Bab 4 - Keshav Si Usil
Beberapa hari kemudian setelah rapat para raja selesai diadakan di kerajaan Lotus aku dan Pranay Saudara kembar Nalini yang aku rasuki ini pulang ke kerajaan Mawar merah yakni kerajaan Rosa Red tempat kami tinggal.
Dengan tulus aku berpamitan pada ratu Prisha, "Yang Mulia ratu, kami berdua izin pamit pulang ke kerajaan Rosa Red." ucap ku
Dengan perasaan sedih paduka ratu Prisha ibu dari lima pangeran mengantar kepulangan kami di depan pintu kastil, "Nak, kalian berdua hati-hati ya saat pulang. Bibi pasti akan sangat merindukan mu, Nalini." ucap Prisha seraya memeluk dengan hangat
Setelah beberapa detik berpelukan, aku dan Pranay melepaskan pelukan kami dan berbalik untuk memulai perjalanan kami kembali ke kerajaan Rosa Red. Di tengah perjalanan, Pranay, yang selalu tampak tenang dan berwibawa, tampaknya memiliki sesuatu di pikirannya.
"Nalini, apa kau merasa ada yang berbeda dengan rapat para raja kali ini?" tanya Pranay sambil menatapku dengan tatapan tajam.
Aku menoleh kepadanya, merasa sedikit terkejut dengan pertanyaannya. "Maksudmu bagaimana, kak Pranay?" balasku, mencoba mengumpulkan pikiranku. "Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
Pranay menghela napas panjang, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ratu Prisha, dan itu terkait dengan kerajaan kita," ujarnya akhirnya.
Pernyataan Pranay membuatku merasa gelisah. "Apa kau yakin, kak Pranay?" tanyaku, berharap dia salah. Namun, dalam hati, aku juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi apa itu, aku tidak tahu
"Kita harus mencari tahu," ujar Pranay, menentukan. "Untuk kerajaan kita, dan untuk masa depan kita."
Dengan tekad baru, kami melanjutkan perjalanan kami, berharap bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang menghantui pikiran kami. Dan mungkin, hanya mungkin, kami bisa menemukan solusi untuk apa pun yang mengancam kerajaan kami.
Sesampainya di kastil kerajaan Rosa Red kami disambut hangat oleh para pelayan.
Raja Adikara, seorang raja kerajaan Rosa Red sekaligus ayahanda dari Nalini dan Pranay, Beliau memiliki rambut hitam panjang terikat ke belakang, mata biru muda laut, kulit sedikit keriput dan tubuh tinggi bahu lebar.
Raja Adikara marah beliau merasa marah saat tahu aku pergi ikut Pranay ke kekaisaran Lotus tanpa izin dari nya.
Dengan perasaan marah raja Adikara mengerutkan alisnya, "Nalini putri ku, kenapa kau tidak minta izin dari ku pergi ke rapat itu?!" tanya raja Adikara dengan nada keras yang hampir saja beliau menampar ku
Nalini mencoba menjelaskan situasinya dengan penuh hormat, "Maafkan aku, ayah. Kepergian kami adalah tugas yang diberikan oleh ratu Prisha. Kami tidak memiliki pilihan dan tidak ingin menimbulkan masalah."
Raja Adikara menenangkan diri sedikit dan menghela napas. "Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Namun, pergilah ke kamarmu, Nalini. Kita akan membahasnya nanti."
Nalini dengan patuh mengikuti perintah ayahnya dan memasuki kamar pribadinya. Pranay tetap berdiri di sana, siap menghadapi kemarahan raja.
Raja Adikara menatap tajam Pranay, "Kamu juga ikut terlibat dalam ini, Pranay. Sama seperti Nalini, kamu juga harus mendengarkan penjelasanku nanti."
Pranay mengangguk dan dengan penuh rasa hormat mengikuti ayahnya ke dalam istana. Mereka perlu mencari cara untuk menjelaskan situasi yang terjadi di Kerajaan Lotus dan bagaimana hal itu terkait dengan masa depan Kerajaan Rosa Red.
Didalam ruangan yang sunyi aku dibawa, ditempat itu dengan perasaan yang tidak nyaman aku akan dimarahi oleh raja Adikara.
Dengan nada keras yang penuh kemarahan raja Adikara mengerutkan keningnya dan alisnya, "Nalini! Kenapa kau tidak minta izin ayahanda pergi ke rapat itu?! Ayahanda khawatir kau kenapa-kenapa putri ku!"
Pranay menambah kan, "Benar yang dikatakan oleh ayahanda Nalini kenapa kau tidak bilang kalau kau belum minta izin pada ayahanda?" tanya Pranay
"Maafkan aku ayahanda, untuk mencegah terjadinya kejadian tidak mengenakkan yang akan terjadi sesuai alur novel aslinya aku ingin tahu keadaan dan situasi nya dulu." batin ku
Dengan tulus nya aku meminta maaf kepada raja Adikara, "Maafkan saya ayahanda, Nalini ingin tahu seperti apa itu kekaisaran Lotus. Nalini hanya ingin tahu keadaan disana."
Raja Adikara tampak memikirkan kata-kataku, wajahnya tampak tegang dan penuh pertimbangan. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berbicara, "Nalini, aku paham keinginanmu untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia di luar kerajaan kita. Namun, kamu harus memahami bahwa ada alasan mengapa ada aturan dan batasan."
Aku mengangguk, menunjukkan bahwa aku mengerti. "Aku tahu, Ayahanda. Aku minta maaf jika aku telah melanggar aturan. Aku hanya... aku hanya merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan aku merasa perlu untuk mencari tahu."
Ayahanda menatapku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. "Apakah ini terkait dengan apa yang dikatakan Pranay tentang rapat para raja?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Ya, Ayahanda. Kami berdua merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari kita. Kami merasa perlu untuk mencari tahu apa itu."
Sejenak, ruangan itu terasa begitu hening. Ayahanda tampak tenggelam dalam pikirannya, mencoba memahami apa yang baru saja dia dengar. Akhirnya, dia berbicara lagi, "Baiklah, Nalini. Aku akan mempertimbangkan apa yang telah kamu katakan. Tapi ingat, kamu harus selalu berhati-hati. Dunia di luar kerajaan kita bisa sangat berbahaya."
Aku merasa lega mendengar kata-kata Ayahanda. "Terima kasih, Ayahanda," kataku, tersenyum pada dia. "Aku berjanji, aku akan berhati-hati."
Dengan itu, kami mengakhiri percakapan kami. Meskipun aku tahu bahwa ada banyak tantangan yang menunggu kami, aku merasa lebih baik sekarang. Aku tahu bahwa Ayahanda mengerti, dan aku tahu bahwa dia akan mendukung kami. Dan dengan pengetahuan itu, aku merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Sementara itu di sisi lain yakni dalam kastil kekaisaran Lotus paman dari antagonis pria sedang merencanakan rencana liciknya yang jahat.
Atma paman dari antagonis pria tertawa licik, "Ingat dengan baik ya. Kau harus melakukan ini."
"Iya tuan."
Di kamar ku tempat dimana aku dihukum aku merenung dan berpikir sejenak.
Dengan tenang aku merenung dan berpikir, "Aku yakin pasti saat ini Atma yang licik itu pasti merencanakan sesuatu untuk membakar istana pengasingan beserta para kelima pangeran didalamnya. Sebelum itu terjadi aku harus menghentikan nya. Tapi bagaimana caranya ya?" pikir ku
Aku menghela nafas panjang, "Seandainya saja Keshav ada disini, dia pasti bisa membantu mencari jalan keluarnya. Aku tahu dia pasti sudah tahu semua nya, dia kan titisan dewa sekaligus sahabat dari si tokoh utama pria dan kakak dari si tokoh utama wanita. Dasar Keshav licik! lihat saja nanti Keshav!" ucap ku mencaci maki Keshav
Sementara aku terus merenung, tiba-tiba terdengar suara lembut di telingaku, "Apa kau sedang mencariku?" Aku menoleh dan melihat Keshav berdiri di pintu kamar ku.
Aku kaget dan sekaligus lega melihat Keshav, "Keshav! Kau datang tepat pada waktunya. Aku butuh bantuanmu."
Keshav tersenyum, "Aku tahu, itulah sebabnya aku datang. Aku selalu ada untuk membantu." Dia berjalan mendekat dan duduk di sampingku.
Aku bercerita tentang rencana jahat Atma kepada Keshav dan meminta bantuannya untuk menghentikan rencana tersebut. Keshav mendengarkan dengan serius dan sesekali mengangguk.
Setelah aku selesai bercerita, Keshav berpikir sejenak lalu berkata, "Aku punya ide, tapi kita harus bekerja sama dan berhati-hati."
Aku mengangguk, "Apa pun itu, aku siap. Aku tidak bisa membiarkan Atma merusak semuanya. Apa yang harus kita lakukan, Keshav?"
Keshav menatapku dengan serius, "Pertama, kita harus menemui pangeran dan memberitahu mereka tentang rencana Atma. Kedua, kita harus mencari bukti tentang rencana Atma itu. Dan yang terakhir, kita harus menemukan cara untuk menghentikan Atma."
Aku menghela nafas, "Baiklah, mari kita mulai dari yang pertama. Kita harus menemui pangeran."
Keshav mengangguk, "Baik, mari kita lakukan itu. Dan jangan khawatir, kita pasti bisa menghentikan Atma."
Dengan semangat baru, aku dan Keshav berangkat untuk melaksanakan rencana kami. Meski berat, aku tahu kami bisa melalui ini asalkan kami bekerja sama.
