Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 7. TAK SIAP PUNYA ANAK

Nurmala terus meraung, menangis sejadi-jadinya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Jika ibunya tahu Nurmala hamil, pasti beliau akan marah dan kecewa, bagaimana jika penyakit ibunya kambuh. Hidup Nurmala sudah susah, apalagi dengan kehamilannya. Belum lagi cemoohan orang-orang tentangnya, nanti. Jalan satu-satunya adalah menggugurkan kandungannya supaya aib Nurmala tak terbongkar.

Ratna terbangun dari tidurnya saat mendengar tangisan Nurmala. Ratna bergegas ke kamar mandi karena khawatir dengan keadaan Nurmala. Dia terkejut melihat Nurmala duduk di lantai sembari memukuli perutnya, terlebih lagi ada 4 tespek dengan dua garis merah berceceran di lantai.

"Nurmala." Seru Ratna, kemudian berhambur menarik Nurmala ke dalam pelukannya. Ia tak ingin melihat Nurmala menyakiti diri sendiri.

"Hidupku hancur, Na, hidupku hancur." Nurmala menangis pilu.

Ratna mengusap pungggung Nurmala dengan lembut. Membiarkan Nurmala menangis tersedu-sedu untuk mencurahkan semua rasa sakitnya.

"Siapa pelakunya Nur, siapa ayah dari bayimu? Apa Kak Firman. Dia harus tanggung jawab," pipi Ratna sudah basah dengan air mata.

"Aku diperkosa, Na. Aku di perkosa, aku di perkosa,” jawab Nurmala sembari menangis tergugu.

Ratna terkejut mendengar jawaban Nurmala. Apalagi tangis Nurmala semakin kencang. Ratna pun ikut menangis, dia bisa merasakan penderitaan yang telah dialami oleh sahabatnya. Sekarang dia tahu, alasan kenapa Nurmala selalu terlihat sedih, ia tak pernah menyangka jika Nurmala akan mengalami hal seburuk ini.

"Siapa, Nur? Siapa yang udah perkosa kamu, siapa?" tanya Ratna, "Apa kak Firman?" tanya Ratna yang dijawab dengan gelengan oleh Nurmala.

Ratna melepaskan pelukannya, ia merangkum kedua pipi Nurmala yang masih menangis sesenggukan karena dia tidak mau menjawab pertanyaannya. "Katakan, siapa pelakunya?"

Nurmala kembali menggeleng sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Katakan Nur, siapa yang udah perkosa kamu?" Ratna masih menuntut jawaban dengan tegas sembari mengguncang bahu Nurmala.

"Anak majikanku." jawab Nurmala dengan suara serak.

"Ya Tuhan." Ratna terkejut, lalu kembali memeluk Nurmala, “Dia harus tanggung jawab, Nur. Dia harus nikahin kamu, besok kita ke rumahnya.”

“Jangan, aku nggak mau nikah sama dia. Dia jahat, aku benci sama dia.”

“Terus gimana sama kandungan kamu?”

“Gugurin aja. Aku nggak sanggup kalau harus punya anak di luar nikah.”

"Lebih baik kita keluar dulu dari sini. Kita cari solusi sama-sama," usul Ratna. Nurmala mengangguk, Ratna pun menuntunnya keluar dari kamar mandi.

Alfian tak lagi tinggal di rumah orang tuanya, sebab ranjangnya selalu mengingatkan kejadian itu, di mana dia sudah memaksa seorang gadis. Ia lebih memilih tinggal di rumah pribadi yang ia beli sendiri dengan hasil kerja kerasnya.

Wajah gadis itu selalu terbayang-bayang menghantuinya. Membuat rasa bersalahnya menyeruak setiap saat, terlebih gadis itu belum mencairkan cek yang ia berikan. Dia ingin melupakan kejadian itu dan hidup tenang tanpa rasa bersalah. Namun, sialnya tadi dia malah bertemu dengan wanita itu lagi.

Ketika Alfian sibuk memikirkan Nurmala, terdengar suara ketukan pintu. Alfian beranjak dari sofa dan bergegas menuju pintu utama. Ia terkejut melihat Vanessa berdiri di depan pintu. Jantung Alfian masih berdebar untuk Vanessa, satu-satunya wanita yang mampu mencuri hatinya. Alfian sudah berusaha untuk melupakan Vanessa, beberapa kali berganti kekasih sebagai pelarian, tapi rasa cinta untuk Vanessa sedikitpun tak bisa pudar. Tiba-tiba Vanessa berhambur memeluk Alfian sembari menangis tersedu-sedu.

"Mau apa kamu datang kemari?" tanya Alfian, hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa Vanessa menikah dengan sahabatnya.

“Dia jahat sama aku, Al.”

"Jangan seperti ini, tidak enak di lihat orang." Alfian melihat seorang penjaga kebun yang lewat sembari memperhatikannya, Alfian pun membawa Vanessa masuk ke dalam rumahnya, karena Vanessa tak mau melepaskan pelukannya,

Alfian memberikan Vanessa segelas air putih dan langsung diminumnya hingga tandas. Alfian duduk di hadapan Vanessa, di tengah-tengah mereka ada meja.

"Alfian, apa kamu masih cinta sama aku?" tanya Vanessa dengan tatapan penuh harap.

“Apa pentingnya itu sekarang?”

“Jika aku bercerai dari suamiku, apa kamu mau kembali sama aku?”

"Aku tidak mau merusak rumah tangga orang." Alfian membuang muka.

Vanessa menunjukkan luka dan lebam di area tangan dan kakinya, dia membuka syal yang menutupi bekas cekikan di lehernya."Bukan kamu yang merusak rumah tanggaku, suamiku ringan tangan. Dia suka menyiksaku, Alfian. Aku nggak sanggup jadi istrinya lagi."

"Mana mungkin Revan sekasar itu padamu?" Alfian meragukan pernyataan Vanessa, sebab Alfian sangat mengenal Revan, tapi bukan tidak mungkin Revan berbuat keji pada Vanessa. Revan bahkan pernah menusuknya dari belakang.

"Aku sendiri juga baru tahu sifat aslinya setelah menikah. Seharusnya aku tidak menerima perjodohan itu. Tolong terima aku kembali, Al. Aku masih sangat mencintai kamu,” pinta Vanessa sembari menangis tersedu-sedu.

Alfian menghela nafas berat, jujur saja hatinya masih di penuhi dengan nama Vanessa. Namun, pengkhianatan Vanessa terlalu menyakitkan untuknya.

“Kamu yang meninggalkan aku, sekarang kamu ingin meninggalkan suamimu?”

“Al, aku terpaksa nikah sama dia. Papa yang maksa aku, Al. Seharusnya aku menolak perjodohan itu dan mempertahankan cinta kita. Aku masih cinta sama kamu, Al.”

Alfian menyandarkan punggungnya di sofa, berpikir sejenak kemudian berkata, “Selesaikan dulu urusanmu dengan Revan. Jika sudah selesai, baru kamu boleh datang padaku.”

"Kamu serius, Al." Vanessa tersenyum cerah.

"Hemmm" Alfian hanya berdehem. Sebenarnya, Alfian masih sangat mencintai Vanessa dan berharap cinta mereka masih bisa bersatu.

***

Roy masuk ke ruangan Alfian, di jam istirahat ini Alfian masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya untuk mengalihkan kekacauan dalam hidupnya. Roy meletakkan map berisi berkas-berkas yang harus di tandatangani Alfian di atas meja.

"Nggak istirahat?" Roy melihat jam yang melingkar di tangannya.

"Sibuk." Alfian tak mau mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.

“Aku mau cari makan, kamu mau pesan nggak?”

“Rujak mangga.”

"Mangga? Serius kamu pesan rujak mangga." Kening Roy berkerut.

“Iya.”

“Tumben. Biasanya kamu nggak suka makanan asam.”

"Jangan banyak tanya." Membayangkan mangga saja air liur Alfian sudah mengucur di kerongkongan.

"Kamu ada masalah apa, kok jutek mulu'?" Roy tahu jika Alfian sedang ada masalah maka akan melampiaskannya pada pekerjaan dan selalu bersikap dingin. Lihat saja sekarang, dia bekerja tanpa henti. Tadi pagi-pagi sekali sudah ada di kantor dan pulang paling awal jam 9 malam sampai jam 12 malam.

Alfian menghela napas panjang. "Tidak ada." Alfian mengalihkan pandangannya pada hp-nya yang berdering. Tertera nama Sarah di layar hp-nya.

“Hallo.”

"Kak, Mama masuk rumah sakit." Sarah berkata dengan suara serak tanpa mengucap salam.

"Apa?" Alfian berdiri dari kursi saking terkejutnya. Ekspresi dingin di wajahnya berubah menjadi cemas.

“Cepat kesini, Kak. Mama dirawat di rumah sakit xxxx.”

"Iya, aku kesana sekarang." Alfian bergegas pergi dari tempatnya berdiri.

"Ada apa, Al?" Roy menahan langkah Alfian. Ia penasaran apa yang terjadi hingga Alfian terlihat panik dan buru-buru pergi begitu.

"Mama masuk rumah sakit, aku harus segera pergi." Alfian pun berlalu pergi.

“Hati-hati, Al. Jangan ngebut.”

Alfian keluar dari kantor menuju parkiran. Ia segera masuk mobil dan memacu dengan kecepatan tinggi. Dia hanya berharap jalanan tidak macet dan selamat sampai tujuan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 setengah jam, Alfian sampai di rumah sakit. Ia buru-buru memasuki rumah sakit, dia berjalan sedikit berlari melewati ruangan demi ruangan hingga sampai di ruang rawat Ayu.

Alfian membuka pintu bangsal. terlihat Lukman dan Sarah duduk di sebelah Ayu yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Tangannya terdapat infus dan hidung di pasangi nasal oksigen.

"Mama." Alfian menghampiri Ayu. Ia sangat cemas melihat keadaan Ayu yang sangat pucat.

"Siapa yang menyuruhnya kesini?" Mendengar pertanyaan Ayu, langkah Alfian terhenti. Ayu memalingkan wajahnya, ia membuang muka tak mau melihat Alfian.

"Sarah, Ma, yang nyuruh Kak Alfian datang kemari," jawab Sarah.

Alfian masih berdiri mematung memandangi wajah pucat Ayu, hanya dengan satu langkah kaki saja, Alfian sudah sampai di sisi ranjang Ayu. Ekspresi Lukman begitu dingin, tak jauh beda dengan Ayu.

"Bagaimana keadaan Mama sekarang?" Alfian berusaha mengabaikan sikap acuh Ayu, dia tidak bisa marah pada wanita yang sudah melahirkannya dan membesarkannya dengan cinta. Alfian hendak memegang tangan Ayu, tapi belum tersentuh sudah di tepis.

"Ma," seru Alfian dengan kecewa.

"Jangan pernah menemui Mama, sebelum kamu menikahi Nurmala," pinta Ayu. Ternyata Ayu masih kekeh dengan keputusannya. Alfian hanya bisa menghela nafas panjang tak mau menyetujui permintaan Ayu, sebab sudah pasti jawabannya adalah tidak. Apalagi Alfian sudah berjanji akan kembali pada Vanessa jika Vanessa bercerai dari suaminya.

"Mama sakit kayak gini gara-gara stress mikirin Mbak Nur. Salah apa ‘sih Kak, Mbak Nur sama Kakak. Dia itu gadis baik dan cantik, aku senang kalau dia jadi kakak iparku. Apa susahnya ‘sih nikahin Mbak Nur? Diakan udah nggak perawan lagi gara-gara kamu, Kak," perkataan Sarah membuat Alfian semakin terpojok.

"Sudah-sudah, percuma kalian ngomong sama batu." Lukman menengahi, “Istriku sedang sakit, kalau kamu datang ke sini cuma untuk memperparah keadaan istriku, lebih baik kamu pergi.”

"Mana bisa aku menikahi gadis yang tidak aku cintai," protes Alfian.

"Meniduri bisa, tapi menikahi tidak bisa. Aku tidak Sudi memiliki anak bejat dan tidak bertanggungjawab seperti kamu. Pergi kamu dari sini dan jangan pernah muncul di hadapan kami," cerca Lukman dengan emosi yang menggebu-gebu. Ia sangat marah melihat Alfian yang keras kepala dengan keputusannya.

"Maafin Alfian, Ma." Alfian mundur dan berbalik, dia memilih pergi daripada harus berdebat dengan keluarganya. Setelah Alfian tak terlihat, Lukman memijit pelipisnya yang terasa pening.

***

Nurmala memasuki rumah sakit seorang diri, Ratna tak bisa menemaninya karena masih ada urusan. Nurmala memutuskan untuk konsultasi ke dokter seorang diri.

Nurmala duduk mengantri bersama dengan para ibu-ibu hamil lainnya. Mereka diantar oleh suaminya, hanya ada 3 wanita hamil duduk tanpa ditemani pasangannya. Salah satunya adalah Nurmala.

Perut Nurmala terasa mual. Dia berlari menuju toilet dan memuntahkan semua isi perutnya ke dalam kloset. Nurmala berdiri di depan cermin, tangannya menampung air kran lalu menyeka wajahnya yang penuh dengan keringat. Dia melihat pantulan wajahnya yang terlihat pucat, bagian bawah matanya seperti mata panda. Tidak ada gizi makanan yang bisa diserap oleh tubuh Nurmala, sebab setelah 1 jam mengisi perut maka makanan itu akan dimuntahkan keluar.

Baru saja duduk di depan ruang ob-gyn, nama Nurmala sudah panggil oleh perawat. Nurmala memasuki ruangan dokter kandungan, lalu duduk di hadapan dokter wanita, ada meja di tengah-tengah mereka.

“Dengan Nyonya Nurmala.”

“Iya, Dok.”

“Anda punya keluhan?”

"Emmm, i-itu sa-saya mau." Nurmala meremas jemarinya. Ia gugup setengah mati untuk menyampaikan tujuannya datang kemari.

"Katakan saja jangan takut," ujar Dokter ob-gyn dengan ramah.

"Ba-bagaimana caranya menggugurkan kandungan?" tanya Nurmala dengan terbata-bata.

"Maksudnya?" Kening dokter berkerut.

Nurmala semakin nervous. Dia sangat bingung dan tak tahu harus mengatasi masalahnya dengan cara apa. Maka dari itu Nurmala ingin berkonsultasi tentang cara menggugurkan kandungan yang aman dengan Dokter spesialis ob-gyn.

"Saya, saya mau gugurin kandungan saya." Keputusan Nurmala sudah bulat. Ia tak ingin memiliki anak di luar nikah.

"Loh, kenapa?" Dokter terkejut mendengar pertanyaan Nurmala.

Nurmala susah payah menelan salivanya. "Saya masih muda dan belum siap punya anak." Nurmala memang belum siap punya anak, apalagi jika harus hamil tanpa suami. Ini adalah alasan utamanya.

"Hemmm, kami sebagai Dokter tidak bisa sembarangan melakukan aborsi, harus ada prosedur yang mesti di jalankan. Kalau keadaan darurat misalnya janin yang di kandung bisa membahayakan nyawa Si Ibu atau janin tidak normal, barulah dokter rumah sakit ini bisa melakukan tindakan aborsi."

Mata Nurmala berkaca-kaca mendengar jawaban dokter, ia meremas jemarinya. Dia semakin bingung. Ternyata aborsi tidak semudah yang ia bayangkan.

"Di mana suamimu?" tanya Dokter. Nurmala menundukkan kepala, bingung harus menjawab apa. Nurmala sangat malu jika hanya mengakui jika dirinya hamil tanpa memiliki suami.

Kebisuan Nurmala membuat Dokter menyimpulkan jika Nurmala adalah gadis yang terlibat pergaulan bebas dan hamil di luar nikah. Maka dari itu dia ingin menggugurkan kandungannya. Pasti Nurmala belum menikah.

"Baik, di mana ayah dari bayi yang kamu kandung?" Dokter kembali memberi pertanyaan yang sedikit berbeda.

"Saya, ayah dari bayinya."

Nurmala langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Nurmala sangat terkejut melihat Alfian sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan mengintimidasi seakan ingin menguliti Nurmala hidup-hidup.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel