
Ringkasan
Karena sebuah kebohongan, JIngga Amelia berhasil membujuk Carlos Santana--seorang Fotografer terkenal, untuk berpura-pira menjadi pacarnya. Dia tidak berpikir panjang apakah Carlos adalah pria yang baik-baik saja. Namun, keesokan harinya Carlos menawarkan hubungan persahabatan padanya, tetapi bagi Jingga itu adalah hal yang tidak masuk akal. Bagi Jingga, tatapan Carlos mencerminkan omong kosong dalam dirinya. Dia tahu bahwa pria tampan itu tak pernah tertolak siapa pun dan di manapun. Dari yang awalnya hanya persahabatan, Carlos menawarkan diri untuk menjadi kekasihnya. Siapa Jingga jika menolak tawaran tersebut? Apalagi saat mereka sedang berada di tengah-tengah hubungan intim dan mereka sudah seperti layaknya sepasang kekasih. Jingga tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Carlos menjadi semakin dalam. Bahkan, meski tanpa status dia tetap bahagia. Dia merasa memiliki ruang kosong dalam hatinya dan itu telah terisi selama berhubungan dengan Carlos. Namun, suatu hari penyakit Jingga kambuh dan itu membuatnya memutuskan untuk menjadi antagonis dalam kisah cinta mereka. Dia terpaksa pergi bersama Gin. Apa yang tidak terpikirkan olehnya, adalah kenangan saat bersama Carlos dan itu menjadi beban baginya, di kemudian hari. Pada akhirnya, Jingga kembali. Namun, apakah Carlos mampu membuktikan kebenaran pepatah yang mengatakan, "Hati melihat apa yang tidak dilihat mata"?
Pria Aneh Misterius
Prolog (New Story)
Saat itu, aku sedang berada di sebuah kafe, menyeruput kopi sambil melihat orang-orang lewat di jalan. Kafe itu adalah tempat nongkrong favoritku, saat tidak melakukan apa-apa atau hanya menghabiskan waktu. Di sana kopinya sangat enak, dan aku dapat dengan mudah mengetahui apa yang terjadi di luar—karena letaknya dekat dengan jalan.
Saat sedang menghela napas, tiba-tiba orang tuaku masuk ke dalam. Aku pun berdiri dan menyambut.
"Halo, Ma," aku menyapa seraya mencium pipinya, lalu berbalik ke Ayah serta memeluknya, "halo, Ayah."
Kemudian, aku kembali ke meja, tetapi menunggu mereka duduk terlebih dahulu.
"Gimana kabarnya?" aku bertanya.
Ibu menghela napas, lalu berkata, "Jing, kamu kapan mau nikah?"
Aku pun tercengang mendengar pertanyaannya. Bagaimana mungkin mereka langsung membahas pernikahan, padahal aku ingin bertanya tentang rindu—karena lama tak bertemu, selama berbulan-bulan.
"Maaama, saya tuh belum siap, ish!"
"Dasar perawan aneh!" ibu memotong kalimatku seraya tersenyum, "kamu itu sebenarnya siap, Jing. Asal kamu tau ya, sebenarnya, Mama udah punya calon yang cocok buat kamu."
Aku meringis. Lagi-lagi ibu mau mengenalkanku pada seseorang, padahal semua calon pilihannya takada yang pernah membuatku suka.
"Ma, Jingga yakin, siapa pun pilihan Mama, pasti seorang cowok yang baik. Tapi belum tentu cocok juga sama Jingga!" aku berkata kemudian tersenyum palsu.
"Jingga, ayolah. Itu gak benar," sahut ibu, dia kemudian menyentuh tanganku, "kamu kan udah 29 tahun. Udah waktunya punya anak!"
Selama ibu berbicara, aku terus meringis. Yang dikatakannya benar-benar membuatku muak. Aku pun menatap ayah; menyipitkan mata untuk melihat, apakah beliau takpeduli, atau hanya berpura-pura saja membaca koran. Namun, pastinya aku tak akan mendapat pembelaan darinya.
Kemudian, aku mengalihkan pandangan ke Ibu; menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara, "Ma, oke-oke, Jingga coba ketemuan dulu sama dia ya," lalu tersenyum palsu.
Aku berpikir, jika menolak tawaran ibu, itu hanya memperpanjang masalah.
Ibu pun tersenyum lebar dan berkata, "Aw! Kamu baik sekali, Kesayangan Mama. Nah, Mama mau telpon si Hendrik sekarang," lalu menekan tombol ponsel.
Aku menatapnya dengan perasaan aneh.
"Mama punya nomor cowoknya?"
Ibu pun mendongak.
"Ya, Mama yakin kamu pasti suka dia. Mama janji, Hendrik itu dari kalangan terhormat!"
Alih-alih menjawabnya, aku hanya tersenyum keras—sungguh takbisa berkata apa-apa, hanya bisa mendengar percakapan antara dia dan Hendrik. Karena frustrasi, aku langsung menyesap kopi.
Tiba-tiba ibu membuatku kaget lagi, dia berkata, "Yah, Hendrik setuju! Dia mau ketemuan sama kamu, Nak! Nama lengkapnya Hendrik Lamez," lalu meletakkan ponsel, "kalian nanti ketemunya di Igor Restoran. Mama bilang ke dia kalau kamu bakal pakai gaun putih."
"Apa? Gaun putih? Ma, itu norak!"
Akan tetapi, ibu malah memberiku tatapan tajam.
"Jing, gaun putih itu gaun formal buat wanita seusia kamu!"
Aku pun tertawa.
"Oke, Ma, terserah Mama aja."
"Oke, Sayang. Ayah sama Mama mau pergi dulu."
"Oke, hati-hati."
"Kamu juga ya, Sayang, hati-hati. Jangan lupa ketemuan sama Hendrik!"
Aku meringis lagi, mengingat alarm kencan nanti dari ibu.
"Ya, Ma. Jingga gak bakal lupa."
Mereka berdiri kemudian mengucapkan selamat tinggal. Kami pun berpisah. Orang tuaku itu seperti takpunya tujuan lain, selain menjodohkanku lagi dan lagi.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Lagi-lagi, aku berkencan karena paksaan.
Aku pun pergi dari kafe, lalu berjalan menuju mobilku yang ada di tempat parkir. Saat hendak membuka pintunya, bahuku serasa ditepuk. Ketika aku melihat siapa orangnya, bibirku langsung sedikit terbuka.
Pria di depanku itu terlihat seperti selebritas yang aneh—cukup tinggi beberapa inci dibandingkan diriku. Ia memakai kaos hitam dan celana jin. Matanya menggiurkan, bagai cokelat cair; rambutnya juga hitam legam. Aku tak menyangka bahwa ada pria setampan itu, memiliki hidung runcing dan bibir tipis yang terlihat lembut; kumisnya juga jarang. Meski aku tak pernah menyukai pria berkumis, tetapi pria itu berbeda. Kumisnya menambah kejantanan dan itu terlihat cocok. Sialnya, aroma tubuhnya juga enak. Itulah yang kuinginkan dari seorang pria: aroma yang harum.
Pria itu menyeringai.
"Saya tau saya tampan, tapi kamu gak perlu mangap selebar itu. Nanti lalat masuk."
Aku pun secara otomatis menutup mulut.
"Gue lagi gak kagum sama lo ya!" aku membantah.
Pria itu tertawa.
"Hem, oke. Soalnya semua wanita yang liat saya pasti tergila-gila. Saya yakin kamu sama aja kayak mereka."
Aku tercengang.
"Wow! Pede banget lo!"
"Saya ngomong fakta. Kamu kagum sama ketampanan saya, kan?"
Aku memperhatikannya kembali. Ya, pria itu indah, tetapi sangat sombong. Sayangnya, itu salah satu kualitas yang kubenci dari seorang pria. Pria seperti itu pasti seekor buaya!
"Lo mau apa sebenarnya, terus kenapa lo sentuh-sentuh gue? Kalo tersesat, buka Gugel Map sana! Jangan tanya gue!"
"Saya yakin Gugel Map gak tau nama kamu."
Bibirku menganga karena terkejut.
"Apa!?"
"Saya nepuk bahu kamu buat narik perhatian kamu, biar saya bisa nanyain siapa nama kamu."
"Apa?"
Pria itu memutar matanya, lalu menyodorkan tangan untuk berjabat.
"Hai, kenalin, saya Tesla. Kamu?"
"Jingga."
Dia tersenyum, lalu berucap,
"Jingga? Hem ... nama yang bagus," lalu melepaskan tangannya, "sampai ketemu lagi, Jing!"
Setelah itu, dia lewat di depanku kemudian masuk ke mobil, yang diparkir di sebelah mobilku.
Aku menggeleng dengan lembut. Apa yang baru saja terjadi sangat aneh. Aku kira pria itu ingin menanyakan arah, sehingga menyentuhku, ternyata hanya menanyakan nama.
Aku menjadi gusar, jadi langsung masuk ke mobil, lalu menuju ke rumah.
*
Saat memasuki Igor Restaurant, aku mengatur gaun putih yang kukenakan.
"Permisi, reservasi Hendrik Lamez di mana, ya?"
Pelayan tersenyum.
"Lewat sini, Bu."
Aku dibimbing ke meja, di mana seorang pria ramping duduk dan mengenakan kacamata.
Sial! Jadi itu si Hendrik?
"Pak Lamez, teman kencan Bapak usah datang," pelayan berkata kepada pria itu, dan aku merasa ngeri.
Aku pun mencoba tersenyum padanya kemudian duduk di kursi kosong.
"Hai, selamat malam."
"Selamat malam juga," suaranya ternyata pecah.
Aku meringis. Apakah dia yang dikatakan ibu cocok untukku? Ya Tuhan!
"Saya Jingga Amelia."
"Ibu kamu benar, ternyata kamu sangat cantik."
Aku tersenyum palsu.
"Terima kasih."
Dia tersenyum dan berkata, "Nama saya Hendrik. Hobi saya golf dan bowling," lalu tertawa dan ah, dia terlihat cupu!
"Ngomong-ngomong, saya udah pesankan makanan buat kamu. Saya yakin kamu pasti bakal suka."
"Ya Tuhan, tolong saya!" aku diam-diam berdoa pada Tuhan.
Aku ingin berterima kasih kepada pelayan, yang telah melayani pesanan kami. Sambil makan, Hendrik bercerita tentang bisnisnya, dan tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Aku hanya mengangguk mantap saat dia menceritakan kisah itu. Aku tidak begitu tahu, tapi satu jam sudah cukup untuk berbicara dengannya, sehingga tahu bahwa pria itu, hanyalah salah satu dari orang-orang yang selalu menginginkan perhatian—dan itulah yang paling tidak kusukai.
Aku benar-benar merasa lega karena makan kami malam selesai. Ketika dia menawarkan untuk mengantar, aku menolak. Ketika dia bertanya apakah kami bisa makan malam lagi, dalam beberapa hari ke depan, aku menolak dan mengatakan bahwa dia bukan tipe priaku, dan dia harus mencari wanita lain. Meski aku merasa takenak, tapi itu lebih baik daripada membuatnya berharap.
Ketika kembali ke rumah, aku segera menanggalkan pakaian kemudian berbaring di tempat tidur—tidak memakai apa-apa selain selimut. Aku memang seperti itu saat tidur, harus telanjang karena kalau tidak, tidurku tak nyenyak.
Kemudian, aku pun memejamkan mata.
Keesokan paginya, aku terbangun karena suara keras, ternyata itu dari ponsel. Aku perlahan membuka mata, lalu meraih ponsel di meja nakas.
"Halo?" ucapku, dengan nada mengantuk.
"Jingga Amelia! Kenapa kamu bikin malu Hendrik!?" ibu berteriak dari seberang, "dia cuma berusaha bersikap baik! Makanya dia minta kamu kete ...."
"Ma, saya gak suka sama dia."
Duh, baru bangun tidur, suasana sudah sehancur itu.
"Ma, Jingga gak butuh pacaran, oke? Hendrik bukan tipe Jingga. Jadi plis, biarin Jingga sendiri."
"Jangan kasar sama Ibu, Jing! Saya ini ibu kamu. Hendrik itu lelaki yang baik. Kalian berdua cocok!"
Aku menyipitkan mata.
"Ma, tolong, berhenti ngurusin percintaan Jingga!"
Aku mematikan panggilan kemudian melepas baterai ponsel. Aku tahu ibuku, dia tidak akan berhenti memanggilku sampai aku setuju untuk berkencan dengan Hendrik lagi.
Alih-alih kembali tidur, aku berjalan ke dapur untuk menyeduh kopi—dengan percaya diri dan bertelanjang, yah, aku yakin tidak ada yang bisa melihatku.
Sambil menggiling kopi dengan mantap, aku menyetel musik. Jep ajep-ajep, ajep-ajep!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Jadi, kukecilkan volume speaker kemudian pergi ke pintu, untuk mengecek siapa yang mengetuk.
Saat pintu sudah terbuka, aki sangat syok! Ternyata pria yang mengetuk pintu adalah pria yang menepuk bahuku, di tempat parkir kafe.
"Ngapain lo ke sini!?"
Pria itu tidak menjawab, tetapi malah memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian, seringaian muncul dari bibirnya.
"Apa sekarang, kamu lagi ulang tahun? Soalnya penampilan kamu luar biasa banget."
Dahiku berkerut.
"Apa lo bilang?" sahutku.
Ya Tuhan! Mulutku langsung menganga melihat diri sendiri—sadar bahwa tak ada seutas benang pun menutupi tubuh!
"Aaaaahh, sial!"
Aku membanting pintu seraya menutup mulut dan melotot; mematung di tempatku berdiri, mengingat bahwa dia telah menelusuri tubuhku dengan matanya. Duh, kenapa aku bisa lupa bahwa sedang telanjang!"
Aku pun terkejut mendengar suara ketukan lagi.
"Hei, buka!" sebuah teriakan dari luar, "saya gak liat apa-apa kok!"
Alih-alih menjawabnya, aku berlari ke kamar untuk berpakaian.
*
Saat sedang berpakaian, suara ketukan masih saja terdengar. Aku pun jadi terburu-buru kemudian pergi untuk membuka pintu. Mataku menyipit karena dia malah tersenyum.
"Apa yang lo senyumin?"
"Gak ada."
Aku menatapnya. Meski tak dijawab, aku yakin dia sedang mengingat tubuh telanjangku!
"Terus lo mau apa?" aku berusaha mengubah topik pembicaraan, "kenapa ketuk-ketuk pintu gue?"
"Karena kamu ngengganggu. Saya lagi tidur nyenyak di kamar, tapi suara musik kamu keras banget."
Aku bertanya-tanya dan mengintip ke kamar sebelah—yah, yang kumaksud dengan rumah itu sebenarnya apartemen. Hehehe.
"Itu kamar lo?"
"Ya, saya baru beli."
"Oh."
Biasanya aku memang selalu memutar musik keras-keras, karena memang takada yang tinggal di sebelah kamar. Jadi, sejak saat itu aku harus memakai headset untuk mendengarkan musik—benar-benar menyebalkan!
"Kalau gitu siap-siap aja, musik gue bakal ngebunuh lo."
Saat aku hendak menutup pintu, lengannya malah menahanku, lalu dengan tanpa permisi, dia menempelkan bibirnya ke bibirku.
"Selamat pagi, Tetangga," dia berkata seraya berbalik pergi ke kamar, seolah-olah sedang tidak melakukan kesalahan.
Aku menegang! Meski itu hanya sebuah kecupan, aku tetap terguncang. Aku pun larut dalam keadaan linglung, bibirnya masih terasa di bibirku.
Aku pun marah lalu menggedor pintu kamarnya.
"Buka pintunya, Brengsek!"
"Kenapa? Kamu mau ciuman lagi?" jawaban dari dalam kamar.
"Cium tembok sana, Goblok!" sahutku, darahku mendidih selama menunggu, "buka pintunya!
Pintu pun terbuka, mungkin mataku basah saat itu. "Sialan lo! Kenapa tadi cium gue!?"
Dia malah menyandar ke kusen pintu, lalu menatapku.
"Saya cium kamu ya karena mau, kok kamu keliatan sedih?"
Aneh, aku takmengerti dengan pria yang berdiri di depanku itu.
"Kenapa lo ngelakuin seenaknya!"
Dia menghela napas, lalu mendekatkan wajahnya, hingga jarak antara bibir kami hanya satu senti.
"Hey, jauh-jauh!" perintahku.
Dia menyeringai, lalu membungkuk perlahan. Sebelum bibirnya menyentuh bibirku lagi, aku berlari ke dalam kemudian mengunci pintu.
Aku menghela napas sambil mengusap dada, seolah berpacu dengan denyut nadi yang sangat cepat; menyentuh bibir seraya mengingat ciumannya. Aku menggeleng, berusaha menghapus ingatan itu di benak. Ya Tuhan! Aku masih ingin waras!
