Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Kali ini aku benar-benar marah. Mungkin juga bercampur dengan keluhan dan kebencian dari kehidupan sebelumnya terhadapnya.

Begitu aku meluapkan semua emosi itu dengan teriakan yang tulus, pandanganku menghitam dan aku pingsan.

Saat terbangun lagi, hari sudah siang keesokan harinya. Dalam tidur samar-samar, aku merasa tubuhku dibolak-balik dan digerakkan ke sana kemari.

Aku terbangun di sofa ruang tamu, mengendus pelan, mengikuti aroma makanan hingga sampai ke ruang makan.

Aldari masih dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa, sedang makan siang.

Melihat pemandangan itu, hatiku justru terasa sangat tenang, karena aku sudah terlalu lapar untuk marah.

Langit boleh runtuh, bumi boleh terbalik, makan tetap yang utama. Tubuh adalah modal perjuangan. Selama aku bisa cepat besar dan menjauh darinya, semua hal menyebalkan ini tidak akan ada lagi.

Melihat di meja hanya ada makanan dan peralatan makan milik Aldari, aku mengambil sendiri sepasang alat makan, duduk di seberangnya, lalu mulai mengambil makanan dari piringnya.

Entah sudah berapa lama ayah dan anak ini tidak duduk semeja untuk makan bersama. Aku bahkan hampir tidak ingat.

Namun sekarang aku tidak punya waktu untuk bernostalgia. Rasanya jika makanan itu terlambat sedetik saja masuk ke mulutku, aku akan mati kelaparan.

Aldari melihat caraku makan yang lahap, lalu diam-diam meletakkan alat makannya.

Dia tidak makan lagi? Bagus. Aku malah merasa masih kurang kenyang. Kalau begitu, semua ini jadi milikku.

Saat aku sedang makan dengan penuh semangat, Aldari tiba-tiba berkata, "Sore nanti aku akan mempekerjakan beberapa pembantu. Saat aku tidak di rumah, kalau kamu butuh apa pun, bilang saja pada mereka."

Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya menggumamkan jawaban.

Sepertinya hidup di sini tidak seburuk yang kubayangkan.

Aku sempat mengira ke depannya aku harus memikirkan sendiri soal makan dan minum, mengingat dia sama sekali tidak peduli pada aku sebagai anaknya.

Hari-hari berikutnya berjalan cukup nyaman. Aldari juga tidak banyak mengurusku. Aku tinggal di rumah dengan pembantu yang merawatku, makanan tersedia, pakaian disiapkan.

Aku merasa hubunganku dengan Aldari mungkin masih punya ruang untuk diperbaiki, jadi aku mencoba membangun sedikit kedekatan dengannya.

Kalau bisa sampai dia meninggalkan perusahaannya padaku, itu akan jauh lebih mudah daripada harus memulai dari nol.

Malam itu, aku sedang tidur di kamar ketika mendengar suara ketukan bertubi-tubi dari bawah.

Sudah larut dan para pembantu sudah pulang. Aku berpikir mungkin Aldari lupa membawa kunci. Dia memang sering lembur hingga larut malam.

Tanpa banyak berpikir, aku membuka pintu.

Begitu melihat siapa yang datang, aku tertegun sejenak. Sementara orang itu justru menerjangku seperti orang gila.

"Malvin! Aku akan membunuhmu!"

Melihat tubuh Julio yang penuh noda darah, aku langsung tahu dia baru saja menerima hukuman keluarga dari pihak Demian.

Belum sempat aku menekan senyum yang terangkat, dia sudah menerjangku seperti angin kencang.

Aku menendangnya hingga terjerembap ke tanah. Tendangan itu keras, ditambah lagi luka-luka bekas hukuman di tubuhnya, membuatnya kesulitan untuk bangkit.

Tanpa belas kasihan, aku menginjaknya ke lantai, menatap penampilannya yang menyedihkan.

Mulutnya masih terus memaki-maki aku.

Aku tidak bisa menahan tawa kecil. "Bukankah ini pilihanmu sendiri?"

Mendengar ucapanku, Julio justru semakin menggila dalam sumpah serapahnya.

"Aku sudah tahu! Kamu juga terlahir kembali. Kamu juga kembali, benar atau tidak?!"

Aku tersenyum dan balik bertanya, "Senang ikut ibu? Bagaimana rasanya menjadi calon pewaris Grup Big Charm?"

Julio meronta dengan liar di bawah kakiku.

"Kamu sengaja! Kamu sengaja membuatku ikut wanita tidak berguna itu!"

Aku menambah tekanan kakiku, membuatnya tidak bisa bergerak, lalu dengan nada seolah sedih namun sambil tersenyum berkata.

"Bagaimana mungkin kamu berkata begitu tentang ibu kita?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel