bab 6
Maya menggeleng. "Aku kenal kamu, Yang. Kamu punya hati yang besar. Dan anak ini... dia bakal jadi bagian dari kita berdua. Hasil dari cinta dan pengorbanan kita."
"Pengorbanan," Irwan mengulang kata itu dengan pahit. "Emang nggak ada cara lain?"
"Kita udah coba semuanya," Maya menyandarkan kepalanya di bahu Irwan. "Tiga kali program bayi tabung, puluhan dokter, macem-macem pengobatan... ini satu-satunya jalan yang tersisa."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Di luar, suara jangkrik memecah keheningan malam. Irwan merasakan kehangatan tubuh Maya di sampingnya, kehangatan yang selama enam tahun menjadi rumahnya.
"Kalo..." Irwan akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik. "Kalo kita lakuin ini... aku punya syarat."
Maya mengangkat wajahnya, matanya berbinar dengan harapan.
"Donor harus orang yang bener-bener kita kenal. Yang karakternya udah terbukti. Dan..." ia mengeratkan genggamannya pada tangan Maya. "Aku harus ikut dalam semua keputusan. Nggak boleh ada yang disembunyiin dari aku."
Maya mengangguk cepat. "Tentu, Yang. Apapun yang bikin kamu nyaman."
"Dan satu lagi," Irwan menatap Maya lekat-lekat. "Janji sama aku... janji kalo ini nggak bakal ngubah perasaan kamu ke aku."
Air mata Maya mengalir saat ia memeluk Irwan erat. "Nggak bakal, Yang. Kamu satu-satunya suamiku, satu-satunya yang aku sayang."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak diagnosis terakhir, mereka tidur berpelukan. Maya terlelap dengan senyum di bibirnya, sementara Irwan masih terjaga, memandangi langit-langit kamar. Ia tahu keputusannya malam ini akan mengubah hidup mereka selamanya. Ia hanya bisa berharap, cintanya pada Maya cukup kuat untuk melewati semua ini.
Bab 5
Setelah keputusan berat itu dibuat, Maya berubah seperti orang kesetanan. Setiap malam, cahaya laptop menyinari wajahnya yang pucat di kamar mereka yang gelap. Jemarinya yang biasa meneken kontrak miliaran, kini tak henti-hentinya mengetik kata kunci di Google: "donor sperma", "keberhasilan inseminasi", "prosedur bayi tabung".
Irwan berbaring di sampingnya, pura-pura tidur tapi matanya tak bisa lepas dari bayangan Maya di dinding. Istrinya yang biasanya rapi sempurna di depan klien, sekarang berantakan dengan rambut diikat asal dan kacamata melorot.
"Belum tidur juga?" Irwan akhirnya bertanya, setelah jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Maya menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Bentar lagi. Aku ketemu forum bagus nih."
Di luar kamar mereka, suara-suara malam berbaur dengan dentingan peralatan dapur. Pak Karyo, seperti biasa, masih membereskan rumah hingga larut. Kebiasaannya sejak empat tahun bekerja di rumah ini - memastikan semuanya sempurna sebelum tidur.
Seminggu berlalu seperti itu. Maya dengan laptopnya, Irwan dengan kecemasannya, dan Pak Karyo dengan rutinitas malamnya. Hingga suatu malam, Maya menutup laptopnya dengan gerakan tegas.
"Yang," ia berbalik menghadap Irwan yang sedang membaca laporan kantor. "Aku udah nemu tiga pilihan yang paling mungkin."
Irwan menurunkan dokumennya perlahan. Entah mengapa, jantungnya berdebar lebih kencang. "Apa aja?"
"Pertama, bayi tabung. Tapi..." Maya menggigit bibir, kebiasaannya saat gugup. "Prosesnya ribet dan peluang berhasilnya... nggak tinggi-tinggi amat di umurku."
Irwan mengangguk. Mereka sudah terlalu familiar dengan prosedur itu.
"Kedua, inseminasi buatan. Lebih simpel dari bayi tabung, tapi..." Maya menarik napas dalam. "Tingkat keberhasilnya juga nggak terlalu oke."
"Terus yang ketiga?" Irwan bertanya, meski ia sudah bisa menebak dari cara Maya menghindari tatapannya.
"Cara natural." Maya mengucapkannya dengan suara nyaris berbisik.
Hening sejenak. Dari lantai bawah, terdengar suara mesin cuci yang baru selesai. Pak Karyo pasti sedang melipat cucian sekarang, rutinitas terakhirnya sebelum tidur.
"Kata dokter Ratna..." Maya melanjutkan dengan hati-hati, "di umur 34, tubuhku bakal lebih respon sama cara natural. Hormon-hormon yang keluar waktu... waktu berhubungan, bisa naikin peluang hamil jauh lebih gede."
Irwan bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Lampu taman yang temaram menyinari wajahnya yang tegang. "Kamu mau aku bayangin istriku tidur sama cowok lain?"
"Bukan gitu, Yang..." Maya menghampirinya, memeluk Irwan dari belakang. "Ini cuma... prosedur medis aja. Kayak donor darah atau donor organ."
Irwan tertawa getir. "Donor yang bikin istriku telanjang di ranjang orang lain?"
Maya melepaskan pelukannya, mundur beberapa langkah. "Kalo kamu belum siap, kita bisa..."
"Tidak," Irwan memotong. "Kita udah sepakat mau nyoba. Aku nggak mau liat kamu nangis tiap malem lagi." Ia berbalik, menatap Maya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi tolong... kasih aku waktu buat nyerna semua ini."
***
Pencarian donor dimulai minggu berikutnya. Maya memutuskan untuk mendekati sepupunya, Andi, yang sudah memiliki tiga anak. Mereka bertemu di Starbucks sebuah mall di Jakarta Selatan, jauh dari lingkungan sosial mereka yang saling mengenal.
"Jadi," Andi menyesap espresso-nya dengan gugup, "kalian mau aku... ngasih..."
"Spermamu," Maya menyelesaikan kalimatnya, mencoba kedengaran profesional seperti waktu meeting. "Secara medis, tentu aja. Semua bakal dilakukan dengan prosedur yang bener."
Andi nyaris tersedak kopinya. "Are you out of your mind?" bisiknya tajam. "Gimana kalo Tante tau? Atau Papa? Mereka bisa kena stroke!"
"Nggak bakal ada yang tau," Maya mencondongkan tubuhnya, suaranya memohon. "Please, Ndi. Kamu tau kan banget kami pengen punya anak."
"No way." Andi menggeleng tegas, membereskan tasnya. "Aku nggak mau ikutan drama kayak gini. Cari orang lain aja deh." Ia berdiri, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Dan May... please jangan cerita ke siapa-siapa soal obrolan ini ya."
Irwan tidak lebih beruntung. Ia mencoba peruntungannya dengan Dimas, teman kuliahnya yang masih lajang. Mereka bertemu di Senayan National Golf Club, tempat yang cukup eksklusif untuk menjamin privasi.
"Sorry, Wan," Dimas mengayunkan stick golf-nya dengan gugup, bolanya meleset jauh. "This is... too much banget. Maksud gue, kita emang temen deket, tapi..."
"Kita bikin perjanjian resmi," Irwan menjelaskan, tangannya gemetar memegang stick. "Semuanya legal dan rahasia."
"Dan bayangin setiap liat anakmu nanti, itu sebenernya..." Dimas menggeleng kuat-kuat. "I can't, Wan. This is fucked up banget."
Dimas meninggalkan lapangan golf bahkan sebelum menyelesaikan hole ketiga. Sejak itu, ia menghilang dari grup WhatsApp alumni, dan status Last Seen-nya di chat personal dengan Irwan selalu "Last seen a long time ago".
Penolakan demi penolakan berdatangan. Undangan makan malam yang biasanya disambut antusias, kini selalu berakhir dengan "Ada meeting dadakan" atau "Anak lagi sakit". Group chat yang biasanya ramai dengan candaan dan gosip, mendadak sepi setiap Maya atau Irwan mengirim pesan.
"Liat deh cara mereka ngeliatin aku di supermarket tadi," Maya terisak suatu malam. "Bini Dimas pura-pura nggak liat, padahal jelas-jelas kita papasan di bagian sayur."
Irwan melampiaskan frustrasinya dengan lembur. Kantornya yang biasanya sepi setelah jam lima, kini menjadi tempat pelariannya hingga tengah malam. Proposal-proposal menumpuk di mejanya - bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena ia takut pulang dan menghadapi kenyataan.
Suatu malam, Maya pulang dengan wajah kusut. Blazer Burberry-nya tampak kusut, maskara luntur di sudut matanya. Satu lagi makan siang yang dibatalkan sepihak oleh teman-temannya - kali ini Sandra, sahabatnya sejak kuliah.
"Ini semua gara-gara kamu!" Maya membanting tas Hermes-nya ke lantai. Pak Karyo yang sedang mengepel di dekat situ terlonjak kaget, tapi tetap diam melanjutkan pekerjaannya. "Kalo aja kamu normal..."
"Kalo kamu normal, kita nggak perlu bikin malu diri sendiri kayak gini!"
Kata-kata itu menggema di dapur yang luas. Pak Karyo, yang sedang mengelap konter dapur, menghentikan gerakannya sejenak. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia sudah terbiasa dengan pertengkaran majikannya. Biasanya hanya bisikan-bisikan tajam atau pintu yang dibanting. Tapi malam ini berbeda.
