Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Calon Suami

“Zavira, bangun, Nak,” isak Bu Farida. Tangannya yang sedikit kurus mengusap kening putrinya yang dingin. “Kenapa Zavira belum bangun, Pak?”

“Bapak juga nggak tahu, Bu,” lirih Pak Herman penuh sesal dan rasa bersalah. “Maafkan, Bapak, Zavira. Bapak memang tidak berguna.”

Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Bukannya menjadi tempat sandaran tapi penyakit yang diderita dan kecelakaan kerja, membuatnya malah menjadi beban bagi putrinya.

“Teteh, bangun, Teh,” isak Zikri histeris.

Suara itu membuat bola mata Zavira terbuka pelan-pelan. Saat sadarnya kembali, sekelilingnya keluarga tengah panik. Rasa bersalah, lelah dan trauma bercampur di dadanya, hanya sedikit lega karena setidaknya hutang keluarganya sudah dilunasi.

“Pak, Bu, Ki!” panggil Zavira lemah

Bu Farida langsung mendekat, memeluk tubuh Zavira dengan erat. Isak tangisnya kembali pecah di balik tubuh Zaviram

“Alhamdulillah, Ya Allah. Zavira. Kamu sadar, Nak!”

“Alhamdulilah, Bapak sangat khawatir kamu nggak sadar-sadar, Nak. Takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi,” sambung Pak Herman dengan nada bergetar.

Zavira coba tersenyum, senyum yang jelas terlihat dipaksakan dari bibir pucatnya.

“Aku nggak apa-apa kok, Bu, Pak,” jawabnya. “Bantu aku duduk, Bu.”

Bu Farida membantu Zavira duduk secara perlahan. Gadis itu duduk bersandar pada sofa lapuk yang bahkan sudah tidak layak. Ia menatap ayah, ibu dan adiknya satu persatu.

“Teteh, Iki, takut!” Zikri merangkul Zavira dengan isak tangis yang belum berhenti.

Zavira mengusap rambut adiknya yang basah oleh keringat.

“Maaf, ya, Ki. Teteh datang terlambat.

“Minuk dulu.” Pak Herman menyodorkan gelas ke arah bibir Zavira.

Gadis cantik dengan lesung pipi itu meneguknya hingga habis. Setelah beberapa saat, suasana mendadak hening.

Pak Herman dan Bu Farida saling pandang sejenak. Lalu, mereka bertanya serempak, “dari mana kamu dapat uang sebanyak itu, Nak?”

Mendengar kalimat itu terucap membuat tubuh Zavira langsung menegang. Bingung dan kalut menjadi satu di dalam benaknya.

“A-anu itu, Bu, Pak .…” Ia diam sejenak, mulai merangkai kata-katanya untuk membuat skenario yang masuk di akal mereka. Tanpa ada curiga sedikipun. “Zavira mendapat pinjaman dari kantor. Zavira menceritakan semuanya dari awal makanya kantor ngasih pinjeman. Yang penting rentenir busuk itu nggak ganggu, Bapak, Ibu sama Zikri lagi.”

“Alhamdulillah, Ya Allah,” gumam Bu Farida.

Hati Zavira seperti diremas.

“Maaf, Bu, Pak. Zavira sudah berdosa pada kalian,” jerit nya dalam hati.

“Syukurlah!” gumam Pak Herman. “Bapak sempat berpikir, kalau kamu melakukan sesuatu yang—”

Kalimatnya terhenti mendadak saat jari-jari Bu Farida menyenggol lengannya dengan cepat.

“Hus! Jangan berpikir seperti itu, Pak. Kita harus percaya pada anak kita.”

Tak ada perkataan lain. Pak Herman memilih diam. Dan kini, tatapan mereka teralihkan pada seisi rumah yang nampak begitu kacau. Semuanya berserakan di lantai. Padahal suasana haru masih jelas terasa di dalam rumah.

“Kita mulai bersihkan dari mana ya, Pak?” Bu Farida bersuara pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena kesedihan. “Semuanya terlihat begitu berantakan. Bahkan, semuanya nyaris hancur tak bersisa, Pak.”

“Iki mau beresin kamar dulu,” sahut bocah berusia delapan tahun itu berlari ke kamarnya.

“Ya Allah, apa masih ada yang masih bisa diselamatkan?” lirih Zavira melihat rumahnya seperti rumah kosong dan tidak terawat

Pak Herman sebagai kepala keluarga hanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ia menundukkan kepalanya.

“Ya Allah, saya merasa tidak berguna,” batin Pak Herman menjerit pilu.

Perasaan kalah dan tidak berdaya tergambar jelas di setiap gerak tubuhnya karena ia tahu bahwa dirinya tidak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kecilnya, bahkan tidak bisa melindungi mereka.

Melihat kondisi ayahnya yang seperti itu, Zavira langsung segera banggun dari sofa.Ia menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa saat ini dia harus menjadi yang kuat, karena jika tidak, siapa lagi yang akan menopang mereka?

“Kita mulai dari sini dulu aja, Bu,” sahutnya dengan lantang, meski suaranya terdengar begitu bergetar.

Senyum perlahan muncul di wajah kedua orang tuanya juga adiknya. Langsung saja mereka mulai membersihkan satu-persatu barang yang hancur, tak bersisa. Bahkan, jika dibetulkan pun tak akan bisa seperti semula lagi.

“Orang-orang itu benar-benar manusia yang nggak punya hati, tak berperasaan hingga melakukan hal ini kepada kita.” Zavira mengumpat dan mengambilnya.

Mengumpulkannya menjadi satu, sebelum akhirnya dibuang ke tong sampah. Namun, pandangannya malah terkunci pada adiknya, Zikri, yang kini terduduk lesu sambil memeluk buku pelajarannya yang robek menjadi dua.

Hati Zavira tersentuh. Ia mendekatinya, mengusap lembut bahu adiknya yang nampak bergetar kecil.

“Bagaimana ini? Semua rusak,” lirih Zikri.

“Sabar ya, Ki. Nanti kalau teteh punya rezeki lebih, teteh ganti jauh lebih baik dari ini. Untuk sementara waktu, pakai yang masih bisa dipake aja dulu.”

Zikri menoleh. Tatapannya berembun, seolah siap luruh kapan saja.

“Di buku ini ada catatan penting dari guru, Teh. Banyak hal yang belum aku pahami. Padahal nanti aku mau belajar. Tapi, sekarang malah jadi seperti ini.” Ia menunjukkan kertas yang berhamburan tepat di wajah Zavira. “Tapi, nggak apa-apa kok, Teh. Zikri bisa minjem aja sama temen sekelas.”

Tangis Zavira hampir pecah. Ia gegas memeluk tubuh adiknya, membawa tubuh kecil itu ke dalam dekapannya yang hangat.

Di luar, terdengar suara deru mesin mendekat dari sebuah kendaraan. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan rumah Zavira yang sederhana.

Bunyi decitan ban tersebut membuat tetangga yang sedang membantu merapikan barang milik keluarga Pak Herman, berkumpul langsung menoleh serentak.

Mereka mulai mendekat secara perlahan, bibir mereka menggerutu dan suara bisikan semakin terdengar jelas.

Sampai akhirnya pintu mobil terbuka, dan Xafier turun dengan langkah yang mantap. Aura dingin dan sikapnya yang penuh angkuh, sungguh mencolok di tengah lingkungan kumuh seperti ini.

Di belakangnya, Samuel ikut turun dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.

“Aduh, saha eta meni ganteng pisan?”

“Kenapa dia datang kesini, ya?”

“Kayaknya mah orang kaya dan penting”

“Siapa atuh? Padahal rumah Pak Herman kan tidak pernah ada tamu penting seperti ini.”

Suara bisikan itu semakin terdengar riuh hingga membuat Zavira dan keluarganya yang berada di dalam rumah langsung menyadari keberadaan tamu tak diundang itu.

Mereka semua berhenti sejenak dari pekerjaan membersihkan, kemudian menoleh ke arah pintu rumah. Tatapan Zavira langsung menajam.

“Ada apa itu ramai-ramai, Pak?” tanya Bu Farida kebingungan.

Pak Herman mengangkat bahu. “Nggak tahu, Bu. Ayo kita keluar.”

Kedua orang itu melangkah keluar pintu, membuat Zavira juga Zikri ikut menyusul keluar karena penasaran. Namun baru sampai teras Xafier dan Samuel sudah mendekat ke arah mereka.

Setelah mendekat, Xafier langsung menatap kedua orang tua Zavira yang masih memandangnya bingung. Tanpa basa-basi, dia mengangkat tangan menunjuk beberapa barang bekas yang berserakan di halaman.

“Barang-barang itu sudah rusak. Kalian buang saja, saya akan menggantinya semua dengan yang baru dan jauh lebih baik daripada itu!” ucapnya dengan nada yang tidak bisa ditentang.

Pak Herman dan Bu Farida saling memandang, kemudian menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.

“Maaf, tapi… Tuan siapa? Kenapa Tuan datang ke rumah kami?” tanya Pak Herman dengan nada bingung hingga terbata.

“Sepertinya Tuan salah alamat, mau cari siapa?” sahut Bu Farida sopan dan segan.

Sebelum Zavira bisa membuka mulut, Xafier melangkah maju dan menghadapkan wajahnya pada kedua orang tua Zavira.

“Perkenalkan, saya Xafier. Saya adalah calon suami Zavira,” ucapnya dengan tegas, membuat semua orang yang ada di sana langsung membuka mulut lebar-lebar. “Dan saya ingin menikahi dia malam ini juga.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel