Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7: Baju kemeja dari Mila

Baju kemeja warna abu-abu polos melekat dibubuh kekar suamiku. Baju yang kemren Mila pilih-pilih ketika belanja denganku. Otakku benar-benar sakit harus memikirkan hal ini.

Mas wira makin mendekat, aroma parfum laundry semerbak menggelitik hidungku.

"Sayang, mas kangen". Seraya memelukku dan mendaratkan ciuman manis dikeningku. Dan beralih mencium Dimas.

"Baju baru mas? Tumbeh beli baju sendiri, biasanya nyeret-nyeret istri dulu kalau mau beli baju". Cecarku penuh rasa penasaran.

Begitulah mas Wira tidak pernah mau beli baju sendiri, pasti dia akan mengajakku ketika dia suka baju yang dia lihat. Walaupun dia lihat itu ketika dia sendiri, tapi tidak langsung dia beli. Ntah besoknya dia mengajakku untuk membeli baju itu. Aneh bukan?

"Eh ini kemarin mas lupa taroh laundryan, alhasih baju mas habis, kebetulan bener temen mas yang baru belajar jualan bawa sampel nya kekosan mas kemaren, jadi mas beli". Mas Wira menjelaskan namun tak mampu memandang mataku, dia berbicara sambil menggoda Dimas.

"Oh...". Sudah pandai berbohong rupanya suamiku ini. Baiklah sepertinya rencanaku untuk menyelidiki akan aku lanjutkan.

"Mandi langsung gih mas, air hangat udah aku siapkan".

"Siap sayang". Tak henti-hentinya mas Wira menciumu pipi Dimas yang gembul. Setelah meninggalkannya kekamar mandi.

Selesai melakukan ritual di kamar mandi, mas Wira duduk disebelahku. Menyeruput kopi yang aku buat tadi. Sementara Dimas sudah mulai nguap dan merengek ingin ditemanin tidur.

"Mas aku nidurkan Dimas dulu ya, kalau mau makan dulu gak apa-apa".

"Mas nunggu kamu aja deh, gak seru makan sendiri"

"Yaudah tunggu ya". Aku membopong Dimas menuju kamarnya. Tak berapa lama Dimas sudah terlelap tidur dengan nyenyak.

Aku menutup pintu dengan pelan agar tak menimbulkan bunyi berderit. Aku mencari keberadaan mas Wira, namun tak ada diruang tengah, tempat dia menonton TV tadi. Kemana dia?

Aku mencari diruang tamu tapi tidak ada. Pintu sedikit terbuka aku beniat menguncinya, takut nanti kelupaan mungkin mas Wira lagi di kamar mandi, fikirku.

Ketika tangan mungilku ini menyentuh gagang pintu, aku dengar suara seorang sedang berbicara diteras depan.

Aku sedikit melongok dari celah pintu ynag terbuka, ternyata mas Wira sedang berbincang dengan gawainya. Rasa penasaranku kembali timbul, mendengar mas Wira berbicara agak sedikit berbisik.

"Udah ya, sudah aku bilang jangan telfon kalau aku dirumah!"

"Mas".

Seketika gawai mas Wira terjatuh dan tempampang nama Mila di layar handphone mas Wira yang masih menyala. Buru-buru mas Wira mematikan sambungan telefon dan meletakan HP nya diatas meja teras.

"Sayang". Jawabnya gugup.

"Ada apa Mila nelfon mas?"

"Cuma konfirmasi barang yang mas order tadi dek, dia lupa katanya, mas udah bilang besok aja, sekarang bukan jam kerja".

"Oh gitu, yuk makan, aku udah lapar".

"Ayuk". Mas Wira melingkarkan tangannya di pinggangku, dan mengajakku masuk. Aku pura-pura percaya dengan apa yang mas Wira ucapkan, agar rencanaku tidak ketahuan.

Setelah makan malam, mas Wira pergi kemasjid untuk sholat isya sedangkan aku sholat dirumah. Setelah selesai sholat aku rebahan dikasur sembari menunggu mas Wira pulang dari masjid.

Aku buka aplikasi biru berlogo F. Ada status aneh lagi disana.

[Calon suami idaman]

Iseng aku aku komentari status itu.

[Wah udah ada calon aja, kenalin donk]

[Hehehe..]

Cuma itu balasan Mila, karena aku yakin itu akun Mila.

"Assalamualaikum". Ucap mas Wira memasuki kamar.

"Walaikumsalam mas"

"Sayang". Mas Wira langsung menyusulku keatas ranjang dan dia memulai aksinya membuatku melayang. Aktivitas ini selalu kami lakukan ketika mas Wira dirumah.

Ini yang membuatku tak percaya jika mas Wira ada main dengan perempuan lagi dibelakangku, tapi bedak, baju dan juga telfon yang tiba-tiba dia matikan itu membuatku terus ingin mencurigianya. Dia selalu hangat di ranjang, tidak mengabaikan hakku sebagai istri, kewajibannya sebagai ayah juga tidakndia abaikan.

***

Perlahan mas Wira mulai berubah, dia selalu pulang malam dan berangkat pagi-pagi sekali. Walaupun aktivitas ranjang tak berubah. Tapi perubahan yang lainnya sangat menyita perhatianku.

"Mas kok kamu sekarang sering pulang malam?". Tanyaku suatu ketika.

"Iya dek, omset mas melorot tajam jadi mas sekarang ini hanya menerima gaji aja, bonus gak turun, sedangkan kebutuhan kita banyak, jadi mas ya harus pintar bujuk klien biar order yang banyak dek, makanya masa disrurh nemenin klien nonton bola sampe malam mas jabanin".

"Oh jadi kamu sering nemenin klien mas". Aku jadi merasa bersalah udah berfikir yang gak-gak.

Dan memag ekonomi kami sedang berada dibawah, mas Wira tidak mendapat uang bensin lagi hanya menerima gaji saja, sedangkan gaji setengahnya untuk bayar cicilan rumah. Jualan onlineku juga lagi sepi pembeli.

"Dek mas cuma ada segini untuk berangkat keluar kota". Mas Wira menunjukan uang 2 lembar warna merah.

"Cukup untuk mas gak?"

"Kamu pegang ATM ini aja ya, didalamnya kemaren mas cek ada saldonya, uang ini untuk pegangan mas ya".

"Iya mas, tapi apa mas gak libur, besok kan almanak merah mas".

"Mana ada libur dek?"

"Hemm yaudah deh, mas hati-hati ya".

Aneh, di almanak hari ini hari libur, biasanya mas Wira libur, tapi kali ini tidak libur, apa yang sebenarnya mas Wira sembunyikan? Kenapa aku tiba-tiba menjadi seolah asing bagi mas Wira.

Akhirnya akuu melepas kepergian dengan berat hati. Kemana sebenarnya mas Wira. Apa aku tanya sama kak Umar? kak Umar adalah teman satu divisi mas Wira, sudah satu bulan ini mereka keluar kota bersama.

Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi kak Umar.

"Halo kak, apa mas Wira ada sama kakak?"

"Gak ada Nay, kan hari besok libur jadi hari ini belum keluar kota".

"Oh begitu ya, oke kak makasih infonya".

"Memng Wira kemana Nay?" Tanya kak Umar, sepertinya dia penasaran.

"Aku juga tidak tahu kak, pamitnya tadi dia keluar kota sama kakak, tapi kok aneh ya."

"Oh, coba nanti kakak telfon Wira Nay."

"Makasih ya kak, nanti kalau ada kabar dari mas Wira, kabari Naya ya."

"Iya Nay."

Sambungan telepon terputus dan kuletakan ponselku diatas meja samping ranjang. Kemudian aku susul Dimas dikamarnya. Anak baik itu kini tengah demam.

"Ma..." Panggilnya dengan nada yang begitu lemah.

Kutempelkan punggung tangganku dikeningnya, ternyata panasnya semakin naik.

"Sebentar ya sayang, mama abil termometer sama kain untuk kompres Dimas ya."

"Iya ma." Aku sangat bersyukur, Dimas anak yang baik, dia jarang sekali rewel, walaupun dia tengah sakit seperti ini.

Aku mengambil mangkok, kain, air hangat dan termometer, kujepikan termometer itu diketiak Dimas, setelah beberapa detik akhirnya benda pengukur suhu itu berhenti di angka 39,3. Sebida mungkin aku tak panik, walaupun sebenarnya sangat panik.

Kain kompres sudah aku bububkan dikening Dimas, anak manis itu sedikit menggigil. Kemunian aku selimuti tubuhnyabhingga ke leher.

"Sayang mama ambil obat dulu ya, oanas kamu semakin tinggi." Kali ini Dimas hanya mengangguk dan memejamkan matanya.

Aku periksa kotak obat, ternyata obat penurun panas Dimas sudah habis. Aku menangis tertahan.

"Yaa Allah mas, kamu dimana?"

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel