9. Playing Victim
["Kami dari Ibra Corporation ingin menanggapi surat lamaran Anda. Kami akan melakukan sesi wawancara pada hari Rabu pukul sembilan pagi. Apa Anda bisa mengonfirmasi kehadirannya?"]
Perusahaan Mas Gio memanggilku untuk wawancara kerja pada hari Rabu dan itu tepatnya besok. Aku harus datang demi rencanaku walaupun dokter memintaku untuk bedrest selama beberapa hari lagi.
"Ya, saya akan datang, Mbak."
["Baik, kalau begitu kami tunggu kehadirannya tepat waktu dengan berpakaian rapi dan membawa surat-surat lengkap yang sudah kami email-kan. Terima kasih. Selamat pagi,"] ucap wanita di seberang telepon sana dengan ramah.
"Selamat pagi, Mbak." Aku menutup sambungan telepon.
Cepat sekali panggilan kerjanya. Padahal, aku baru melamar kemarin melalui email. Baguslah, lebih cepat lebih baik. Aku juga harus membuat surat pengunduran diri ke hotel secepatnya.
"Telepon dari siapa?" Mama mertuaku datang menghampiri. Di belakangnya, ada Mbak Sari yang mengekori.
"Dari teman, Ma. Rimar harus mengabari kalau hari ini izin tidak masuk kerja."
Mama duduk di ranjang, di sampingku. Beliau tampak cantik dengan pakaian syar'i yang berwarna kalem, belum lagi kulitnya yang putih bersih dan senyum yang selalu mengembang membuat keanggunannya semakin terpancar. Ia menyentuh lembut tanganku.
"Maaf, ya, karena Mama mengundangmu ke kamar, kamu jadi mengalami kecelakaan ini."
"Jangan begitu, Ma. Ini bukan salah Mama. Rimar hanya kurang hati-hati." Aku memindahkan salah satu tanganku untuk menyentuh tangan Mama.
"Ya, sudah."
"Oh, ya. Apa yang mau Mama bicarakan sama Rimar?"
"Hampir aja Mama lupa," ucapnya. "Sari, bisa tinggalkan Mama dan Rimar sebentar?"
"Kenapa, Ma? Sari gak akan ganggu, kok?" sahut Mbak Sari.
"Mama butuh privasi dan Mama cuma mau menjaga perasaan kamu aja, Sari." Mama tersenyum sebagai isyarat bahwa Mbak Sari harus segera keluar dari kamarku.
Mbak Sari mengiakan dengan terpaksa. Ia berjalan dengan hentakan kaki yang keras saat meninggalkan kami berdua.
"Nak ... Mama cuma mau meminta maaf atas perlakuan Gio. Karena keteledorannya, kamu jadi harus menanggung semua kekacauan ini."
"Kenapa Mama yang minta maaf? Mama enggak salah. Rimar sadar kalau ini sudah jadi jalan hidup Rimar."
"Terima kasih, Nak Rimar. Mama malu menghadapimu karena kelakuan Gio. Dan ... jujur saja Mama senang waktu Gio membawamu ke rumah ini. Tapi entah kenapa masih ada yang mengganjal di hati Mama. Nak Rimar, apa Nak Rimar mencintai Gio?"
Aku terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.
"Tidak, Ma. Maaf. Rimar belum memiliki perasaan apa pun untuk Mas Gio."
"Mama mengerti. Apa kamu ikhlas mengandung darah daging Gio saat ini?"
Aku menatap matanya lekat. Ada ketulusan dan perasaan iba di matanya. Hatiku ikut terenyuh saat melihat tatapan yang seolah bertanya apa aku akan melahirkan anak ini? Tak terasa bola mataku berkaca-kaca.
"Insyaallah. Insyaallah Rimar ikhlas, Ma." Aku terisak dan masih menahan air mata agar tak menetes.
"Terima kasih, Nak Rimar. Mama tahu kamu wanita yang baik. Mama juga menginginkan seorang cucu dari keturunan keluarga Ibrahimwalaupun Allah mungkin belum mengizinkan para menantu Mama untuk hamil. Tapi melalui cara-Nya, Allah menghadirkan darah dagingnya melalui kamu. Jadi, tolong kamu jaga baik-baik anak ini, ya?" Mama memegang perutku dan mengusap-usapnya. Binar matanya begitu tulus disertai senyum simpul.
"Iya, Ma. Rimar akan menjaga dan merawat anak ini sampai besar nanti."
"Oh, ya. Mama belum bertemu keluarga kamu. Nanti antar Mama menemui mereka, ya? Gimana pun Mama harus mengenal besan Mama."
"Iya, Ma." Aku menjawab dengan lega. Aku bahagia masih ada orang sebaik beliau di rumah itu.
Setelah itu, Mama keluar dari kamar. Aku cepat-cepat menghapus air mata yang sudah lama membendung di dan sedikit membuat pandanganku mengabur. Aku tahu perasaan itu hanya dengan melihat matanya. Aku juga sebagai calon ibu tidak ingin menggugurkan anak ini. Walaupun saat awal aku sempat bingung memilih. Namun, lambat laun perasaan ingin memilikinya semakin besar. Tak lama, aku melihat Mbak Sari masuk ke kamar.
"Kuat juga anak itu. Sudah jatuh dari tangga tapi masih bertahan."Mbak Sari kembali ke kamarku dan menghardik.
Mau apa lagi dia? Datang-datang merusak mood-ku.
"Aku tahu perbuatan Mbak Sari kemarin disengaja. Apa yang Mbak Sari inginkan kalau seandainya anak Mas Gio ini." Aku menekan ucapanku, "akhirnya keguguran?"
"Tentu saja aku senang. Karena aku tidak punya saingan di rumah ini. Pelakor, mana ada yang bahagia?"
"Kalau aku pelakor, mungkin Mbak Sari sudah kutendang dari rumah ini." Mbak Sari membelalakkan mata. "Nyatanya, Mbak masih ada di sini dan aku tidak merusak hubungan kalian. Anggap saja aku benalu seperti yang Mbak bilang kemarin."
"Ya ... dan aku harus membuang jauh-jauh benalu itu agar tidak merusak kedamaian di sini?"
"Kedamaian? Mbak yakin?"
Dia mengenyitkan dahi karena heran dengan pertanyaanku.
"Apa Mbak yakin Mama dan Mas Gio bahagia? Walau tidak memiliki anak dari Mbak?" Pertanyaanku pasti memancing emosinya.
"Ya, mau bagaimana lagi? Namanya belum diberi."
"Belum diberi atau Mbak memang menolak memiliki anak? Mas Gio tidak mandul, loh, Mbak?" Aku mengambil secangkir teh dari atas nakas.
"Ya, dulu aku sempat berpikiran kalau Gio mandul."
"Dari mana kesimpulan itu? Bukannya kalian sudah check-up bersama ke dokter?"
"Aah, itu, aku cuma menebak. Siapa tau hasil tesnya keliru."
"Sudahlah, tidak usah playing victim, Mbak."
"Apa maksud kamu?"
"Apa yang Mbak pasang di situ?" Aku menunjuk perutnya, "sampai Mbak tidak bisa hamil?"
Mbak Sari membulatkan matanya sempurna. Dia tercengang dengan ucapanku yang pasti tak akan disangkanya.
"Kamu? Jangan menuduh orang sembarangan, ya, Rimar!"
"Tentang apa? IUD?" Aku menantangnya. Terlintas di pikiranku kalau hanya IUD yang bisa mencegah kehamilan tanpa diketahui siapa pun.
"IUD atau apalah itu. Saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Dia menjawabnya dengan penuh percaya diri.
"Emm ... baiklah."
Terus saja seperti itu, Mbak. Aku akan mencari tahu apa yang kamu sembunyikan dan hiduplah dengan baik sampai aku dapat informasi yang valid.
"Ada lagi yang mau dibicarakan? Kalau tidak, silakan keluar dari kamar ini. Dan ... terima kasih sudah membuat saya bisa beristirahat."
Aku langsung merebahkan diri tanpa menghiraukannya yang masih berdiri mematung. Dengan posisi menyamping, aku menarik selimut dan mencoba memejamkan mata. Kuintip diam-diam Mbak Sari sedang mengepalkan tangan kirinya.
"Dasar! Benalu saja sok bertingkah seperti tuan rumah!" Wanita yang selalu memakai dress panjang itu mengumpat sambil keluar dari kamar sambil memberangsang.
Ia menutup pintu dengan keras sampai aku memejamkan mata rapat-rapat karena suara bantingannya hampir memecah gendang telinga.
