Pria arogan
"Anda benar-benar keterlaluan."
"Saya tidak peduli."
Akad nikah selesai dalam suasana yang terasa asing. Tak ada tepuk tangan. Tak ada senyum. Tak ada ucapan selamat yang riuh seperti pernikahan pada umumnya.
Yang ada hanya wajah-wajah murung. Sebagian tetangga menunduk, sebagian lagi saling pandang dengan tatapan iba.
Zavira duduk kaku di tempatnya. Tangannya dingin. Bibirnya pucat. Air matanya mengalir tanpa bisa ia hentikan sejak ijab kabul selesai diucapkan.
Ia sudah menjadi istri seseorang sekarang.
Begitu cepat. Begitu mendadak. Begitu menyesakkan. Dan bukan keinginannya.
Pak Herman berdiri dari duduknya. Langkahnya tertatih mendekati Xafier. “Tuan, sekarang Zavira sudah jadi tanggung jawab Tuan.”
Xafier berdiri tegak, wajahnya tetap datar seperti biasa menatap Pak Herman. Tidak ada perubahan ekspresi sedikit pun sejak tadi.
Pak Herman menelan ludah sebelum melanjutkan. “Tolong jaga anak saya baik-baik. Dia sudah terlalu banyak menderita.”
Mendengar itu Zavira menunduk. Air matanya jatuh menetes ke punggung tangannya.
Pak Herman terdiam sebentar, lalu kembali bersuara dengan nada yang lebih lirih.
“Kalau suatu hari nanti, Tuan sudah tidak menyukai Zavira lagi, tolong kembalikan dia pada kami.”
Kalimat itu membuat beberapa tetangga ikut menunduk haru. Zavira menggigit bibirnya keras-keras. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas.
Xafier menatap Pak Herman beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
“Saya akan memastikan Zavira hidup dengan baik,” ucapnya datar.
Hanya itu. Tidak lebih. Tidak kurang setelah ucapan menyentuh Pak Herman. Akan tetapi tentu, ucapan itu sedikit banyak menghilangkan kekhawatiran Pak Herman.
Zavira masih menunduk. Air matanya terus mengalir tanpa suara. Dalam hati ia bergumam lirih. "Setelah ini hidupku akan berubah. Bahkan mungkin akan jadi neraka."
Tangan hangat tiba-tiba menyentuh pipinya. Bu Farida menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang sudah basah sejak tadi.
“Ibu minta maaf,” isaknya pecah. “Maaf sudah bikin hidup kamu susah begini, Nak.”
Zavira langsung memeluk ibunya erat. Tangannya mencengkeram punggung Bu Farida seolah tidak ingin melepaskannya.
“Jangan bilang begitu, Bu. Zavira nggak pernah ngerasa keluarga ini beban.”
Bu Farida menangis semakin keras di bahunya. “Kamu anak perempuan satu-satunya tapi malah harus nanggung semua sendiri ”
Zavira menggeleng pelan meski air matanya terus jatuh.
“Zavira kuat, Bu,” bisiknya lirih. “Selama Bapak, Ibu, sama Zikri baik-baik aja, Zavira kuat.”
Belum sempat suasana haru itu mereda, suara Xafier terdengar dari belakang mereka. “Kita akan kembali malam ini juga.”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Zavira langsung menoleh cepat. “Malam ini?” ulangnya tak percaya.
Pak Herman dan Bu Farida juga ikut menoleh bersamaan.
“Iya,” jawab Xafier singkat. “Kami harus kembali ke kota.”
Zavira berdiri perlahan. Matanya masih merah. “Bisa besok saja?” tanyanya pelan. “Aku cuma mau menginap satu malam lagi di sini.”
Tatapannya memohon. “Tolong,” lanjutnya lirih. “Satu malam saja.”
Namun Xafier langsung menggeleng tanpa ragu. “Tidak bisa. Besok saya ada meeting penting."
Gadis itu mengepalkan tangannya.
“Bapak ini benar-benar—” Ia menarik napas tajam. “Arogan.”
Xafier diam.
“Selalu maksa kehendak sendiri,” lanjut Zavira pelan namun penuh emosi. “Nggak pernah peduli sama orang lain.”
Xafier tetap tak bereaksi. Bahkan sorot matanya tidak berubah sedikit pun. Seolah semua protes itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia justru menoleh ke arah Samuel.
“Samuel.”
“Ya, Tuan.”
“Data semua warga di sini yang punya hutang pada rentenir itu.”
Semua orang langsung terdiam. Zavira mengerjapkan mata, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Apa?” bisiknya pelan.
“Lunasi semuanya,” lanjut Xafier dingin. “Malam ini.”
Ucapan Xafier barusan seperti petir yang menyambar di tengah malam.
Semua orang terdiam beberapa detik, seolah mencoba mencerna apakah mereka tidak salah dengar. Bahkan suara jangkrik di luar rumah terasa lebih jelas daripada napas orang-orang yang berdiri di sana.
“Dilunasi semua?” ulang salah satu warga dengan suara pelan, nyaris berbisik.
Beberapa ibu-ibu saling pandang. Mata mereka mulai berkaca-kaca.
“Beneran hutang ke Bu Winda mau dilunasin semua?” tanya yang lain tidak percaya.
Pak Herman sendiri hanya berdiri mematung. Ia menatap Xafier dengan ekspresi campur aduk. Bingung, kaget, sekaligus tidak tahu harus bersyukur atau justru semakin merasa kecil.
Di tengah keheningan itu, seseorang berbisik pelan. “Ternyata pria dingin itu punya hati juga.”
Bisikan itu pelan, tapi cukup untuk membuat beberapa orang mengangguk setuju. Samuel melangkah maju dengan sikap profesional seperti biasa, seolah hal sebesar itu hanyalah urusan biasa baginya.
“Pak RT,” panggilnya sopan.
Pak RT yang sejak tadi masih memegang buku catatan itu langsung menoleh.
“I-iya?”
Samuel menyodorkan selembar kertas tambahan dan sebuah pulpen.
“Mohon didata satu per satu,” katanya tenang. “Nama warga dan jumlah hutangnya.”
Pak RT menerima kertas itu dengan tangan yang masih gemetar.
“Ini beneran mau dilunasin semuanya?”
Samuel mengangguk singkat. “Ya. Perintah Tuan Xafier.”
Mendengar itu, beberapa warga langsung terisak. Ada yang menutup wajah dengan kedua tangan. Ada yang langsung duduk di kursi karena kakinya terasa lemas.
Isak tangis yang tadi dipenuhi kesedihan kini bercampur dengan rasa haru. Bahagia dan sedih sekaligus.
Di sisi lain, Zavira berdiri diam memandangi semua itu. Dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin hancur.
Semua hutang lunas. Keluarganya aman. Kampungnya bebas dari rentenir. Tapi harga yang harus dibayar adalah dirinya sendiri. Zavira menelan ludah pelan. Lalu ia menoleh pada kedua orang tuanya.
“Pak, Bu.”
Suara itu langsung membuat Bu Farida kembali menangis. “Zavira pamit ya,” katanya lirih.
Kalimat sederhana itu justru terasa paling berat diucapkan. Bu Farida langsung memeluknya erat, seolah takut ini pelukan terakhir.
“Jaga diri baik-baik, Nak,” isaknya pecah. “Jangan lupa makan, jangan suka begadang.”
Zavira mengangguk meski air matanya terus mengalir.
“Iya, Bu.”
Pak Herman ikut mendekat. Tangannya yang kasar mengusap kepala Zavira pelan.
“Kalau ada apa-apa pulang,” katanya berat. “Rumah ini selalu buat kamu.”
Zavira menggigit bibirnya keras-keras agar tidak menangis semakin keras. “Iya, Pak.”
Belum sempat suasana itu mereda, tubuh kecil tiba-tiba memeluk pinggangnya erat.
“Teteh!”
Zavira langsung menunduk. Zikri memeluknya sekuat tenaga, seolah takut kakaknya menghilang lagi.
“Teteh mau pergi lagi?” tanya bocah itu polos. Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dadanya.
Zavira berjongkok perlahan di depan adiknya. Tangannya mengacak rambut Zikri agak kasar, seperti biasanya saat ia mencoba terlihat kuat.
“Iki,” katanya pelan, berusaha tersenyum. “Mulai hari ini Iki nggak boleh minder lagi.”
Zikri menatapnya bingung. “Kenapa?”
“Kamu nggak perlu takut sama siapa-siapa lagi,” lanjut Zavira. “Nggak ada yang bakal ganggu keluarga kita lagi.”
Mata Zikri berkaca-kaca. “Tapi Teteh pergi.”
Zavira menelan ludah. “Teteh cuma kerja,” katanya pelan. “Supaya Iki bisa sekolah yang rajin.”
Ia menyentuh pipi adiknya. “Semua kebutuhan sekolah Iki bakal Teteh penuhin. Buku baru, tas baru semuanya.”
“Beneran?” tanya Zikri lirih.
Zavira mengangguk. “Iya.”
Zikri langsung memeluknya lagi. “Teteh jangan lama-lama.”
Di kejauhan, suara pintu mobil terbuka terdengar. Xafier sudah duduk di dalam mobil lebih dulu. Seperti biasa. Tanpa menoleh. Tanpa menunggu dengan ekspresi apapun.
“Zavira!"
Zavira memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berdiri. Ia memeluk ayah dan ibunya sekali lagi. Lebih erat dari sebelumnya. Seolah mencoba mengingat hangatnya pelukan itu selamanya. Lalu ia berjalan menuju mobil dengan langkah berat.
“Pria nggak punya perasaan ”
"Perasaan hanya akan membuatmu hancur."
