Pustaka
Bahasa Indonesia

Pria Paling Sweet

84.0K · Tamat
Romansa Universe
82
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Pria Paling Sweet Seorang lelaki mengguna-guna Karenina. Itu setelah dia memaki Lelaki Buaya Darat yang memintanya jadi kekasih. “Lebih baik menikah dengan tembok, daripada menikahimu,” cetus Karenina. Lelaki yang sakit hati pun pergi ke dukun sakti mandraguna, yang bahkan bisa mengguna-gunai hanya dengan memperlihatkan foto Karenina. Bayarnya pun COD, setelah guna-guna sampai. Singkat cerita, Karenina akhirnya pulang ke kota asalnya, setelah diterima sebagai guru di sebuah sekolah. Dan di situlah guna-gunanya bekerja. Karenina menyukai tembok belakang sekolah, yang memiliki sedikit celah, untuk-untuk anak-anak badung bolos sekolah. Hasratnya muncul, setiap melihat tembok.Gara-gara sering memandang tembok, seorang anak yang sering bolos kerap mengamatinya. Pemuda itu jatuh cinta pada Karenina.Pada saat yang sama, seorang psikolog juga berusaha menyelamatkan Karenina. Dan lelaki yang mengguna-gunai Karenina merasa kasihan. Dia berjanji melepas guna-guna, jika Karenina menikah dengannya.

Romansa

Bab 1 Memilih Tembok, Ketimbang Tokek Buntung

Bab 1 Memilih Tembok, Ketimbang Tokek Buntung

"Nina! Sayang!" pekik Gusso.

Lelaki dengan tubuh jangkung ini terus mengejar Karenina, yang selalu menghindarinya. Tapaknya berusaha menyamai perempuan di depanya.

Karenina, dengan panggilan Nina, itu pun tak kalah gesit dalam menghindari Gusso. Muak dia dengan Si Lelaki Ulat Cabe, yang selalu mengejar-ngejar dirinya.

“Pergi kau Buaya Darat, Tokek Buntung, Playboy Cap Kapal Karam!” Semua cacian dikeluarkan Karenina.

Kesal ia. Gusso selalu mengusiknya, lengkap dengan seribu bujuk rayu busuk dalam setiap ucapannya.

"Nina kenapa kau begitu sulit untukku gapai, hm. Aku ini kurang apa di matamu? Ganteng, kaya, badanku juga kekar. Apa yang menjadi kurangku, Sayang?" ucap Gusso mulai memelankan langkahnya ketika wanita yang ia kejar berhenti perlahan-lahan.

Karenina yang notabene bukan seorang pelari, menjadikannya kelelahan saat ini dan memilih untuk menghadapi Gusso dengan kepala dingin. Sorotnya mulai sebeku es di Kutub Utara.

Wanita itu berhenti di tengah jalanan yang sepi. Dia membalikkan badan, menghadap laki-laki yang membuatnya terpaksa mandi keringat sore ini.

"Saya mohon berhentilah meminta saya untuk menjadi pacarmu atau bahkan menjadi istri kamu,” pinta Karenina.

Gusso terdiam. Sedari kuliah, hingga sekarang Nina wisuda, dan sebentar lagi ke kota asalnya, karena diterima menjadi guru di sana, Gusso sangat cinta. Semua tentang Karenina menarik baginya.

“Kenapa? Apa karena aku playboy?” tanya Gusso enteng.

“Ya! Saya tidak menyukaimu. Kamu bukan lelaki setia, saya sangat tidak menyukai laki-laki buaya darat seperti kamu! Jadi berhentilah mengejar-ngejar saya, karena saya benar-benar tidak menyukaimu!" imbuhnya panjang lebar.

Wajahnya menunjukkan rasa kesal luar biasa namun ditahannya. Karenina mengetahui betul tabiat lelaki di hadapannya, sangat batu dan tidak tau malu!

Bukan cemburu, hanya saja Nina merasa risih dengan segala bujuk rayu pria di hadapannya yang telah tujuh kali mendapat tolakan darinya itu.

Ya, itu tidak salah. Gusso memang sulit sekali menyerah untuk mendapatkan dirinya. Bahkan, baru saja permintaan yang ketujuh kali itu Nina tolak, dengan alasan yang sama. Gusso si cowok sok tampan dengan rayuan gombalannya yang menjijikan.

Gusso mengangkat seringaian yang lambat laun semakin melebar. Dia membuka mulut terlihat sedikit takjub, tapi begitu menjijikan di mata Nina.

Kelereng jalang khas dari Gusso kembali menatap Nina. Dia tertawa terbahak-bahak.

"Jadi, kau cemburu, sayang? Kamu cemburu, jika aku bersama gadis lain, begitu kan? Oke! Aku akan berubah, demi kamu!" tanya Gusso dengan nada yang membuat bulu leher Nina merinding.

Gusso tiba-tiba menunjukkan gelagat seakan ingin memeluk Karenina. Ini membuat Nina sontak berlari sekuat tenaga.

Dia berusaha menghindari pria berwajah sedikit tirus, yang memiliki tatapan setan. Dia merasa, Gusso seakan ingin melahapnya hidup-hidup tersebut.

"Nina, aku mencintaimu sayangku. Kembalilah pada pangeranmu ini.”

Pangeran taik! Batin Karenina. Hendak dia lontarkan cacian itu, tapi dia berusaha tahan. Lagipula, akan sangat tak pantas. Masak, seorang alumni fakultas keguruan berkata demikian.

“Pergilah, Gusso! Aku tak hendak bertengkar denganmu!”

“Oh, ayolah! Aku buaya darat, tapi aku ingin berubah. Apa tidak berlebihan, Nina, jika kamu menolak?”

“Gusso! Pergi sekarang!” Karenina naik pitam.

“Aku melamarmu, Nina. Sebagai istri. Bukan pacar!

Nina kehilangan kata-kata. Semuanya menguap, karena aksi Gusso yang luar biasa.

“Aku jamin hidupmu bahagia sentosa bersamaku, wahai dewi!" ujar Gusso berpuitis dengan nada tidak alami apalagi raut wajah yang begitu terlalu di buat dramatisir.

“Namaku Karenina, bukan Dewi! Itu nama kakak sepupuku,” teriak Nina sekuatnya.

Nina tersengal-sengal, tapi tetap berusaha berlari, sesekali dirinya menengok ke belakang memantau Gusso yang ternyata tak kalah cepat darinya. Gusso semakin menggebu mengejar Karenina.

"Sial! Itu laki apa setan sih, larinya kencang banget," umpat Nina.

"Nina, cuma kamu wanita satu-satunya dalam hatiku selama ini. Cuma kamu, sayangku" ucap Gusso berusaha meyakinkan. Nadanya mulai bergumul dengan napas ngos-ngosan. Gusso memang berbadan besar namun tenaganya ternyata begitu payah.

Nina mengabaikan segala ucapan yang keluar dari mulut manis Gusso. Dia terus berlari dan Gusso juga terus mengejarnya dengan menggebu.

Sedikit lagi. Sedikit lagi jari-jari kekarnya menggapai lengan Nina, yang sesekali juga berayun guna menambah kecepatannya. Namun sayang, Nina harus mengaku kalah karena Gusso berhasil meraih lengannya.

Gusso tak melepaskan kesempatan. Dengan kurang ajarnya, dia pun menarik lengan Nina dan mengambil wanita itu ke dalam pelukannya.

Nina tersentak. Lalu dengan refleks mendorong tubuh Gusso. Dia menampar buaya darat itu begitu keras.

PLAK!!!

Hening. Nina diam dengan kesadaran yang sempat melayang, tapi sedikit demi sedikit mulai kembali berkumpul.

Sama seperti halnya Gusso, Karenina pun merasa tenaganya sudah terkuras habis. Dengan napas tersengal-sengal iris cokelat gelapnya menatap Gusso tajam penuh amarah.

Sedangkan Gusso merasakan sebelah kiri wajahnya sedikit kibas. Sialnya lagi, bagian bibir sedikit nyeri. Hawa panas dalam dirinya pun terus mengalir.

Ia menyentuh sudut bibir yang sudah berdarah, karena tamparan keras perempuan di hadapannya. Gusso mengepulkan napasnya, memutar kepala menatap perempuan di hadapannya garang.

"Karenina, tamparan ini adalah sentuhan pertama kamu buat aku?" ucap Gusso masih sempat menggodanya.

Namun, tatapannya terasa seperti sedang menguliti Karenina saat ini. Membuat wanita itu merasa sedikit di selubungi rasa takut.

Akan tetapi, Karenina merasa tak habis pikir, laki-laki yang sudah ia pecundangi ini masih sempat bersikap seperti itu padanya?

"Nina aku benar-benar mencintaimu" Gusso mengambil tubuh Nina, berniat memeluknya

Namun sekali lagi, wanita itu mendorongnya kuat. BRUK!

Gusso terjatuh, kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Giginya saling bergemelutuk kasar menciptakan sensasi ngilu yang begitu menakutkan.

“Kamu tahu, kenapa aku segila ini, Karenina? Kamu sudah mau pulang ke kotamu, sementara hubungan kita hanya jalan di tempat.”

“Kita tidak punya hubungan apa-apa, Gusso. Kamu ingat itu!”

“Aku mencintaimu, bahkan ketika kita beda fakultas, aku sering pergi ke kampusmu. Hanya untuk melihatmu!”

“Berhenti mendongeng!” teriak Karenina. “kamu ke kampusku, bukan untuk melihatku, tapi cari mangsa cewek baru!”

“Diam! Kamu tak tahu, bagaimana rasanya ditolak tujuh kali? Itu menyakitkan, Karenina!”

Karenina menelan salivanya begitu kuat. Menahan rasa takut yang kali ini berhasil menyelubunginya.

Tatapan jahil Gusso yang berubah menjadi tatapan devil yang membuat tubuh Karenina sedikit bergemetar. Lelaki ini mendekat, dan Karenina mundur dua langkah.

Akan tetapi, bagi Karenina hal itu belum cukup untuk memberi Gusso peringatan. Tindakan kurang ajar Gusso, membuat emosi Karenina yang terlanjur menguar.

Ini membuat wanita itu mengeluarkan kalimat. Sebuah lisan yang akan sukses membuat laki-laki di hadapannya itu marah bukan kepalang.

"Saya tidak mau menikah dengan kamu! Kamu bukan laki-laki idaman saya, jadi berhentilah. Bagi saya, lebih baik menikah dengan tembok, ketimbang laki-laki seburuk dirimu, Gusso!"

CUIH!!!

Lagi, emosi Nina benar-benar menggebu. Membuat wanita cantik itu meludahi wajah Gusso, dibarengi sedikit pekikan yang timbul dari emosinya yang terlanjur menguar.

Gusso tersentak. Tangannya mengepal. Perasaanya dipenuhi Dendam.