Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ancaman

Energi yang luar biasa berkumpul di jari Ling Yan.

Ciuu!! Duar!!

Tembakan energi yang memiliki ukuran sangat kecil meluncur cepat ke arah dinding beton yang mengelilingi rumah.

Boom!!

Dinding beton langsung hancur karena tidak bisa menahan daya ledak yang luar biasa. Sosok hitam terlihat melompat dan mencari tempat untuk bersembunyi dari Ling Yan.

"Percuma, aku beri kau peringatan terakhir. Keluarlah dalam waktu tiga detik, kalau kau masih tidak mau keluar, maka aku akan langsung membunuhmu!" Ucap Ling Yan dengan nada dingin.

Tekanan yang tidak terlihat perlahan muncul dan membuat tanah di bawah kaki Ling Yan mulai terguncang tidak terkendali.

Wosh!

Seorang lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam muncul sambil menatap waspada ke arah Ling Yan.

"Seperti yang diharapkan dari tetua Ling, tetua memang sekuat rumor yang beredar." Puji lelaki itu dengan nada main-main.

"Katakan apa tujuanmu mengawasi rumahku?!" Kata Ling Yan dengan nada dingin.

"Tetua Ling, aku akan bicara langsung ke intinya saja, lebih baik tetua tidak terlibat terlalu dalam dengan urusan sekte He Huan." Jawab lelaki berjubah hitam itu dengan nada dingin.

"Oh? Kau mengancamku? Menarik, aku penasaran siapa orang yang menyuruhmu untuk melakukan ini?" Balas Ling Yan dengan nada main-main.

"Tetua Ling tidak perlu tahu, yang jelas tuanku sangat membenci orang yang mengganggu rencananya." Tegas lelaki berjubah hitam itu dengan nada serius.

"Semakin kamu bilang begitu, semakin tinggi pula rasa penasaranku terhadap tuan yang kamu layani..." Ucap Ling Yan dengan nada santai.

"..." Lelaki berjubah hitam itu terdiam. Ekspresinya berubah menjadi sangat dingin saat ia menunjuk Ling Yan dengan jari telunjuk yang gemetar.

"Tetua Ling berani bicara seperti itu karena tetua Ling tidak tahu kekuatan mengerikan yang dimiliki oleh tuanku." Kata lelaki berjubah hitam itu dengan nada dingin.

"Aku memang tidak tahu dan juga tidak mau tahu, tetapi bukan berarti aku akan takut jika aku mengetahuinya. Kamu berperan sebagai seorang pembawa pesan bukan? Kalau begitu bawa kembali pesan ini!"

Wosh!

Sosok Ling Yan tiba-tiba menghilang bersamaan dengan hembusan angin di sekitarnya.

Mata lelaki pembawa pesan itu melebar kaget, ia mencari keberadaan Ling Yan tetapi tidak berhasil menemukannya meski telah berusaha keras melakukannya.

Kroak! Crat!

"Aarrrgghh!!" Pembawa pesan itu tiba-tiba merasa tubuhnya seperti sedang dirobek oleh sesuatu yang membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa dan secara refleks berteriak kesakitan.

Ia memegangi lengannya yang telah terpotong sambil menahan darahnya agar tidak mengalir terus-menerus.

Ling Yan muncul beberapa meter di belakang pembawa pesan sambil terus mencengkeram potongan lengan milik sang pembawa pesan itu.

"Kamu... sangat cepat..." Ucap pembawa pesan itu sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.

"He he, terima kasih pujiannya."

Ling Yan tersenyum tipis saat menjawab.

Bruk!

Ia melemparkan potongan lengan pembawa pesan itu ke tanah dan berkata dengan ekspresi gelap.

"Katakan balik kepada tuanmu, jangan mengganggu sekte He Huan dan aku lagi. Jika tuanmu masih ngeyel dan tetap melakukannya, maka tunggu saja kedatanganku untuk memenggal kepalanya!"

Wajah pembawa pesan itu langsung berubah menjadi pucat pasi.

Ia mengangguk kaku seperti robot dan segera beranjak mengambil potongan lengannya dan melarikan diri dengan kecepatan tertinggi.

Ling Yan terus mengamati sosok pembawa pesan itu sampai sosoknya hampir menghilang di kejauhan.

Beberapa saat sebelum sosok pembawa pesan itu benar-benar menghilang, Ling Yan tiba-tiba menembakkan energi melalui jari telunjuknya.

"Dengan begini aku akan tahu siapa orang yang sedang bergerak melawan sekte He Huan. Meski aku baru bergabung selama beberapa hari dengan sekte ini, namun aku merasa tidak bisa membiarkan sekte ini musnah begitu saja." Gumam Ling Yan dengan suara dalam.

Saat ini sosok Mu Yingxin tiba-tiba muncul di benaknya. Ling Yan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghilangkan gambaran sosok Mu Yingxin.

Meski begitu, sosok Mu Yingxin bukannya menghilang namun malah menjadi semakin jelas tergambar di benak Ling Yan.

"Tetua Ling..." tanpa Ling Yan sadari, seorang tetua sekte He Huan sudah tiba di samping Ling Yan.

"Ah, ternyata itu tetua Ran, sejak kapan tetua Ran tiba di sini?" Tanya Ling Yan dengan nada canggung.

"Aku sudah tiba di sini beberapa saat yang lalu. Karena tetua Ling sedang fokus memikirkan sesuatu jadi aku tidak mengganggu pemikiran tetua Ling." Jelas tetua Ran dengan ekspresi aneh.

"Jadi begitu, ngomong-ngomong apa alasan tetua Ran datang kemari? Apa tetua Ran melihat orang itu juga?" Tanya Ling Yan dengan nada ragu.

"Orang itu? Siapa yang dimaksud oleh tetua Ling? Saat aku tiba aku hanya melihat tetua Ling sedang melamun seorang diri." Jawab tetua Ran sambil memiringkan kepalanya.

Tetua Ran adalah perempuan dewasa yang sangat cantik, jadi saat tetua Ran melakukan gerakan yang tidak biasa seperti ini, dampaknya langsung dirasakan oleh Ling Yan.

'Gadis ini, meski lebih rendah dari penampilan master sekte, tetapi godaannya tidak kalah sedikit pun! Malah tetua Ran memiliki keunggulan di beberapa sisi.' Pikir Ling Yan dengan gugup.

"Tetua Ling? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Tanya tetua Ran dengan nada ragu usai ia mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan Ling Yan yang tertuju ke arahnya.

"Tidak, malahan penampilan tetua Ran terlihat sangat cantik sampai membuat aku terkagum-kagum." Jawab Ling Yan dengan cepat.

"..."

Tetua Ran tertegun. Wajahnya memerah dan ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Ehem, tetua Ran bisakah tetua Ran mengatakan tujuan tetua Ran datang kemari?" Ling Yan batuk canggung dan berkata dengan hati-hati.

"Ah aku lupa soal itu. Tetua Ling, tetua dipanggil oleh master sekte untuk bertemu dengannya di aula utama sekte He Huan!" Jelas tetua Ran dengan cepat.

"Master sekte memanggilku? Baiklah aku akan segera berangkat ke aula utama." Jawab Ling Yan dengan ekspresi aneh.

Tetua Ran mengangguk lembut dan berpamitan kepada Ling Yan.

Gadis itu pergi sangat cepat seolah tidak ingin dirinya sampai berduaan saja bersama Ling Yan.

Ling Yan melihat ke arah kepergian tetua Ran tanpa bisa berkata-kata.

"Apa aku tidak termasuk tipe pria yang tetua Ran sukai?" Gumam Ling Yan dengan ekspresi sedih.

.....

Pembawa pesan yang tadi bertemu dengan Ling Yan telah tiba di markas tuannya dengan selamat.

Ia sedang bersujud di depan pria tampan yang sedang duduk santai di atas kursi mewah miliknya.

"Tanganmu... Kenapa?" Pria tampan itu membuka mulutnya dan bertanya dengan nada datar.

"Tangan saya telah dipotong oleh tetua Ling." Jawab pembawa pesan itu dengan sopan.

"Jadi begitu, berarti peringatan yang aku berikan kepadanya itu ditolak?" Pria tampan itu tidak merasa iba sedikit pun dengan keadaan sang pembawa pesan saat ini.

Pembawa pesan itu sepertinya sudah terbiasa sehingga ia tidak mengeluhkan masalah ini.

"Benar tuan muda Yin, tetua Ling malah berbalik memberikan peringatan balik kepada anda." Jawab pembawa pesan dengan cepat.

"Oh?.... Peringatan katamu? Apa yang orang itu katakan?" Tanya tuan muda Yin dengan ekspresi main-main.

Pembawa pesan itu terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian menarik napas panjang dan mengulangi kalimat yang diucapkan oleh Ling Yan sepenuhnya.

"..."

Krak! Duar!!

Gagang kursi yang digenggam oleh tuan muda Yin langsung hancur tak bersisa.

Niat membunuh yang luar biasa meledak keluar dari dalam tubuhnya.

"Ha ha ha! Menarik! Menarik sekali! Beraninya seseorang yang baru saja muncul mengatakan hal seperti itu kepadaku!

Namanya Ling Yan bukan?! Lihat saja, aku akan mendatanginya sendiri dan membalikkan peringatan yang dia berikan kepadaku!

Aku akan memenggal kepalanya dan memberikan mayatnya kepada anjing-anjing liar di jalanan!" Teriak tuan muda Yin seperti orang gila.

Pembawa pesan gemetar ketakutan di bawah tekanan aura luar biasa milik tuan muda Yin. Keringat dingin terus mengalir dari seluruh pori-pori tubuhnya hingga membuat seluruh pakaiannya basah dengan keringatnya sendiri.

.....

"Hacchou!!"

Ling Yan yang baru saja tiba di depan pintu masuk aula utama sekte He Huan tiba-tiba berhenti dan bersin dengan suara yang cukup keras.

"Apa ada orang yang sedang membicarakanku? Hem, susah juga ternyata menjadi orang yang terkenal." Gumam Ling Yan dengan nada tanpa daya.

"Tetua Ling, apa itu kamu?" Suara tenang Mu Yingxin tiba-tiba datang dari balik pintu aula utama.

"Ah, ini aku master sekte!" Jawab Ling Yan dengan cepat.

"Kenapa tidak langsung masuk? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Mu Yingxin dengan nada ragu.

"Tidak, bukan begitu. Aku akan segera masuk!" Ucap Ling Yan dengan cepat.

Ia memegang gagang pintu aula dan segera mendorongnya dengan sedikit kekuatan.

Pintu aula baru saja dibuka tetapi Ling Yan sudah merasakan tatapan super tajam yang tertuju ke arahnya.

---

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel