Chapter 1
Terlihat dua wanita duduk diam di salah satu meja yang di kantin universitas
swasta ternama di Jakarta, keduanya sedanga membicarakan prihal peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, membuat tanda tanya besar untuk keduanya terutama gadis yang bernama ARANA VALLENIA KINANDA. Karena dia terlibat langsung dengan peristiwa tersebut. Peristiwa yang akan mengubah hidupnya, akan menjadi takdir serta kisah tidak terlupakan untuk dirinya sendiri.
"Gue masih bingung deh sama Lo yang hilang tiba-tiba malam itu?"
"Huhh, gue udah jelasin kan sama Lo kalau malam itu gue ketiduran di salah satu kamar di rumah temen sahabat Lo itu"
" Iya tapi kan gue juga udah cari Lo ke semua kamar kosong disana, tapi Lo sama sekali
gak ada disana. Ya kali gue periksa di kamar tuan rumah di kira maling gue Njir"
"Serah Lo dah kalau gak percaya" unjar salah satu dari keduanya.
Dia memilih untuk mengakhiri perdebatan yang sama sekali tidak penting, ya karena dia sudah menjelaskan semuanya pada temannya itu tapi wanita tersebut masih saja mempernanyakannya berulang kali. Bahkan hari ini sudah seminggu sejak insiden dia ketiduran di rumah sahabat temannya itu.
*****
Allen POV
Aku sedikit kesal dengan Karin, dia masih aja membahas prihal aku yang ketiduran di rumah Arya sahabat temen dia, sebenarnya aku sendiri pun bingung kenapa aku jadi ketiduran di sana. Yang aku ingat cuman aku laper terus makan, pas mau minum gak ada air putih. Aku gak mau minum air yang pakek warna-warni gitu, bukan apa aku tuh alergi minum gituan bisa-bisa aku kencing darah nanti.
Jadi aku muter-muter tuh rumah, yab sahabatnya temen Karin itu ngadain pesta ultah nah sih Karin tuh di undang dan dia nyeret aku untuk ikut. Kata dia sih lumayan buat hiburan, bagi aku sih bukan hiburan tapi neraka karena aku gak suka berada di tengah-tengah keramaian apalagi orang-orangnya asing bagi ku. Aku lebih suka sendirian di kamarku dengan novel-novel atau komik kalau gak ngegame dari pada menghabiskan waktu bersenang-senang yang di maksud Karin Puas aku muter-muter tuh rumah yang gedenya hampir setara dengan istana negara atau emang udah setara mungkin lebih, ya namanya juga dia orang kaya lah aku mah apa atuh cuman punya aparteman sederhana dan itu di beliin tante aku. Sebenarnya aku bisa saja beli yang mewah tapi aku gak mau ngabisin uang hanya untuk kemewahan yang gak bisa bikin aku senang, lagian aparteman aku sekarang sangat nyaman untuk diriku
sendiri sih.
Walau terbilang sederhana tapi fasilitasnya lengkap kok, ada AC terus kamar mandi di dalem lalu ranjang dan lemari juga meja belajar. Kalau lainnya sih beli sendiri, tapi aku males beli jadi ya cuman itu aja isi apartemanku. Sebenarnya aku gak di ijinin buat tinggal sendiri, gimana gak kan aku anak cewek sendiri di keluarga aku. Walau sekarang aku punya nyokap, bokap dan saudara tiri tapi anehnya semua kakak-kakak ku itu cowok semua, maksudnya kakak tiri.
Jadi aku tuh di jaga ketat banget berasa kayak anak presiden tau gak, pas dulu aku masih tinggal sama ayah. Aku selalu saja di ikutin sama sih kembar, anaknya ibu tiriku. Kadang jenah sendiri, sedangkan pas aku tinggal sama ibuku malah anak ayah tiri aku yang ngikutin aku kemana pun aku pergi, berasa kayak buronan. Untungnya ada Tante Rika yang ngebantu aku lepas dari penjara saudara-saudara tiri aku sendiri, bukan gak bersyukur tapi aku tuh gak bebas kemana pun tau gak.
Ya enak kalau masih SMA lah ini aku udah kuliah, kadang ada tugas kelompok dan lainnya.
Mana mungkin harus di anterin sama Abang Ghara Mulu, aku juga butuh jalan-jalan sama teman-teman aku juga kali. Ngomong-ngomong dari tadi aku berkoar-koar kalian belum tau namaku hehehe maafkanlah, aku tuh rada pelupa tapi gak angkut kok.
Nama aku Allen, lengkapnya Arana Vallenia kinanda. Aku anak tunggal, orang tua aku pisah pas umur aku 10 tahun. Bagi aku itu tahun-tahun yang cukup sulit karena harus hidup dengan orang tua yang terpisah, tapi itu bukan alasan aku untuk terpuruk terus menerus. Untungnya ada Tante Rika yang selalu ada untuk aku, dia yang selalu aja perhatian denganku mendengarkan semua keluh kesahku. Akibat perpisahan orang tuaku, aku jadi anak yang pendiam dan menarik diri dalam pergaulan.
Aku lebih suka ada di kamar dari pada pergi dengan teman-temanku, tapi bukan berarti aku gak punya temen ya. Sekarang aku kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta, sebenarnya aku gak mau masuk swasta tapi mama yang ngotot banget mau masukin aku ke sini tapi ya sudahlah.
Hukum alam orang tua selalu bener, mau apa juga orang tua tetap bener dan tuhan bakal marah kalau kita ngelawan tapi ingat ya kalau itu masih dalam hal yang baik. Oke balik lagi ke ceritaku tadi , puas aku muter-muter akhirnya aku nemuin air putih, tanpa banyak bicara langsung aku minum tapi rasanya rada aneh pait-pait gimana gitu.
Ini orang kaya gak nyediain air kualitas buruk kan? Pikirku, Setelah minum itu air putih itu aku malah ngerasa pusing, air itu gak beracun kan? Pikirku lagi. Karena merasa pusing aku memutuskan untuk mencari tempat untuk baringan, karena gak tahan dengan rasa sakitnya aku membuka sembarang kamar. Aku hempaskan tubuhku ke ranjang, lalu meraih ponsel milikku dan mengirim pesan sama Karin agar dia gak khawatir dan bisa bangunin aku nanti karena saat ini aku merasa butuh tidur.
Tapi tiba-tiba aku ngerasa badan aku panas jadi aku lepas tuh pakaian aku satu persatu, bodo dah masuk angin. Aku cuman pakai tantop dan celana pendek doang, setelah itu aku pejamin mataku. Udah hanya itu aja yang aku ingat, selebihnya aku gak inget apapun lagi.
******
"Woy ngelamun aja Lo" pekik Karin membuat Allen tersentak kaget dan menatap tajam sahabatnya itu.
"Lo bisa gak kalau ngomong itu nadanya jangan kayak toak masjid nyet" ujar Allen kesal, Karin hanya nyengir kuda.
"Ya, maaf habis Lo dari tadi gue panggil-panggil gak nyaut-nyaut" ucap Karin dengan tampang polos.
"Lagi ngelamun apa sih? " Timpal Karin, dia sedikit penasaran apa yang di otak Allen sehingga membuatnya mirip orang tuli.
"Gak gue rada bingung juga, kok gue bisa ketiduran disana. Lo tau sendiri kan gue kuat banget begadang" jawab Allen, Karin hanya mengangkat bahunya tidak tau.
"Ya, lo aja bingung apa lagi gue" ujar Karin, Allen hanya menatap datar wanita itu.
Cukup lama mereka berdiam diri, Allen sibuk dengan ponselnya sedangkan Karin sibuk berbicara dengan seseorang di telepon entah siapa. Sesekali melirik Allen, merasa di perhatikan Allen menatap bingung Karin yang kini terlihat gelisah lalu meletakkan ponselnya di meja dengan kesal.
"Lo kenapa?" Tanya Allen bingung, Karin hanya diam. Seperti memikirkan sesuatu, entah apa itu Allen tidak tau.
"Len, jujur deh sama gue malam itu Lo dimana? " Bukannya menjawab Karin malah berbalik bertanya, Allen menautkan alisnya bingung.
"Malem?, Malem kapan? Lo tau kan gue selalu di aparteman walau itu malam Minggu" jawab Allen bingung, Karin terlihat menghela nafas pelan.
"Malam pas ultahnya Arga, Lo di mana? Maksud gue, Lo gak bertingkah seperti nidurin orang kan?" Unjar Karin dengan tatapan mengintimidasi, Allen memiringkan kepalanya beberapa derajat.
"Nidurin?, Gue gak nidurin siapa-siapa Karin. Oke pas gue bangun emang gue hampir bugil tapi itu karena gue kepanasan" jawab Allen.
"Sumpah, gak ada orang yang tidur di samping Lo?" Tanya Karin seakan belum puas dengan jawaban Allen.
Allen diam terlihat berpikir, dia tengah berkelana ke masalalu di mana dia bangun dengan keadaan hampir bugil karena hanya tinggal celana dalam doang yang masih melekat di
tubuhnya.
"Gue gak tau, waktu itu panik banget karena udah telat. Lo tau sendiri kalau gue panik kayak gimana?" jawab Allen jujur.
Karin menghela nafas berat sambil menatap Allen dengan tatapan sulit di artikan.
"Fix, Lo dalam masalah Allen." Gumam Karin namun masih bisa Allen dengan dengan
jelas.
" Masalah ? Emang gue ngapain?" Tanya Allen masih tidak mengerti.
Tentu saja dia tidak paham karena dia tidak ingat apapun tentang malam itu, malam yang membuatnya terjebak dan terikat dengan seseorang. Tiba-tiba saja ponsel Allen berdering, di lihatnya ternyata ada pesan dari ibunya. Karena penasaran dia pun membuka pesan itu, karena tidak biasanya wanita itu mengirimkan pesan. Kalau kangen ya pasti nyamperin ke apartemannya atau menelponnya.
From : mama
“Pulang dari kampus pulang kerumah, ada yang ingin mama bicarakan sama kamu. Gak
ada penolakan kalau masih mau mama anggep anak.”
Allen berdenyit saat membaca pesan dari ibunya, apaan ini kenapa ibunya
mengancamnya seperti itu? Apa dia melakukan kesalahan yang fatal?. Atau apa karena dia keseringan beli novel atau pulang bareng Andre? Eh bukannya Andre itu sahabat abangnya kenapa jadi marah? Apa karena dia nolak cintanya itu cowok, masa iya sih kan terserah Allen dong mau Nerima atau enggak kan dia yang jalanin pikir Allen.
Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang, tadi Karin yang menanyakan hal yang sudah dia tau dan sekarang ibunya ah kalau begini dia bisa gila.
Baik allen maupun Karin sibuk dengan alam pikiran mereka masing-masing.
