Masalah
Malam, pukul sepuluh.
“Kakak Jen, ini sudah malam. Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi di hari lain?” ucap Brian Won dengan nada menyedihkan.
Sepertinya ia benar-benar kelelahan setelah harus belajar bersama Jeni Yan mengenai akal sehat orang biasa.
Jeni Yan menatap Brian Won dengan ekspresi aneh.
“Aku pernah mendengar kabar bahwa kamu sanggup berperang selama satu minggu penuh tanpa istirahat yang cukup. Tapi kenapa kamu malah tidak sanggup melakukan hal sesepele ini?” tanyanya dengan nada ragu.
Brian Won membeku. Ia menunduk, terlihat bingung dengan keadaannya sendiri.
“Hah, baiklah kalau begitu. Memang sekarang sudah malam, jadi kita akan melanjutkan pembelajaran ini kapan-kapan saja. Oh ya, Brian, kamu pasti sudah mengerti sedikit mengenai akal sehat orang biasa, kan?” tanya Jeni Yan dengan ekspresi penasaran.
Brian Won mengangguk ragu.
“Aku paham, Kakak Jen. Intinya aku tidak boleh melakukan tindakan mencolok seperti tadi siang.”
Jeni Yan mengangguk dengan ekspresi lega.
“Baguslah kalau kamu mengerti. Lalu, Brian, apa kamu mau menginap malam ini?”
Brian Won langsung menggeleng cepat.
“Tidak bisa, Kakak Jeni. Aku harus segera kembali ke rumah besar keluarga Wan. Selain itu, aku khawatir dengan keadaan Vivian. Entah kenapa aku tiba-tiba memiliki firasat buruk tentang gadis itu,” jelasnya dengan nada serius.
“...”
Jeni Yan membeku.
Ia lalu mengangguk dan berpesan dengan nada serius,
“Brian, sebaiknya kamu segera menghubungi rumah besar keluarga Wan. Aku takut firasat burukmu ini muncul karena memang gadis bernama Vivian itu sedang berada dalam masalah.”
“Baik, Kakak Jen. Aku akan pergi sekarang.”
Brian Won langsung berlari keluar dari apartemen Jeni Yan.
Ia tiba di area parkir dan segera menelepon Janang.
Sebenarnya, sejak pagi saat Brian Won berangkat, ia sudah meminta nomor pribadi Janang untuk berjaga-jaga. Ia tidak menyangka nomor itu akan langsung berguna sekarang.
“Halo? Janang?” tanya Brian begitu panggilan tersambung, dengan nada ragu.
“Suara ini… mungkinkah Tuan Brian?” tanya Janang di seberang telepon.
“Ya, ini aku. Janang, apa Vivian sudah kembali ke rumah hari ini?” tanya Brian Won dengan nada serius.
“Belum. Saya kira Nona kecil sedang bersama Anda, Tuan.”
“Tidak. Aku tidak bersama Vivian sekarang,” jawab Brian Won dengan nada tegas.
“Hah?! Lalu… di mana Nona kecil sekarang?” tanya Janang dengan nada gugup.
“Aku tidak tahu,” jawab Brian Won datar.
“....”
Janang langsung membeku.
Dari suara napas berat yang terdengar dari ponsel, Brian Won bisa menebak bahwa Janang mulai panik.
“Tenangkan dirimu. Janang, aku butuh nomor ponsel Vivian. Cepat kirimkan padaku!” kata Brian Won dengan nada serius.
Janang terkejut dan segera mengirimkan nomor ponsel Vivian.
Namun karena masih panik, tanpa sadar ia mengirimkan dua nomor.
Satu adalah nomor ponsel Vivian, sementara yang satu lagi adalah nomor Yim Shu, sahabat Vivian.
Brian Won langsung menyalin nomor Vivian dan membuka sebuah situs web yang terlihat sangat futuristik.
(Silakan masukkan ID dan Password)
Tulisan itu memenuhi layar ponsel.
Brian Won melepas kalung di lehernya dan mengetikkan ID serta kata sandi yang terukir di balik kalung tersebut.
(Identitas Dewa Perang Kecil telah diterima. Silakan tentukan tugas yang dapat saya bantu...)
Brian Won mengetik cepat. Beberapa saat kemudian, ia memasuki menu pelacakan.
Ia memasukkan nomor Vivian dan menekan tombol enter.
Layar menampilkan animasi pemuatan selama tiga detik, sebelum akhirnya sebuah peta digital terbuka.
Begitu melihat lokasi titik merah di peta, ekspresi Brian Won langsung berubah.
“Bukankah ini daerah kumuh? Tidak mungkin wanita seperti Vivian mau datang ke tempat seperti itu. Pasti sudah terjadi sesuatu. Aku harus segera ke sana!”
Dengan tegas, Brian Won masuk ke dalam mobil dan mulai menyetir dengan kecepatan tinggi.
Lamborghini Aventador meluncur keluar dari area parkir apartemen dan melesat di jalanan Kota Bunga.
Brian Won terus menekan pedal gas hingga kecepatan mobil menembus 350 kilometer per jam—kecepatan ekstrem yang seharusnya hanya digunakan di lintasan balap.
Namun Brian Won tidak peduli. Ia harus segera tiba di pemukiman kumuh itu.
---
Meski Kota Bunga tampak sangat maju dan modern, kenyataannya kota itu tetap memiliki wilayah kumuh, seperti kota-kota di negara miskin.
Di kawasan kumuh tersebut berdiri sebuah pabrik tua yang telah lama ditinggalkan.
Di sekitar bangunan itu, puluhan preman berjaga. Ekspresi mereka waspada, seolah sedang mengawasi sesuatu.
Sementara itu, di dalam pabrik, sekelompok preman berdiri membentuk lingkaran.
Di tengah lingkaran tersebut, terlihat Vivian dan Yim Shu yang ketakutan setengah mati.
“Hehehe, Bos… bolehkah aku mencicipi gadis ini lebih dulu?” tanya salah satu preman dengan ekspresi mesum.
Slurp!
Ia menjilat bibirnya dan menatap tubuh Yim Shu dengan rakus.
Bos preman bertubuh kekar dengan wajah penuh aura kriminal menatap dingin ke arahnya.
“Katakan itu sekali lagi, dan aku akan memotong tubuhmu lalu melemparkannya pada anjing liar di luar,” ucapnya dingin.
Gulp…
Preman itu langsung terdiam, tak berani lagi menatap Vivian maupun Yim Shu.
“Kalian! Apa tujuan kalian menculik kami?!” bentak Vivian dengan suara tinggi.
“Tenang saja. Kami tidak berniat buruk. Kami hanya ingin mendapatkan uang dengan cara mengancam keluarga kalian,” jawab sang bos sambil mengangkat kedua tangannya.
“...”
Vivian dan Yim Shu membeku.
Tidak berniat buruk?
Namun, keduanya sedikit lega. Awalnya mereka takut akan disakiti, tetapi tampaknya orang-orang ini hanya mengincar uang.
“Kalau kalian hanya menginginkan uang, lepaskan kami! Kami akan memberi kalian sebanyak yang kalian mau!” ucap Yim Shu cepat.
“???”
Bos preman terkejut.
“Kalian punya uang?” tanyanya ragu.
Vivian dan Yim Shu mengangguk tegas.
Wajah bos preman berubah.
“Siapa nama kalian?” tanyanya dengan suara berat.
“Aku Vivian, dan ini sahabatku, Yim Shu,” jawab Vivian percaya diri.
“...”
Bos preman membeku.
Ia menatap Vivian dengan serius.
“Vivian… apa kamu putri keluarga Wan?”
Vivian mengangguk dengan angkuh.
“Kalau kamu sudah tahu, lepaskan kami! Kalau tidak, kalian tidak akan sanggup menanggung akibatnya!”
Yim Shu hendak menyela, namun gagal.
“Vivi, lebih baik diam. Perhatikan ekspresinya,” bisik Yim Shu gugup.
Vivian menoleh dan terdiam saat melihat wajah bos preman yang dipenuhi amarah.
“Huh! Jadi kamu benar-benar putri orang itu. Aku benar-benar beruntung,” ucapnya santai.
“Duduklah, biar aku ceritakan sesuatu.”
Ia berjongkok di depan mereka.
“Setahun lalu, ada seorang pengusaha sukses dengan aset seratus juta. Ia hidup bahagia bersama istri dan dua putrinya. Namun semuanya berubah ketika korupsi lamanya dilaporkan oleh seorang miliarder kaya raya—ayahmu.
Sejak itu hidupku hancur. Asetku lenyap, hutang menumpuk. Aku jatuh dan terpaksa menjadi penjahat. Penculikan, pembunuhan—semuanya sudah kulakukan.
Hanya satu hal yang belum… tapi malam ini akan menjadi yang pertama.”
Ia menatap Vivian dengan mata gelap.
“Pengusaha itu adalah aku. Dan orang yang menghancurkan hidupku adalah ayahmu!”
Vivian gemetar.
“Kamu… kamu…”
Yim Shu menunduk pasrah, berdoa dalam hati.
Bos preman berdiri dan melangkah mundur perlahan.
“Kalian semua… nikmatilah malam ini. Aku tidak akan melarang lagi.”
“Benarkah?” tanya salah satu preman dengan gemetar.
Bos preman mengangguk dingin.
“Pergilah. Mereka masih perawan. Siapa cepat, dia dapat darah pertama.”
Air mata mengalir di wajah Vivian dan Yim Shu.
Melihat puluhan preman mendekat dengan rakus, hati mereka seperti jatuh ke jurang terdalam.
‘Kakak Juna… tolong aku…’
Duar!!
---
