Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.3. Sial ... Ternyata Si Om Dosen Killer!

Ruang kuliah berisik oleh obrolan para mahasiswa yang menunggu kedatangan dosen mereka pagi itu.

Awal semester baru setelah mereka naik tingkat menimbulkan debaran dalam dada karena rumor yang berhembus tentang dosen Ilmu Hukum Tata Negara kurang sedap.

"Girls, tahu nggak sih kalau kita tuh kuliah bareng banyak kakak senior yang mengulang mata kuliah ini? Tuh liat ke bangku belakang!" ucap Devi, sahabat Candy sejak awal masuk kuliah.

Spontan kedua gadis lainnya di kanan kiri Devi menoleh ke belakang. Dan memang benar ada selusin lebih kakak senior mereka duduk di deretan bangku belakang atas. Ruang kuliah mereka ditata berbentuk setengah tribun dengan mimbar dosen berada di sisi paling bawah depan.

"Apa sesulit itu dapat nilai B atau C di mata kuliah ini? Kalau ngulang berarti nilai mereka D apa malah E 'kan, Dev?" celetuk Candy gelisah.

"Yap, seseram itu rumornya. Banyakan sih yang dapat nilai C sudah puas dan ogah ngulang mata kuliah yang diampu sama si emprof!" jawab Devi.

Namun, Yolanda menyahut cepat, "Ehh ... ada tapinya yang belum dimention si Devi tuh. Dosen killer yang ngajar mata kuliah ini ganteng bingits lho, minus galak dan pelit ngasi nilai!"

Candy menghela napas berat. Dia berpikir mau seganteng apa pun kalau nilainya pelit, dia pasti ilfil. Belum sempat dia menanggapi obrolan kedua temannya, sosok yang dibicarakan memasuki kelas mereka.

"Selamat pagi, Adik-adik Mahasiswa dan Mahasiswi sekalian. Perkenalkan nama saya Profesor Joseph Levine, dosen yang mengajar Ilmu Hukum Tata Negara selama satu semester ke depan. Mohon kerja samanya agar nilai kalian memuaskan di akhir semester nanti ya!" sapa sang dosen killer dengan suara keras tanpa perlu bantuan mikrofon.

Bisik-bisik di bangku mahasiswi pun mulai terdengar.

"Wuih ganteng!"

"Mau dong jadi pacar Prof. Joseph!"

"Beneran boleh seganteng ini, tapi killer?!"

Joseph pun berdehem lalu mengambil mikrofon di mimbar untuk mulai kegiatan perkuliahan. Dia belum menyadari kehadiran gadis yang semalam dia kejar-kejar di night club justru berada di salah satu bangku kelasnya.

Berkebalikan dengan Candy yang panik setengah mati. Dia memang agak teler semalam karena pil party pemberian temannya di night club, tapi otaknya belum pikun untuk mengenali Joseph. 'Matilah aku! Sial ... si Om ternyata dosen killer-ku. Semoga Prof. Joseph Levine nggak tahu kalau aku mahasiswinya!' batin Candy gelisah seraya menutupi wajahnya dengan telapak tangan kiri dan sibuk menulis menggunakan tangan kanan.

Kebetulan dia duduk di baris ketiga sisi tengah tribun, artinya posisinya sangat mungkin terlihat oleh dosen tersebut.

"Baik, tolong jangan ribut selama saya mengajar atau saya tidak segan mengeluarkan siapa pun dari kelas ini!" Kalimat ancaman mulai ditebar oleh Joseph dan sontak membuat ruang kuliah sunyi senyap.

Tatapan mata Joseph memindai seisi kelas dan sosok seorang mahasiswi yang nampaknya menghindarinya justru membuat dia tertarik. Maka Joseph pun berkata, "Perkenalkan diri kalian, nama lengkap beserta nomor induk mahasiswa bergantian satu per satu. Mulai dari pojok kanan bawah, silakan!"

Detak jantung Candy berpacu kencang dan dirinya merinding disko, dia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk mencegah Profesor Joseph Levine mengenalinya.

Satu per satu rekan sekelasnya menyebutkan nama lengkap dan nomor induk mahasiswa berurutan dengan cepat. Tersisa delapan orang lagi sebelum gilirannya bicara.

Senyuman puas tersungging di bibir Josh, dia tidak terlalu memperhatikan nama dan nomor induk mahasiswa yang telah disebutkan sejak tadi. Tatapannya tertuju pada satu gadis berambut hitam legam yang disanggul cepol di atas kepala itu. Dia tak akan salah lihat karena matanya jeli dan tak berkaca mata.

"Next!" seru Josh penuh semangat.

Suara pelan gadis itu seperti bergumam menyebut nama lengkap dan nomor induk mahasiswa. Josh tidak bisa mendengar dengan jelas, ditambah dia tak mau menatap ke arahnya.

"ULANGI DAN HADAPKAN WAJAH KAMU KE ARAH SAYA. ITU TIDAK SOPAN!!" hardik Joseph dengan suara menggelegar di depan mimbar kelas.

Hati Candy menciut, dia tak mungkin lagi menghindar. Perlahan tangan kirinya turun ke meja dan mulai menatap ke arah Joseph.

'Ahh kena kau!' batin Joseph bersorak.

Wajah Candy merona karena tahu pria itu mengenalinya. Dia pun berkata, "Maaf, Pak Dosen. Nama saya Maria Candini Wijaya, NIM 1080333!"

"Kamu temui saya di kantor dosen seusai kuliah, next!" ujar Joseph tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuknya.

Kedua sobat Candy melirik tajam ke arahnya lalu Devi berbisik, "Jangan bikin si emprof tersinggung, Candy. Nanti jaga bicaramu ya!"

Kepala Candy terangguk pelan. Bukan tentang attitude atau manner yang jadi persoalan di antara dirinya dan si dosen killer. Akan tetapi, tadi malam pria itu nyaris membungkus dia pulang dari night club ke apartemen kalau Paul tidak menjaganya.

"Okay, cukup. Pelajaran hari ini kita mulai saja. Perhatikan materi kuliah di layar LCD!" kata Joseph lalu dia mulai menerangkan istilah-istilah dalam ilmu hukum yang banyak dipakai dalam lembaga konstitusi negara.

Demokrat, monarki, republik, dan beberapa jenis pandangan politik negara yang dipilih bangsa-bangsa di dunia juga dijelaskan dengan sangat gamblang oleh Joseph. Keahliannya mengajar tak diragukan oleh siapa pun di ruang kuliah tersebut.

Candy mencatat hal-hal penting yang diterangkan oleh Josh. Mau tak mau beberapa kali tatapan mata mereka bertemu. Sepasang mata biru pria blasteran itu sungguh memabukkan dan membuat jantungnya berdetak tak tentu.

"Demikian materi yang bisa saya sampaikan. Sampai bertemu di perkuliahan selanjutnya. Jangan lupa, Maria Candini Wijaya, kamu menghadap ke kantor saya setelah ini!" ujar Joseph sebelum membubarkan kelas.

Yolanda menepuk bahu sahabatnya seraya berpesan, "Good luck, Candy. Jangan nyolot, ingat nilai kamu yang pegang si emprof galak!"

"Iya ... iyaa!" sahut Candy lalu mengemasi barang-barangnya ke tas ransel. Dia yakin bukan karena kejadian sepele di kelas tadi yang membuatnya harus menghadap dosen, tetapi justru peristiwa tadi malam di night club.

Dengan langkah ringan penuh percaya diri Joseph melenggang kembali ke kantor dosen yang berada di lantai empat. Dia memiliki ruangan pribadi karena menjabat sebagai Kepala Departemen Ilmu Hukum Tata Negara. Total ada empat dosen di bagian itu, tiga pria dan satu wanita.

Hari masih pagi, ketiga dosen lain masih sibuk mengajar di kelas lain. Joseph pun bersiul-siul senang, dia memiliki waktu pribadi berdua dengan Candy sekali lagi. Sambil menunggu kedatangan mahasiswi favoritnya, dia duduk membuka laptop.

Beberapa menit kemudian pintu ruang kerjanya diketok dari luar. Josh berseru, "Masuk!"

Tepat dugaan Josh, gadis yang semalam menghiasi mimpi indahnya telah berdiri di hadapannya sekarang. "Hai, Candy. Tutup pintunya dan silakan duduk, kita perlu bicara!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel