Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

04. Dalam Senyap yang Tak Terucap

Sudah lewat tengah malam ketika aku terbangun. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan sisa aroma tanah basah yang menyelinap dari jendela. Rumah sepi, tapi entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang membuatku ingin turun ke bawah.

Langkahku pelan menuruni tangga. Lampu ruang tamu masih menyala redup.

Nadya duduk di sofa, berselimutkan kain tipis, menatap kosong ke arah jendela.

Aku berhenti sejenak, memperhatikannya. Ada sesuatu di wajahnya—campuran lelah, rindu, dan sesuatu yang lebih dalam.

“Aku kira semua orang udah tidur,” kataku pelan.

Ia menoleh, tersenyum samar. “Aku nggak bisa tidur. Terlalu banyak yang kupikirin.”

Aku mendekat, duduk di kursi sebelahnya. “Tentang apa?”

“Semua,” jawabnya. “Tentang masa lalu, masa depan, dan hal-hal di antaranya yang nggak pernah selesai.”

Aku diam, menatap secangkir teh yang sudah dingin di depannya. “Kalau Mbak mau cerita, aku bisa denger.”

Ia menatapku beberapa detik, seolah menimbang. Lalu berkata pelan, “Kadang aku berpikir... mungkin aku bukan orang yang baik.”

Aku mengerutkan dahi. “Kenapa bisa mikir gitu?”

“Karena aku sering berpikir tentang hal-hal yang seharusnya nggak kupikirkan.”

Suasana langsung berubah hening.

Aku tahu maksudnya, tapi aku tak berani menebak.

Yang bisa kulakukan hanyalah menatap matanya—dan menemukan bayangan diriku di sana.

“Aku juga begitu,” kataku akhirnya.

Ia menatapku cepat. “Arga…”

“Aku tahu, ini salah. Tapi kadang perasaan nggak peduli soal benar atau salah.”

Ia menarik napas dalam. “Kamu harus hati-hati bicara begitu.”

“Aku nggak bisa berpura-pura.”

“Dan aku nggak bisa membiarkan kamu menyesal nanti.”

Kata-katanya lembut, tapi ada gemetar di sana. Seolah ia sedang menenangkan diriku sekaligus dirinya sendiri.

Aku menunduk, mencoba mengatur napas. “Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi setiap hari di rumah ini, aku merasa… hidup lagi.”

Nadya memejamkan mata.

“Jangan buat aku percaya, Arga.”

Aku menatapnya dalam. “Kalau yang aku rasakan ini nyata, kenapa harus berpura-pura nggak ada?”

Ia menatapku, lama sekali.

Lalu akhirnya ia berdiri, berjalan pelan menuju tangga.

Sebelum naik, ia berhenti, lalu berkata tanpa menoleh,

“Karena kadang yang nyata justru yang paling berbahaya.”

Aku tak bisa tidur malam itu.

---

Hari-hari berikutnya berjalan dalam keheningan yang aneh.

Kami tetap berbicara, tetap makan bersama, tapi ada jarak baru di antara kami—jarak yang tidak terlihat, tapi sangat terasa.

Namun setiap kali kami berada dalam satu ruangan, udara berubah.

Satu tatapan, satu senyum kecil, cukup untuk membuat jantungku kembali tak tenang.

Aku mulai menyibukkan diri dengan memperbaiki hal-hal kecil di rumah. Kadang Nadya ikut membantuku di halaman.

Pernah suatu siang, ketika aku sedang mengecat pagar, ia datang membawa minuman dingin.

“Kamu kerja terus,” katanya. “Istirahatlah sebentar.”

“Kalau berhenti, aku malah mikir yang aneh-aneh,” jawabku spontan.

Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. “Aku juga.”

Kami saling pandang sejenak—tatapan singkat, tapi cukup untuk membuat semua usaha menjaga jarak terasa sia-sia.

---

Suatu sore, listrik tiba-tiba padam.

Langit mendung, dan rumah jadi gelap. Nadya menyalakan lilin di ruang tengah.

“Aku lupa kapan terakhir kali listrik mati begini,” katanya sambil menata cahaya di meja.

Aku duduk di seberangnya. Wajahnya diterangi cahaya oranye dari lilin, membuat matanya tampak hangat dan misterius sekaligus.

“Kadang keadaan gelap malah bikin segalanya lebih jujur,” kataku pelan.

Nadya tersenyum. “Maksudnya?”

“Kalau gelap, kita nggak bisa pura-pura.”

Ia terdiam. Tatapannya sedikit menurun.

“Arga…” suaranya pelan, nyaris bergetar. “Kalau kamu terus bicara seperti ini, aku takut nggak bisa berhenti mendengarkan.”

Aku menatapnya. “Aku nggak mau berhenti.”

Lalu hening panjang turun di antara kami.

Hanya suara hujan di luar dan lilin yang bergetar kecil.

Kami tidak menyentuh, tidak bicara, tapi dalam diam itu, aku merasa seperti sudah mengucapkan segalanya.

Ketika akhirnya listrik menyala kembali, kami sama-sama tidak bergerak.

Seolah cahaya terang itu malah membuat segalanya jadi lebih sulit.

---

Keesokan paginya, Nadya bersikap biasa lagi—menyiapkan sarapan, mengajakku belanja. Tapi aku tahu, ada sesuatu di matanya yang berbeda.

Sebuah perasaan yang tidak ia sembunyikan sebaik dulu.

Kami pergi ke pasar seperti biasa. Di sana, seorang penjual bunga memberi Nadya setangkai mawar putih.

“Cantik, cocok buat Mbak,” katanya ramah.

Nadya tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu menatap bunga itu lama.

Saat kami berjalan ke mobil, aku berkata, “Mawar putih ya?”

“Simbol ketulusan,” katanya pelan.

“Dan juga perasaan yang nggak pernah bisa diucapkan.”

Ia menoleh. Tatapan kami bertemu lagi, dan dalam detik itu, aku tahu kami sedang memikirkan hal yang sama.

---

Malam itu aku duduk di balkon, menatap langit gelap.

Aku tahu hubungan ini rumit, tapi aku tidak bisa menipu diriku sendiri.

Di balik segala batas, ada sesuatu yang membuatku ingin tetap di sini.

Aku mendengar langkah pelan dari belakang. Nadya datang membawa dua cangkir teh.

“Kamu belum tidur?”

“Belum,” jawabku. “Aku cuma… kepikiran banyak hal.”

“Hal tentang kita?”

Aku menoleh. “Mbak tahu?”

Ia duduk di kursi sebelahku. “Aku juga nggak bisa berhenti mikir.”

Kami diam lama. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma melati dari taman.

“Aku takut, Arga,” katanya akhirnya.

“Takut apa?”

“Takut suatu hari aku nyesel. Tapi lebih takut lagi kalau aku nggak pernah tahu rasanya begini.”

Aku menatapnya lama. “Mungkin kita berdua udah terlambat buat berpura-pura.”

Ia menghela napas, lalu menatapku.

“Kalau begini terus, seseorang pasti terluka.”

Aku tersenyum pahit. “Aku nggak apa-apa kalau itu aku.”

Nadya menatapku lama, lalu berkata pelan, “Kamu bodoh.”

Aku tertawa kecil. “Iya. Tapi untuk pertama kalinya, aku nggak mau sembuh dari kebodohan ini.”

Ia tersenyum—senyum yang hangat tapi menyakitkan.

Kami tidak lagi bicara.

Dan di bawah langit malam itu, dengan jarak yang begitu dekat tapi tak tersentuh, aku tahu: perasaan ini sudah terlalu dalam untuk dihapus.

---
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel