Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4.Calon Ibu sambung

****

"Saudara...saudari... Ini Pak Ridwan, investor baru kita, yang tadi kita bahas. Beliau akhirnya datang lebih cepat dari perkiraan." Pak Abda mengenalkan Ridwan.

"Selamat siang, semua. Saya Ridwan Ramdani. Senang bertemu dengan para manager dan kepala divisi di perusahaan ini," sapa Ridwan seraya tersenyum.

Matanya menyapu ke semua orang yang hadir, bahkan lebih lama menatap ke arahku tanpa bicara. Aku kelimpungan sendiri, tak berani balas menatap matanya. Jantungku terdengar gedebak-gedebuk tak karuan.

Dia nampak tenang dan kharismatik.. Tubuhnya dibalut kemeja navy tadi ketika ketemu dan jas hitam. Nampak resmi dan gagah.

Meeting akhirnya berjalan. Rasanya lama sekali. Waktu satu jam serasa setahun. Omegot!

***

Ketika meeting berakhir, peserta sudah keluar. Menyisakan aku, Ridwan dan Pak Abda di ruangan.

"Rosi!" panggil Ridwan pelan. Rupanya dia sudah ada di belakangku, yang sedang bersiap meninggalkan kursi.

"I-iya,?" sahutku gugup. Kulirik ke arah Pak Abda yang melihat ke arahku. Apa dia tahu tentang Ridwan dan aku?

"Sepulang kerja nanti, aku ke rumahmu. Untuk membawamu berkenalan dengan si kembar," bisiknya hati-hati. "Aku tadi lupa bilang di kafe."

Biar tidak mengobrol panjang, aku segera mengangguk setuju.

"Jangan takut, semua pegawai dan Pak Abda tidak ada yang tahu hubungan kita."

Rupanya Ridwan mengerti sotuasi dan memilih menutup rapat hubunganku dengannya.

Aku menghela napas lega.

"Baik. Terima kasih. Permisi, Pak. Saya pamit," ucapku pura-pura, menghindari kecurigaan Pak Abda.

Ridwan mengangguk seraya kembali tersenyum. Lesung pipinya terlihat manis. Aku segera melangkah keluar ruangan, sebelum jantungku rontok lagi.

"Investor tadi, ulala...cakep, bo! jantungku gedebag- gedebug gini," ucap Ruri heboh di ruangan karyawan.

"Masa, sih?" tanya Sida, staf marketing, yang juga sobatku, ikut antusias.

"Iya, kamu suka nonton drakor Crash Landing on you? Persis dia tuh, cowoknya!"

"Wow...keren, dong!" Mata Sida berbinar. "Dia udah punya isteri belum, ya?"

"Ehem!" Aku merasa gatel ingin protes . Gawat, mereka jadi ikut terpesona pada Ridwan.

"Naaah...apa si Valentina Rosi, bakal ikut kesengsem juga sama tuh investor?" ledek Sida.

Aku diam. Hanya bisa tersenyum kecut.

Tahukah kalian? Makhluk Tuhan yang kalian rumpiin itu, bakal jadi jodohku? Ingin sekali.teriak seperti itu, tapi hanya bisa dalam hati saja!

Rasanya mulut ingin teriak jujur. Hanya status Ridwan yang investor perusahaan, itulah yang jadi alasan pertimbanganku.

Aku takut, nanti malah jadi masalah, atau malah merubah kebijakan atau aturan di perusahaan. Jadi untuk sementara waktu, terpaksa diam dulu. Bertindak secara profesional kerja dulu. Urusan nanti...biarlah gimana nanti.

Aku segera ngeloyor ke ruangan, tanpa menjawab ledekan Sida. Menenangkan hati yang mulai bergejolak tak karuan.

"Si Rosi kenapa, tuh, diam melulu?" tanya Ruri.

"Lagi pe em es, kali..." terdengar Sida ngikik geli.

Aku pura-pura tidak dengar. Apa aku cemburu, Ridwan di gilai teman-teman kantorku?

Entahlah ...

***

Sore itu, sesuai janji, Ridwan datang ke rumah, dan meminta izin pada emak membawaku ke rumahnya, untuk berkenalan dengan calon anak sambungku yang berjumlah empat.

Keringat dingin serasa mengucur di punggung, padahal ada AC, saat aku sudah duduk dalam mobil, bersebelahan dengan Ridwan yang pegang setir. Seumur-umur, aku belum pernah grogi separah ini. Biasanya, aku malah terkesan cuek pada lelaki. Akan tetapi, kenapa sekarang malah belingsatan tak karuan?

Tuhan...inikah jatuh cinta yang dalam? Belum apa-apa, rasanya aku sudah mati kutu duluan. Point-point perjanjian pra-nikah yang kubuat seakan mengejekku.

Nah, rasain lu, Rosi. Kamu kelilipan cinta sebelum waktunya, kan?

"Kenapa wajahmu tegang seperti itu?" tanya Ridwan, tiba-tiba.

"Tidak apa-apa," sahutku.sambil berusaha melawan grogi. "Hanya bingung, Mas tidak bermaksud balas dendam kan, jadi investor di tempat kerjaku?"

"Ya, tidaklah! Niat itu ada, sebelum kita dijodohkan. Baru ada waktu sekarang, untuk meetingnya. Aku juga kaget, kamu ternyata kerja di perusahaan Pak Abda," ungkap Ridwan tenang.

Aku terdiam, sekuat tenaga membuang rasa sungkan dan grogi yang bercokol di hati. Semoga, memang ini hanya kebetulan semata, Ridwan jadi investor di perusahaan. Bukan settingan.

Tak berapa lama, mobil memasuki sebuah rumah bercat putih, dengan taman asri di depannya.

"Sengaja ada space taman luas di sekitar rumah, biar si kembar bisa bebas bermain," ucap Ridwan ketika mataku mengagumi taman indah itu.

Aku tersenyum. Ridwan sungguh pengertian dan perhatian pada perkembangan buah hatinya.

Pelan mobil berhenti di paving blok depan rumah. Ridwan turun dan membukakan pintu mobil untukku. Aku kembali tersenyum, merasa tersanjung diperlakukan istimewa.

Kaki ini akhirnya melangkah, mengikuti tubuh tinggi Ridwan ke arah pintu rumah.

Ketika pintu terbuka, mataku terbelalak kaget, karena empat orang anak berlari menyerbu Ridwan.

"Papa..papaa!"

Teriakan bersahut-sahutan keluar dari mulut-mulut mungil itu.

Empat anak lucu, berkulit kuning, nampak berebutan bergelayut di tangan Ridwan. Dua di tangan kiri dan dua di kanan,

"Hallo...anak papa, pada kangen, ya?" sapa Ridwan sambil menciumi satu persatu anaknya.

"Iyaa...yuk, Papa. Kita masuk!"

Mereka berebutan menarik tangan Ridwan masuk ke dalam rumah.

"Eh, nanti dulu, kenalin dulu sama Tante ini ya, anak-anak!"

Ridwan menarik lenganku. "Ini bakal jadi mama kalian nanti, ya. Ayo, cium tangan!"

Keempat anak berwajah lucu itu menatap ke arahku. Mata-mata bening itu mengerjap tidak percaya.

"Ini nanti yang jadi mama Jihan?" celetuk salah satu dari mereka, anak perempuan berbadan paling montok.

"Iya. Ini kenalin...namanya Mama Rosi." Ridwan tersenyum sambil mengenalkan. "Ayo, Jihan, Jane, Zidan dan Ziyan, salaman dan cium tangan Mama Rosi!"

Keempat anak itu hanya menatapku tak berkedip. Wajah mereka terlihat ragu.

"Lho...kenapa pada diam?" tanya Ridwan heran.

"Ini bakal jadi mama tiri ya, Papa? Katanya mama tiri itu jahat, suka merebus anak tirinya," celetuk anak lelaki yang terlihat paling tua.

Aku terperanjat. Mataku membulat sempurna, hampir meloncat jatuh karena kaget tak kepalang.

Merebus anak? Dari mana mereka dapatkan ajaran buruk itu?

"Zidan, siapa yang bilang begitu? Tidak semua mama tiri itu jahat. Ada yang baik," sergah Ridwan buru-buru.

"Momi Jo yang bilang, kemarin telepon melalui Mbak Mey ke Zidan dan adik-adik," sahut Zidan polos.

Momi Jo? Keningku berkerut, apa dia itu Joana, mamanya si kembar yang meracuni pikiran anak-anaknya?

Ada mami Jo itu wanita angkuh yang mengatakan bahwa Ridwan hanya butuh pengasuh buat Anak-anaknya bukan seorang istri?kalau iya wanita itu, berarti bahaya, Dia itu wanita toxic yang takut menebar racun terus keep orang-orang, -orang di sekitar Ridwan. Terutama anak-Anak yang mash polos. Jangan sampai toxic ibunya menjadi kebenaran yang masuk ke otak bawah sadar Anak-anak. Sungguh mengerikan dampaknya pads Anak.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel