di dekatnya.

Namun, Raka tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya.

Ia takut.

Takut merusak apa yang sudah ada. Takut kehilangan Aira jika perasaannya tidak berbalas. Ia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri, berharap waktu akan memberikan jawaban.

Hingga suatu hari, Aira datang dengan kabar yang membuat dunia Raka runtuh.

“Aku punya pacar,” ucap Aira dengan nada datar, seolah mencoba menyembunyikan sesuatu.

Raka tersenyum, meski hatinya terasa seperti diremas. “Oh… bagus dong. Aku ikut senang.”

Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia ucapkan.

Sejak saat itu, semuanya berubah. Aira mulai jarang menghabiskan waktu bersama Raka. Ia lebih sering terlihat bersama pria lain yang tampak lebih percaya diri, lebih mapan, dan mungkin… lebih pantas.

Raka hanya bisa melihat dari jauh.

Ia mencoba melupakan, mencoba menjauh, namun setiap langkah terasa berat. Setiap kenangan terus kembali, menghantui pikirannya tanpa henti.

Waktu terus berjalan.

Mereka lulus, berpisah, dan menjalani kehidupan masing-masing. Raka mencoba fokus pada kariernya, bekerja keras, dan perlahan membangun hidup yang stabil. Ia berhasil—setidaknya secara materi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar ia miliki: ketenangan.

Hingga suatu hari, ia menerima kabar yang tidak pernah ia bayangkan.

Aira hamil.

Namun, pria yang menghamilinya justru menghilang tanpa jejak.

Raka tidak tahu harus merasa apa. Marah, sedih, atau justru berharap. Ia merasa dunia kembali mempermainkannya.

Beberapa hari kemudian, tanpa rencana, ia bertemu Aira di tempat yang sama—halte tua itu.

Hujan turun saat itu, sama seperti hari ini.

Aira terlihat berbeda. Wajahnya pucat, matanya lelah, dan senyumnya tidak lagi sehangat dulu. Ia memegang perutnya yang mulai membesar, seolah melindungi sesuatu yang berharga sekaligus rapuh.

Mereka saling diam untuk beberapa saat.

“Aku tidak menyangka akan bertemu kamu lagi,” kata Aira pelan.

Raka mengangguk. “Aku juga.”

Hening kembali menyelimuti mereka.

“Aku… minta maaf,” lanjut Aira, suaranya bergetar. “Aku tahu aku tidak punya hak untuk mengatakan ini, tapi… aku benar-benar minta maaf.”

Raka menatapnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melihat Aira yang dulu—rapuh, jujur, dan penuh emosi.

“Untuk apa?” tanya Raka.

“Untuk semuanya. Untuk menjauh, untuk tidak pernah benar-benar menghargai kamu… dan untuk memilih orang yang salah.”

Raka menghela napas panjang. Hatinya terasa berat, namun juga anehnya tenang.

“Aku tidak pernah menyalahkan kamu,” jawabnya. “Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.”

Aira menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Aku sendirian sekarang,” bisiknya. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Kata-kata itu menggantung di udara, membawa beban yang begitu besar.

Raka terdiam.

Di dalam dirinya, terjadi pertarungan yang tidak terlihat. Antara logika dan perasaan, antara masa lalu dan masa depan.

Ia tahu bahwa langkah yang akan ia ambil akan mengubah segalanya.

“Aira,” katanya akhirnya.

Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Raka dengan harapan yang samar.

“Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar,” lanjut Raka. “Tapi… aku tidak ingin melihat kamu sendirian.”

Aira terkejut.

“Aku mungkin tidak sempurna. Aku juga tidak tahu bagaimana menjadi seseorang yang kamu butuhkan. Tapi… jika kamu mau, aku akan mencoba.”

Air mata Aira mengalir lebih deras.

“Kenapa?” tanyanya. “Setelah semua yang terjadi… kenapa kamu masih mau?”

Raka tersenyum tipis. Senyum yang penuh luka, namun juga ketulusan.

“Karena dari dulu… aku tidak pernah benar-benar berhenti.”

Hujan semakin deras saat itu, seolah menjadi saksi dari keputusan yang lahir dari luka dan harapan.

Namun, hidup tidak selalu berjalan seperti yang diinginkan.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Aira menghilang.

Tanpa kabar. Tanpa jejak.

Nomornya tidak aktif, alamatnya kosong, dan tidak ada satu pun orang yang tahu ke mana ia pergi.

Raka kembali sendirian.

Ia mencari, mencoba menemukan, namun hasilnya nihil. Seolah Aira benar-benar lenyap dari dunia ini.

Dan sejak saat itu, Raka selalu kembali ke halte tua ini setiap kali hujan turun.

Bukan karena ia yakin Aira akan kembali.

Tapi karena di tempat ini, ia merasa paling dekat dengan kenangan yang pernah ia miliki.

Sore itu, hujan mulai reda.

Raka melangkah keluar dari halte, menatap langit yang perlahan cerah. Ia tahu, tidak semua cerita memiliki akhir yang jelas. Tidak semua cinta berujung bahagia.

Namun, ia juga tahu satu hal.

Bahwa beberapa orang datang bukan untuk tinggal selamanya.

Melainkan untuk mengajarkan arti kehilangan, keikhlasan, dan… cinta yang tidak pernah benar-benar selesai.

Raka tersenyum pelan, lalu berjalan pergi.

Dan di balik rintik hujan yang tersisa, kenangan itu tetap hidup—diam, namun abadi.