Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Married Twice

Langkah panjangnya semakin dipercepat tanpa menghiraukan lagi getaran ponselnya di dalam saku celana. Dia tahu, panggilan itu pasti dari asistennya, Alex yang memang sedang mencarinya karena hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus diburu deadline.

Satria melirik arloji di pergelangan tangan. Pukul 13.30 siang. Sudah terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan untuk acara pentingnya dengan Anna hari ini.

Tepat di depan pintu apartementnya yang ditempati Anna, dia masukan kode pin pada keybox di samping pintu. Lalu terdengar kunci otomatisnya terbuka, lekas dia kuak pintu itu.

Seketika langkahnya terhenti saat melihat beberapa orang tengah berkumpul di ruang tamu, bersama Anna yang sudah mengenakan kebaya cantik berwarna merah muda duduk di hadapan seorang bapak setengah baya mengenakan kopiah hitam.

Spontan semua yang ada di ruangan itu menoleh pada Satria.

“Aduh, kok telat amat sih Mas? Ini bapak penghulunya udah nunggu dari tadi,” gerutu Anna seraya berdiri menghampiri Satria yang masih terbengong didepan pintu.

“Ehh, iya. Sorry, Ann. Tadi aku ke proyek dulu, nggak bisa diwakilkan soalnya,” jawab Satria dengan wajah gugup dan suara terbata-bata.

“Ya udah, buruan pake jas kamu. Udah aku siapin di kamar.“

Tanpa menunggu lama, Satria bergegas menuju kamar Anna dan meraih Jas hitam yang tergeletak di atas ranjang. Segera dia kenakan melapisi kemeja putihnya. Sejenak dia terpaku di hadapan cermin besar di samping ranjang. Dia menatap pantulan dirinya di dalamnya.

“Kok aku keliatan lebih ganteng waktu nikah sama Sha?” gumamnya pada diri sendiri.

‘Sha, Maaf. Aku nggak bisa tepatin janji untuk menahan diri sesuai kesepakatan kita. Tapi gimana lagi, Sha, aku cinta sama pacar aku kayak kamu yang masih cinta sama bapaknya anakmu,” ucapnya lagi pada pantulan dirinya di cermin.

Tok.... Tok.... Tok....

Anna muncul dari balik pintu kamar dan mendapati Satria yang masih berdiri merapikan penampilannya.

“Mas, yang jadi wali nikah aku, kan adikku, si Hendi. Tapi dia minta uang bensin?” bisik Anna seraya menggamit lengan Satria.

“Ya udah, kasih aja seratus ribu. Kan, dia cuma pake motor ke sininya. Bensin motor full tank aja paling banyak lima puluh ribu, sisanya bisa dapet rokok dua bungkus.”

“Iiihhh, Mas! Masa cuma seratus ribu? Kasih tiga jutalah.”

“HAH? Memangnya mau beli bensinnya satu truk tangki?”

“Pelit banget, sih. Pokoknya kasih dia tiga juta. Kalo nggak dikasih dia nggak mau jadi wali nikah aku. Ayahku kan sudah meninggal, Mas. Cuma dia satu-satunya yang bisa nikahin kita,” rajuk Anna dengan suara tertahan takut terdengar sampai keluar kamar.

“Ditawar kek, Yang. Masa sama sodara sendiri komersil banget. Cincai-cincailah. Sejuta, deh. Nih, aku ada uang cash di dompet cuma sejuta. Ambil nih,” ucap Satria seraya merogoh saku celananya dan mengeluarkan lembaran berwarna merah dari dompet, lalu disodorkan ke tangan Anna.

“Ya udah deh, ntar aku yang tambahin buat dia,” cicit Anna sambil jemarinya menghitung lembaran uang di tangan. ‘Takut kurang selembar,’ pikir Anna dalam hati.

“Kamu udah selesai dandannya, kan? Yuk, kita keluar,“ ajak Anna kemudian.

“Oke. Come on....”

Anna menggamit manja lengan Satria dan menggiring pria itu untuk menempati sofa di ruang tamu. Di mana sudah menunggu pak penghulu dan adik kandung Anna, Hendi, beserta lima orang kerabat Anna yang sama sekali tidak dikenal oleh Satria.

“Bisa dimulai, ya,” ucap Pak Penghulu yang duduk di depan kedua calon mempelai.

“Mulai dari nol, ya....” sindir Satria menirukan jargon petugas pom bensin, seraya melirik Hendi, adik Anna yang sudah duduk di samping Pak Penghulu.

Anna yang duduk tepat di sampingnya mencubit pinggangnya dengan gemas. Membuatnya terpaksa tutup mulut dan manggut-manggut menyimak sepatah dua patah kata yang disampaikan Pak Penghulu.

Dan tiba saatnya pengucapan lafal ijab dari wali nikah Anna, adik kandungnya yang bermata hijau alias mata duitan. Hendi menyodorkan tangan ke hadapan Satria. Dan Satria pun menyambut dan membalas jabatan tangannya.

“Saya nikahkan engkau kakanda Satria Sechan bin Sechan Amir, dengan Yana Maryanah binti Jajang Koswara dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat dua puluh gram dibayar tunai.”

Satria membelalakan mata dan menoleh pada Anna yang duduk tegang di sampingnya.

“Ehh, wait! Wait! Yana Maryanah? Nggak salah sebut nama, tuh? Ntar nggak sah, lho,” potong Satria tiba-tiba melepas jabatan tangannya dari tangan Hendi.

“Mas, itu nama si mempelai cewek. Mpok gue ini,” jawab Hendi dengan nada suara agak meninggi karena kesal.

“Yana Maryanah? Bukan Anna Fransiska, Ann?” tengok Satria pada Anna untuk meminta jawaban yang lebih pasti.

“Anna Fransiska itu nama untuk profesi aku, Mas. Yang disebut Hendi tadi nama asliku,” jawab Anna sedikit kikuk dan malu-malu.

“Ooo, begitu? Melencengnya jauh amat ya? Oke deh, lanjuuutt!” seru Satria manggut-manggut, lalu menyodorkan kembali tangannya ke hadapan Hendi. Dan Hendi membalasnya dengan sedikit kesal.

“Saya nikahkan engkau kakanda Satria Sechan bin Sechan Amir, dengan Yana Maryanah binti Jajang Koswara dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat dua puluh gram dibayar tunai,” Hendi mengulangi pelafalan ijabnya dengan lancar.

“Saya terima nikah dan kawinnya Yana Marya ... mpphhhhff....” Tiba-tiba Satria mendadak menahan tawa geli di tengah pengucapan lafal kabulnya. Membuat Anna dan yang hadir di ruangan itu melotot geram padanya.

“Mas, jangan main-main! Bikin malu aja,” geram Anna kembali melayangkan cubitannya ke pinggang Satria, membuat Satria meringis di sela gelaknya.

“Sorry, Yang. Rada aneh aja nyebut nama asli kamu, beneran. Berasa kayak nikahin orang lain. Soalnya aku taunya nama kamu itu Anna Fransiska. Gitu lho, maksud aku,” terang Satria setelah menyudahi tawa gelinya.

“Maaass!” sungut Anna sambil melotot geram pada satria.

“Oke - oke, yuk, lanjuuuttt! Tarik Mang!” seru Satria kemudian. Dan menyodorkan kembali tangannya ke hadapan Hendi.

Hendi yang menatap kesal pada Satria kembali mengucapkan lafal ijabnya seperti di awal tadi.

“Saya terima nikah dan kawinnya Yana Maryanah binti Jajang Koswara dengan mas kawin yang disebut. TUNAI.”

Akhirnya, Satria berhasil juga menuntaskan kalimat kabulnya dengan satu tarikan nafas dengan lancar walaupun dalam hati masih tertawa geli.

“Bagaimana para saksi? Sah? Sah?” Pak Penghulu meminta jawaban dari para saksi yang duduk di kiri kanan meja.

“Saaah!.” Dua orang laki-laki dewasa yang bertindak sebagai saksi pernikahan mereka menjawab kompak.

Akhirnya Satria sah menikahi Anna, kekasihnya yang sudah dia pacari selama dua tahun, walaupun hanya secara siri.

Dan akhirnya sah juga Satria menjadi pria beristri dua. Yang pertama karena memenuhi bakti pada orang tua angkatnya, dan yang kedua karena cinta.

Dulu, Sedikit pun tidak pernah terbayangkan olehnya untuk menikahi dua wanita dan menjadi pelaku poligami. Namun hari ini hal itu terjadi pada dirinya.

Kini yang harus dia pikirkan bagaimana pernikahannya dengan Anna tidak sampai ke telinga Danisha dan keluarganya termasuk ibunya, sampai Danisha melahirkan anaknya nanti.

***

“Yaaah, masa cuma segini, Yan? Gue butuh tiga juta nih, buat dugem. Sejuta mah mana cukup?” rengek Hendi pada Anna yang masih mengenakan kebaya cantiknya.

“Nih, gue tambahin lima ratus ribu lagi. Udah segini aja. Honor gue belom cair,“ bisik Anna seraya menyodorkan lima lembar uang seratus ribu ke tangan Hendi.

“Nggak cukup, Yan. Gue kalah balapan motor kemaren, jadi gue mesti traktir anak-anak genk motor gue. Segini mah mana cukup. Temen gue bejibun, Yan.” Masih tak puas, Hendi merengek seraya mengibaskan lembaran uang di tangannya itu.

“Heh! Heh!Heh! Adek ipar durhaka! Udah, segitu cukup. Pulang sana!” Tiba-tiba muncul dari dalam kamar, Satria menghampiri kedua adik kakak tersebut yang tengah berdebat soal uang.

“Nah, ada Mas Satria nih, horang kayah tajir melintir ganteng sejagat dan paling baek sedunia dalam berita,” puji Hendi dengan mengumbar senyum lebarnya pada Satria.

“Nggak usah puji puji, deh. Udah banyak yang muji gue. Lo pulang sana. Nggak ada tambah-tambah uang lagi. Segitu juga udah cukup buat dugem,” usir Satria galak seraya berkacak pinggang.

“Yaaah, mana cukup, Mas. Lo tau sendiri minuman di club mana ada yang murah,” rengek Hendi lagi dengan wajah memelas pada Satria.

“Lo bawa minuman sendiri dari rumah pake termos. Dugem paket hemat. Udah, sana pulang!“

“Deeehh, pake termos? Dikira gue mau piknik kali bawa-bawa termos ke club,” gerutu Hendi mendelik sebal pada Satria dan kakaknya Anna atau Yana Maryanah.

“Ya udah deh, gue balik. Selamat malam pertama ya, Mpok Yana, ya Mas Satria.“

“Heh, adek durhaka. Nama kakak lo ini Anna. Gue kenalnya Anna. Jangan Yana Yana-an. Aneh gue dengernya,” ketus Satria lagi menahan Hendi yang menyungging senyum lebar.

“Iya deh lakinya Anna Fransiska. Nurut aja gue, mah. Oke everybody, gue cabut dulu ya. Have fun go mad. Hati-hati kasur jebol!” seru Hendi melambaikan tangan pada keduanya dan bergegas keluar dari apartement kakaknya itu. Meninggalkan Satria dan Anna yang memandang punggungnya dengan seonggok rasa kesal.

“Kasur kita, kan mahal, import punya. Mau gaya kuda lumping juga nggak bakal jebol. Ya kan, Yang?” ucap Satria di samping Anna, kemudian mengecup pipi Anna sekilas.

“Yakin nggak bakal jebol? Belom tau aja goyangan aku,” tantang Anna dengan menyungging senyum nakalnya.

“Eh, emang kamu bisa goyang? Request dong, pengen goyang patah-patah, penasaran aku.“ balas Satria juga tersenyum nakal.

“Oke, Ayo. Aku udah nggak tahan nih, Mas.”

“Tapi si Jeki-ku jangan sampe patah ya, Ann. Bisa suram masa depan aku ntar.”

“Nggak bakalan patah kok, paling keseleo dikit.”

“Aaaw! Mesti siap-siap manggil dukun urut kayaknya.”

Tanpa sabar Anna menarik lengan Satria menuju kamar mereka yang sangat polos dan apa adanya. Tanpa hiasan bunga atau pun sprei sutera berenda layaknya kamar pengantin baru pada umumnya. Benar-benar seadanya.

Namun bagi Anna itu semua tidak masalah. Yang terpenting dirinya kini berhasil memiliki Satria seutuhnya. Cintanya, tubuhnya, juga isi atm-nya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel