Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Mati Satu Tumbuh Seribu

"Udah lewat, basi u know. Ngapain masih lu omongin hah?"

"Geram kali lah rasanya lihat mukanya itu, kenapa harus ketemu dia sih di sini? Bikin badmood aja, merusak suasana anying." gerutunya.

"Heh Ayung, ngapain lu di sini? Lu ngikutin Lala ya? Lu udah khianatin sobat gue ya gue gak akan maafin lu inget lu ye, merusak suasana aja si anj**g!"

"Tahu lu, ngapain coba nongolin muka lu di sini, sok kegantengan amat lu jadi laki. Bisa-bisanya lu selingkuhin sahabat gue yang setia, najis lu pengkhianat!"

Lala cuma diem sambil lipat kedua tangannya di dada lihat dua sahbatnya mencak-mencak, marah, kesel, bete lihat Ayung, dibacotin habislah Ayung sama mereka berdua. Ayung cuma diam seribu bahasa.

Di tengah-tengah perseteruan dua sahabatnya serang Ayung, tiba-tiba ada satu cewek deketin dan panggil Ayung dengan sebutan "yank."

"Kuntilanak dari mana ini?" batin Lala.

"Yank, ngapain kamu sama cewek-cewek ini? Eh jangan ganggu cowok gue ye jangan sok kecantikan lu pada, ngehe!"

"What? Ganggu cowok lu? Hello ... Please deh ... Udah gak doyan gue sama Si Ayung! Eh asal lu tahu ya kuntilanak, lu itu dapet bekasan gue, ngerti lu? Mendingan hambus dari hadapan gue gih, nyampah aja lu berdua, ngent*t!"

Sinchan dan Megalomen tambah menjadi-jadi denger omongan tuh kuntilanak, kebon binatang semua keluar dari mulut mereka. Didorong pundaknya kuntilanak sama Sinchan dan Megalomen.

Langsung ditarik tangan kuntilanak sama Ayung jalan keluar dari dance floor.

Masih ngoceh Sinchan dan Megalomen walaupun Ayung sama kuntilanak itu udah jalan menjauh.

"Kalau gak ditarik sama Ayung bisa habis kuntilanak detik itu juga sama dua sahabatku, ah gaswat." pikirnya.

"Anj**g tuh Ayung sama jablay, bikin gue darting aja merusak suasana kampr*t!"

"Ho'oh, kita sok kecantikan katanya emang kita bertiga cantik ya kan, emang dia jablay buluk najis gue mah benci banget gue liat Ayung sama tuh Si Buluk!"

"Udahlah jangan dipikirin, jangan diambil pusing, gak kelar-kelar bahas orang kaya mereka mah rugi gak ada faedahnya, sabar Sinchan, Megalomen."

"Bener banget, tapi gue masih kesel jadi drop aja tuh, mau beli ikan lagi udah pagi."

"Iye sama gue juga, ngebetein anying."

"Gue juga kesel tapi mendingan kita dropin sekalian deh, masih ada waktu sampe siang jam dua belas, gimana kalau gue pesen bir setower sama rokok? Mau gak?"

Mau gak mau kedua sahabatnya Lala tetap pesan, tanpa babibu dia langsung nyalain mancis untuk manggil waitres.

"Mau pesen apa bos?"

"Bir setower, rokok sampoerna merah tiga."

"Oke bos."

Sembari nunggu pesenan dateng, Lala ambil rokok dari bungkusnya yang tinggal sebatang, dibakar dan hisap dengan menarik nafas yang terdengar berat berulang kali. Huft!

"Maksud hati mau ilangin bete, galau, menghibur diri kenapa malah, ah sudahlah." batinnya.

"Ayo kita tos."

"C'mon."

"Biar gak gila!"

Mereka bertiga kembali tertawa terbahak-bahak.

Bir tinggal setengah tower setelah sekitar sejam Lala pesen.

di cek lagi jam di tangannya sudah menunjukan tujuh lewat empat lima pagi.

"Mau balik jam berapa kita, mau sampe tutup? Udah mau jam delapan nih, gue mulai ngantuk."

"Gue juga ngantuk, ini habis kita balik deh."

"Ya atuh habisin dulu birnya, sayang ya kan dapet beli. Gue juga sama ngantuk."

"Ho'oh, cus lah ngebut kita minumnya, hp gue juga lowbat. Kalau gak panggil waitres buat nemenin habisin bir."

"Bentar gue cari Ardi, waitres yang ganteng itu biar ke sini habisin bir."

Hoam, yawn, udah berkali-kali nguap nih mulut, mata udah berat banget kayanya sampe apart langsung tepar ini sih. Kepala kadang tertunduk di lipatan tangan di atas meja.

"Lala, Indah, tidur lu?"

"Hemm."

"Gue gak tidur, cuma merem aja."

"Diminum birnya Di atau lu mau pesen yang laen?"

"Gak usah pesen yang laen, gue juga udah sedikit tipsy. Gue pesen rokok aja ye, boleh?"

"Pesen aja."

Lala angkat kepalanya yang tertunduk dari lipatan tangan di atas meja, celingak kanan celinguk kiri sembari rapihin rambut yang dikuncir kuda.

"Ardinya mana Sinchan?"

"Lagi pesen rokok buat dia."

"Suruh habisin bir, nanti kasih tip buat si Ardinya. Terus ayo kita balik, mata gue dah lima watt."

"Ho'oh."

Tiga puluh menit kemudian ...

Akhirnya habis juga tuh bir setower, di samping udah ngantuk mereka bertiga sibuk bolak balik toilet gantian, beser wak.

"Gue mau request lagu dulu deh satu sebelum balik."

" Telat lu Chan, dari tadi kalau mau requst lagunya nyong. Ayo kita balik besok lagi deh kalau ke sini."

"Iya ih, hayu balik udah ngantuk gue."

"Mau ikut ke apart, apa balik kost lu?"

"Ikut ke apart dulu, ntar laki gue suruh jemput di apart aja."

"Ya udah, cus lah kita balik. Btw Ardi udah lu kasih tip belom Sinchan?"

"Oh iya lupa gue, nih Di tip buat lu."

"Gak usahlah, kaya sama sapa aja."

"Au ah."

Dimasukin beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke kantong bajunya Ardi.

"Jangan ditolak, kalau gak diterima gue marah."

"Oke bos gue terima, tengkiu ya. Kalau ke sini lagi kabarin gue ya."

"Oke."

Di luar sinar matahari terang benderang, silau mamen. Lala pakai kacamata hitam Raybannya, mereka bertiga berjalan ke depan jalan raya di samping jalan berjejer taxi.

Ada kejadian tidak terduga saat mereka bertiga mau naek taxi.

Di sebrang jalan terlihat Ayung dan kuntilanak yang sedang mau naek motornya Ayung. Kuntilanak menoleh ke arah mereka bertiga dengan tatapan sinis dan menyeringa, lalu memeluk Ayung dengan erat dan mereka pun berlalu.

Mereka bertiga saling melirik, geleng-geleng kepala dan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kuntilanak pea.

"Edi sud rahmat katolo, maksud lo." ucap mereka bertiga serempak.

"Dasar kuntilanak cacat gue kira udah balik dari tadi mereka, au ah ra urus."

"Cacat akut tuh kuntilanak."

"Kuntilanak gelo, najis cih."

"Pak, kita ke apart Mediterania Palace Kemayoran ya."

"Iya non."

Selama di perjalanan mereka bertiga ketiduran dan dibangunin pak sopir saat sampai depan apart.

Di apart gak banyak ngomong lagi mereka bertiga gantian bersihin diri, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi, ganti baju tidur dan semua langsung tepar.

Beberapa jam kemudian...

Lala kebangun pengen pipis, ia lihat Sinchan dan Megalomen masih tertidur pulas. Lala teringat ponselnya yang belum sempat dicharger, ternyata ponsel mereka pun belum ada yang dicharger juga.

Lala charger semua ponsel dan diletakkan semua di atas meja samping kasur.

Dia pergi ke ruang tengah, buka lemari es dan ambil kopi goodday kemasan botol yang rasa cappucino, cemilan kentang lays yang rumput laut. Dibakar sebatang rokok, ambil remote lalu nyalakan tv dan duduk santai di sofa.

"Enak banget ini kopi sama rokok, nikmat mana lagi yang kau dustakan." gumamnya.

Sambil utak-atik remote tv cari program acara tv kesukaan, Lala teringat kejadian dan kelakuan kuntilanak cacat itu waktu di dance floor dan di luar Exo yang menggilakan.

"Ya udah lah jangan di inget-inget lagi, masih banyak cowok di luar sana, dunia tidak selebar daun kelor, mati satu tumbuh seribu. Dah ah lebih baik nikmati kopi goodday ini, cemilan dan rokok, gak usah mikirin yang gak penting. Tarik nafas yang dalam ..." batinnya, Lala menyemangati dirinya sendiri.

Huft! Ha nafasnya berat berulang kali.

Kriuk-kriuk suara dari cemilan kentang renyah yang dikunyah.

Sembari ngemil dan sesekali ketawa lihat kartun Mr. Bean.

"Udah bangun lu La?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel