Bunuh
Bruak!
Brian Won dilemparkan oleh petugas kereta cepat ke dalam sebuah ruangan yang sangat sempit. Ruangan itu berukuran satu kali satu meter dan sudah terasa sesak meskipun baru dimasuki oleh satu orang.
"…"
Brian Won terlihat tenang tanpa banyak bereaksi. Ia menatap petugas kereta cepat yang telah melemparkannya dengan tatapan datar, lalu berkata,
"Di mana dua pemuda itu?" tanya Brian Won dengan nada tenang.
"Huh! Mereka berdua adalah keponakan bos kami. Kamu telah membuat kesalahan besar dengan membuat mereka marah," ucap petugas kereta itu dengan nada dingin.
Mendengar penjelasan tersebut, Brian Won mulai merasa kesal.
Ia mengulurkan tangan dan mencengkeram gagang pintu dengan kuat.
"Hem? Apa yang mau kamu lakukan?" tanya petugas kereta itu dengan ekspresi dan nada aneh.
Krak!
Saat petugas kereta cepat itu mulai kebingungan, suara retakan keras tiba-tiba terdengar.
Petugas itu terkejut dan menatap pintu dengan ekspresi tidak percaya.
"Ini… bagaimana mungkin?!" ucapnya dengan nada terkejut.
Ia melihat gagang pintu yang kini rusak akibat cengkeraman tangan Brian Won.
Bruak!
Brian Won membuka pintu dan berjalan keluar dengan ekspresi tenang.
Ia menatap petugas kereta cepat itu dengan santai dan berkata,
"Di mana dua pemuda itu sekarang? Oh ya, katakan juga di mana bosmu berada saat ini."
"Anu… itu… mereka sedang berada di gerbong depan. A-apa yang mau kamu lakukan?" ucap petugas kereta cepat itu dengan nada gugup.
"Bukankah sudah jelas? Aku akan pergi membersihkan sampah negara," balas Brian Won dengan nada santai.
Brian Won berjalan melewati petugas kereta cepat itu dengan tenang.
Petugas kereta cepat tidak bereaksi sampai Brian Won benar-benar menghilang dari pandangannya.
---
Di salah satu gerbong, dua pemuda yang bermasalah dengan Brian Won sedang duduk panik di sofa yang tampak mahal.
"Paman, paman harus membalaskan dendam kami!" ucap pemuda berkacamata hitam dengan nada kesal.
Penampilannya terlihat aneh, dengan tangan dan kaki bengkok ke berbagai arah.
Pria paruh baya bertubuh gendut itu tampak gugup sambil menatap dua keponakannya dengan khawatir.
"Kalian berdua harus tenang. Aku sudah menyuruh bawahanku untuk menghajar orang yang membuat kalian menjadi seperti ini," jawab pria itu dengan nada serius.
"Huh! Jangan hanya dihajar! Kami ingin orang itu menjadi cacat seumur hidup dan tidak bisa dipulihkan lagi!" kata pemuda bertahi lalat hitam dengan ekspresi penuh kebencian.
Pria paruh baya gendut itu mengangguk beberapa kali dengan ekspresi serius.
"Tentu saja. Aku akan membuat pemuda itu menjadi seperti yang kalian inginkan. Kalian tunggu saja kabar baik dariku."
"He he… menarik. Kalian ingin aku menjadi cacat? Kalau begitu, coba lakukan sekarang."
"Aku tidak akan banyak melawan, jadi tenang saja."
Suara menggoda Brian Won tiba-tiba terdengar.
Pria paruh baya gendut dan dua pemuda itu tertegun.
Mereka bertiga menoleh perlahan dan melihat Brian Won berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan ekspresi main-main.
"Kamu… bagaimana bisa kamu datang kemari?!" teriak pria paruh baya gendut itu dengan nada terkejut.
"He he, jangan pikir kamu bisa mengurungku dengan cara seperti itu. Tahukah kamu? Aku pernah ditangkap oleh salah satu negara superpower dan berhasil keluar dengan mudah dari penjara terbaik yang mereka miliki."
"Hanya kurungan di kereta cepat belaka, mustahil bisa mengurungku lama-lama," jelas Brian Won dengan nada santai.
Pria paruh baya gendut dan dua pemuda itu tentu saja tidak percaya.
Mereka bertiga tertawa dan mulai mengejek Brian Won tanpa ampun.
Brian Won hanya tersenyum tipis saat mendengar ejekan mereka.
Setelah cukup lama membiarkan mereka tertawa, ia akhirnya berbicara dengan nada santai.
"Kalian bertiga, apa kalian tidak ingin meminta maaf padaku?" ucap Brian Won pelan.
Pria paruh baya gendut itu sedikit terkejut, lalu menatap Brian dengan ekspresi mengejek.
"Minta maaf? Seharusnya kamu yang melakukannya, bocah! Cepat kembalikan keponakanku seperti semula."
"Jika kamu menolak, aku tidak akan ragu memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian!" ancamnya dengan nada dingin.
Brian Won terdiam.
Ia menunduk, lalu menyeringai kejam beberapa saat kemudian.
"Kalau begitu, kalian bertiga memang sampah yang perlu aku hilangkan dari muka bumi," ucap Brian Won dengan tenang.
"…"
Kali ini pria paruh baya gendut itu benar-benar terkejut.
Ekspresinya menjadi serius saat menatap Brian Won dengan curiga.
Sebelum ia sempat berbicara, Brian Won tiba-tiba menghilang dan muncul di belakangnya.
"Apa?! Sejak kapan?!" teriaknya sambil berbalik dengan ekspresi waspada.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah saat tubuhnya melemah secara tiba-tiba.
Bruk!
Pria paruh baya gendut itu jatuh dan tergeletak di lantai dengan ekspresi kosong.
Darah merah mengalir deras dari lubang di dadanya.
"…"
Dua pemuda yang menyaksikan kejadian itu terkejut, lalu kepanikan melanda pikiran mereka.
Brian Won berbalik, memperlihatkan tangannya yang bernoda darah, lalu berkata dengan senyum hangat,
"Kalian berdua, sekarang giliran kalian. Tenang saja, tidak akan sakit. Kalian akan mati tanpa merasakan sakit sedikit pun di tanganku."
"Tidak… pergi dari sini!!" teriak pemuda berkacamata hitam dengan panik.
Pemuda bertahi lalat hitam berusaha merangkak untuk melarikan diri.
"He he he… mana mungkin aku pergi sekarang. Sebelumnya aku sudah memberi kalian kesempatan. Salah sendiri kalian tidak memanfaatkannya dengan baik," ucap Brian Won dengan senyum lembut.
Brian Won melangkah maju perlahan ke arah mereka.
Kepanikan kedua pemuda itu semakin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian, terdengar dua teriakan keras yang berlangsung selama beberapa detik.
Setelah suara itu menghilang, Brian Won terlihat duduk tenang di atas sofa. Ia menatap tiga mayat di hadapannya, lalu mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan.
"Halo! Tuan Won, kenapa Anda menelepon saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pria di seberang telepon dengan nada antusias.
"Um, aku baru saja membunuh beberapa warga sipil. Bisakah kamu datang untuk mengurusnya?" jawab Brian Won dengan tenang.
"Oke… di mana Anda sekarang? Saya akan segera ke sana," jawab pria itu cepat.
"Aku berada di kereta cepat. Tunggu saja kereta yang akan tiba di Kota Bunga beberapa jam lagi. Aku ada di dalamnya," jelas Brian Won santai.
"Baik, Tuan Won. Saya akan segera menuju stasiun kereta cepat Kota Bunga," jawab pria itu antusias.
Brian Won menutup telepon dan merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.
Hem, dua bajingan itu sudah mati. Seharusnya Liu Wen bisa tenang beristirahat di kursinya, gumam Brian Won dalam hati.
Setelah itu, Brian Won tertidur pulas.
Yang sedikit aneh, telapak tangannya masih bernoda darah, dan tampaknya ia tidak berniat membersihkannya sama sekali.
---
