Bab 3. Kehilangan Arah
Cairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.
Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana.
"Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”
“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir. “Mereka bukan orang yang mudah menerima sesuatu seperti ini. Bagaimana kalau—”
“Bagaimana kalau mereka berubah?” potong Elara, wajahnya tetap tenang, meskipun ada getaran di dalam suaranya. “Mungkin, kalau mereka tahu aku hamil, mereka akan berubah menjadi lebih baik. Mungkin, kehamilan ini akan mengubah mereka. Tapi kalau tidak, setidaknya aku tidak harus tinggal di rumah itu lagi.”
Cairo hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. Ada kekuatan dalam kata-kata Elara, tapi juga keputusasaan yang tersembunyi di baliknya. Dia tahu betul bagaimana orang tua Elara, tahu betapa kejam dan dinginnya mereka terhadap putri mereka. Sudah berkali-kali dia melihat Elara diperlakukan dengan kasar oleh orang tuanya, dan kini, mengingat Elara harus menghadapi mereka sendirian dengan berita kehamilan ini, membuat hatinya sesak. Tapi dia tak bisa memaksa Elara untuk mengubah keputusannya. Ini adalah hidupnya.
Mobil itu berhenti di depan rumah sederhana milik keluarga Elara. Rumah itu tampak kecil dan sunyi di bawah hujan, seakan memancarkan dingin yang sama seperti penghuninya. Elara menghela napas dalam-dalam sebelum membuka pintu mobil. Sebelum keluar, ia berbalik menatap Cairo lagi.
“Kau boleh pulang, Cairo. Aku bisa urus ini sendiri,” katanya, berusaha tersenyum meskipun ada kilatan ketidakpastian di matanya.
Cairo memegang kemudi dengan erat, ragu melepaskan Elara untuk menghadapi keluarganya sendirian. Ia menoleh ke arahnya, menahan napas sebelum akhirnya berkata, "Elara, aku gak yakin ini keputusan yang tepat. Biar aku yang bicara sama mereka dulu."
Elara menggeleng tegas, meski matanya terlihat sedikit lelah. "Cairo, ini urusanku. Aku yang harus menghadapinya," jawabnya, suaranya penuh keyakinan, meski terdengar goyah.
Cairo mendesah, masih enggan menyerah. "Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian di sini. Kamu tahu mereka bisa seburuk apa?"
Elara menatap Cairo, ada rasa terima kasih di matanya, tapi juga tekad yang kuat. "Justru karena itu, aku harus menghadapinya sendiri. Kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Jadi, pergilah. Kamu sudah cukup membantu, Cai."
Cairo menatapnya tajam, seperti ingin membantah lagi, tapi melihat keteguhan hati Elara, ia menyerah. "Baiklah," katanya meski jelas tak rela.
Elara tersenyum lemah. "Terima kasih, Cairo."
Dengan berat hati, Cairo mengalah dan menyalakan mesin, ia pergi sesaat setelah Elara keluar dari mobilnya. Tapi ternyata ia masih khawatir, berharap Elara baik-baik saja setelah masuk ke rumahnya.
**
Beberapa saat kemudian, hujan deras masih mengguyur ketika pintu rumah Elara terbuka dengan kasar. Ayahnya mendorongnya keluar dengan paksa, wajahnya merah padam karena amarah. “Dasar anak tak tahu malu! Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!” suaranya menggelegar, seakan petir yang menyambar di langit malam. Elara tersandung, jatuh berlutut di atas tanah yang basah, tubuhnya bergetar karena dingin dan rasa sakit.
Tak lama, ibunya muncul di ambang pintu, melemparkan baju-baju Elara begitu saja ke tanah yang penuh lumpur. “Ini yang kamu mau, kan?! Kehidupanmu yang kotor dan memalukan! Dasar anak tak tau diuntung!” jerit ibunya dengan penuh kebencian. Satu per satu pakaian Elara berjatuhan, bercampur dengan air hujan, kotor dan tak lagi berharga.
Elara memandang barang-barangnya yang berserakan, sementara makian terus terlontar. "Kamu menghancurkan keluarga ini! Pergi, jangan pernah kembali!" kata-kata ibunya terasa seperti pisau yang mengiris hati Elara. Tapi ia hanya bisa menangis dalam diam, menerima semuanya.
