Perkenalan canggung di hari kerja
Laci itu tetap terkunci, sebuah misteri yang harus ia simpan, setidaknya untuk saat ini. Pagi harinya, Samudra memaksa kakinya melangkah keluar dari sangkar emas itu, menuju dunia yang ia kenal, namun kini terasa begitu asing. Satu minggu berlalu. Minggu pertama sebagai ‘suami tersembunyi’ Elena dan ‘arsitek lajang’ di mata dunia.
Di kantor, suasana terasa canggung. Samudra melangkah masuk, setiap mata seolah menusuk punggungnya. Meja kerjanya bersih, berkas-berkas tersusun rapi. Ia duduk, menyalakan komputer. Email masuk bertumpuk. Kebanyakan ucapan simpati.
"Samudra, kau baik-baik saja?"
Tania, salah satu desainer junior, mendekat. Matanya penuh rasa ingin tahu, bukan simpati tulus.
Samudra tersenyum tipis. Senyum yang ia latih di depan cermin.
"Tentu, Tania. Kenapa?"
"Oh... itu... pembatalan pernikahanmu," katanya, nadanya dibuat-buat sedih.
"Kami semua turut prihatin."
"Terima kasih," Samudra membalas, singkat. Ia tak ingin berlama-lama dalam percakapan ini.
"Aku sedang fokus pada proyek baru. Sangat besar, sangat rahasia."
Tania mengangguk, namun matanya masih memindai.
"Baguslah kalau begitu. Kau memang arsitek terbaik kami."
Samudra hanya mengangguk lagi. Ia tahu itu pujian kosong. Mereka semua ingin mengorek informasi. Ia membuka berkas, pura-pura sibuk. Jantungnya berdebar. Setiap interaksi terasa seperti ujian. Ia harus terlihat tegar, ambisius, dan—yang terpenting—lajang.
Beberapa jam kemudian, ia mendapat jadwal mendadak. Pertemuan dengan klien penting di sebuah galeri seni. Presentasi konsep awal proyek pusat perbelanjaan baru. Ini kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan ia masih Samudra yang dulu.
Ia menyiapkan berkas. Berangkat cepat. Galeri itu penuh sesak. Aroma kopi mahal dan parfum mewah bercampur. Dindingnya dihiasi lukisan abstrak. Samudra melihat daftar tamu. Nama klien utama: Tuan Baskoro. Pengusaha properti veteran. Namanya sering muncul di jaringan Elena.
Samudra mencari Tuan Baskoro. Ia menemukannya di sudut ruangan, dikelilingi beberapa orang. Samudra mengatur napas. Ini dia. Kesempatan emas.
Ia mendekat.
"Selamat sore, Tuan Baskoro. Saya Samudra. Dari Architra. Siap untuk presentasi."
Tuan Baskoro menoleh. Wajahnya keriput, namun matanya tajam. Ia mengangguk.
"Ah, Samudra. Saya sudah dengar banyak tentang Anda. Terutama yang terakhir." Nada suaranya datar, sulit ditebak.
Samudra menegang.
"Saya harap itu hal baik, Tuan."
Tuan Baskoro terkekeh pelan.
"Tergantung sudut pandang. Tapi, baguslah. Anda terlihat fokus. Penting itu." Ia melirik seorang wanita paruh baya di sampingnya.
"Kenalkan, ini sepupu saya, Ibu Riana."
Ibu Riana tersenyum. Senyum ramah, namun ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang terlalu akrab. Samudra merasa cemas. Elena pernah bilang, beberapa kerabat jauhnya punya jaringan sosialita yang sangat kuat.
"Samudra, ya?" Ibu Riana mengulurkan tangan. Tangannya lembut, dingin.
"Saya Riana. Senang bertemu Anda."
"Senang bertemu Anda juga, Ibu Riana," Samudra membalas, mencoba mempertahankan senyum profesionalnya. Otaknya berputar cepat. Apakah dia tahu? Seberapa banyak?
"Saya dengar Anda sedang melewati masa sulit?" Ibu Riana berkata, nadanya penuh perhatian. Tapi Samudra merasakan tusukan di baliknya.
"Pernikahan yang batal. Sayang sekali."
"Ah, itu... masa lalu, Bu," Samudra menjawab, berusaha santai.
"Hidup memang penuh kejutan. Tapi saya selalu percaya, setiap akhir adalah awal yang baru. Sekarang fokus saya hanya pada karier."
"Benar sekali," Tuan Baskoro menimpali. "Ambisi itu penting. Terutama di usia muda seperti Anda."
Ibu Riana mengangguk pelan. Matanya masih meneliti Samudra.
"Tapi... saya merasa pernah melihat Anda. Wajah Anda familiar sekali. Di mana, ya?"
Jantung Samudra berdegup kencang. Ini dia. Ia harus berbohong. Cepat.
"Mungkin di acara arsitek, Bu? Saya sering hadir di berbagai pameran dan konferensi."
"Oh, mungkin," Ibu Riana berkata, namun ia tidak terlihat yakin. Ia memiringkan kepala.
"Atau... di rumah Elena?"
Samudra merasa darahnya berhenti mengalir. Sebuah hantaman keras. Ia menatap Ibu Riana. Wanita itu tidak tersenyum lagi. Tatapannya kini penuh pertanyaan, menunggu jawaban.
"Elena?" Samudra mencoba berakting bingung.
"Maksud Ibu... Elena siapa?"
Tuan Baskoro mengerutkan kening.
"Elena yang mana, Riana? Teman sosialitamu?"
"Bukan sembarang teman, Baskoro," Ibu Riana membalas, tanpa mengalihkan pandangan dari Samudra.
"Elena... istri mendiang Paman."
Samudra menelan ludah. Ini kerabat dekat. Bukan hanya 'kerabat jauh' seperti yang ia duga. Pasti keluarga almarhum suami Elena. Orang ini mungkin tahu tentang laci terkunci itu. Tentang bau tembakau itu.
"Ah, Ibu Elena yang itu," Samudra berucap, berusaha terdengar seperti ia baru saja mengingat.
"Saya memang pernah bertemu beliau. Beberapa kali. Beliau salah satu kolektor seni terbesar di kota ini. Saya pernah diminta membantu beliau menilai beberapa karya arsitektur untuk koleksinya."
Sebuah kebohongan lancar. Spontan. Ia sendiri terkejut betapa mudahnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Oh, begitu?" Ibu Riana tampak sedikit bingung, namun tidak sepenuhnya puas.
"Tapi saya merasa... lebih dari itu."
Samudra harus memperkuat alibinya.
"Saya sangat mengagumi selera beliau dalam seni, Bu. Dan juga... reputasi beliau sebagai wanita yang sangat berkuasa. Siapa yang tidak ingin punya koneksi dengan beliau, kan?" Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar di telinganya sendiri.
Tuan Baskoro mengangguk. "Itu benar, Riana. Elena memang punya reputasi yang... mengintimidasi. Wajar saja jika Samudra ingin menjalin koneksi profesional dengannya."
Ibu Riana masih menatap Samudra, matanya menyipit. "Koneksi profesional, ya..." Ia bergumam.
"Tapi Anda tahu, Samudra, Elena jarang sekali mengizinkan orang luar masuk ke lingkarannya. Bahkan untuk urusan seni. Apalagi arsitek muda seperti Anda."
Samudra merasa terpojok. Ia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia harus berimprovisasi lagi.
"Mungkin karena saya punya visi yang berbeda, Bu? Saya punya konsep tentang bagaimana arsitektur bisa menyatu dengan seni dan sejarah. Mungkin itu yang menarik perhatian beliau." Ia mencoba berbicara dengan semangat, layaknya seorang arsitek idealis.
"Visi?" Ibu Riana tersenyum tipis. Senyum yang penuh arti.
"Atau mungkin... Anda punya sesuatu yang mengingatkan beliau pada masa lalu?"
Kalimat itu menohok Samudra. Ini bukan lagi soal seni. Ini tentang almarhum suami Elena. Tentang kemiripannya dengan pria itu. Tentang rahasia yang terkunci di dalam laci.
"Saya tidak mengerti maksud Ibu," Samudra membalas, kini mencoba memasang wajah lurus, tegang.
"Saya hanya seorang arsitek yang ambisius. Tidak lebih."
"Ah, begitu?" Ibu Riana mengangkat bahu.
"Baiklah. Mungkin saya salah. Tapi saya punya intuisi yang kuat. Dan intuisi saya jarang sekali meleset, Samudra." Ia meneguk minumannya, matanya tak lepas dari Samudra.
Tuan Baskoro, yang tampaknya mulai bosan dengan percakapan pribadi ini, menepuk bahu Samudra.
"Sudahlah, Riana. Jangan ganggu calon mitra bisnis saya. Samudra, mari kita mulai presentasinya. Saya ingin tahu apa yang bisa Anda tawarkan."
Samudra menghela napas lega. Hampir saja. Ia berhasil lolos. Untuk saat ini. Ia mengangguk pada Tuan Baskoro, lalu melirik Ibu Riana sekali lagi. Wanita itu masih menatapnya, seolah ia adalah teka-teki yang belum terpecahkan.
Presentasi berjalan lancar. Samudra mencoba fokus. Ia berbicara tentang konsep, desain, dan inovasi. Ia menggunakan semua keahliannya. Tuan Baskoro tampak terkesan. Tapi di sudut matanya, ia masih bisa melihat Ibu Riana. Wanita itu sesekali berbisik pada Tuan Baskoro, dan Samudra bisa merasakan tatapan mereka berdua.
Selesai presentasi, Tuan Baskoro berjabat tangan dengannya.
"Presentasi yang bagus, Samudra. Saya akan mempertimbangkan Anda. Tapi... saya ingin Anda tahu, saya juga akan melakukan riset. Terutama tentang koneksi Anda."
Samudra tersenyum kaku.
"Tentu, Tuan. Saya tidak punya apa-apa untuk disembunyikan." Kebohongan besar.
Ia meninggalkan galeri dengan perasaan campur aduk. Ia berhasil. Proyek itu di depan mata. Ia berhasil berbohong. Berhasil menyelamatkan identitas gandanya. Tapi harga yang harus ia bayar adalah ketegangan. Setiap kata harus dipertimbangkan. Setiap senyum harus palsu. Ia merasa seperti aktor dalam drama yang tak berujung.
Ia masuk ke mobil. Menghela napas panjang. Mencoba menenangkan jantungnya. Ia menyalakan mesin. Ponselnya berdering. Pesan masuk. Dari Elena.
Samudra membuka pesan itu. Sebuah foto. Foto candid dirinya sendiri, di galeri tadi. Dari sudut yang sedikit tersembunyi. Foto itu diambil saat ia sedang berbicara dengan Ibu Riana, wajahnya sedikit tegang.
Di bawah foto itu, ada tulisan:
"Kontrol emosi, suamiku. Jaringanku ada di mana-mana."
