Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rumor

"Apakah mereka datang mencariku?" gumamnya pelan, merasa tidak senang.

Dugaan Ye Chen benar-benar benar. Setelah semua pengunjung kedai diusir, dan hanya menyisakan dirinya sendiri, dua orang bergegas masuk.

Dari dua orang yang masuk, Ye Chen mengenali salah satunya, dia adalah Ji Bao di masa lalu. Pada saat ini, dia berjalan di belakang pria lanjut usia yang tampak kuat, tegas dan dingin dengan ekspresi malu.

Sedangkan untuk pria lanjut usia itu sendiri, momentumnya benar-benar kuat. Saat berjalan dengan suara gemericik dari baju besinya, dia seakan-akan bisa membuat hati manusia bergetar. Dari penampilan dan ekspresinya yang sedikit sombong, Ye Chen menduga bahwa dia adalah orang dengan pangkat penting di antara para prajurit kerajaan.

Tapi Ye Chen tidak peduli, dan kembali mengambil gelas tehnya di meja. Bagaimanapun gagahnya pria itu terlihat, dia masih manusia biasa tanpa fluktuasi energi spiritual di tubuhnya. Mungkin, setelah mendengar cerita dari Ji Bao jika dia melihat mahkluk Abadi, pria lanjut usia ini tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat dirinya sendiri.

Penilaian Ye Chen benar-benar tepat. Setelah pria lanjut usia itu berjarak lima langkah darinya, kegembiraan di mata tuanya tidak bisa disembunyikan.

Kemudian dengan sikap merendah dan memberikan salam dengan menggenggam kedua tangannya, pria itu sedikit menunduk sambil berkata, "Tuan Abadi, saya Wei Yanlu, jenderal kedua di bawah pimpinan Sang Raja, meminta maaf karena tidak menyambut kedatangan Anda. Yang rendah ini secara pribadi juga mohon maaf karena tiba-tiba datang dan mengganggu Tuannya."

Ye Chen melirik, menilai pria di depannya secara samar-samar dan bertanya dengan nada yang datar, "Apakah ada sesuatu?"

Pertanyaan singkat tanpa basa-basi itu segera membuat Wei Yanlu sedikit tegang. Sebagai seorang jenderal yang terbiasa dengan protocol dan hormat-menghormati, sikap dingin Ye Chen sangat berbeda dari yang dia bayangkan.

Tapi Wei Yanlu tahu, mahkluk Abadi tidak perlu mengikuti aturan mortal.

Jadi, dia segera mengeluarkan dua kantong uang perak dan menyerahkannya kepada Ye Chen dengan hormat. "Pertama, saya dan sang Raja sangat berterima kasih karena Tuan Abadi mengulurkan tangannya pada bawahan saya sebelumnya. Ini dua ribu koin perak, dua kali lipat dari kesepakatan awal. Meskipun ini tidak bernilai apa-apa di mata Tuannya, saya berharap Anda tidak akan menolaknya."

Ye Chen mengambil salah satu kantong, membukanya, dan memeriksa isinya sekilas. Memang seribu koin perak. Dia menutupnya kembali dan menaruh kedua kantong di sampingnya tanpa berkata apa-apa.

Bagi Wei Yanlu, sikap Ye Chen yang mengambil uang tanpa ucapan terima kasih sedikit mengejutkan, tapi dia tidak berani berkomentar. Setidaknya Ye Chen mau menerima.

Wei Yanlu menarik napas dalam sebelum melanjutkan dengan hati-hati. "Selain itu, sang Raja berkata bahwa jika Yang Abadi bersedia untuk mempertimbangkan—"

"Aku menolak."

Suara datar Ye Chen memotong kata-katanya.

Wei Yanlu tertegun. "Tapi... Tuan Abadi, sang Raja bersedia memberikan apapun yang Anda—"

"Apapun?" Ye Chen akhirnya mengangkat pandangannya, menatap Wei Yanlu dengan tatapan datar yang entah kenapa membuat jenderal itu merasa dingin di punggungnya. "Menurutmu, apa yang bisa diberikan seorang rajamu kepada yang Abadi?"

Nada Ye Chen tidak keras. Tidak ada amarah. Tapi kata-katanya mengandung kebenaran absolut yang tidak bisa dibantah.

Wei Yanlu merasakan keringat dingin mulai mengalir. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Uang?" Ye Chen melanjutkan dengan nada yang sama datar. "Aku bisa mengambilnya kapan saja dari bandit atau pedagang. Jabatan? Kekuasaan? Wanita?" Dia menggeleng pelan. "Semua itu tidak ada artinya bagi yang mencari jalan keabadian."

Ye Chen mengambil gelas tehnya dan minum sedikit sebelum melanjutkan. "Katakan pada rajamu, aku menghargai niat baiknya. Tapi dunia kami berbeda. Raja memerintah manusia. Kami yang Abadi... tidak terikat dengan hal semacam itu."

Pada saat yang bersamaan, tanpa Ye Chen sadari, aura spiritual di tubuhnya, meskipun hanya tipis karena masih pemurnian qi tingkat pertama mulai bocor. Tapi bagi seorang manusia biasa seperti Wei Yanlu dan Ji Bao, itu seperti tekanan halus yang membuat napas mereka sedikit berat.

"Buk!"

"Buk!"

Dua orang, termasuk Ji Bao, refleks jatuh berlutut. Bukan karena dipaksa, tapi karena tubuh mereka secara instingtif merespon perbedaan besar antara manusia biasa dan yang Abadi.

Wei Yanlu merasakan bahwa ada sesuatu yang menekan dadanya, bukan fisik, tapi sesuatu yang lain. Suatu keberadaan mahkluk yang sudah melangkah ke dunia lain.

Sebelumnya, dalam perjalanannya kemari, Wei Yanlu sudah menunjukkan momentum sebagai jenderal dan tahu bahwa dia tidak lemah di antara manusia biasa. Tapi sekarang dia mengerti, tidak peduli seberapa kuatnya manusia, tetap saja manusia biasa.

"Saya... saya mengerti, Tuan Abadi," Wei Yanlu berkata dengan suara sedikit gemetar. "Saya akan menyampaikan kata-kata Anda kepada sang Raja. Mohon maafkan ketidaktahuan kami."

Ye Chen menarik kembali auranya, bahkan dia sendiri tidak sepenuhnya sadar bahwa dia mengeluarkannya. Ini hanya reaksi alami saat berbicara tentang perbedaan antara kultivator dan manusia.

"Sebelum aku pergi," Ye Chen berkata sambil berdiri, "aku ingin bertanya sesuatu. Jika jawabanmu memuaskan, kita selesai di sini."

"Tentu! Tentu saja!" Wei Yanlu masih berlutut. "Yang Abadi bisa menanyakan apa pun pada saya."

"Apakah kamu pernah melihat mahkluk Abadi lainnya selain aku?"

Wei Yanlu menggeleng cepat. "Tidak, Tuan Abadi. Meskipun saya seorang jenderal kerajaan, saya tidak sekalipun pernah melihat yang Abadi sampai hari ini. Saya hanya mendengar rumor bahwa Sang Raja Yunqiyun memiliki beberapa hubungan dangkal dengan mahkluk Abadi, tapi itu juga hanya sekedar rumor."

Ye Chen mengangguk pelan. Seperti yang dia duga kultivator sangat langka di dunia fana. Kedatangannya ke kota ini juga secara tidak sengaja. Jika bukan karena keberuntungan sebelumnya, mungkin Wei Yanlu dan yang lainnya tidak akan pernah menemui mahkluk Abadi sepanjang hidup mereka.

"Lalu bagaimana dengan rumor pria tao di kuil terbengkalai di luar kota?"

Tepat ketika Wei Yanlu mendengar pertanyaan itu, matanya sedikit berbinar, akhirnya ada sesuatu yang dia tahu dan bisa membantu! "Rumor itu memang benar, Tuan Abadi! Meskipun tidak ada yang pernah melihat yang Abadi secara langsung, kami menemukan bahwa orang-orang yang tinggal di kuil dan mengobati pasien selama ini adalah murid yang Abadi. Jadi, rumor bahwa ada yang Abadi di kuil pasti benar."

"Di mana?"

"Di luar gerbang utara, sekitar lima kilometer dari sini. Ikuti jalan setapak ke arah bukit, Tuan Abadi akan melihat—"

"Cukup."

Ye Chen berdiri, mengambil kedua kantong perak di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Wei Yanlu dan Ji Bao refleks menunduk lebih dalam, tidak berani melihat.

"Terima kasih atas informasinya."

Kata-kata singkat itu adalah yang terakhir yang mereka dengar sebelum suara langkah kaki ringan menjauh. Ketika Wei Yanlu mengangkat kepalanya, Ye Chen sudah tidak ada, menyisakan hanya pintu kedai yang terbuka dan hembusan angin dingin.

Keduanya tetap berlutut untuk beberapa saat, memastikan bahwa yang Abadi benar-benar sudah pergi.

Akhirnya, Wei Yanlu berdiri dengan kaki sedikit gemetar. Keanggunan dan momentum sebagai jenderal perlahan kembali, tapi ada rasa hormat dan kekaguman akan kekuatan yang samar-samar terlihat di matanya.

"Sungguh membuatku ketakutan," Ji Bao tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata. "Aku tidak pernah berpikir bahwa pemuda yang beberapa waktu lalu berjalan bersamaku adalah mahkluk Abadi dengan kekuatan seperti itu."

"Jangan katakan apa pun!" Wei Yanlu di sebelahnya tiba-tiba berkata dengan tegas.

Kesombongannya sebagai jenderal sudah hilang, digantikan dengan kewaspadaan seorang veteran yang tahu kapan harus mundur.

"Mahkluk Abadi seperti mereka bukanlah sesuatu yang bisa kita provokasi. Bahkan raja sekalipun... tidak bisa memerintah mereka." Wei Yanlu menghela napas berat. "Ini adalah keberuntungan kita karena dia hanya menolak dengan tegas, bukan marah. Tapi ingat satu hal, apa pun yang terjadi di sini, jangan sampai menyebar."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius. "Terutama jangan sampai sang Raja tahu bahwa tawarannya ditolak. Aku takut... raja akan mencoba cara lain yang lebih bodoh."

Ji Bao menelan ludah. Dia mengerti maksudnya kalau raja merasa terhina dan mencoba memaksa atau menjebak kultivator, itu hanya akan membawa bencana.

Wei Yanlu menatap pintu yang masih terbuka, tempat Ye Chen menghilang. "Yang Abadi itu masih muda. Mungkin baru melangkah ke jalan kultivasi. Tapi... sudah jelas berbeda dengan kita. Dunia mereka... bukan dunia kita."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel