Direnggut
"Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!”
“Sa—saya.”
Tubuh Zavira menegang. Kalimat itu benar-benar tak bisa ia tangkap dengan jernih hingga membuatnya bertanya-tanya dengan semua yang terjadi ini.
Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya gegas memukul ke dada Xafier dengan kekuatan sebesar mungkin.
“Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!” teriaknya, tubuhnya berusaha menggeliat keluar dari genggamannya.
Xafier hanya mengeluarkan tawa rendah. Efek obat perangsang yang sengaja diberikan Shiena, istrinya. Membuat Xafier tak bisa lagi membedakan antara batasan dan keinginan. Ia memilih pergi ke klub malam daripada meniduri wanita itu.
Hanya hawa panas yang membakar setiap bagian dirinya, membuat pandangannya hanya terpaku pada sosok wanita di bawahnya.
“Tolong lepaskan saya, Tuan!” mohon Zavira.
Tanpa memperdulikan perlawanannya, dia mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti ke leher Zavira. Ujung bibirnya menyentuh kulitnya memberikan kecupan demi kecupan yang hangat dan sedikit menyakitkan di bagian leher hingga rahang bawahnya.
“Ahh, hentikan!” desah Zavira meski berusaha mencoba menahannya, tangannya bergerak gelisah tak tentu arah.
Bagi Xafier, suara itu bagai nada paling indah yang makin memacu debar dadanya. Tanpa ragu, jemarinya bergerak naik, menyentuh bagian atas tubuh Zavira yang masih terbalut seragam tipis.
Tekanan jarinya yang tegas membuat Zavira kembali menggeliat halus, pasrah pada getaran yang makin membakar hasrat di antara mereka.
“Argh! Apa … apa yang Tuan lakukan?! Berhenti!” ucapnya dengan suara yang gemetar.
“Apapun yang perlu kulakukan … aku akan lakukan segalanya dan membayarmu lebih dari yang kamu butuhkan. Hanya saja … turuti saja keinginanku sekarang,” ucap Xafier.
Zavira terdiam seketika. Kepalanya terasa kosong seperti kain yang hampa, sementara air matanya menetes. Pikirannya terbang cepat ke arah adiknya yang sedang bersembunyi dan utang yang harus segera dilunasi.
Tanpa membuang waktu, Xafier menautkan bibirnya pada bibir Zavira yang lembut. Ciuman itu begitu dalam dan menuntut, menyerap seluruh fokus Zavira yang kini berjuang keras menguasai sensasi liar di dalam dadanya.
“Hnghh.”
Zavira tahan napas ketika tangan Xafier bergerak perlahan di balik roknya, menyentuh kulitnya dengan tegas. Sebuah lenguhan samar terlepas begitu saja, diikuti gerakan tubuhnya yang gelisah menahan getaran aneh yang menyengat.
“Nggh … berhenti,” ucapnya pelan.
Tanpa mempedulikannya, tangan Xafier bergerak perlahan menelusuri paha Zavira. Sentuhan lembut itu menyapu kulitnya, memicu desiran halus yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri dan napasnya tertahan.
“Ahh!”
Zavira menggigit bibirnya hingga hampir patah, tapi desah lain keluar lagi ketika ujung jari pria itu menyentuh tubuh bawah yang sudah mulai basah.
“Kamu rasakan ini kan?” bisik Xafier dengan napas hangat di telinganya, tangannya mulai mengusapnya dengan lembut.
Zavira menghela napas terengah-engah, matanya masih tertutup erat. Air mata masih menetes di pipinya, tapi tubuhnya sudah mulai merespon setiap sentuhan.
Tanpa berkata apa-apa, Xafier menurunkan celana dalamnya. Tangannya kembali ke bawah rok, mengusap bagian yang sudah siap padanya dengan gerakan yang lebih perlahan.
“Aku hanya bertanya sekali, apakah kamu sudah siap?!”
Zavira terdiam. Bibirnya menggigil, matanya menatap ke arah wajah pria di atasnya namun tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya bingung terbelah dua. Namun akhirnya, ia menurunkan pandangannya dan mengangguk perlahan. Demi Iki, demi utang yang harus dilunasi.
“Iya,” cicit Zavira. “Tapi tolong lakukan dengan pelan-pelan.”
Tanpa berlama-lama, Xafier mulai melepas pakaian mereka berdua dengan gerakan yang tergesa-gesa. Kain seragam Zavira terlempar ke sudut ruangan, diikuti oleh pakaian lainnya hingga kedua tubuh mereka terpapar satu sama lain.
Ketika ia melihatnya, Zavira menelan ludahnya. Pikirannya kosong seolah kehilangan semua kemampuan berpikir, tapi pikiran tentang uang yang sangat dibutuhkan membuatnya tidak bisa lagi berpaling. Tidak mungkin ia bisa pergi sekarang … ini satu-satunya cara.
“Aku akan melakukannya,” ucapnya dengan suara yang lemah namun tegas.
Xafier mengangguk, kemudian perlahan mendekatkan diri. Tangannya menopang tubuhnya agar tidak terlalu menekan Zavira, sementara ia mulai mengarahkannya ke inti tubuh gadis itu yang sudah lembab.
“Pelan sedikit, Tuan. Sakit!”
“Jangan sok polos di depanku. Gadis sepertimu sudah sering aku temui. Aku bahkan ragu kamu masih suci.”
Zavira mengeram kesakitan, tubuhnya sedikit menggeliat ketika merasa bagian dirinya mulai terisi. Tangannya secara tidak sengaja menjepit bahu Xafier.
“Sial, kenapa masih sempit. Jangan-jangan dia benar-benar belum pernah melakukannya,” gumam Xafier.
Ia mendorong bruno masuk. Saat Xafier memasukkan dirinya perlahan, rasa sakit yang menusuk langsung melanda Zavira. Tubuhnya terkejut kaku, kemudian ia menjerit keras.
“Aarrgh! Sakit!”
Cairan merah mulai mengalir perlahan dari antara kedua paha nya, menandakan bahwa kesucian yang ia miliki selama ini telah hilang dalam sekejap. Xafier yang sudah dikuasai oleh obat dan gairah, tidak peduli rintihan Zafira.
Air mata Zavira mengalir deras. “Ibu … maafkan Zavira … maafkan aku.”
Lantas Xafier mulai bergerak dengan gerakan yang lambat, kemudian semakin meningkat kecepatannya seiring dengan setiap desah dan suara yang keluar dari bibir Zavira.
Napaskannya menjadi lebih berat dan kasar, wajahnya menempel pada leher Zavira sambil memberikan kecupan dan gigitan lembut di sana-sini.
Tangannya meremas si kembar rachel dan samantha dengan cukup erat, sementara gerakan tubuhnya semakin dalam dan penuh hasrat.
“Ahh …,” desah Xafier dengan suara yang terdengar hancur karena hasrat. “Aku menyukainya.”
Ia mempercepat gerakannya, tubuhnya bergoyang bersama Zavira yang kini sudah mulai merespon setiap sentuhan dan gerakan dengan tubuhnya sendiri, meskipun air mata masih terus menetes dari matanya.
Gerakan Xafier semakin dalam dan cepat, membawa keduanya menuju titik puncak.
“Ahhh!”
Dalam sekejap, pria itu mengerang rendah dan tubuhnya menggigil. Pelepasan datang dengan kuat di dalamnya.
Setelah beberapa saat, ia tidak bisa lagi menopang tubuhnya dan langsung menjatuhkan dirinya ke sisi kasur, tubuh terkulai lemas dan menempel pada sprei yang sudah berlumuran keringat dan sedikit bercak merah. Napasnya masih terengah-engah.
Sementara itu, Zavira hanya bisa terbaring tak berdaya di sisinya, tubuhnya penuh rasa sakit dan kelelahan yang luar biasa.
Tak butuh waktu lama, kantuk yang sangat kuat menyerangnya dan ia pun terlelap dalam tidur yang dalam, meskipun wajahnya masih basah oleh air mata.
Ketika mata Zavira terbuka lagi, sinar matahari pagi sudah menerobos celah tirai jendela. Tubuhnya terasa sakit di setiap bagian, terutama di area bawah.
“Ssh,” lirih Zavira pelan.
Matanya tak sengaja menangkap seorang pria yang tengah terduduk di tepi ranjang membuat Zavira segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
Di sisi lain ranjang, Xafier sudah duduk tegak, sedang mengancingkan kancing kemeja putihnya dengan gerakan yang teratur. Tatapannya tenang, berbeda jauh dari kegilaan malam sebelumnya.
Zavira menundukkan kepalanya, rambutnya menutupi wajahnya yang merah karena rasa malu dan kesedihan.
“Kamu sudah bangun?” cetus Xafier dingin.
Zavira hanya terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga seketika sebuah kartu ATM berwarna hitam elegan dilempar tepat di sisinya.
“Ini bayaranmu!” ucapnya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Zavira tetap tidak bergerak, pandangannya terpaku pada kartu itu.
Xafier kemudian berdiri tegak, menatapnya dengan tatapan yang mendalam dan sangat tenang.
“Aku akan membayarmu jauh lebih banyak dari itu … asalkan kamu mau menjadi istri simpananku.”
“Istri simpanan?”
