3. Pertemuan Kedua
Caramel Attanaya Raharja POV
Aku duduk diam sambil memperhatikan laki-laki yang sedang berbicara dengan gaya sok elitnya di hadapanku ini. Sumpah, jika bukan karena Nielo yang merekomendasikan aku untuk bertemu laki-laki ini, aku juga tidak akan mau. Gayanya sok kegantengan ingin membuatku muntah. Dan hebatnya, aku sudah bertahan duduk bersamanya selama satu jam ini.
"Gue kalo cari istri maunya yang minimal tinggi 170 centimeter. Biar gue enggak capek nunduk dan dia juga enggak capek dongak," ucapnya lalu ia tertawa.
Baiklah... bukankah aku sudah tereliminasi secara langsung dan bukannya tersinggung, aku justru merasa bahagia. Lagipula siapa juga yang mau punya pasangan seperti laki-laki di hadapanku ini. Kini aku keluarkan handphone dan segera meng-order taxi online untuk kembali ke rumah. Ya, belakangan ini aku lebih suka untuk pergi menggunakan taxi online daripada menyetir sendiri bila sedang berada di Jakarta. Semua ini aku lakukan setelah beberapa waktu lalu, mobil yang sedang aku kendarai ditabrak dari belakang ketika aku sedang berada di tol. Karena tabrakan beruntun ini, Papa menyarankanku untuk menggunakan taxi online jika aku sedang lelah dan harus berpergian cukup jauh.
"Oh, semoga lo beruntung dapat pasangan sesuai sama kriteria yang lo mau, ya," ucapku dengan ramah lalu akhiri dengan sebuah senyuman.
"Kalo gue boleh tahu, tinggi lo berapa?"
"Gue? Hmm... 170 centimeter kalo pakai high heels berhak 5 centimeter."
Setelah mengatakan itu, aku segera pamit padanya. Tanpa mempedulikan dirinya yang menanwarkan untuk mengantarkan aku pulang, aku berjalan meninggalkannya. Aku berharap taxi online pesananku akan datang cepat kali ini. Di saat aku berdiri diam sambil menunggu taxi, sebuah panggilan masuk ke handphoneku. Segera saja aku mengangkatnya.
"Hallo?"
"Hallo, selamat siang. Dengan Mbak Caramel Attanaya?"
"Iya. Bapak sudah sampai mana?"
"Saya sudah di depan resto, Mbak. Mobilnya Lamborghini Urus warna merah, silahkan masuk."
Aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Kini aku perhatikan plat nomer mobil mewah yang ada di dekatku itu dengan yang ada di aplikasi. Hmm... kenapa beda sekali ya? Bukan hanya berbeda plat nomer namun juga tipe mobil. Aku 'kan hanya pesan yang biasa saja bukan yang Luxe, tapi kenapa mobil ini yang datang? Sejujurnya aku ragu untuk naik, namun kala melihat teman Nielo mulai berjalan ke arahku, mau tidak mau aku segera masuk ke dalam mobil Lamborghini urus ini.
Begitu aku masuk ke dalam, sapaan ramah menyapaku. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari jika driver yang sedang menyetir ini adalah driver yang aku temui beberapa waktu lalu yang mengantarkan aku ke bandara tetapi dengan nomer polisi yang berbeda.
"Selamat siang, Mbak. Sudah siap mau berangkat?"
"Iya, Pak. Kita jalan sekarang saja," kataku cepat.
Beberapa saat suasana mobil cukup tenang hingga akhirnya bapak ini bertanya kepadaku.
"Masih ingat saya tidak, Mbak?"
Aku yang baru saja memblokir kontak teman Nielo ini segera menutup handphoneku.
"Hmm... ingat dong. Bapak yang antarkan saya ke Soetta beberapa bulan lalu. Iya 'kan?"
"Betul sekali. Bagaimana keadaan Mamanya sekarang?"
Aku tersenyum kala mengingat jika sewaktu pertama kali aku bertemu dengannya, aku menceritakan kondisi Mama yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Singapura karena sakit kanker yang dideritanya.
"Alhamdulillah, Mama sudah sehat, Pak. By the way, kok mobilnya ganti?"
"Mobil yang biasanya lagi di bengkel buat service, Mbak. Daripada nungguin service di sana, mending saya muter 'kan dapat teman ngobrol."
"Pak... Pak... apa ya nutup biaya perawatan mobil ini dari hasil taxi online?"
"Enggak saya pikirkan, Mbak. Daripada mobil nganggur di rumah. Saya kesepian juga karena cucu-cucu saya enggak pada mau nikah. Dijodohin enggak mau, ditanya mana calonnya juga pada enggak punya."
Entah kenapa aku bisa tertawa lepas kali ini. Permasalahan generasi milenials yang tidak kunjung menikah itu sungguh semakin berat setiap tahunnya. Sudah di desak menikah padahal calon saja tidak punya. Jika ingin menikah, pertimbangannya semakin banyak saja. Apalagi bagiku yang merupakan harapan terakhir orangtuaku setelah kembaranku yang tinggal di Italia gagal menikah dengan pacarnya. Berbulan-bulan aku mencoba membuka diri dengan berkenalan dengan beberapa kandidat kenalan teman-teman dekatku hingga saudaraku namun hasilnya masih zonk.
Entahlah, mungkin aku terkena karma karena pernah menolak sosok David yang saat SMA selalu mengejarku sejak kelas satu hingga kelas tiga. Aku baru bisa bernapas lega karena dirinya tidak mendekatiku lagi ketika ia harus kembali ke negaranya. Banyak yang berpikir aku perempuan gila karena menolak sosok laki-laki bule tampan dan berasal dari keluarga baik-baik seperti David, tapi aku tidak peduli. Karena perasaan tidak bisa dipaksakan terlebih aku memang lebih menyukai produk lokal daripada produk asing.
"Saya juga begitu, Pak. Sejak kaembaran saya gagal nikah sama pacar bulenya, saya yang jadi harapan keluarga terutama orangtua saya untuk segera menikah dan memberikan cucu."
"Apa Mbak mau saya jodohkan dengan cucu saya?"
satu detik...
dua detik...
tiga detik...
Aku hanya bisa diam dengan mulut sedikit terbuka. Dijodohkan dengan cucu kakek pengemudi taxi online ini?
"Gimana? mau tidak, Mbak? Tenang saja, cucu saya ada dua laki-laki. Usianya sudah kepala tiga lebih, punya pekerjaan dan tentunya sudah mapan secara finansial."
Aku bukan perempuan gila yang hanya memandang segala sesuatu dari laki-laki hanya dari segi finansial semata. Karena bagiku uang bisa dicari tapi ketulusan itu yang sulit. Untuk menolak tawaran ini tentu saja aku tidak akan sampai hati jika mengatakannya secara gamblang. Sejujurnya, aku takut menyakiti hati orangtua. Karena terkadang sakit hati mereka bisa menjadi kesialan bagi kehidupan kita. Beberapa saat aku berpikir, apa yang bisa aku katakan hingga akhirnya ide gila itu muncul di dalam benakku.
"Pak..."
"Ya?"
"Kalo saya sih mau aja, tapi jangan cuma disuruh pilih satu. Saya maunya dua sekaligus."
Bapak driver taxi online ini tertawa. Aku tahu dirinya butuh teman bicara bukan uang seperti kebanyakan driver yang lain. Di usianya yang sudah senja dan masuk ke usia pensiun mungkin mengobrol dengan orang bisa membuatnya melupakan kesedihannya karena keluarganya memiliki kesibukan yang segunung. Aku tahu hal itu karena almarhumah Eyangku dulu selalu mengeluhkan hal itu. Karena itu, ia rela antar jemput cucu-cucunya ke sekolah hampir setiap hari. Bukannya mengantarkan kami kembali ke rumah setelah pulang sekolah, kami semua akan dibawa ke rumahnya untuk sekedar bermain. Kebiasaan itu yang membuat aku dan sepupu-sepupuku memiliki hubungan yang dekat sampai saat ini.
Kini saat taxi online ini sudah memasuki kawasan perumahan tempat aku tinggal, aku mencoba untuk berpamitan kepada bapak ini. Dari raut wajahnya, ia tampak sedikit sedih.
"Bapak jangan sedih, ya? karena kesibukan anak cucu bapak saat ini adalah salah satu upaya mereka untuk terus mandiri secara finansial agar tidak menajdi beban untuk bapak."
"Saya sedih bukan karena itu. Tapi saya harus kehilangan teman ngobrol yang asyik lagi setelah beberapa bulan kita tidak bertemu."
Aku tersenyum mendengar penuturan bapak ini. "Siapa tahu saja nanti kita bisa ketemu lagi di lain waktu dan kesempatan. Sekarang saya keluar dulu ya, Pak. Terimakasih sudah mengantarkan dan menemani saya mengobrol sepanjang perjalanan ini. Hati-hati di jalan, Pak."
Setelah mengatakan semua itu, aku segera membuka pintu dan keluar dari dalam mobil ini. Aku baru memasuki rumah kala taxi online ini sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Sejujurnya aku tidak tega memberitahu kepada bapak taxi online itu jika akhir bulan ini, aku akan menetap kembali secara permanen di Jogja. Ya, aku sudah resmi mengundurkan diri dari kantor tempatku bernaung selama dua tahun terakhir ini. Mulai bulan depan, aku harus belajar meneruskan pekerjaan Papaku yang pelan-pelan akan mulai mundur dari pekerjaannya dan fokus menemani Mama menjalani pengobatan serta perawatannya.
***