“Kami tidak butuh anak perempuan yang memalukan seperti kamu!” teriak ibunya lagi dengan nada penuh kebencian.
Pakaian Elara berceceran di tanah basah. Membuat Elara berjongkok di tengah hujan, memunguti pakaiannya satu per satu. Tangannya gemetar saat ia meraih bajunya yang tercecer di tanah, basah oleh hujan yang turun semakin deras. Di depan pintu, kedua orang tuanya terus melontarkan kata-kata pedas, penuh hinaan dan makian.
“Kamu pikir, kami akan peduli dengan bayi haram itu! Tidak! Tidak akan pernah! Kamu benar-benar telah mempermalukan keluarga ini!” seru ayahnya dengan nada dingin.
Elara tak menjawab, hanya menunduk sambil mencari sisa pakaiannya yang bisa ia bawa. Ia mengigit bibirnya, menahan air mata yang terus mengalir. Setiap kata yang keluar dari mulut kedua orang tuanya bagaikan pisau yang menusuk hati Elara berulang kali, tetapi ia tetap diam. Tidak ada gunanya membalas. Dalam hatinya, ia sudah tahu ini yang akan terjadi. Tapi tetap saja, rasa sakitnya jauh lebih parah dari yang ia duga.
"Kamu itu benar-benar anak yang tidak tahu diri! Kami membesarkanmu hanya untuk mempermalukan keluarga ini?!" seru ibunya dengan suara penuh amarah, matanya menyala penuh kebencian. "Dasar anak tidak berguna! Hamil di luar nikah, memalukan! Kamu pikir siapa yang akan menerima anak seperti kamu? Hidupmu sudah hancur!"
Ayahnya menimpali dengan nada yang lebih dingin tapi sama kejamnya, "Anak bodoh! Kamu pikir bisa hidup tanpa kami? Lihat dirimu sekarang, hanya sampah yang tidak berharga. Mau jadi apa kamu sekarang? Siapa yang mau bertanggung jawab atas anak haram itu, hah?!"
"Pergi dari rumah ini sekarang juga! Kami tidak mau lagi melihat wajahmu!" Ibunya mendekat, menendang salah satu pakaian yang ada di dekat Elara. "Kamu ini kutukan! Tidak pantas jadi bagian dari keluarga ini! Jangan pernah kembali lagi! Kami tidak ingin punya anak perempuan yang seburuk kamu!"
Tak lama, Elara selesai memunguti barang-barangnya. Ia berdiri, pakaiannya basah oleh hujan dan tanah, wajahnya penuh kesedihan yang begitu dalam. Ia berbalik tanpa berkata sepatah kata pun kepada orang tuanya. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Dengan langkah lemah, ia berjalan menjauh dari rumah, dari kehidupan yang selama ini mengekangnya. Di belakangnya, pintu rumah ditutup dengan keras, seakan memutuskan semua hubungan yang tersisa antara dirinya dan orang tuanya.
Hujan semakin deras, membasahi tubuh Elara, tapi dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Malam itu terasa begitu panjang. Jalanan sepi, hanya ada Elara yang terus melangkah.
Ketika Elara berjalan di trotoar, tiba-tiba tubuhnya limbung, ia terjatuh karena lelah fisik dan juga batinnya. Lutut putih itu menyentuh kerasnya beton. Menggores kulitnya hingga berdarah. Tubuh gadis berambut panjang itu terlihat lelah dan bergetar karena dingin, dan saat itulah tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang, menyemburkan genangan air kotor yang langsung mengenai tubuhnya. Air dingin dan berlumpur membasahi pakaiannya, membuatnya merasa semakin hancur dan tak berdaya. Kepalanya tertunduk, isaknya teredam oleh hujan.
Elara sendirian di bawah hujan, menggigil, dengan pakaian yang masih basah. Hatinya terasa semakin hampa. Dalam gemuruh hujan, ia memejamkan mata, merasakan rindu yang menghantamnya. “Axel...” bisiknya pelan, suaranya serak. Belum satu hari berlalu, tapi rasanya ia sudah kehilangan segalanya.
