7, Terlambat
“GIMANA proposal lu?” tanya Gia ketika Nayara masuk dan langsung rebah di ranjangnya dengan muka lusuh tertekuk-tekuk.
“Papyrus nggak mau ngeluarin data kalau belum ada izin dari big boss,” jawabnya menggerutu.
“Kan tinggal minta sama Pak Wirya aja.”
“Itu boss Papyrus. I said big boss, founder Sastra MediaNesia. Manggala Abipraya Sastradinata.”
“Ohh…” Gia mengerucutkan bibirnya. “Terus masalahnya apa lagi?”
“Ya gue harus ketemu langsung sama si Mamang.”
“Hah? Mamang?”
“Manggala itu.”
“Panggilannya Mamang?”
“Katanya dia marah kalau dipanggil Mang, Mamang, tapi ya kalau nggak ketauan kan bodo amat.”
“Memang sudah kakek-kakek marah dipanggil Mamang?”
“Nggak tau. Gue nggak pernah ngeliat orangnya sama sekali. Katanya orangnya tertutup gitu. Fotonya jarang keliatan.” Belum satu bulan dia full time. Dan orang yang dia maksud memang jarang beredar.
“Orangnya gimana tuh si Mamang?”
“Katanya sih ganteng. Cool-nya bikin tambah ganteng. Yah gitu deh, kalau orang ganteng namanya cool, kalau jelek namanya belagu. Sudahlah jelek belagu pula.”
Mereka tertawa bersama.
“Terus kapan lu ke si Mamang?”
“Tunggu proposal gue beres dulu. Sampai semua sumber data dan metodologi di-ACC.”
“Nah kalau sudah ACC trus si Mamang nggak ngizinin piye jal?”
“Mati aja lu, Gee.” Nayara melirik Gia sinis.
“Kok gue yang mati? Lu lah.” Nayara sudah melempar bantal ke wajah Gia yang terkekeh menjengkelkan. Dia langsung membalik badannya menghadap dinding dan langsung tidur.
Hari ini sama seperti hari-hari yang lain. Begitu padatnya sampai menguras waktu istirahatnya. Tapi mengingat ucapan Gia, meski sangat lelah Nayara jadi susah tidur. Bergulang guling di ranjang sampai jauh melewati tengah malam. Berakhir dia terlambat bangun dan terbirit bersiap dengan janji temu super pentingnya pagi ini.
***
Wanita cantik memesona itu mengeluarkan isi amplop lalu mulai membaca surat di tangannya. Dahinya yang tadi sudah berkeryit semakin berkenyit membaca isi surat. Sementara gadis manis di depannya masih mengatur napas yang sangat jelas terengah tanpa sanggup dia sembunyikan.
“Kamu ada janji temu sama MGP?”
“Iy… iy… iya… Bu….” Pertanyaan sederhana itu tidak bisa dia jawab dengan mulus. Jantungnya berdebar keras karena dua hal. Berlari sepanjang menuju ke gedung ini dan takut pada satu hal…
“Tapi kamu terlambat. Di sini kan sudah jelas janji temunya jam 9 sampai jam 9.30.”
Itu alasan kedua yang membuat jantungnya bertrampolin. Terlambat. Dia melirik jam di dinding ruangan itu. 9.40.
“Makanya saya ngos-ngosan gini karena saya lari dari lampu merah, Bu.”
“Loh, kenapa?”
“Buswaynya kempes ban, kalau nunggu gantinya bakal lebih lama karena haltenya sudah penuh.”
Iya, ban busway yang membuat terbiritnya tadi pagi sia-sia. Dan tentu kekacauan lain sepanjang pagi terburu-buru yang menemaninya sampai ke ruangan ini.
“Tapi tetap aja, Mbak. MGP sudah pergi, Dia itu sibuk banget. Jadwalnya sudah diatur.”
“Tapi—”
“That’s why I’m here, Miss…” dia melirik surat di tangannya mencari nama. “… Prisha Nayara.” Dia kembali menatap Nayara. “Untuk ngatur jadwal MGP. Lagian masak iya kalau kamu lari dari lampu merah itu aja lalu terlambatnya sampai empat puluh menit sih. Kamu sudah ngos-ngosan gitu,”
“Maaf, Bu…”
“Begini, Miss… Prisha Nayara,” dia melirik lagi surat di tangannya. “Saya nggak bisa bantu karena saya yang bikin jadwal MGP. Saya tahu banget jadwalnya sepadat apa. Apalagi sekarang orangnya sudah nggak di ruangan. Jadi kamu saya jorokin pas dia mau ke kamar kecil juga nggak bisa.”
“Yahh…” Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia yang sejak datang hanya berdiri gelisah di depan meja langsung membanting b*k*ngnya di kursi yang tersedia.
“Paling saya bisa reschedul aja. Tapi nggak bisa hari ini. Paling cepat…” dia mentap layar dan menggerakkan mouse di tangannya, “…lusa.”
“Aduh, saya lusa nggak bisa, Bu.”
“Wah, itu bukan urusan saya.” Dia meletakkan mouse lalu tangannya bersedekap di meja.
“Aduh, gimana ya, Bu? Saya editor di Papyrus. Mau ketemu Pak Manggala cuma mau minta izin buat pakai data perusahaannya buat bahan skripsi saya.” Nayara semakin gelisah di kursinya. Dia tetap menjaga diri menyebut Pak Manggala alih-alih MGP seperti wanita di depannya. Tangannya saling meremas. Keringat mengucur di ruangan sedingin kutub ini.
“Info itu sudah tertulis di surat ini.” Dia melirik surat di mejanya. “So?”
“Tolonglah, Bu. Selipin sebentar aja. Paling lima menit. Kan cuma izin.”
Dia terkekeh panjang.
“Kamu nggak kenal MGP. Kamu itu minta izin ngambil data perusahaan dia. Nggak akan cukup lima menit, Neng.” Dia masih terkekeh. “Dia sangat detail. Kamu bilang cuma minta izin, tapi dia akan nyecer kamu seperti dosen penguji.”
“Astaga….”
Cobaan apa lagi ini, Tuhan?
“Sudah ya, Mbak. Kerjaan saya masih banyak.” Wanita cantik itu langsung mulai bekerja lagi. “Kita atur waktu lewat email aja seperti kemarin ya. Sekarang kamu mending mempersiapkan dulu semuanya. Kalau kamu ketemu dia dengan kondisi seperti ini, saya yakin kamu gagal. Siapin semuanya dulu baru ketemu dia.”
Sebenarnya, sekertaris ini baik dan ramah. Tapi, dalam kondisi seperti ini, diabaikan dan langsung diusir—walau dengan halus—tetap saja melukai hati Nayara.
Setelah perjuangan dari semalam, demi bisa sampai di sini, ending-nya cuma seperti ini, keluhnya dalam hati.
Wanita cantik itu sudah tenggelam dalam pekerjaannya. Merasa terabaikan, Nayara hanya menghela napasnya. Lalu berdiri dengan punggung membungkuk.
“Makasih, Bu,” pamitnya yang hanya dibalas dengan lirikan dan anggukan singkat.
Dia melangkah gontai. Kakinya seperti tentakel gurita berjalan menuju lift. Membayangkan membuat janji temu baru sambil menghitung waktu tersisa. Langkahnya semakin tak bertenaga.
Ting
Pintu lift terbuka. Mengeluarkan seorang lelaki dengan setelan jas resmi. Kacamata hitam membuat wajahnya terlihat kaku. Dia begitu terburu-buru. Melihat siapa yang keluar dari lift, Lydia langsung berdiri dan menyambar berkas yang sudah dia siapkan.
“Pak…” Tiba-tiba sang sekertaris sudah berdiri di samping Nayara, menyodorkan berkas ke arah lelaki itu.
“Mana yang harus saya tanda tangani?” Dia berjalan mencari meja terdekat. Meja console di dekat lift menjadi tujuannya.
“Kata Bu Dewi Bapak sisa tanda tangan aja.” Si lelaki mengabaikan ucapan itu. Mengambil ballpoint dari saku dalam jasnya lalu segera menandatangani berkas yang sudah dibuka di halaman yang harus dia tandatangani. Tanpa dia baca lagi.
“Bilang Dewi, kalau si Jarot bikin ulah seperti ini lagi, minimal saya pindahin dia ke Vladivostok. Tanpa tunjangan.”
“Baik, Pak Em.”
Hah?
Pak Em? Emgepe? MGP? Manggala?
Ini Pak Manggala?
Nayara yang dalam mode letih lemah lesu lunglai layu mendadak langsung bersemangat. Dengan sigap dia mendekat.
“Pak… Saya Nayara, yang tadi ada janji sama Bapak jam 9.” Sekarang posisi mereka berdiri bersisian di depan lift. Manggala berdiri menghadap lift, menunggu lift datang. Sementara Nayara berdiri menghadap lelaki itu.
“So?” dia melirik jam tangannya tanpa melihat ke arah Nayara. “Sekarang hampir jam 10.”
“Pak, tolong, Pak. Cuma izin aja kok. Lisan dulu juga nggak apa-apa.”
Ting.
Pintu lift terbuka, mengantarkan lift yang kosong melompong. Manggala segera masuk, meski dikejar waktu, dia tahu tak perlu terburu-buru seperti gadis itu. Nayara yang panik, justru termangu di depan pintu lift. Ketika pintu mulai bergerak menutup baru dia tersadar dan bergegas masuk.
Kejadian selanjutnya tidak bisa diceritakan dengan dialog.
Nayara tersandung panel lift. Tubuhnya nyaris terjerembab mencium lantai. Nyaris. Andai saja Manggala tidak spontan menangkap jatuhnya maka itulah yang akan terjadi. Sekarang Nayara yang panik dan kecewa, berpenampilan kusam dan lecek, berada tepat di pelukan Manggala ketika pintu menutup sempurna di belakangnya. Lift bergerak turun.
Nayara yang masih limbung tidak bisa berpikir cepat. Dia malah menikmati harum tubuh beraroma kayu-kayuan yang menguar dari tubuh yang memeluknya.
“Kamu mau di situ sampai kapan?” Suara dingin itu terdengar dari atasnya. Mendadak Nayara seperti disiram air es. Tergagap, dia bergegas memperbaiki posisi berdirinya. Lalu mulai merengek.
“Pak, tolonglah, Pak. Izin doang, Pak. Lisan aja. Cukuplah sampai lift sampai di bawah…” Nayara melupakan malu dan terus memohon, kadung semua kacau hari ini.
Lelaki itu, dari balik kacamata hitamnya, menelisik sosok gugup, gagap, linglung, dan kumal di depannya. Matanya bergerak dari atas ke bawah. Melihat rambut yang diikat kuda acak-acakan, kemeja bergaris dan celana panjang hitam—mungkin itu satu-satunya pakaian yang cukup resmi miliknya yang bisa dia pakai menghadap founder Sastra MediaNesia, berakhir di sepatu converse merah buluk yang solnya nyaris habis tergerus aspal. Lalu kembali menatap wajah Nayara.
“Kamu sudah ketemu Lidya kan?” Dia berkata sambil merapikan dasi dan jasnya.
Nayara mengangguk cepat. Mengabaikan sakit hatinya melihat Manggala merapikan pakaiannya. Memang dia yang membuat pakaian Manggala keluar jalur. Tapi please-lah, tak perlu sampai begitu.
“Ya sudah, ikut aja aturan dia,” lanjutnya lagi tanpa ekspresi.
“Tapi, Pak. Skripsi saya bisa tertunda kalau nunggu izin resmi dari Bapak.” Nayara masih berusaha.
“Kamu belum apa-apa sudah mau main belakang?”
Ya Tuhan… suaranya sedingin, sesinis, dan sesadis itu. Kacamata hitamnya membuat Manggala terlihat makin dingin di mata Nayara.
“Buk… bukan gitu... Pak.” Nayara makin panik dan makin tergagap.
Ting
“Sudah, saya sibuk.” Dia langsung berjalan melewati pintu dan Nayara.
“Pakk…” Teriakan putus asa yang sebenarnya memilukan tapi terabaikan sempurna karena yang dipanggil kadung masuk ke dalam mobil dan mobil itu langsung meluncur tanpa basa-basi lain.
Tertinggal Nayara yang merasa sangat konyol berdiri dengan tubuh tak bisa tegap. Kepalanya bahkan tertunduk miring saat dia menarik napas lelah. Memikirkan nasibnya, dia seperti kehabisan tenaga melangkah meninggalkan gedung. Gedung yang biasa dia masuki, tapi dia tidak pernah melihat boss besarnya.
Siapalah dia….
***
