Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Menemukan Jawaban

Bab 6 Menemukan Jawaban

Keesokan paginya Andre sudah ada didepan kamar Ruby dengan mantel hitam casualnya.

''Hai, apakah tidurmu nyenyak tuan putri?''

Sapa Andre

Ruby hanya membalas dengan senyuman sebelah bibir.

''Siapa tuan putrimu?'' Bermimpilah !''

Kata-kata Ruby tampaknya dingin namun selalu diiringi dengan tawa mereka berdua.

Ruby dan Andre berencana untuk mengelilingi Las Vegas seperti wisatawan. Berjalan, makan, mengunjungi tempat wisata.

Anggota tim yang lain akan memiliki acara pribadinya sendiri. Mereka sudah tau kedekatan kedua orang ini sehingga sengaja memberi waktu untuk mereka berdua.

Suasana musim semi di Las Vegas sangat indah. Mereka berdua tidak ingin melewatkan sedikitpun setiap jengkal kota Las Vegas. Mengunjungi tempat-tempat unik bahkan semua arsitekturnya sangat unik. Gemerlap lampu dimana-mana namun masih memiliki gaya klasik Renaissance.

Sambil berjalan jalan mencicipi makanan Andre membuka pembicaraan.

''Aku ingin membawamu ke suatu tempat.''

Ruby mengernyitkan alis dengan tangan yang sudah ditarik andre menuju suatu tempat.

''Andre sepertinya kamu sudah mengenal tempat ini?'' Bagaimana bisa dari tadi kamu tidak melihat peta sama sekali?.

Tanya Ruby dengan penasaran

''Tentu saja, aku melalui masa kecilku di Amerika, Ibuku selalu membawaku ke Las Vegas saat dia ingin bersenang-senang''

Mendengar hal itu Ruby tidak kaget. Dia sudah biasa mendengar cerita Andre mengenai keluarganya. Bukan keluarga yang harmonis tentunya.

Akhirnya mereka tiba disebuah tempat dengan kolam yang sangat besar dan gedung yang menjulang tinggi disebrang kolam itu. Kolam yang nampak seperti danau sangat indah.

Ruby tampak takjub dengan pemandangan ini. Sungguh indah, membuat Ruby menarik nafas dalam dan menutup matanya. Tanda ia tak ingin kehilangan perasaan ini.

Tak lama kemudian, tanpa aba-aba tiba-tiba air keluar dari sela-sela kolam membasahi sedikit demi sedikit badan Ruby dan Andre.

''Aaaaa...Andre apa ini?'' Teriak Ruby sambil memegangi kedua lengan Andre.

Seperti air mancur yang terciprat ke tubuh mereka, air itu terus keluar membasahi semua yang ada disekitarnya. Andre ikut memegangi pundak Ruby.

''Nikmati saja, ini akan menyenangkan hahaha.''

Mereka tertawa bersama seiring air yang terus keluar.

Dibalik kebahagian mereka, ada sepasang mata elang yang sedari tadi menatap mereka bedua dibalik mobil Limosin hitamnya. Hatinya sangat masam melihat

Kedua orang itu. Tatapan mata yang menyilaukan serasa ingin membunuh orang saat ini juga.

''Tuan, apakah anda masih ingin menunda pertemuan lagi? Ataukah kita pergi sekarang?''

Tanya pengawal didepan pria itu.

''Tunggu sebentar.''

Jawab James dengan tatapan keluar jendela.

Sejak Ruby dan Andre keluar dari hotel. Kedua mata James tidak pernah lepas dari mereka berdua. Entah apa yang membuat James ingin melihat Ruby, namun apa yang dilihatnya sekarang juga merupakan sebuah jawaban.

Namun, dia hanya ingin memastikan perasaannya. Hanya sekali ini dia tidak ingin meninggalkan tempat ini berharap dia bisa menemukan jawaban lain.

Di sisi sebrang

''Hei, akhirnya aku bisa melihat tawamu seperti ini. Begini kamu lebih cantik.''

Ruby terlihat kaku seketika.

''Ruby, kita sudah saling mengenal 3 taun, kita juga sudah dekat selama ini, kurasa kamu juga bukannya tidak bisa merasakan perasaanku padamu. Entah apa yang ada dimasa lalumu, membuatmu sangat tersiksa. Tapi percayalah aku akan memberikan kebahagian padamu seperti hari ini dan seterusnya'' Andre akhirnya mengatakan apa yang ingin dia katakan.

Dia menunggu hari ini datang, dan tidak ingin melepaskan Ruby. Memegang tangan Ruby dengan kuat dan Andre tiba-tiba berlutut dengan satu kaki.

''Ruby, menikahlah denganku, aku tau ini terlalu cepat tapi aku sungguh tidak bisa kehilangan kamu.'' Cincin berlian berkilau dari saku Andre akhirnya dikeluarkan.

Ruby mengernyitkan alis.

Melihat adegan didepan matanya James akhirnya menyerah. Dia akhirnya menemukan jawabannya. Dia tidak ingin lagi melihat mereka.

''Jalan!!'' Teriak James.

Seiring mobil Limosin yang meninggalkan tempatnya. Ruby yang masih terkagok itu kemudian melepaskan tangannya dari Andre.

Menggertakan gigi dengan tegas berkata.

''Andre.... sudah kubilang dari awal, jangan melewati batasanmu. Apa kau ingin merusak pertemanan kita dengan ini? Baiklah kalau begitu jangan mencariku lagi. Aku akan mengundurkan diri secepatnya.''

Dengan emosi yang membara Ruby meninggalkan andre yang masih berlutut itu.

Sisi terdalam Ruby sudah disentuhnya. Bagaimana dia tidak marah. Ruby kembali ke hotel kemudian membereskan semua barang-barangnya. Baginya ini bukan emosi sesaat. Sudah pernah dia bicarakan dengan Andre. Jika suatu hari Andre menyatakan cinta kepadanya dia akan meninggalkan perusahaan.

Tadi bukan hanya menyatakan cinta tapi juga melamar. Dia sangat mempercayai Andre sebagai temannya. Bagaimana bisa hubungan mereka akan baik-baik saja setelah ini.

Andre yang tadi hanya mematung, kini sudah mengejar Ruby. Mengetok pintu kamarnya.

''Ruby, kumohon jangan seperti ini. Apakah aku salah menyatakan perasaanku? Kita sama-sama lajang. Apakah kamu tidak memberiku kesempatan sedikitpun?.''

Ruby masih tidak memberikan jawaban

''Ruby, kamu adalah satu-satunya orang dimasa tersulitku. Aku hanya ingin memberimu semua yang aku miliki untuk membuatmu bahagia.''

Tiba-tiba pintu Ruby terbuka. Andre masuk pelan-pelan melihat Ruby yang sudah ada disisi jendela menatap jauh keluar.

James mendekat.

Ruby akhirnya mengeluarkan suara.

''Aku pernah melahirkan seorang putra.''

Kata Ruby dengan tatapan kosong.

Andre terdiam, kepalanya seperti disiram air dingin.

''Dimasa mudaku hanya ada satu laki-laki. aku selalu berlari untuknya, aku selalu tertawa untuknya, dan aku selalu manangis untuknya. Kami saling mencintai sampai hati kami dipenuhi dengan cinta yang meluap-luap, sampai suatu hari kami dipisahkan karena kami lahir dengan sendok yang berbeda.''

Ruby bercerita dengan suara yang sedikit bergetar.

''Kami akan menikah setelah anak kami lahir, tapi sebelum melihat dunia. Anak kami sudah tiada. Kurasa ini memang karma untuk kami.''

''Sejak hari itu aku tidak pernah bertemu dengannya, sampai saat kemarin aku bertemu dengan seorang yang sangat mirip denganya disini di Las Vegas. Tapi dia tidak mengenalku, mentapku dengan dingin, dan mengarahkan pistol kewajahku. Awalnya kupikir itu adalah dirinya. Tapi bukan, aku hanya merinduhkannya sampai-sampai mengira orang itu adalah dirinya. Aku harus menyadari kalau aku tidak pernah melupakannya dan selalu mencintainya.''

Air mata Ruby sudah tak terbendung keluar.

Andre yang mendengar seluruh cerita Ruby akhirnya menyadari. Kesakitan di hati Ruby selama ini. Kemudia dia memegang pundak Ruby menenangkannya.

Setelah selesai bercerita Ruby pun menagis sejadi-jadinya. Terisak tanpa henti.

''Ruby, aku tidak akan menekanmu lagi. Maafkan aku. Kita akan jadi teman oke. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kalau kau ingin memukulku, maka pukulah aku sekarang. Aku memang pantas dipukul.'' Kata Andre sambil memukul kepalanya.

Andre terus memohon pada Ruby, dan Ruby akhirnya tersenyum dan memukul pelan kepala Andre.

''Baiklah aku memukulmu.''

Mereka pun tersenyum bersama

''Ruby aku tidak akan memaksakan lagi perasaanku ini. Tapi berjanjilah untuk selalu menjadi temanku.''

jelas Andre.

Ruby mengangguk dan memberikan senyum untuk Andre.

''Baikah tuan putri, jangan menangis lagi.''

Andre menghapus air mata Ruby.

Andre sudah seperti kakak bagi Ruby, bagaimana dia bisa mengabaikan Andre.

Didalam hati Ruby Andre akan selalu menjadi dirinya sendiri. Dia pasti akan menemukan wanita yang akan sangat dia cintai nantinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel