Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4: Tujuh Narsistik, Satu Bukan

Helen menoleh ke Aries, Harto, lalu Novan. Tatapannya berpindah cepat, berhenti sebentar di tiap wajah—seperti sedang menimbang sesuatu.

Dari speaker terdengar suara laki-laki—artifisial, datar, seperti rekaman. “Saya yakin... kalian semua heran mengapa kalian ada di sini.”

Novan menoleh ke Citra, lalu Rasmi.

“Bukan,” lanjut suara itu, “ini bukan tempat penghakiman.”

Aries melihat karet di lehernya, melirik Harto sekilas, lalu menoleh ke arah speaker lagi.

“Ini … tempat untuk tujuh orang dari kalian belajar.”

Rasmi menunduk, menggaruk kepala.

“Tujuh dari kalian mengidap gangguan kepribadian narsistik. Atau NPD.”

Aries mendengus.

Rasmi mengangkat kepala. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi.

“Terobsesi pada diri sendiri, haus validasi, dan minim empati,” lanjut suara itu.

Darwin mendengus pelan—nyaris seperti tawa pendek.

“Hanya satu saja yang bukan narsistik," kata suara itu.

Citra membuka mulut, menutupnya kembali—menelan ludah. Kalimat itu tidak mencari jawaban—ia menabur kecurigaan.

Novan mengangguk pelan—tersenyum tipis.

Aries menggerakkan kepalanya, sorot matanya menyapu wajah-wajah di sekeliling—cepat, tajam.

Helen mengibaskan rambut.

Setyo mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada. Kelopak matanya terpejam, napasnya ditarik panjang lalu dilepas perlahan—tenang, seperti sedang bermeditasi.

Ada jeda tipis sebelum embusan itu benar-benar stabil—seperti napas yang sempat tersangkut, lalu dipaksa kembali tenang.

Wajah Harto mengeras—rahangnya mengunci.

Darwin meluruskan punggung dan merapikan bagian bawah seragamnya.

Rasmi menunduk, lalu mengangkat wajah—memandang Citra, tak berkedip.

Citra menatap balik—tak berpaling.

Suara instruktur kembali terdengar. “Satu orang inilah alasan kalian di sini.”

Novan menggeser bahunya sedikit ke belakang, memperbaiki postur.

“Agar kalian berubah.”

Citra mengalihkan pandangannya ke arah speaker. Dari sudut matanya, ia melihat Rasmi masih memandanginya.

“Agar kalian bisa mencontohnya.”

Setyo mengangguk, tersenyum tipis.

“Perhatikan baik-baik,” lanjut suara itu.

Citra menyentuh dahinya dengan dua jari.

“Rantai kalian saling terhubung.” Nada suaranya tetap datar.

Mata Helen bergerak cepat ke Aries, lalu ke Harto.

“Jika satu orang maju, maka orang di depannya harus mundur.”

Rasmi menatap Citra. Citra mengangguk.

“Di meja,” lanjut suara instruktur, “ada alat yang bisa menyelamatkan kalian semua.”

Kaki Aries bergerak sedikit, rantai di tengkuknya berdesis pelan.

“Tapi, waktu kalian terbatas.”

Darwin melirik Novan—tersenyum tipis.

“Bunyi mesin akan menyala,” kata suara itu, “begitu ada yang menarik rantai ke arah meja.”

Aries dan Harto saling tatap—bahu Harto mengeras, tangan Aries terkepal.

“Selamat bermain,” kata suara itu, “karena di akhir permainan, kalian akan terlahir kembali.”

Citra mengalihkan pandangannya ke arah timer digital yang baru saja menyala: 01:30. Hijau.

Tatapan yang lain juga tertuju ke arah yang sama.

Novan mengangkat kedua tangan. "Saudara-saudara—"

"Pasti Anda ingin mengaku Andalah yang bukan narsistik,” potong Darwin.

Novan menatap Darwin. "Tidak, tidak. Itu salah besar. Sebaliknya, saya ingin kita semua bersatu.” Ia menatap yang lain. “‘Hanya satu yang bukan narsistik' itu jelas provokasi, pemecah-belah.”

Citra mengangguk. "Saya setuju. Permainan ... atau apa pun ini, kita harus kerja sama.”

Harto menatap Novan—tajam. "Bagaimana saya tahu Anda tidak akan mengorbankan orang lain demi menyelamatkan diri Anda sendiri?"

"Saya bukan pengkhianat dan tidak akan pernah mengkhianati siapa pun!” jawab Novan. Ia mengatupkan rahangnya, membersihkan tenggorokan.

Harto menyipitkan mata. Tatapannya turun sejenak ke lantai, lalu kembali ke wajah Novan.

"Saya suka dengan ide kerja sama,” sambung Darwin. "Tapi kalau itu keluar dari mulut politisi?" Darwin menyeringai tipis. "Saya tidak sedungu itu.”

Helen menoleh bergantian ke arah Novan dan Darwin.

Novan menarik napas panjang. "Agar kita bisa saling percaya dan bekerja sama, saya sarankan kita memperkenalkan diri.”

Ia melirik cepat ke arah lantai, lalu kembali menatap yang lain. “Tapi kali ini ... lebih teratur. Tidak ada yang saling memotong.”

Aries menggaruk ujung hidung dengan punggung tangan.

Novan melihat sekeliling—tak ada yang menjawab.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel