Bab 2. Malam panas
“Kak Risha, kau juga di sini?” tanya Letha saat ia baru saja tiba.
“Tentu saja. Aku juga anaknya daddy, dan beliau mengatakan agar kita menunggu di sini,” jawab Risha cepat.
“Oh, begitu?” Dengan polosnya Letha percaya. Perempuan itu kemudian duduk di samping Risha.
“Agar tidak bosan menunggu, aku sengaja membawa makanan dari ballroom. Apa kau mau?” Risha mengambil sebuah cake coklat di atas meja, lalu menyerahkannya kepada Letha, tapi Letha tak menerimanya begitu saja dan malah menatap kakaknya dengan dalam. Sehingga membuat Risha tersinggung.
“Apa kau pikir aku menaruh racun di dalamnya?” Risha mendengus kesal, lalu tanpa aba-aba ia memakan cake tersebut. “Lihat, jika aku menaruhnya, maka aku sudah mati sekarang!” Perempuan itu berbicara dengan mulut yang penuh.
Letha diam, memperhatikan, dan pada akhirnya merasa yakin jika Risha tak menaruh apapun di dalamnya. “Baiklah, terima kasih,” ucapnya seraya mengambil satu cake vanila.
Perempuan itu memakannya tanpa rasa curiga, sedangkan Risha dan Rasya tampak saling lirik sambil melempar senyum penuh arti. Entah apa maksudnya, tapi setelah memakan cake tersebut, mendadak Letha merasa tak nyaman.
“Kenapa daddy lama sekali?” Letha mengeluh saat tubuhnya semakin gelisah. Buliran keringat bahkan sudah muncul di keningnya–menandakan jika sebuah obat yang sejujurnya Risha simpan pada cake yang Letha makan tengah bekerja.
“Aku tidak tahu, tapi aku akan mencoba menghubunginya.” Rasya mengambil ponsel dari tasnya lalu berpura-pura menghubungi Rafqi.
“Oh, shit! Aku salah tanggap,” keluh Rasya setelah menyimpan ponselnya kembali.
“Apa maksudmu?” Dengan alami Risha ikut berakting dalam sandiwara yang Rasya mainkan.
“Daddy sudah menunggu kita di kamar. Sepertinya daddy kelelahan karena sebelumnya baru saja pulang dari luar kota!”
“Oh astaga, malang sekali beliau. Kalau begitu kita ke sana sekarang!” cetus Risha kemudian menoleh ke arah Letha yang tidak terlalu fokus karena efek obat yang dikonsumsinya mulai mengambil alih kesadarannya. “Letha, kau bisa berjalan sendiri?”
“Hemm,” sahut Letha sambil mengibas-ngibas tangan–berharap bisa mengurangi rasa gerah yang semakin menjadi.
“Kalau begitu ayo kita pergi!”
Dengan jalan yang sedikit sempoyongan, Letha mengikuti kedua saudaranya keluar dari tempat pesta menuju kamar yang dimaksud. Tapi kamar itu bukanlah kamar yang tengah ditempati oleh Rafqi. Melainkan kamar seorang pria yang memesan wanita penghibur lewat kenalan Risha, tanpa tahu identitas dari pria tersebut adalah Jaden–anak pertama dari keluarga Hazard!
“Letha, nikmatilah malam ini dengan bersenang-senang!” cetus Risha mendorong Letha untuk masuk ke sebuah kamar lalu menutupnya.
“Oh, indah sekali malam ini. Tidak hanya membuat perempuan kampungan itu menderita, tapi kita juga dapat uang!” Rasya berseloroh sambil tertawa puas tatkala pikirannya membayangkan apa yang akan dialami Letha di dalam sana.
Risha tersenyum miring lalu merangkul Rasya. “Sekarang kita bisa menikmati pesta dengan mencari seorang pria seperti yang mommy inginkan!”
Keduanya pergi dari sana menuju ballroom kembali, meninggalkan Letha yang kini tampak berusaha keluar dari kamar.
“Mau pergi ke mana, kau?” Suara berat yang terdengar sedikit serak itu terdengar datar dari belakang tubuh Letha.
Sontak Letha berbalik dan mendapati seorang pria tinggi tegap dengan wajah tampan tengah berdiri, menatap Letha.
Matanya yang hitam kelam menatap Letha dengan tajam.
Glek!
Untuk beberapa saat, Letha terkesiap dengan hal itu. Tapi kemudian obat yang tanpa sengaja Letha makan kembali mengambil alih kesadarannya, terlebih ketika pandangan Letha jatuh pada dada bidang Jaden yang terekspos–tampak seksi dan membuat gairah Letha semakin menjadi.
“Tuan ….” Suara Letha lembut, memanggil pria yang tak ia kenali dengan manja.
Perlahan dengan gerakan yang gelisah, Letha mendekat lalu berhenti tepat di depan Jaden. Letha lantas menaruh kedua tangannya pada kedua pundak Jaden yang kokoh lalu berjinjit.
Cup!
Tanpa peringatan, Letha langsung mencium Jaden. Memainkannya dengan gerakan yang tak beraturan karena ini merupakan hal pertama baginya. Letha, hanya mengikuti naluri dan keinginannya untuk mendapat kepuasan.
Namun, hal itu justru mengundang murka Jaden. Dengan kasar, Jaden yang semula diam langsung mendorong Letha hingga membuat Letha mundur dan punggungnya menghantam daun pintu dengan keras.
“Berani-beraninya kau menciumku!” hardik Jaden menatap Letha dengan nyalang.
“Ssst ….” Untuk beberapa saat Letha meringis–merasakan sakit pada punggungnya. Tapi seolah tak jera dengan perlakuan kasar Jaden, Letha kembali menegakkan tubuh lalu melangkah mendekat.
“Tuan, kenapa kau mendorongku?”
Senyum menggoda Letha tampilkan di wajahnya yang imut. Sehingga tampak menggemaskan, meski Jaden sama sekali tidak terpengaruh.
Pria itu masih menatap Letha dengan tajam, lalu menyunggingkan senyum miring. “Tentu saja karena kau lancang! Sebelumnya, aku sudah meminta untuk tidak berciuman.”
Letha menyerngit, merasa tak ingat dengan hal itu. Sementara Jaden sendiri mengira jika Letha adalah wanita yang ia pesan dari seorang mucikari untuk memuaskan kebutuhan biologisnya.
Iya, ketika Jaden merasa kepalanya penuh, maka pria itu akan meminta anak buahnya untuk memesankan seorang wanita bayaran. Tentu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi, termasuk … tidak berciuman.
Jaden hanya akan meminta ‘teman malamnya’ untuk melayani dan membuatnya tiba di puncak tanpa permainan panas!
Tidak mempedulikan teman malamnya yang membutuhkan ‘balasan’ karena Jaden sudah membayarnya mahal.
Namun kini, di hadapannya berdiri seorang wanita muda yang menatap Jaden dengan nakal. Menggodanya, bahkan berani menciumnya!
“Apa yang kau katakan, Tuan? Sebaiknya sekarang kita lakukan, aku sudah tidak tahan.” Malam ini, Letha kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Perempuan itu benar-benar bersikap semaunya untuk mencapai kepuasan dengan menyerang Jaden. Dan anehnya, Jaden yang semula menolak, justru mulai ikut hanyut dalam permainan.
“Aku tidak tahu Max memesanmu di mana, tapi kau berbeda,” ucap Jaden ketika Letha menyentuh lembut dadanya, hingga mengantarkan sebuah getaran pada dirinya.
“Kenapa kau begitu banyak bicara, Tuan? Aku tidak menyukainya,” balas Letha kemudian kembali melumat bibir Jaden dengan gerakan tak beraturan.
“Jadi kau lebih menyukai aksi?” Jaden menyeringai, menatap Letha dengan penuh hasrat.
Pria itu membasahi bibir, sebelum akhirnya membalas serangan Letha.
“Ciumanmu buruk sekali. Aku akan mengajarimu dengan cara yang benar ….” Jaden tak lagi peduli dengan prinsipnya yang tak ingin berciuman. Pria itu bahkan kini ‘Mengajari’ Letha cara berciuman yang benar. Sehingga membuat Letha mabuk kepayang.
“Tuan, coba sentuh yang ini.” Di sela tengah desah yang keluar dari mulutnya, Letha menuntun tangan Jaden untuk menyentuh area terlarangnya.
Tak menolak, Jaden benar-benar menurut–seolah terhipnotis oleh kecantikan dan kepolosan yang Letha tampilkan. Hingga tanpa sadar mereka semakin terbuai dan menghabiskan malam dengan saling memberi dan menerima kepuasaan.
“Ini luar biasa ….”
