Part 9
“Maafkan aku. Mungkin aku tak akan bisa memasakkan makan siang seperti kemarin karena aku harus menjaga salah satu anak didikku.”
Send. Sebuah pesan suara terkirim, dan Farrin tidak tahu apakah pria di sana langsung membacanya, atau tidak.
“Setidaknya dengan begini aku tak harus menanggung rasa bersalah yang lebih besar,” ujar Farrin.
Kali ini, makan siangnya tak bisa berjalan lancar seperti yang telah ia dan Vian sepakati bersama karena entah mengapa, hari ini salah satu anak didiknya mendadak rewel dan tak mau dijemput ayahnya seperti biasa. Biasanya, ia akan mendapat waktu istirahat dua jam di siang hari karena ia harus berganti jaga dengan pengajar lainnya.
Kelas umum memang berakhir di jam siang. Namun, untuk beberapa hal, sekolahnya memiliki jam bebas hingga petang sampai jam pulang kantor karena beberapa wali murid mengajukan usul untuk menambah jam. Tentu saja hal ini bertujuan agar mereka tidak perlu lagi menyewa babysitter atau pengasuh untuk mengawasi anak-anak mereka setelah jam sekolah berakhir. Kebanyakan dari mereka yang mengusulkan hal itu adalah wali murid yang sibuk dan tidak mengambil jasa pengasuh.
Pihak sekolah menyetujui usulan tersebut dengan catatan di jam bebas, anak-anak mereka bebas melakukan pelajaran yang disukainya. Hal tersebut bisa dilakukan selama bukan merupakan pelajaran yang akan diajarkan atau hal lain yang merugikan. Tentunya dengan pendampingan oleh guru piket atau jaga. Juga, dengan pengawasan yang membuat anak-anak nyaman melakukan kesenangan mereka.
Lalu, Farrin kini harus merelakan jam istirahatnya hilang karena seorang siswi yang baru bergabung belum genap sebulan itu menempel padanya. Dari kesekian banyaknya pengajar di sekolah itu, ia hanya bisa dekat dengan Farrin saja. Entah apa alasannya, yang jelas ia tak tahu menahu akan isi hati gadis cilik itu. Ia juga berniat membawanya ke apartemen Vian, tetapi pihak sekolah hanya mengijinkannya keluar membawa siswi hanya sampai sekitar sekolah dan tidak lebih jauh dari itu. Jadi, ia berencana akan makan siang bersama dengannya di café sebelah sekolah. Dengan sebelumnya memberitahukan pada Vian jika ia tak bisa memenuhi janjinya untuk kemarin tentunya.
[Kita bisa makan bersama di luar. Katakan padaku kau akan makan di mana. Atau aku yang akan membeli makanan dan membawa kesana lalu kita akan makan siang bersama. Kau bisa memesan makanan yang kau inginkan padaku.]
Entah mengapa, membaca pesan balasan dari Vian mampu membuat ia tersenyum tipis.Perlakuan Vian selama ini seolah membawa angin segar di hatinya. Ia seolah menemukan beberapa banyangan tentang pasangan impiannya dulu dalam diri Vian.
[Kalau begitu, temui aku di café dekat sekolah saja. Aku akan makan siang di sana dan akan kesana 10 menit lagi. Apakah ada menu yang ingin kau pesan melaluiku agar nantinya kau tak perlu memesan?]
Send
[Baiklah, jika begitu aku ingin dipesankan steak dan secangkir frappucino saja. Aku akan datang.]
Steak? Makanan yang dikiranya lumayan berat untuk disandingkan dengan secangkir kopi racikan itu cukup membuat Farrin menggelengkan kepalanya. Mungkin, lain kali ia akan menyarankan perpaduan yang sedikit manis untuk menemani makan siang Vian.
Ah, Farrin dan pemikiran panjangnya.
Kemudian, Farrin hanya bisa mengangguk kecil menanggapi pesan dari tunangannya dan berniat untuk tidak membalasnya. Ia yakin jika Vian akan lebih bertanggung jawab akan keinginan yang ia sebutkan dibandingkan dengan Avan. Jika itu Avan, ia perlu dua menit sekali untuk mengirimi pesan padanya agar pemuda itu tak akan melupakan janji mereka. Mau bagaimana lagi, Avan terlalu sibuk dengan dunianya hingga membutuhkan Farrin untuk selalu mengingatkan banyak hal.
Lagi-lagi, ia membandingkan Vian dengan Avan.
Tak baik!
Ini benar-benar tak baik untuknya. Farrin merasa jika ia terlalu jahat dengan membiarkan dirinya terlalu banyak membandingkan mereka berdua. Ia saja tak ingin dibandingkan dengan kakaknya, bagaimana dengan orang lain? Ia yakin jika keadaan Vian juga tak jauh berbeda dengannya.
Di detik setelahnya, ia bisa merasakan jika tangannya digenggam oleh telapak yang lebih mungil nan halus dari pada telapak tangan miliknya. Ia mengalihkan pandangan ke arah si pemilik telapak dan ia tersenyum tipis saat menemukan sepasang mata itu kini tengah menatapnya dengan tatapan berbinar.
Sejak dulu, Farrin memiliki ketertarikan tersendiri kepada anak kecil. Ia yang terlahir sebagai anak bungsu tentu tidak bisa merasakan bagaimana rasanya punya adik. Ibunya pun sudah tak mungkin lagi memiliki anak dikarenakan rahimnya yang lemah. Jadi, ia hanya bisa menyalurkan kecintaannya pada anak kecil dengan menjadi guru bagi mereka.
Selama ini, Farrin sama sekali tidak memikirkan jika dirinya mengasuh anaknya sendiri. Hubungan asmara yang kandas dan perlakuan Avan selama ini juga membuatnya menghalangi niatnya itu. Ia pikir, mungkin masih lama sampai waktunya tiba.
“Bisakah kita pergi makan siang sekarang? Ini jam makan siangku dan aku sudah kelaparan.”
Meski nyatanya bocah itu sudah tak cadel lagi. Namun, Farrin tak bisa menyembunyikan bahwa di hatinya ia merasa begitu gemas akan tingkah bocah di sampingnya ini. Mungkin jika ia memiliki adik atau bahkan seorang putri seperti gadis ini, ia tak akan bisa berhenti untuk tidak mencubiti pipi gembil nan menggemaskannya.
“Ayo kita ke Café yang ada tak jauh dari sini. Kau mau kan? Kita tak bisa mencari café yang letaknya jauh dari area ini. Pihak sekolah tak akan memberikan izin untuk itu.”
Gadis kecil itu hanya bisa mengangguk dengan antusias. Tak masalah baginya meski mereka hanya bisa makan siang di café yang berjarak dekat dengan sekolahnya. Menurutnya, asal itu bersama dengan guru kesayangan, ia mau. Ia yang sejak lama merasa kesepian entah mengapa hanya bisa menerima Farrin sebagai orang terdekatnya di sekolah. gadis kecil itu hanya hidup bertiga dengan ayah dan pamannya hanya bisa berdiam diri saat perkenalan dengan teman sebayanya. Ia juga awalnya menolak kehadiran Farrin karena menurutnya, orang dewasa itu berisik. Namun, usaha Farrin yang tidak setengah-setengah untuk mendekatinya berhasil dan menjadikannya guru favorit dari gadis kecil itu. Tentunya juga karena Farrin tidak seperti guru lain yang bersikap sama kepada semua murid di sana.
“Kalau begitu, ayo, tunggu apalagi,” ajak Farrin dengan antusias. Sekilas, mungkin orang akan melihat jika Farrin adalah orang yang penuh semangat.
“Eum!”
Mendapat anggukan penuh antusias dari wajah berbinar itu membuat hati Farrin menghangat. Ia tahu, gadis kecil yang tangannya berada dalam genggamannya itu telah melewati banyak hal sendiri. Sebelum ini, ayahnya telah menceritakan bahwa anak itu tidak di besarkan dengan kasih sayang seorang ibu karena ibunya tak menginginkannya. Setelah dia lahir, ia langsung di serahkan begitu saja pada ayahnya.
